Thursday, April 21, 2016

12.000 Pekerja Intel di PHK

Intel Rumahkan 12 Ribu Karyawan

Rumor mengenai pengurangan karyawan di Intel ternyata benar. Produsen prosesor tersebut baru saja mengumumkan akan merumahkan setidaknya 12.000 karyawan, atau sekitar 11 persen dari total karyawannya di tahun ini.

Laporan dari Oregon Live juga mengungkapkan bahwa pengurangan karyawan tersebut akan menekan pengeluaran Intel hingga USD750 juta di tahun 2016, dan USD1,4 miliar di tahun 2017 mendatang.

Menurut Vox.com, salah satu penyebab utama keterpurukan Intel belakangan ini adalah karena produsen prosesor tersebut tertinggal dalam hal penguasaan pasar prosesor untuk perangkat mobile.

Jika dilihat saat ini, sebagian besar pasar prosesor perangkat mobile, baik itu smartphone maupun tablet, menggunakan chip berbasiskan arsitektur ARM. Ditambah dengan penjualan PC yang semakin menurun, kondisi Intel pun semakin terpuruk akhir-akhir ini.

Vox.com mengungkapkan bahwa pengurangan karyawan Intel kali ini merupakan efek domino dari keputusan Intel 10 tahun yang lalu. Pada saat itu, Intel sempat menolak tawaran Apple untuk mengembangkan prosesor iPhone dengan alasan bahwa ponsel Apple tersebut tidak akan bisa menutupi biaya riset dan produksi prosesornya. Penolakan Intel tersebut berbuntut panjang karena era PC akan memasuki masa-masa penurunannya.

Apple lalu beralih ke opsi lain, yaitu mengembangkan prosesor barbasiskan arsitektur ARM. Berbeda dengan prosesor di PC, ARM memiliki performa yang lebih lambat. Namun, prosesor dengan arsitektur ARM tidak memakan banyak daya, sehingga cocok untuk digunakan di perangkat mobile.

Arsitektur ARM kemudian banyak diadopsi oleh pembuat prosesor perangkat mobile, seperti Samsung dan Qualcomm yang sekarang merajai pasar prosesor perangkat mobile.

Sementara itu, Intel semakin tertinggal. Mereka yang terbiasa membuat prosesor untuk PC masih belum mampu tampil dengan baik di pasar prosesor mobile.

Intel memang memiliki prosesor khusus untuk perangkat mobile yang bernama Atom. Dalam perjalanan pengembangannya, Intel memang telah berhasil membuat prosesor Atom lebih irit daya, namun prosesor tersebut masih kalah tenar ketimbang prosesor berbasiskan arsitektur ARM.

Selain karena terlambat masuk ke pasar mobile, prosesor Intel juga belum mampu menyaingi ARM yang sejak awal dikembangkan sebagai prosesor berdaya rendah pada tahun 1997. Meski demikian, Intel masih merupakan perusahaan yang sangat sehat dan berhasil meraup untung sebesar USD2 miliar di kuartal pertama tahun 2016.

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa perusahaan tersebut tengah mengalami stagnasi yang dapat membuat investornya khawatir.

Ironisnya, apa yang terjadi pada Intel saat ini sangat mirip dengan nasib Digital Equipment Corporation di tahun 1980an. Pada saat itu DEC menjual komputer mini yang ukurannya sebesar mesin cuci. DEC sempat menolak konsep komputer mikro yang diajukan oleh Intel pada saat itu, dan lebih memilih untuk menjual komputer mininya.

Namun komputer mikro ternyata lebih populer, sama seperti kehadiran smartphone dan tablet saat ini. DEC yang tertinggal akhirnya harus mundur dari pasar pada tahun 1990.


Sumber :
http://teknologi.metrotvnews.com/news-teknologi/8koRm7Rb-intel-rumahkan-12-ribu-karyawan-apa-alasannya
Blogger Tricks

10.000 Pekerja Samsung di PHK

Samsung Rumahkan 10.000 Pekerja

Perusahaan teknologi besar asal Korea Selatan, Samsung mengurangi jumlah karyawannya dalam jumlah besar. Pada akhir tahun 2015, total pekerja yang bekerja di perusahaan tersebut berjumlah 222.821. Jumlah ini menurun 5,8 persen dari tahun sebelumnya.

