Pada awalnya menyenangkan…
Saya tengah bergumul dengan data-data statistik dalam proses riset untuk penulisan buku kedua dan ketiga, setelah alhamdulillah, buku pertama“Quantum Resign : Formula Aman Berhenti Kerja Jadi Pengusaha” (www.quantumresign.com) menjadi best seller tahun lalu.
Menyenangkan, ketika mendapati fakta bahwa populasi kelas menengah di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya meningkat pesat selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan data SUSENAS 2009, populasi kelas menengah di Indonesia sudah mencapai 93 juta jiwa atau sebesar 42,8% dari total populasi nasional. Sebuah angka yang tidak dapat diremehkan, tentu.
Kelas menengah adalah sebuah kekuatan ekonomi yang dahsyat. Peningkatan populasi kelas menengah berarti peningkatan daya beli sebuah negara secara massal. Tak heran, konsumsi peralatan elektronik, komputer, handphone, otomotif, dan produk fashion terus meningkat, sementara pengunjung kafe, mall, hipermarket, dan convenience store semakin membludak dari hari ke hari. Jakarta menjelma menjadi kota dengan mall terbanyak di dunia. Semua kini bisa puas berbelanja. Terjadi shopping euphoria di negeri tercinta. Yey !
Namun kemudian saya tertegun sedih…
Betapa memprihatinkan, manakala menelisik lebih jauh data-data statistik di tangan saya, dan melihat sebuah fakta :
“Wow, hanya 7,8% dari kalangan kelas menengah yang merupakan entrepreneur atau pengusaha !
Bahkan… Indonesia termasuk yang terendah di Asia !”
Ya. Ternyata mayoritas kalangan kelas menengah kita masih menjadi buruh dan karyawan. Padahal kelas menengah inilah tumpuan masa depan negeri ini, dengan tingkat pendidikan, wawasan, pergaulan, dan daya beli yang lebih tinggi.
Maka itu berarti penguatan kelas menengah di negeri ini hanya menambah daftar panjang calon pembeli dari berbagai produk korporasi. Kita semakin memperkuat jati diri sebagai sebuah pasar raksasa. Pasar yang seksi, bersemangat belanja tinggi, dan malas untuk memproduksi sendiri.
Alangkah sayangnya. Benarkah hanya sampai di sini kita menghargai diri kita sendiri ?
Kemudian saya bermimpi…
Alangkah indahnya jika sebagian kelas menengah yang tengah menanjak di Indonesia semakin banyak yang berwirausaha. Membuka lapangan kerja, menebar manfaat bagi sesama, meraih kemandirian ekonomi keluarga.
Berlari, menyusul besarnya persentase wirausaha pada kelas menengah di negara berkembang di Asia lainnya, seperti China (11,8%), India (15,1%), Pakistan (11,0%), atau bahkan Vietnam (21,6%).
Alangkah indahnya ketika kelas menengah kita menjelma menjadi pillar ekonomi bangsa ini. Dengan inovasi, persistensi, dan tekad kuat untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saya yakin kita mampu, asalkan kita mulai sedari dini, bergandengan tangan, dan saling menguatkan untuk bersama-sama mandiri.
Entah kapan mimpi ini bisa terjadi.
Mungkin esok, lusa, atau entah berapa abad lagi…
Salam Kaya Dari Rumah.
(selengkapnya baca di : http://www.kayadarirumah.com/?p=337#more-337)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Related Posts
-
1. BEST PRACTICE IN INVENTORY MANAGEMENT A groundbreaking, up-to-date look at the Best Practice in Inventory Management By Wild, Tony (...
-
Introduction In the modern supply chain, forecasting is necessary for companies that manufacture items for inventory and that are not mad...
-
Rightsizing Inventory Author : Joseph L. Aiello Publisher:Auerbach Publications 2007 - 474 Pages Understanding inventory-its cost...
-
Introduction A company’s supply chain will incorporate some warehousing function. This can be company-owned, owned by a third party log...
-
Kamar mandi / toilet biasanya dilengkapi dengan perlengkapan untuk buang air kecil maupun besar. Kamar mandi yang dilengkapi dengan urina...
No comments:
Post a Comment