Sunday, July 15, 2012

Memotret Bisnis Jasa Logistik

Oleh : Eva Martha Rahayu


Industri jasa logistik diramaikan oleh ribuan pemain dari kelas gurem hingga
kakap. Mereka berebut pasar yang gemuk. Seperti apa potret bisnis logistik yang
terkini?
Berapa market size bisnis logistik? Pertanyaan itu sulit dijawab secara akurat.
Coba Anda tanyakan ke sejumlah pelaku bisnis logistik, pastilah banyak yang
menggelengkan kepala. Maklumlah, seperti yang disebutkan Ananta Dewandhono,
Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), hingga saat ini belum ada survei
independen yang menelusuri nilai transaksi bisnis logistik dari hulu ke hilir.
Terlebih, cakupan bidang usaha dan pemain logistik sangat luas, dari pelaku
kelas pinggir jalan sampai yang mentereng bertaraf multinasional.

Namun, beberapa informasi yang dihimpun SWA mungkin bisa memberi gambaran.
Menurut Stefanus Didi Hartanto, Manajer Pengembangan Bisnis PT Cipta Krida
Bahari Logistics, bila mengacu pada data total paid in country market untuk
transportasi dan logistik tahun 2003 sebesar Rp 30,4 triliun, dengan asumsi
pertumbuhan tiap tahun 15%, ia memperkirakan tahun 2007 nilainya menjadi Rp 53,2
triliun. Kemudian, tahun 2011 akan menjadi Rp 93,1 triliun. "Dari total angka
itu, diperkirakan market size segmen logistik masih berkisar 6%-7% atau Rp 3,7
triliun di tahun 2007. Sisanya, untuk segmen transportasi tradisional
(pengiriman point to point) yang berskala internasional dan dalam negeri,"
ujarnya. "Market size jasa ekspres atau kurir (distribusi level door-to-door)
saja mencapai Rp 6 triliun tahun 2006," kata M. Johari Zein, Ketua Umum Asosiasi
Perusahaan Jasa Pengiriman Express Indonesia (Asperindo), menimpali.

Selain belum adanya angka pasti market size total bisnis logistik, penggolongan
jenis usaha juga ada beberapa versi. Mengacu pada data ALI, jika dilihat dari
layanan yang ditawarkan, perusahaan logistik dibedakan menjadi empat tipe
layaknya piramida. Pada lapisan pertama disebut basic service atau outsourcing
model yang dikenal dengan istilah logistic service provider (LSP). Rata-rata
perusahaan logistik lokal di Indonesia baru memasuki tahap ini. Kedua, value
added atau dikenal sebagai third party logistic (3PL). Perusahaan asing atau
swasta nasional yang terkenal di Indonesia, dinilai Ananta, baru mencapai tahap
ini. Ketiga, lead logistic/lead logistic provider (LLP). Perusahaan yang
mencapai level ini sudah sangat canggih dan terintegrasi bisnis logistiknya.
Contoh level ini hanya dijumpai di perusahaan logistik luar negeri. Keempat,
atau tahap tertinggi adalah advanced service atau fourth party logistic provider
(4PL).

Lain lagi dengan versi M. Kadrial, Sekjen Asperindo, yang mengungkapkan bahwa
ada empat kategori perusahaan logistik. Pertama, port to port sebagai piramida
di level terbawah. Cirinya tidak ada implementasi teknologi informasi (TI), dan
biasanya mengurus jasa shipping saja. Kedua, door-to-door. Pada tahap ini sudah
menguasai keterampilan TI secara basis (hanya tahu posisi barang), dan biasanya
mengurus jasa distribusi (tracking). Ketiga, logistik. Di sini sistem TI sudah
terintegrasi dan menguasai beberapa jasa logistik, seperti warehousing,
distribusi, dan clearance. Keempat, supply chain management (SCM). Pada tahap
puncak ini sistem TI sudah terintegrasi dengan yang lain, bisa melakukan
perencanaan, pengadaan, dan distribusi sampai end customer.

Untuk perusahaan lokal (Indonesia): sebanyak 80% perusahaan masih berada pada
titik door-to-door; 15% level logistik; dan 1% saja yang berhasil mencapai titik
SCM. Mengapa? Lagi-lagi soal ketertinggalan teknologi yang membuat perusahaan
lokal berada di urutan belakang. Ini disebabkan penerapan TI canggih dan
terintegrasi membutuhkan kapital besar. Sementara itu, dominasi perusahaan asing
di industri logistik nasional, ditengarai Johari lebih pada pengiriman barang ke
luar negeri. Dengan kata lain, bila bicara soal distribusi pada skala domestik,
sebesar 99,99% justru dikuasai oleh pemain lokal.


Sumber : Swa

No comments:

Post a Comment