Melansir koreantimes, Kamis (21/4/2016)Samsung merupakan satu-satunya perusahaan besar di Korea Selatan yang merumahkan hingga 10.000 pekerjanya.

Pemotongan yang besar tersebut diakibatkan karena keputusan yang dibuat oleh direksi. Samsung dikabarkan menjalin kerja sama dengan Hanwha Group dan memberikan empat unit baru serta lima ribu karyawannya.

Namun, salah satu biro riset di Korea mengungkap bahwa pemotongan tersebut mengindikasikan tren penurunan umum terutama bagi pekerja usia muda.

Tingkat pengangguran di Korea Selatan mencapai angka 11,8 persen pada bulan Maret. Angka ini lebih rendah dari bulan sebelumnya.

Besaran PHK yang dilakukan oleh Samsung juga telah menyebabkan penurunan jumlah orang yang dipekerjakan oleh perusahaan tersebut. Data mengungkap bahwa jumlah pekerja tahun ini di angka 1.017.661 turun 0,4 persen dari sebelumnya.

Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/2486450/samsung-rumahkan-10000-pekerja

Wednesday, November 11, 2015

Pesangon karena PHK

Secara konsep, ada dua jenis PHK, yaitu PHK secara sukarela dan PHK dengan tidak sukarela. Dalam artikel Berkembangnya Alasan-Alasan PHK dalam Praktik dijelaskan ada beberapa alasan penyebab pemutusan hubungan kerja (“PHK”) yang terdapat dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”).

PHK sukarela misalnya, yang diartikan sebagai pengunduran diri buruh tanpa paksaan dan tekanan. Begitu pula karena habisnya masa kontrak, tidak lulus masa percobaan (probation), memasuki usia pensiun dan buruh meninggal dunia. PHK tidak sukarela dapat terjadi karena adanya pelanggaran, baik yang dilakukan buruh maupun pengusaha/perusahaan.

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt515b7ec90fe0c/cara-menghitung-pesangon-berdasarkan-alasan-phk

Wednesday, November 4, 2015

Karyawan Sering Sakit

Tips Menanggapi dan Mengatasi Karyawan yang Sering Sakit

Problematika karyawan kerap menjadi dilema pihak perusahaan, salahsatunya mengatasi karyawan yang sering sakit. Tidak menjadi soal jika seorang karyawan sakit, namun sangat bermasalah jika karyawan malah menjadi rajin sakit atau sakit-sakitan.

Berbagai tidakan yang berdasarkan kebijakan bisa saja perusahaan mulai dari cara persuasif hingga penerbitan surat peringatan alias SP1 hingga SP3. Hak seorang karyawan bila ia menderita sakit, karena hal tersebut tergolong musibah dan tidak disengaja.

Namun bagaimana jika ia tidak bisa hadir hampir tiap minggu pada hari kerja?, Langkah apa saja yang bisa dilakukan? Untuk menjawab persoalan karyawan yang sering sakit, berikut ini beberapal yang bisa menjadi pertimbangan ketika anda membuat keputusan :

Melakukan langkah persuasif, yaitu dengan melakukan analisa yang lebih dalam terhadap penyebab sakit karyawan tersebut, apakah penyakit yang dideritanya merupakan penyakit yang sama atau berbeda-beda yang berdasarkan analisa dokter. Jika penyakit yang sama, sebaiknya anda menyarankan karyawan anda supaya berobat ke dokter spesialis serta dilengkapi hasil analisa laboratorium Rumah Sakit.

Memeriksa hasil medical check up dan untuk mengetahui hasil dari MCU  sesuai dengan surat keterangan dokter yangyang diterima dari karyawan anda. Jika berbeda, sebaiknya anda melakukan follow up dari keterangan surat dokter yang anda terima, yakni dengan menelpon nomor telepon dokter yang tertera pada surat keterangan dokter tersebut.

