Sunday, March 4, 2012

Berutang untuk Terus Bertumbuh

Oleh: Andre Vincent Wenas

Anda berhasil melewati masa-masa sulit fase perintisan. Sekarang bisnis Anda 
telah memasuki fase pertumbuhan. Dan fase ini mempunyai tantangannya sendiri. 
Biasanya menyangkut soal: 1) dana (uang) untuk membiayai pertumbuhan usaha, dan 
otomatis akan diikuti soal, 2) sistem-manajemen (termasuk masalah orang) untuk 
memastikan bahwa pertumbuhan itu bisa langgeng, bukan hit & run belaka.

Untuk yang pertama, sumber-sumber keuangan. Untuk memulai bisnis dan 
membesarkannya Anda bisa mendayagunakan pelbagai sumber dana, tidak perlu 
semuanya dibiayai sendiri. Yang penting, hutang ini dimaksudkan untuk sesuatu 
yang produktif dan nilainya meningkat terus. Sekedar gambaran, Geoffrey G. 

Meredith (2002) menunjukkan beberapa potensi sumber-sumber pembiayaan usaha, 
misalnya: 

1) Pinjaman dari relasi atau kawan. Jangan lupa, karena sifatnya pinjaman, 
mereka juga mengharapkan pemulangan dana ditambah keuntungan (bunga), walaupun 
mungkin tidak sebesar pinjaman komersial ke Bank.

2) Pinjaman dari Bank. Apakah itu pinjaman berjangka atau overdraft. Overdraft 
biasanya untuk pinjaman jangka pendek, sedangkan untuk investasi jangka panjang 
(tanah, pabrik, peralatan mesin, dll) gunakanlah pinjaman berjangka. 

3) Hutang dagang. Ini merupakan sumber pembiayaan yang termurah, terutama jika 
Anda telah punya reputasi kredit yang sehat. Jika Anda mampu memperoleh 
persediaan barang dengan kredit, ini memungkinkan Anda menggunakan dana 
perusahaan dengan bebas selama 30, 60, 90 atau bahkan 100 hari, sesuai 
perjanjian Anda dengan para pemasok. Ingatlah bahwa kredit diberikan atas dasar 
kepercayaan, dan kepercayaan diperoleh hanya setelah jangka waktu tertentu, 
melalui uji-coba dan pembuktian. Maka, jangan pernah mengecewakan para kreditur 
dan mereka pun tidak akan mengecewakan Anda.

4) Pinjaman hipotek dan pembiayaan jangka menengah yang bisa diperoleh dari 
pelbagai lembaga keuangan untuk tujuan tertentu. Biasanya pinjaman ini harus 
digunakan untuk membeli harta tetap (fixed assets) dan krediturnya minta 
kolateral (jaminan).

5) Pembiayaan sewa (leasing). Ini semakin umum dan bisa dipakai untuk 
membiayai pabrik, kendaraan, perlengkapan kantor dan malahan juga gedung.

6) Modal ventura, ini seringkali disediakan oleh lembaga pembiayaan khusus 
yang mau memberikan dana untuk suatu usaha kecil/menengah dan dananya bisa 
dikonversi dalam bentuk penyertaan saham.

7) Memainkan instrumen saham. Menerbitkan saham baru (undang investor), masuk 
bursa (go public), atau menerbitkan kupon obligasi, dan lain-lain.

Khusus untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank, Anda mesti mempersiapkan 
proposal bisnis yang meyakinkan bahwa Anda bisa mempertanggungjawabkan pinjaman 
dana bank itu secara profesional. Anda punya organisasi yang mampu memutar roda 
bisnis secara menguntungkan, dan bertumbuh terus (growth profitably).

Perlu diingat, bahwa pada mulanya fungsi perbankan adalah intermediasi dana 
(Basu & Rolfes, Strategic Credit Management, 1995). Jadi memang ada kebutuhan 
dari pihak perbankan untuk menyalurkan dana (dalam bentuk pemberian kredit), 
namun perlu diingat bahwa yang disalurkan adalah dana para nasabahnya. Maka 

dunia perbankan adalah industri yang sarat regulasi, dan sangat perlu 
kehati-hatian (prudence). Dampaknya bagi pengusaha yang ingin meminjam ke bank 
adalah harus bisa: 1) menunjukkan kredibilitas (bisa dipercaya), 2) bisa memberi 
jaminan (kolateral) yang artinya mampu menunjukkan komitmennya (tidak 
main-main), 3) bisa menjelaskan dan meyakinkan rencana bisnisnya (business-plan 
atau feasibility-study), termasuk proyeksi keuangan dan asumsi-asumsinya. Ini 
memperlihatkan kemampuan Anda sebagai pebisnis dalam membaca peluang usaha dan 
merencanakan langkah-langkah yang masuk akal dan sistematis.

Bersiaplah untuk sukses!

No comments:

Post a Comment

Related Posts