Saturday, January 28, 2012

Salah Pikir

Bondan Winarno
Penulis masalah-masalah manajemen

Ki Sarino Mangunpranoto (almarhum) dulu sering mengatakan kepada saya bahwa
salah hitung adalah sebuah kesalahan yang bisa dipahami, tapi salah pikir
merupakan
hal yang lebih fatal. Ia menjalani "dogma"-nya itu secara konsisten. Untuk
sarapan,
misalnya, Ki Sarino tidak makan roti, melainkan pisang rebus dengan madu.
Kadang-kadang singkong atau ketan dengan parutan kelapa. "Memang, bangsa kita
yang penduduknya terus bertambah ini pada suatu titik nanti akan kesulitan
beras,"
katanya. "Maka itu kita harus mulai melakukan diversifikasi pangan. Namun, kalau
diversifikasinya ke pangan yang memakai bahan gandum atau terigu, itu
berarti salah
pikir. Soalnya, gandum dan terigu tidak bisa tumbuh di negeri kita dan harus
diimpor."

Berhitung adalah keterampilan teknis. Berpikir adalah keterampilan
intelijen. Proyeksi
matematis yang benar tidak akan berarti apa-apa bila tidak dibarengi dengan
analisis
yang tajam dan merupakan hasil olah pikir yang dalam. Sayangnya, kita sering
salah
melakukan kedua hal itu. Ya salah berhitung, ya salah berpikir.
Masalah Y2K yang sekarang kita hadapi hanya sebuah contoh betapa para pencipta
komputer yang tinggi tingkat kepakarannya terbukti bisa terjebak dalam kesalahan
olah pikir. Kalau saja tiga atau dua dasawarsa yang lalu mereka sudah
berpikir bahwa
pemakaian dua digit untuk penandaan tarikh akan bermasalah pada saat memasuki
tahun 2000, tentulah masalah ini tak akan pernah muncul.
Kapasitas pikir manusia ternyata juga terus berubah. Buku Bill Gates yang
saat ini
sedang laris berjudul Business at the Speed of Thought. Kemampuan berpikir
seseorang makin menjadi keunggulan inti dalam persaingan bisnis. Piranti
komputer
yang serbacepat - berkonvergensi dengan jaringan telekomunikasi yang andal
- telah
mampu mengantarkan apa saja yang ada dalam benak seseorang ke benak orang lain
dalam waktu hampir seketika. Setiap pemimpin kini makin dituntut kemampuannya
untuk berpikir secara instan, agar menghasilkan keputusan-keputusan tepat
yang instan
pula. Seorang pialang saham kini sudah bisa menerima informasi real time ketika
sedang berada 30.000 kaki di atas Alaska, dan secara real time pula melakukan
penjualan dan pembelian saham di bursa-bursa New York dan London sekaligus. Tak
ada sedetik pun yang terbuang.

Ternyata, otak ciptaan Tuhan masih membuktikan keunggulannya sebagai
superproduk yang tiada tara. Kemampuan berpikir telah menjadi "berhala" yang
lebih
tinggi derajatnya daripada superproduk ciptaan manusia.
Sebelum buku Bill Gates ini beredar, Edward de Bono - seorang filsuf yang telah
menulis 31 buku tentang teori berpikir - juga telah menerbitkan sebuah buku
berjudul
New Thinking for the New Millennium. Dari seorang De Bono tentulah kita tak bisa
berharap bahwa buku ini hanya sekadar gimmick untuk memasuki milenium baru. Di
dalam buku ini De Bono justru menyampaikan caveat bahwa teknologi yang dengan
hebatnya telah memfasilitasi cara manusia melakukan proses berpikir dan
mengomunikasikannya justru berpotensi menumpulkan daya pikir seseorang. "The
ability to send hundreds of e-mails does not ensure the ability to write
something
intelligent or amusing," tulisnya.

Cara kerja komputer juga menumbuhkan sebuah jargon baru dalam manajemen dan
bisnis akhir-akhir ini, yaitu: to replicate. Dengan hanya memencet satu tombol
komputer, kita bisa melakukan pengulangan (replication) sebanyak yang kita
ingini.
Cara pikir business process reengineering juga bersandar pada konsep replikasi
proses yang dianggap andal dan jitu untuk menyelesaikan satu tugas (task).
Cara pikir seperti itu bisa merupakan jebakan yang berbahaya. "Replications
do not
give you the possibility of change," tulis Edward de Bono. Konsep itu
mengandalkan
identifikasi terhadap kondisi standar dan respon standar yang membuat kita "lupa
berpikir" untuk melakukan perubahan dan pembaruan. Hal yang benar dan bagus
untuk tahun lalu belum tentu tetap benar dan tetap bagus untuk tahun ini
atau tahun
depan.

Kebiasaan - yang merupakan resultan dari replikasi atau pengulangan -
adalah pola
standar yang bisa kita pakai untuk mengambil keputusan yang gampang dan aman.
Namun, keputusan yang gampang dan aman tidak akan membuat kita unggul dari
pihak lain yang lebih progresif. Kita harus juga mampu menciptakan desain-desain
pikir baru untuk membuka peluang-peluang baru. (Naskah asli berbunyi begini: The
judgement habits of the past millennium keep us out of trouble. The design
habits of the
next millennium will open up new opportunities).

Seorang pengusaha tidak akan kesulitan melakukan perjalanan ke Tokyo. Ia cukup
melakukan replikasi terhadap pengalamannya selama ini. Ia tahu maskapai
penerbangan mana yang mempunyai rute terbaik dan jam ketibaan yang cocok dengan
jadwal bisnisnya. Ia tahu di hotel mana ia akan menginap agar bisa berjalan
kaki lima
menit ke kantor yang akan ditujunya.
Yang sulit adalah membuat keputusan tentang apakah ia harus pergi ke Tokyo
atau ke
New York untuk memberi return yang terbaik bagi bisnisnya? Keputusan tentang ini
bukanlah sesuatu yang replicable, karena ia berhadapan dengan masalah yang lebih
krusial: penciptaan nilai (value creation).
Kalau kita masih berpikir bahwa berpikir adalah sesuatu yang alamiah, maka
kita perlu
memperhatikan kata-kata bijak Albert Einstein beberapa dasawarsa lalu dan masih
sahih hingga kini: everything has changed, except our way of thinking.

Sumber : Kontan

No comments:

Post a Comment

Related Posts