Melakukan interview yang lebih intensif pada karyawan tersebut dengan menanyakan permasalahan yang dihadapinya. Sebaiknya berikan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi penyebab dan dapat mempengaruhinya termasuk lingkungan karyawan tersebut. Seperti; Perasaan dirinya sekarang, lingkungan keluarga hingga lingkungan kerjanya. Banyak hal yang bisa dilakukan sebelum mengeluarkan Surat Peringatan.

Memberikan Surat Peringatan. Konsep dasar ketika memberikan Surat Peringatan (SP) ialah sebagai salah satu bukti perhatian anda terhadap karyawan. Sedang tujuan dikeluarkannya Surat Peringatan bukanlah PHK melainkan perubahan bagi karyawan tersebut dengan tidak melakukan kesalahannya lagi.

Kalau karyawan berubah menjadi baik barulah Surat Peringatan yang anda keluarkan dinyatakan berhasil. Surat Peringatan merupakan langkah terakhir yang bisa anda lakukan, namun dibeberapa kasus surat peringatan mjlai SP1, SP2 hingga SP3, tidak memiliki dampak signifikan untuk merubah karyawan atau tidak ada perubahan yang signifikan terhadap absensinya.

Patut dipahami bahwa hal demikian merupakan sifat alami yang manusia lakukan, dalam keadaan tertekan maka manusia akan melawan secara alami. Salah satu bukti perlawanannya adalah tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari.

Memberikan Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK. Untuk kodisi seperti ini, sepatutnya kita lebih mencermati karena bisa saja hal ini menjadi tujuan akhir perlawanan dengan motif ‘sakit-sakitan’ dari karyawan bermasalah tersebut. Ini artinya ada tujuan yang sama yaitu PHK. Dengan melakukan PHK maka anda akan keluar dari belenggu karyawan yang bermasalah dan sebaliknya bagi karyawan yang bermasalah dengan di PHK maka ia akan mendapatkan uang pesangon.


Menghadapi Karyawan yang Sering Sakit

Langkah-langkah yang bisa kita lakukan, yaitu :

a. Lakukan analisa yang mendalam terhadap sakit karyawan tersebut, apakah dari surat sakit yang dokter berikan dikarenakan sakit yang sama dari bulan ke bulan. Kalau benar, cobalah untuk menyarankan melakukan rujukan supaya berobat ke tingkat yang lebih tinggi (ke dokter spesialis) dan apabila diperlukan silakan lakukan analisa melalui laboratorium Rumah Sakit.

b. Lihat hasil Medical Check Up (MCU) karyawan tersebut, adakah hasil dari MCU tersebut yang mengindikasikan untuk mengalami sakit sesuai dengan surat keterangan dokter yang Ibu terima. Kalau berbeda dan merasa perlu memeriksa kebenaran surat dokter tersebut, telephone dokter sesuai dengan no telephone di surat keterangan dokter tersebut.

c. Interview kembali karyawan tersebut dengan menanyakan permasalahan yang dihadapi dari dua sisi, yaitu sisi internal dan sisi eksternal.

i. Sisi internalnya adalah bisa berasal dari dirinya sendiri (apakah karyawan tersebut bekerja berdasarkan perasaan yang ia alami, misalnya saat senang baru dia bekerja saat tidak senang maka ia tidak bekerja), ataukah berasal dari keluarganya, saudaranya sampai lingkungan tempat tinggalnya.
ii. Sisi eksternalnya merupakan sisi kantor sendiri, jadi bisa saja ternyata sumber permasalahannya berasal dari teman sekerjanya, atasannya ataukah bawahannya yang menjadi sumber permasalahan sampai lingkungan tempat ia bekerja.

d. Surat Peringatan merupakan langkah terakhir yang kita lakukan dan hampir dalam banyak kasus surat peringatan tidak memiliki dampak signifikan untuk merubah karyawan. Sama seperti yang alami setelah dia mendapat SP 1 kemudian mendapat SP 3 maka tidak ada perubahan yang signifikan terhadap absensinya. Hal ini merupakan sifat alami yang manusia lakukan, dalam keadaan tertekan maka manusia akan melawan secara alami. Salah satu bukti perlawanannya adalah tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari. Dan saya yakin akan berputar-putar terus dikondisi ini. Padahal seharusnya Surat Peringatan adalah salah satu bukti perhatian kita (HRD) terhadap karyawan dan tujuan dikeluarkan Surat Peringatan bukanlah PHK melainkan perubahan bagi karyawan tersebut dengan tidak melakukan kesalahannya lagi. Kalau karyawan berubah menjadi baik barulah Surat Peringatan yang kita (HRD) keluarkan dinyatakan berhasil.

