Sunday, February 5, 2012

Membangun Keteraturan di Tengah Kekacauan

Oleh: Andre Vincent Wenas

“Semuanya dalam keadaan bergerak-mengalir, panta rei,” begitu ujar filsuf 
Herakleitos sekitar 2500 tahun lampau. Lalu, 1500 tahun kemudian (persisnya 
tahun 1014), Uskup Agung Wulfstan dalam sebuah kotbahnya di York mengatakan, 
“Dunia bergerak dengan cepat dan tengah mendekati titik nadirnya.” 

***

Yang ingin dikatakan, berita tentang perubahan itu sendiri bukanlah barang 
baru. Hal yang mungkin telah membuat banyak orang kaget dan terkesima oleh 
gerak perubahan yang ada sekarang adalah lantaran kondisi ketidaktahuan 
(ketidaksadaran)nya sendiri. Sejarah jika dikaji akan banyak memberi pelajaran 
dan hikmat untuk meniti masa kini menuju masa depan.

***

Manajemen, pada hakekatnya adalah ilmu sekaligus seni mengelola perubahan. 
Artinya, pada tataran kelompok, bagaimana mentransformasikan organisasi dari 
suatu kondisi tertentu menuju kondisi ideal. 

Jadi, sudah pada galibnya jika manajemen sebagai sistem dan para manajer sebagai 

agensinya senantiasa bergiat di tengah ketegangan-kreatif ini. Selalu mencari 
cara terbaik (paling efisien dan efektif) dalam rangka mencapai tujuannya. 
Tujuan itu sendiri, pada gilirannya, akan terus ditarik ke suatu arah yang lebih 

tinggi lagi. Inilah aspek dinamisnya.

Manajemen akan selalu bekerja seturut cara penalaran tertentu. Secara naluriah – 

di dalam ruang lingkup pengaruhnya – ia akan mengusahakan suatu kondisi 
keteraturan (order). Keteraturan adalah prasyarat, landasan untuk mencapai 
tingkat efisiensi dan efektifitas tertinggi. Dari situ bangunan konseptual 
perencanaan dibangun. Perencanaan diperlukan demi optimalisasi penggunaan sumber 

daya. Optimal artinya pemakaian yang minimal untuk mencapai hasil maksimal.

Akibat tuntutan pertumbuhan, dan tekanan lingkungan bisnis, maka realitas 
manajemen organisasi menjadi dialektika yang kerap terkesan paradoksal. Ia mesti 

membangun suatu tingkat kestabilan tertentu di tengah guncangan yang ada, dan 
pada saatnya – jika diperlukan – merekayasa guncangan di tengah kondisi 
kestabilan (baca: kemapanan yang melenakan). Sintesisnya adalah perencanaan 
strategis.

Namun persoalannya, perencanaan strategis (model dulu) yang disusun dalam 
tahapan 1 tahun sampai 5 tahunan, bahkan 10 tahun atau 25 tahun ke depan, saat 
ini dirasa kurang kurang memadai lagi. Tantangannya, bagaimana perencanaan 
strategik bisa dibuat jika asumsi-asumsi yang jadi fundamentalnya kerap berubah 
secara cepat dan signifikan?

***

Dalam setiap kondisi turbulen akibat perubahan faktor eksternal yang tinggi 
intensitasnya, senantiasa mengakibatkan situasi kerawanan (lekas kena, tidak 
kebal). Kerawanan ini akibat tekanan kuat faktor eksternal, atau karena memang 
kondisi internalnya yang rapuh dan tidak siap lantaran tidak antisipatif 
sikapnya.

Di sinilah Philip Kotler, mahaguru manajemen pemasaran kaliber dunia yang kali 
ini berpasangan dengan John Caslione, konsultan manajemen, menawarkan sebuah 
model yang secara praktis bisa dipakai para manajer untuk menyiasati dan 
sekaligus mengambil kesempatan yang muncul dari kondisi kerawanan itu. 