2. Mengenai PHK yang akan dilakukan, mungkin saja hal ini merupakan tujuan akhir yang diinginkan. Dan juga bisa saja hal ini juga merupakan tujuan akhir perlawanan karyawan bermasalah tersebut.


Sumber :
http://tipskarir.com/tips-menanggapi-dan-mengatasi-karyawan-yang-sering-sakit/
http://portalhr.com/konsultasi/hr-praktis/hrpraktis-hubungan-karyawan/menghadapi-karyawan-yang-sering-sakit/

Wednesday, August 5, 2015

Agility vs Rigid

Manusia-manusia "Rigid" Akan Sulit Sendiri

Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia duduk di sebelah saya. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karier dan perusahaannya.

Gerak keduanya (karier dan perusahaannya) begitu lincah, tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwell time tidak konsisten. Ini sama seperti karier sebagian dari kita, terkunci di tempat. Akhirnya, kita hanya bisa mengeluh.

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumnus Fulbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarier di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu, ia menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

Solved!

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderless world. Anehnya juga, kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan tenaga kerja

Belum lama ini, kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya di-forward ke mana-mana melalui media sosial. Mulai dari keagresifan angka pertumbuhan yang berkurang, sampai serangan tenaga kerja dari Tiongkok.

Berita itu di-forward ke sana kemari sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan buat saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarier di luar negeri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja kepada orang lain yang kurang beruntung. Kedua, Anda akan mendapatkan wisdom bahwa hal serupa, komplain yang sama, ternyata juga ada di luar negeri.

Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi, mengeluhkan tentang negerinya. "Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India, politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis." Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? kerja lebih profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda, mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. "Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi," ujarnya.

Kepada putra saya, ia mengajari. "Saat bekerja, kita harus bekerja, harus profesional, gesit, dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ, mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Lagi-lagi, mereka menyebutkan bahwa kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali; dan Pulau Jawa.  

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. "Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Namun, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia daripada Indonesia." Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan kepada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarier di sana. Ia pun menjawab ringan, "Suruh orang-orang itu kerja di sini saja."

Tak lama kemudian, ia pun meneruskan. "Kalau sudah kerja di sini, baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile."

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. "Mana bisa kongkow-kongkow, main Facebook, nge-tweet saat jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja," ujarnya.

Saat itu, ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan, dan sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Perancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata, bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal, di sana, mereka lihat bahwa kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa merdeka jangan cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari Tiongkok melesak masuk ke negeri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negeri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negeri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. Sebanyak 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brasil, bahkan juga Kanada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 orang saja, kita sudah rasial? Ini tentu mengerikan. 

Lalu dari grup WA para alumnus sekolah belakangan ini juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarier di mancanegara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karier mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tetapi tak berbuat apa-apa. Bahkan, beraninya hanya menyuarakan kebencian, atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat. Kecemasan hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah "berbahaya", ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negeri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana, kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana, kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.


Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi anggota pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi acuan dari bisnis sosial di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers


Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/03/054500426/Manusia-manusia.Rigid.Akan.Sulit.Sendiri?page=all

Friday, July 31, 2015

Peraturan Perundangan Logistik


File peraturan logistik terbaru
  1. Undang-Undang No. 7 tahun 2015 tentang Perdagangan
  2. Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2014 tentang Angkutan Jalan
  3. Peraturan Pemerintah No. 11 tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Perhubungan
  4. Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 104 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pelabuhan Sampit 
  5. Keputusan Menteri Perhubungan No. KP 208 tahun 2015 tentang Izin Operasi Sarana Perkeretaapian Umum PT Kereta Api Indonesia (Persero)
  6. Instruksi Menteri Perhubungan No. 3 tahun 2014 tentang Penggunaan Mata Uang Rupiah dalam Melakukan Transaksi pada Kegiatan Transportasi



Sumber :
Milis supplychainindonesia
http://supplychainindonesia.com/new/arsip/peraturan-perundangan/

Friday, July 10, 2015

Analyzing Inventory Adjustments


by Jon Schreibfeder

I just spent two great days working with a large food distributor. The company has begun a program to achieve effective inventory management. As part of the program, they are cycle counting products (see Cycle Counting Can Eliminate Your Annual Physical Inventory!) and entering inventory adjustments when they find discrepancies between the quantity of a product in their warehouse and the perpetual inventory maintained by their computer system.

Though the company has implemented a system that corrects current inaccurate inventory balances, it still needs to adopt a system that will improve future inventory accuracy. That is, they need to improve their methods of handling stock to prevent additional stock discrepancies.

How will they do this? By carefully analyzing the reasons for inventory adjustments. Why? Because most inventory adjustments are the result of problems encountered in the normal handling of material. Here are some common reasons for inventory adjustments:

Material is missing from inventory.
More of a product is in inventory (or in a bin location) than is recorded in the computer system.
Some of the product in inventory is damaged and cannot be sold.
Part of the quantity in inventory is outdated or cannot be sold because it has been in inventory for too long a period of time.

The product is obsolete.
The remaining inventory in stock is less than the quantity a customer would normally purchase.
Along with the quantity and item, this company will accurately record the reason for each adjustment. Every month, a summary of adjustments (by item and reason) will be reviewed to see if changes to policies and procedures can help prevent future discrepancies. Let's take a quick look at some of the underlying reasons for adjustments:

Material Missing from Inventory:
Does a particular warehouse person have problems pulling the right quantity of this product for outgoing orders? Are they filling orders from the wrong bin location? Can this problem be solved with additional training or re-assignment?

Are pickers confusing this item with similar products? Can this problem be solved with additional training or by separating the stocking locations of the two items?
Are employees substituting one product for another without recording what product is actually shipped? Can the procedure for noting substitutions be improved?
Are sample quantities of the item being removed from inventory without being recorded? Is it feasible to establish sample accounts for each salesperson?
Do you suspect that the product is being stolen? Can the inventory of the item be caged or secured by some other means?

More Material on the Shelf Than Expected:
Are stock receipts being processed in a timely manner? Can you streamline paperwork to expedite the receiving process?
Are pickers confusing this item with similar products? Can this problem be solved with additional training or by separating the stocking locations of the two items?
Are employees substituting one product for another without recording what product is actually shipped?

Some of the Product in Inventory Is Damaged:
Are the receiving people failing to identify damaged material as it is received? Can retraining and specific corporate policies for receiving damaged material solve this problem?
Is material being damaged in your warehouse? For example, are employees climbing on boxes (and crushing them) to retrieve material stored on a high shelf? Can more training or additional material-handling equipment help to protect inventory from damage?
Is material broken in the process of being delivered to your customers? Should you consider using better packaging materials for outgoing shipments?

Some of the Product Is Outdated:
Do warehouse employees have a problem properly rotating stock? Can more training or gravity racks ensure that the oldest stock is always shipped first?
Should you buy smaller quantities of these items, more often?
Would it be effective to offer material that is about to be outdated and offer it at a substantially reduced price?

The Product Is Obsolete:
As most dead inventory is the result of leftover quantities of new stock items, do you carefully monitor the accuracy of the projections of new product sales?
Do you regularly identify obsolete products and try to liquidate this material as soon as possible?

Remaining (Remnant) Inventory:
Can you limit sales of the item to the vendor package or to some other minimum quantity?
Can remnant inventory be used as samples or consolidated and repackaged for sale?
Every inventory adjustment should be viewed as an opportunity for improvement that can lead to greater corporate profitability. If you use inventory adjustments merely to correct the on-hand balances in your computer, you will probably continue to correct the same items until the end of time. Things will only get better if your company decides to learn from its mistakes!