Intinya, demi menghindari organisasi terjebak dalam kondisi kerawanan, 
diperlukan suatu daya-lenting (resiliency) yang cukup tinggi. Laksana seorang 
pesilat yang bisa melenting lincah keluar dari kepungan musuh dan bisa 
menyiasati kondisinya sedemikian rupa sehingga mampu bertahan dan bahkan keluar 
sebagai pemenang.

Model yang ditawarkan terdiri dari 3 tahap: Pertama, perlu dibangun sebuah 
mekanisme peringatan-dini (Early-Warning System), yang intinya adalah sebuah 
sistem manajemen informasi yang bisa berfungsi sebagai radar yang cukup peka 
untuk menangkap sinyal-sinyal perubahan. 

Kedua, dari informasi yang terus mengalir kemudian dikonstruksilah beberapa 
skenario kunci. Lalu yang terakhir, memilih skenario serta strateginya. Di tahap 

ini, dimensi kepemimpinan dan keberanian mengambil keputusan menjadi 
imperatif. 

Model ini (Kotler & Caslione menyebutnya: the chaotic model) mesti diputar 
dengan disiplin yang ketat. Dan untuk menerapkan model itu dipersyaratkan 
perubahan perilaku tertentu dari para pimpinan:

Mereka harus mau melihat perubahan dengan mata kepalanya sendiri. Caranya bisa 
dengan mengunjungi tempat-tempat di mana perubahan itu sedang terjadi, bukan 
sekedar dengan membacanya dari majalah bisnis, atau mendengar dari konsultan, 
atau sekedar tahu dari laporan staf. Ini semua karena akselerasi perubahan yang 
terjadi berbanding lurus dengan tingkat komitment keterlibatan yang dituntut 
dari para pemimpinnya. Tingkat komitmen dan keterlibatan ini, pada gilirannya 
berbanding lurus dengan tingkat pemahaman realitas bisnisnya. Tingkat pemahaman 
inilah yang bakal menentukan kualitas keputusan yang diambil.

Para pembuat keputusan mesti menghilangkan saringan informasi yang bisa 
mendistorsi kenyataan. Pastikan bahwa kejernihan pandangannya tidak disensor 
oleh laporan-laporan bergaya ABS yang pekat berlumur kepentingan. 

Aksi terobosan sangat disarankan, seperti misalnya bicara langsung dengan mereka 

yang tidak jadi pelanggan Anda. Atau pergi makan malam dengan karyawan Anda yang 

paling berani berpikir-bebas. Free-thinkersini tidak terbebani kepentingan 
office-politics.

Dibandingkan dengan buku, “Marketing in Crisis: Marketing Therapy, Menyerang 
Pasar dan Mengambil Manfaat dari Krisis Ekonomi”ditulis oleh Dr. Rhenald Kasali 
(Penerbit Gramedia, 2009) yang dengan cara sangat menarik memberi penekanan pada 

dimensi kepemimpinan serta aspek OD (organization development) yang berangkat 
dari kondisi Indonesia untuk menyiasati kerawanan yang diakibatkan terpaan 
krisis global (yang dimulai dari Amerika), maka buku Kotler & Caslione ini bisa 
dianggap mewakili pandangan yang datang dari kawasan yang telah mengakibatkan 
krisis global itu terjadi.

Buku ini dilengkapi juga dengan pelbagai matriks dan tabel yang memuat perincian 

hal apa saja yang mesti diukur atau diperhatikan. Terhadap upaya Kotler & 
Caslione yang lewat buku ini menawarkan suatu kerangka-berpikir dan seperangkat 
konsep praktis menyiasati krisis, persis di saat guncangan itu sedang terjadi, 
jelas menunjukkan kepiawaian mereka dalam praksis ilmu manajemen pemasaran yang 
mereka ajarkan sendiri. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts