With Businesses Becoming Ever More Complex, S&OP is a Necessity
Expert Insight: The S&OP Report
By Tom Wallace
“Tom, S&OP is the hottest strategic issue I’ve seen in years,” stated
Dave Caruso, a Vice President at business research firm AMR. That
agrees with how lots of people see it. Many, many companies today are
jumping on the Sales & Operations Planning (S&OP) bandwagon.
Why? After all, S&OP has been around for quite a while: about 20
years. What’s causing this sudden surge in interest?
Well, there are several reasons:One is the very fact that it has been
around for 20 years or so. Thus its current popularity conforms to
what I call the process adoption curve. This says that there is a 15
to 25-year lag between the development of major new processes and
their widespread adoption.
Think about it. MRP was invented shortly after 1960, but didn’t really
gain momentum until the early ‘80s. Total Quality also got its start
in the ‘60s and didn’t get big until the mid- to late-80s. Just-in-
Time came over from Japan in the late 1970s but it’s taken until
recently for it to become very popular as Lean Manufacturing. Ditto
for Six Sigma.
Another reason S&OP is so hot is its power as a coordination tool. As
such, it’s very different from tools to increase reliability (Total
Quality, Six Sigma, and so on). Further, it’s different from tools to
reduce waste and time (Just-in-Time, Lean Manufacturing, and the
like.) S&OP’s job is to help people deal with complexity and change.
Here are two questions for you: If a business is very simple, and if
things rarely change, does it need S&OP? I doubt it. Whatever
coordination and forward planning is required can probably be done on
the back of an envelope.The second question: have you seen many
companies like that lately? I haven’t. This is the 21st century;
change is a way of life. Further, despite the wonderful simplicity
that Lean provides, most businesses are becoming more complex, not
less.
S&OP can help greatly to manage in a complex, rapidly changing
environment. Complexity is increasing – due in part to global
sourcing, off shoring, and extensive use of contract manufacturers.
Change is accelerating, due in part to demanding customers such as you
and I who want quicker response, more product variety, and the next
big thing sooner not later. Companies are turning to the powerful
coordination tool known as S&OP to help them cope with this complexity
and change.
Source:
http://www.scdigest.com/Assets/Experts/Wallace_06-10-10.php?cid=1262
Showing posts with label Marketing. Show all posts
Showing posts with label Marketing. Show all posts
Thursday, April 2, 2015
Mary Kay Ash
Pernah mendengar nama Mary Kay, lengkapnya Mary Kay Ash.
Mary Kay adalah nama besar dalam industri kosmetik wanita. Namun, adakah yang tahu bahwa ibu rumah tangga yang sebelumnya hidup pas-pasan secara tidak sengaja memulai karir cemerlangnya sebagai sales buku.
Ketika saya masih menjadi seorang ibu rumah tangga muda, pada suatu Jumat sore bel pintu rumah saya berdering. Ida Blake, seorang yang belum pernah saya kenal, berdiri di pintu meminta agar dapat masuk dan menjelaskan apa gunanya memiliki satu set buku yang perlu dibacakan oleh orang tua untuk anak-anaknya. Saya menyuruhnya masuk, dan sebelum saya mengetahui isinya, dia telah membuat saya sangat tertarik untuk membeli buku tersebut, Child Psychology Bookshelf, yang diterbitkan oleh Grolier’s Society.
Seorang ibu dapat mencari setiap masalah dari indeks, dan menemukan ceritayang berhubungan dengan moral yang baik untuk dibacakan bagi putra-putrinya.
Misalnya, suatu kisah tentang seorang anak yang bercerita dengan kebohongan—yang biasa dilakukan anak-anak pada umur sekitar empat atau lima tahun. Sebagaiseorang ibu muda yang berusaha untuk mengajarkan kepada anak-anak saya tentang baik dan buruk, saya menganggap buku-buku tersebut adalah yang terbaik yang pernah saya lihat.
Ketika Ida mengatakan kepada saya bahwa buku-buku tersebut berharga $50, saya merasa sedih. “Maaf, saya kira saya lebih mungkin terbang ke bulan daripada membeli buku tersebut,” kata saya kepadanya. “Itu di luar kemampuan saya.”
Ini adalah sepenggal kasus yang diceritakan langsung oleh Mary Kay dalam buku "52 Kisah Penjualan Spektakuler, Penuturan Penjual Terhebat Dunia".
Apa yang membuat buku ini istimewa adalah karena masing-masing kisah dalam buku ini dituturkan langsung oleh pelakunya sendiri, dan pelaku yang saya maksudkan disini bukan orang biasa-biasa. Selain Mary Kay Ash, disini ada banyak nama besar seperti Jack A. Sullivan, Joe Girard, Tom Hopkins, Ross Perot, Zig Ziglar dan masih banyak lagi. Bagusnya, kisah-kisah penjualan dari nama-nama besar ini dikelompokkan menjadi:
Sikap Mental.
Setiap penjualan dimulai dari benak seorang wiraniaga. Sebelum dapat menjual sesuatu kepada seseorang, pertama-tama Anda harus percaya bahwa Anda akan mampu melakukannya. Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, perusahaan Anda, produk Anda, tidak mungkin Anda dapat meyakinkan orang lain untuk percaya juga. Pada bagian ini, Anda akan mengenal betapa pentingnya sikap mental positif dalam proses menjual.
Pendekatan Awal.
Setiap orang yang pernah menjual sesuatu tentu tahu bahwa menapak kan kaki di muka pintu rumah prospek merupakan langkah awal dari suatu penjualan. Secara umum, bila kita menggunakan analogi permainan baseball, Anda tidak akan bisa memukul bola jika Anda tidak pernah mendapat kesempatan memukul.
Ada banyak wiraniaga yang “mengetuk pintu” melalui telepon, jadi tidaklah heran apabila banyak prospek enggan dengan kehadiran wiraniaga. Kadang-kadang bukan prospek langsung nya yang menolak, tetapi malahan “penjaga pintunya.” Mereka adalah orang yang mempunyai tugas untuk menyensor para wiraniaga—dan hanya mengizinkan segelintir orang yang layak untuk bertemu dengan bos!
Umumnya, mereka adalah resepsionis, sekretaris, atau asisten. Tentu saja, setiap wiraniaga akan berusaha lolos dari saringan si penjaga pintu tersebut. Dengan membaca bagian ini, Anda akan tahu bahwa keberhasilan untuk bertemu dengan prospek hanya sedikit tergantung pada perusahaan yang Anda wakili atau, dalam hal ini, bahkan dengan produk yang Anda jual. Sebaliknya, sangat tergantung pada kemampuan Anda untuk memberikan kesan pertama yang tepat.
Menjual Diri Sendiri.
Karena tidak sedikit wiraniaga yang menawarkan produk sama atau sejenis dengan yang Anda jual, maka penting sekali untuk ‘menjual’ diri Anda sendiri. Singkat kata, bila orang tidak tertarik dengan Anda, dia tidak akan tertarik dengan produk Anda. Tidak seperti masa-masa lalu di mana penjualan tergantung pada hadiah atau pun jamuan yang diberikan kepada pelanggan, saat ini dibutuhkan lebih dari itu untuk memuaskan pelanggan. Sikap-sikap seperti antusiasme dan keyakinan diri sangat menentukan dalam melakukan penjualan dan dalam mengembangkan hubungan dengan pelanggan. Pada bagian ini, Anda akan mengetahui bagaimana beberapa wiraniaga profesional melakukan tugasnya dengan sangat baik dalam ‘menjual’ diri mereka.
Inovasi.
Menariknya, ketika Anda diminta untuk memikirkan tentang orang yang paling kreatif, jarang sekali Anda akan menempatkan seorang wiraniaga dalam deretan paling atas pada daftar. Namun demikian, selama bertahun-tahun saya telah mengobservasi betapa wiraniaga yang baik berada di antara orang yang paling kreatif dan inovatif yang pernah saya jumpai.
Berapa banyakkah mereka?
Dengan membaca bagian ini, Anda akan menemukan betapa inovatifnya sebagian di antara mereka. Mereka begitu inovatif, sehingga saya yakin bahwa inilah kualitas utama yang membuat sebagian besar wiraniaga paling elit berada di kelasnya. Unsur inovasi inilah yang, sesungguhnya, menambahkan suatu dimensi baru bagi keunggulan mereka. Saat membacanya, ingatlah untuk mencari gagasan yang dapat Anda terapkan bagi diri sendiri.
Menjual Solusi.
Menemukan solusi bagi masalah pelanggan Anda adalah cara yang sangat persuasif untuk membuat penjualan. Seperti yang akan Anda amati, ancangan ini khususnya efektif untuk menjual hal-hal yang besar seperti polis asuransi jiwa yang besar, sistem komputer, atau real estate dalam bentuk besar. Kisah-kisah dalam bagian ini menggambarkan bagaimana memecahkan masalah pelanggan akan menghasilkan komisi yang amat sangat besar.
Menciptakan Rasa Urgensi.
Ketika tiba saatnya membuat keputusan pembelian, banyak orang melakukan penangguhan. Salah satu sebab orang lebih suka menunda keputusan pembelian karena mereka di program untuk “berpikir ulang” ketimbang memberikan persetujuannya kepada seorang wiraniaga. Mereka tidak ingin mengeluarkan uangnya karena tidak yakin akan nilai barang yang dibeli, atau ragu-ragu membeli karena takut membuat keputusan yang salah.
Jadi dengan menghindari membuat sebuah keputusan secara keseluruhan, mereka dapat mencegah membuat keputusan pembelian yang salah. Untuk mengatasi hambatan penjualan yang demikian, seorang wiraniaga harus menciptakan rasa urgensi agar prospek menyadari bahwa dia mempunyai sesuatu yang pasti diperoleh dengan bertindak saat itu juga—atau menderita kerugian dengan menundanya! Kisah pada bagian ini memperlihatkan bagaimana para pelanggan bereaksi ketika rasa urgensi diciptakan.
Menutup Penjualan.
Tidak terjadi apa pun sampai penjualan ditutup. Tidak peduli seberapa baik melakukan presentasi penjualan, bila Anda keluar tanpa sebuah order, Anda gagal menjalankan pekerjaan! Tempatkan segala sesuatunya pada perspektifnya yang tepat, maka sasaran utama Anda sebagai wiraniaga adalah menutup penjualan. Tanpa menutup penjualan, baik Anda maupun calon pelanggan tidak akan mendapatkan manfaat.
Jadi, dengan alasan yang sangat jelas, menjadi seorang penutup yang baik penting bagi karier Anda sebagai wiraniaga. Meskipun menutup penjualan merupakan bagian terpenting dari proses penjualan, di bidang inilah para wiraniaga berkemungkinan kecil untuk saling mengungguli. Jadi, dapat dimengerti, bila para wiraniaga terus-menerus berupaya mencari teknik untuk membuatnya makin ahli. dalam menutup penjualan. Bagian ini berisikan kisah tentang betapa sulitnya penjualan ditutup. Setiap teknik penutupan telah diujikan di lapangan—dan berhasil. Tidak ada yang hipotetis. Bacalah dan cobalah sendiri!
Melayani Pelanggan.
Pada awal karier, saya pernah mendengar seorang wiraniaga berkata, “Penjualan tidak dimulai sampai pasca penjualan.” Saat itu, saya tidak memahami maksud katakatanya. Bertahun-tahun kemudian, saya baru memahami apa yang dimaksudkannya. Kedua kata penjualan dan servis harus selalu bersamaan. Anda tidak dapat memisahkannya karena Anda tidak dapat memiliki hanya salah satunya saja.
Keberhasilan yang sesungguhnya dalam penjualan hanya datang dari pesanan kembali dan pengakuan dari para pelanggan yang merasa puas. Pada pasar yang sangat kompetitif seperti saat ini, saya rasa tidak mungkin dapat dikatakan cukup berhasil tanpa memberikan servis yang baik kepada para pelanggan. Pada bagian akhir buku ini, Anda akan menemukan bagaimana servis yang baik memberikan hasil dividen yang besar—bagaimana melayani pelanggan menjadi penentu keberhasilan dalam bidang penjualan. Setiap kisah pada bagian ini menegaskan pesan tersebut.
Sumber :
Milist manajemen@yahoogroups.com
Mary Kay adalah nama besar dalam industri kosmetik wanita. Namun, adakah yang tahu bahwa ibu rumah tangga yang sebelumnya hidup pas-pasan secara tidak sengaja memulai karir cemerlangnya sebagai sales buku.
Ketika saya masih menjadi seorang ibu rumah tangga muda, pada suatu Jumat sore bel pintu rumah saya berdering. Ida Blake, seorang yang belum pernah saya kenal, berdiri di pintu meminta agar dapat masuk dan menjelaskan apa gunanya memiliki satu set buku yang perlu dibacakan oleh orang tua untuk anak-anaknya. Saya menyuruhnya masuk, dan sebelum saya mengetahui isinya, dia telah membuat saya sangat tertarik untuk membeli buku tersebut, Child Psychology Bookshelf, yang diterbitkan oleh Grolier’s Society.
Seorang ibu dapat mencari setiap masalah dari indeks, dan menemukan ceritayang berhubungan dengan moral yang baik untuk dibacakan bagi putra-putrinya.
Misalnya, suatu kisah tentang seorang anak yang bercerita dengan kebohongan—yang biasa dilakukan anak-anak pada umur sekitar empat atau lima tahun. Sebagaiseorang ibu muda yang berusaha untuk mengajarkan kepada anak-anak saya tentang baik dan buruk, saya menganggap buku-buku tersebut adalah yang terbaik yang pernah saya lihat.
Ketika Ida mengatakan kepada saya bahwa buku-buku tersebut berharga $50, saya merasa sedih. “Maaf, saya kira saya lebih mungkin terbang ke bulan daripada membeli buku tersebut,” kata saya kepadanya. “Itu di luar kemampuan saya.”
Ini adalah sepenggal kasus yang diceritakan langsung oleh Mary Kay dalam buku "52 Kisah Penjualan Spektakuler, Penuturan Penjual Terhebat Dunia".
Apa yang membuat buku ini istimewa adalah karena masing-masing kisah dalam buku ini dituturkan langsung oleh pelakunya sendiri, dan pelaku yang saya maksudkan disini bukan orang biasa-biasa. Selain Mary Kay Ash, disini ada banyak nama besar seperti Jack A. Sullivan, Joe Girard, Tom Hopkins, Ross Perot, Zig Ziglar dan masih banyak lagi. Bagusnya, kisah-kisah penjualan dari nama-nama besar ini dikelompokkan menjadi:
Sikap Mental.
Setiap penjualan dimulai dari benak seorang wiraniaga. Sebelum dapat menjual sesuatu kepada seseorang, pertama-tama Anda harus percaya bahwa Anda akan mampu melakukannya. Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, perusahaan Anda, produk Anda, tidak mungkin Anda dapat meyakinkan orang lain untuk percaya juga. Pada bagian ini, Anda akan mengenal betapa pentingnya sikap mental positif dalam proses menjual.
Pendekatan Awal.
Setiap orang yang pernah menjual sesuatu tentu tahu bahwa menapak kan kaki di muka pintu rumah prospek merupakan langkah awal dari suatu penjualan. Secara umum, bila kita menggunakan analogi permainan baseball, Anda tidak akan bisa memukul bola jika Anda tidak pernah mendapat kesempatan memukul.
Ada banyak wiraniaga yang “mengetuk pintu” melalui telepon, jadi tidaklah heran apabila banyak prospek enggan dengan kehadiran wiraniaga. Kadang-kadang bukan prospek langsung nya yang menolak, tetapi malahan “penjaga pintunya.” Mereka adalah orang yang mempunyai tugas untuk menyensor para wiraniaga—dan hanya mengizinkan segelintir orang yang layak untuk bertemu dengan bos!
Umumnya, mereka adalah resepsionis, sekretaris, atau asisten. Tentu saja, setiap wiraniaga akan berusaha lolos dari saringan si penjaga pintu tersebut. Dengan membaca bagian ini, Anda akan tahu bahwa keberhasilan untuk bertemu dengan prospek hanya sedikit tergantung pada perusahaan yang Anda wakili atau, dalam hal ini, bahkan dengan produk yang Anda jual. Sebaliknya, sangat tergantung pada kemampuan Anda untuk memberikan kesan pertama yang tepat.
Menjual Diri Sendiri.
Karena tidak sedikit wiraniaga yang menawarkan produk sama atau sejenis dengan yang Anda jual, maka penting sekali untuk ‘menjual’ diri Anda sendiri. Singkat kata, bila orang tidak tertarik dengan Anda, dia tidak akan tertarik dengan produk Anda. Tidak seperti masa-masa lalu di mana penjualan tergantung pada hadiah atau pun jamuan yang diberikan kepada pelanggan, saat ini dibutuhkan lebih dari itu untuk memuaskan pelanggan. Sikap-sikap seperti antusiasme dan keyakinan diri sangat menentukan dalam melakukan penjualan dan dalam mengembangkan hubungan dengan pelanggan. Pada bagian ini, Anda akan mengetahui bagaimana beberapa wiraniaga profesional melakukan tugasnya dengan sangat baik dalam ‘menjual’ diri mereka.
Inovasi.
Menariknya, ketika Anda diminta untuk memikirkan tentang orang yang paling kreatif, jarang sekali Anda akan menempatkan seorang wiraniaga dalam deretan paling atas pada daftar. Namun demikian, selama bertahun-tahun saya telah mengobservasi betapa wiraniaga yang baik berada di antara orang yang paling kreatif dan inovatif yang pernah saya jumpai.
Berapa banyakkah mereka?
Dengan membaca bagian ini, Anda akan menemukan betapa inovatifnya sebagian di antara mereka. Mereka begitu inovatif, sehingga saya yakin bahwa inilah kualitas utama yang membuat sebagian besar wiraniaga paling elit berada di kelasnya. Unsur inovasi inilah yang, sesungguhnya, menambahkan suatu dimensi baru bagi keunggulan mereka. Saat membacanya, ingatlah untuk mencari gagasan yang dapat Anda terapkan bagi diri sendiri.
Menjual Solusi.
Menemukan solusi bagi masalah pelanggan Anda adalah cara yang sangat persuasif untuk membuat penjualan. Seperti yang akan Anda amati, ancangan ini khususnya efektif untuk menjual hal-hal yang besar seperti polis asuransi jiwa yang besar, sistem komputer, atau real estate dalam bentuk besar. Kisah-kisah dalam bagian ini menggambarkan bagaimana memecahkan masalah pelanggan akan menghasilkan komisi yang amat sangat besar.
Menciptakan Rasa Urgensi.
Ketika tiba saatnya membuat keputusan pembelian, banyak orang melakukan penangguhan. Salah satu sebab orang lebih suka menunda keputusan pembelian karena mereka di program untuk “berpikir ulang” ketimbang memberikan persetujuannya kepada seorang wiraniaga. Mereka tidak ingin mengeluarkan uangnya karena tidak yakin akan nilai barang yang dibeli, atau ragu-ragu membeli karena takut membuat keputusan yang salah.
Jadi dengan menghindari membuat sebuah keputusan secara keseluruhan, mereka dapat mencegah membuat keputusan pembelian yang salah. Untuk mengatasi hambatan penjualan yang demikian, seorang wiraniaga harus menciptakan rasa urgensi agar prospek menyadari bahwa dia mempunyai sesuatu yang pasti diperoleh dengan bertindak saat itu juga—atau menderita kerugian dengan menundanya! Kisah pada bagian ini memperlihatkan bagaimana para pelanggan bereaksi ketika rasa urgensi diciptakan.
Menutup Penjualan.
Tidak terjadi apa pun sampai penjualan ditutup. Tidak peduli seberapa baik melakukan presentasi penjualan, bila Anda keluar tanpa sebuah order, Anda gagal menjalankan pekerjaan! Tempatkan segala sesuatunya pada perspektifnya yang tepat, maka sasaran utama Anda sebagai wiraniaga adalah menutup penjualan. Tanpa menutup penjualan, baik Anda maupun calon pelanggan tidak akan mendapatkan manfaat.
Jadi, dengan alasan yang sangat jelas, menjadi seorang penutup yang baik penting bagi karier Anda sebagai wiraniaga. Meskipun menutup penjualan merupakan bagian terpenting dari proses penjualan, di bidang inilah para wiraniaga berkemungkinan kecil untuk saling mengungguli. Jadi, dapat dimengerti, bila para wiraniaga terus-menerus berupaya mencari teknik untuk membuatnya makin ahli. dalam menutup penjualan. Bagian ini berisikan kisah tentang betapa sulitnya penjualan ditutup. Setiap teknik penutupan telah diujikan di lapangan—dan berhasil. Tidak ada yang hipotetis. Bacalah dan cobalah sendiri!
Melayani Pelanggan.
Pada awal karier, saya pernah mendengar seorang wiraniaga berkata, “Penjualan tidak dimulai sampai pasca penjualan.” Saat itu, saya tidak memahami maksud katakatanya. Bertahun-tahun kemudian, saya baru memahami apa yang dimaksudkannya. Kedua kata penjualan dan servis harus selalu bersamaan. Anda tidak dapat memisahkannya karena Anda tidak dapat memiliki hanya salah satunya saja.
Keberhasilan yang sesungguhnya dalam penjualan hanya datang dari pesanan kembali dan pengakuan dari para pelanggan yang merasa puas. Pada pasar yang sangat kompetitif seperti saat ini, saya rasa tidak mungkin dapat dikatakan cukup berhasil tanpa memberikan servis yang baik kepada para pelanggan. Pada bagian akhir buku ini, Anda akan menemukan bagaimana servis yang baik memberikan hasil dividen yang besar—bagaimana melayani pelanggan menjadi penentu keberhasilan dalam bidang penjualan. Setiap kisah pada bagian ini menegaskan pesan tersebut.
Sumber :
Milist manajemen@yahoogroups.com
Friday, September 13, 2013
Teori, Model dan Realitas Pemasaran yang Dinamis
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
"We make models to abstract reality. But there is a meta-model beyond the model that assures us that the model will eventually fail. Models fail because they fail to incorporate the inter-relationships that exist in the real world."- Myron Scholes, speech at NYU/IXIS conference on hedge funds, New York, Sept 2005.
***
China, operasi perusahaan farmasi raksasa dunia GSK (Glaxo Smith Kline) sedang mengalami guncangan. Apa pasal? Rupanya pemerintah mencium adanya praktek suap GSK kepada para dokter disana untuk memakai produk-produk keluaran GSK. Terhadap dugaan ini pemerintah China langsung mengeluarkan perintah cekal terhadap direktur keuangan perusahaan farmasi asal Inggris ini, Steve Nechelput, yang tidak boleh keluar dari China sampai investigasinya beres.
Otoritas China memperkirakan GSK telah menggelontorkan dana sekitar 3 miliar yuan (setara US$ 489 juta) lewat agen-agen perjalanan yang lewat mereka telah memfasilitasi suap kepada para dokter dan rumah sakit. Upaya GSK demi meningkatkan penjualan dan harga obatnya telah membawa prahara, walau dalam situs resminya GSK menegaskan bahwa sampai saat ini Steve Nechelput belum ditahan pihak berwajib. Manajemen GSK berjanji akan terus mengikuti proses hukum yang berlaku di China.
Gara-gara kasus ini, beberapa perusahaan lain bakal terkena imbasnya. Investigasi akan meluas, Gao Feng yang kepala unit kejahatan ekonomi, mensinyalir ada beberapa perusahaan farmasi multinasional yang menjalankan praktek suap dengan modus serupa (gratifikasi via agen perjalanan).
***
Dari markas besarnya di Paris, chief financial officer Carrefour Pierre-Jean Sivignon, menyiarkan bahwa Carrefour SA secara global bakal lebih mengandalkan pasar Amerika Latin. Penjualannya di kawasan itu menanjak signifikan, sekitar 8% di semua format ritel. Penguatan penjualan di Amerika Latin ini bisa mengompensasi buruknya penjualan Carrefour di pasar Eropa (khususnya pasar Italia dan Spanyol) yang merosot 4,3%. Di pasar Perancis sendiri penjualan hipermarket Carrefour susut 1,1%, sementara penjualan makanan masih terus tumbuh. Tapi penjualan supermarket turun 1,8%, sedangkan penjualan di format convenience dan yang lainnya tumbuh 0,8%. Di Asia penjualannya menurun tipis 0,1%.
Tantangan pemasaran global lainnya bagi Carrefour adalah terdepresiasinya kurs tukar real Brasil dan peso Argentina terhadap euro. Dampaknya negatif terhadap penjualan Carrefour. Nilai tukar real terhadap euro telah tererosi 7,5% tahun ini, sedangkan peso Argentina melemah 9% terhadap euro. CFO Pierre-Jean Sivignon khawatir lantaran kinerja laba bersih Carrefour di Amerika Latin akan sangat tergantung pada nilai tukar real dan peso terhadap euro. Secara keseluruhan, di kuartal kedua tahun 2013, Carrefour mencatat penurunan pendapatan jadi 20,5 miliar euro (setara 27 miliar dollar AS, atau sekitar 270 triliun rupiah).
***
San Fransisco, sang pendiri Dell, Michael Dell sedang berjuang keras untuk membawa Dell Inc. keluar dari bursa saham Amerika Serikat (go private). Rupanya para pemegang saham lainnya menolak usulan dana penggantian sebesar US$24,4 miliar yang ditawarkan Michael Dell (setara dengan US$13,65 per unit saham). Tawaran ini dinilai kerendahan, Angelo Zino seorang analis dari Standard & Poor's Financial Services, menganggap US$14 per saham adalah nilai yang lebih pantas. Saat ini Michael Dell sendiri menguasasi 15% saham.
Sebetulnya apa sih alasan Michael Dell untuk go private? tak lain ia menginginkan keleluasaan yang lebih besar dalam upayanya melakukan perubahan bisnis dan merampingkan organisasinya. Dalam visinya, Michael Dell melihat masa depan komputer personal sudah suram semenjak dilansirnya smart-phone dan komputer tablet.
***
Di Nigeria ada badan semacam BPPN (sekarang jadi PT PPA) di Indonesia, namanya AMCON yang mengurusi aset bermasalah di Nigeria. Saat ini AMCON sedang mendivestasi 3 bank yang diselamatkan oleh pemerintahnya, yaitu Afribank, Spring Bank dan Bank PHB. Untuk urusan ini AMCON menunjuk Citigroup dan Vetiva Capital, sebuah perusahaan pengelola aset asal Afrika sebagai penasehatnya, supaya bisa rampung di kuartal ketiga tahun 2014. Menurut chief executive AMCON, Mustapha Chike-Obi, pemerintahnya berencana melepas seluruh saham pada investor. Setelah disehatkan nanti ketiga bank itu akan berganti nama jadi Mainstreet Bank, Enterprise Bank dan Keystone Bank.
***
Begitulah konstelasi pasar global yang dinamikanya senantiasa menuntut daya kritis untuk mencerna sinyal-sinyal perubahan. Dan sinyal perubahan tersebut perlu disikapi dengan kecerdikan dan keberanian demi menggiring perubahan, yang kerap bisa radikal.
Banyak model-model teori dalam dunia bisnis dan pemasaran. Semua model serta teori itu sangat bermanfaat untuk memahami sebagian dari realitas. Kita gunakan itu semua di dalam situasi dan konteks yang tepat.
Steve Nechelput dari GSK, Pierre-Jean Sivignon dari Carrefour SA, Michael Dell dari Dell Inc. dan Mustapha Chike-Obi dari AMCON, adalah beberapa pemimpin bisnis yang sedang dalam pergulatan di arena globalisasi pasar yang dinamika perubahannya berintensitas sangat tinggi. Soal hukum internasional, sosial-budaya dan politik. Dari mereka para pemasar Indonesia bisa mengambil hikmah. Demi mengisi kemerdekaan.
Selamat hari raya Idulfitri, dan selamat memperingati hari kemerdekaan RI.
(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Agustus 2013
Saturday, January 12, 2013
Supplier Marketing/Outsourcing Forum: Alibaba, Globalsources, Indonetwork
Saya beberapa bulan terakhir ini melakukan outsourcing segala macam
automotive parts di Asia (Cina utamanya) dan termasuk Indonesia. Yang saya
temukan adalah masih banyak perusahaan dari Indonesia yang belum mengetahui
forum outsourcing/marketing bagi produk mereka. Karena mahalnya harga
produksi di Amerika Utara dan Eropa Barat, sekarang banyak perusahaan dari
negara-negara tsb melakukan outsourcing ke Asia (utamanya Cina dan India).
Sekarang adalah saat terbuka lebarnya pintu marketing/outsourcing bagi
Indonesia.
Cina sudah mempunyai berbagai forum bagi supplier mereka untuk menampilkan
berbagai produknya. Sebagai contohnya adalah Alibaba.com (yang paling luas
networknya), globalsources.com dsb. Indonesia sendiri mempunyai forum
seperti ini yang masih agak kecil lingkupnya (indonetwork.co.id atau
indonetwork.com). Perusahaan Indonesia yang masuk networknya alibaba.com-pun
masih belum terlalu banyak.
Oleh karena itu, rekan-rekan yang tergabung dalam milis APICS-ID, jika
perusahaannya masih belum masuk network outsourcing seperti diatas (
alibaba.com terutama) bersegeralah mendaftarkan perusahaannya. Cara
mendaftarkan mudah sekali dan GRATIS. Hasilnya perusahaan rekan sekalian
akan terekspos oleh banyak perusahaan lain yang sedang outsourcing.
Perusahaan dari Malaysia jauh lebih banyak yang sudah terdaftar di forum
itu.
Ayo jangan sampai ketinggalan kereta lho ya! Jaman sekarang, jamannya
outsourcing dan jamannya integrated supplier network, kalau kita sampai
ketinggalan (apalagi dari anggota APICS-ID), POM anda tidak dapat
dimanfaatkan oleh kami di Amerika Utara.
Saya tahu banyak perusahaan rumahan/home industry di Pasuruan Jatim,
Jababeka Bekasi dsb yang sudah dapat melakukan berbagai macam technological
acrobats yang semua orang ingin memanfaatkannya.
Wassalam
Danet Suryatama
http://www.elektrikcar.com
TIPS Meng-ekspose Perusahaan kita terhadap Outsourcing Effort
Beberapa hari lalu saya mengirim email tentang pentingnya perusahaan kita
ber-koneksi/networking dengan berbagai marketing/outsourcing forum seperti
alibaba.com, globalsources.com atau indonetwork.com. Saya hanya ingin
menekankan betapa pentingnya usaha ini bagi anda yang di Indonesia.
Outsourcing sekarang menjadi kata kunci SETIAP business entity di
Amerika (termasuk membuat pekerjaan saya mudah dari ujung Amerika sini
........ : )
Ada beberapa pertanyaan yang dikirim kesaya yang ingin saya jawab secara
umum agar memberikan manfaat bagi kita semua:
- Apakah kita perlu menjadi anggota supplier network atau outsourcing
forum? Jawabnya benar sekali dan banyak forum ini yang gratis. Contohnya
alibaba dan kedua diatas.
- Kalau sudah masuk menjadi anggota terus bagaimana? Di Alibaba.com ada
fasilitas WEB bagi produk anda secara GRATIS. Yang ini harus dimanfaatkan.
Tips: setiap outsourcing effort akan mencari harga sebagai pemicu order.
Jadi harga SEBAIKNYA ditulis secara jelas (cukup di cantumkan harga yang
optimum dalam bentuk US $ atau Euro). Jangan lupa mencantumkan pula
gambar/foto dari produk yang menarik
- Apakah perlu menjadi paying memberships (di Alibaba adalah trust atau
gold membership)? Jawabannya tergantung. Pertama yang dilihat oleh
outsourcing effort adalah harga dan kemudian trustworthy/kejujuran melakukan
transaksi. Hati-hati juga bahwa banyak pengusaha luar (AS, Eropa dsb) yang
suka menipu. Harus jelas sistem pembayarannya atau ada badan yang menjamin
pembayarannya.
- Kalau sudah demikian bagaimana? AKTIF di web tsb (alibaba dsb) mencari
yang dinamakan BUYING LEADS. Ini adalah kebutuhan perusahaan pengimpor akan
sesuatu barang. Kontak buying leads yang sesuai dengan produk kita. Jangan
SPAMMING mereka (mengirim info jasa/barang yang tidak mereka butuhkan).
Gunakan bhs. Inggris dengan baik. Kalau tidak punya penerjemah, gunakan
translator GRATIS di internet (banyak site-nya).
- Terus bagaimana lagi? AKTIF pula membuat yang dinamakan SELLING LEADS.
Ini adalah pengumuman ke anggota komunitas outsourcing produk apa yang kita
punyai. Sekali lagi JANGAN spamming orang lain. Teruskan kontak pertama
(bila sudah ada) dengan menanyakan apa kebutuhan pembeli dan bagaimana kita
dapat membantu mereka l(ewat email). CAUTION juga hati-hati dengan setiap
calon pembeli. Kalau bisa segera mengecek bonafiditas mereka, lewat
perusahaan atau lewat referens. Cek lewat informasi umum, internet, GOOGLE
dsb.
- Selanjutnya? Silakan berdoa .................. : ) agar usahanya
berhasil. Pembeli biasanya minta quotes (harga penawaran secara resmi).
Penuhi permintaan mereka karena biasanya ini pemicu transaksi. Kalau
setelah quotes mereka diam saja berarti ada beberapa kemungkinan. Pertama
terlalu mahal, barang tidak cocok atau mereka mempunyai calon produsen yang
lain. Silakan kontak mereka lagi dan nyatakan bahwa kita bisa BEKERJA SAMA
dalam hal ini (Ini artinya kita dapat fleksibel dengan harga, barang dsb).
Berikan insentif agar calon customer tertarik melakukan bisnis dengan kita
(sample pricing, jaminan kualitas, dsb).
Sekian dahulu semoga banyak membantu. Saya akan sambung bila responsnya
banyak.
Wassalam,
Danet
Sumber : milis APICS-ID
ber-koneksi/networking dengan berbagai marketing/outsourcing forum seperti
alibaba.com, globalsources.com atau indonetwork.com. Saya hanya ingin
menekankan betapa pentingnya usaha ini bagi anda yang di Indonesia.
Outsourcing sekarang menjadi kata kunci SETIAP business entity di
Amerika (termasuk membuat pekerjaan saya mudah dari ujung Amerika sini
........ : )
Ada beberapa pertanyaan yang dikirim kesaya yang ingin saya jawab secara
umum agar memberikan manfaat bagi kita semua:
- Apakah kita perlu menjadi anggota supplier network atau outsourcing
forum? Jawabnya benar sekali dan banyak forum ini yang gratis. Contohnya
alibaba dan kedua diatas.
- Kalau sudah masuk menjadi anggota terus bagaimana? Di Alibaba.com ada
fasilitas WEB bagi produk anda secara GRATIS. Yang ini harus dimanfaatkan.
Tips: setiap outsourcing effort akan mencari harga sebagai pemicu order.
Jadi harga SEBAIKNYA ditulis secara jelas (cukup di cantumkan harga yang
optimum dalam bentuk US $ atau Euro). Jangan lupa mencantumkan pula
gambar/foto dari produk yang menarik
- Apakah perlu menjadi paying memberships (di Alibaba adalah trust atau
gold membership)? Jawabannya tergantung. Pertama yang dilihat oleh
outsourcing effort adalah harga dan kemudian trustworthy/kejujuran melakukan
transaksi. Hati-hati juga bahwa banyak pengusaha luar (AS, Eropa dsb) yang
suka menipu. Harus jelas sistem pembayarannya atau ada badan yang menjamin
pembayarannya.
- Kalau sudah demikian bagaimana? AKTIF di web tsb (alibaba dsb) mencari
yang dinamakan BUYING LEADS. Ini adalah kebutuhan perusahaan pengimpor akan
sesuatu barang. Kontak buying leads yang sesuai dengan produk kita. Jangan
SPAMMING mereka (mengirim info jasa/barang yang tidak mereka butuhkan).
Gunakan bhs. Inggris dengan baik. Kalau tidak punya penerjemah, gunakan
translator GRATIS di internet (banyak site-nya).
- Terus bagaimana lagi? AKTIF pula membuat yang dinamakan SELLING LEADS.
Ini adalah pengumuman ke anggota komunitas outsourcing produk apa yang kita
punyai. Sekali lagi JANGAN spamming orang lain. Teruskan kontak pertama
(bila sudah ada) dengan menanyakan apa kebutuhan pembeli dan bagaimana kita
dapat membantu mereka l(ewat email). CAUTION juga hati-hati dengan setiap
calon pembeli. Kalau bisa segera mengecek bonafiditas mereka, lewat
perusahaan atau lewat referens. Cek lewat informasi umum, internet, GOOGLE
dsb.
- Selanjutnya? Silakan berdoa .................. : ) agar usahanya
berhasil. Pembeli biasanya minta quotes (harga penawaran secara resmi).
Penuhi permintaan mereka karena biasanya ini pemicu transaksi. Kalau
setelah quotes mereka diam saja berarti ada beberapa kemungkinan. Pertama
terlalu mahal, barang tidak cocok atau mereka mempunyai calon produsen yang
lain. Silakan kontak mereka lagi dan nyatakan bahwa kita bisa BEKERJA SAMA
dalam hal ini (Ini artinya kita dapat fleksibel dengan harga, barang dsb).
Berikan insentif agar calon customer tertarik melakukan bisnis dengan kita
(sample pricing, jaminan kualitas, dsb).
Sekian dahulu semoga banyak membantu. Saya akan sambung bila responsnya
banyak.
Wassalam,
Danet
Sumber : milis APICS-ID
Saturday, January 5, 2013
How to Master Content Marketing In a Month
Social Media Examiner has allowed me to hare the following post with you. Not only did I want to share this great article with you, but I also wanted to share information about the upcoming Content Marketing Summit. You've probably heard me say before that social media alone is not enough. Content marketing goes hand in hand with social media to drive traffic to your website and capture more sales.
Enjoy the article,
Deborah
How to Master Content Marketing In a Month
By Patricia Redsicker
Published December 11, 2012
Published December 11, 2012
Do you want to attract a steady stream of new customers?
Are you looking to create better content, but you need fresh ideas?
A lot of marketers are still unclear about what content marketing means.
This article will explore the benefits of content marketing and preview an exciting new opportunity from Social Media Examiner to help take your content marketing to the next level.
Smart Content, Big Rewards: An Example
Today, businesses of all sizes are using content marketing to slay the competition, attract large followings of loyal customers and explode their business’ growth.
Today, businesses of all sizes are using content marketing to slay the competition, attract large followings of loyal customers and explode their business’ growth.
Magnolia used content marketing to grow from a small audio store to an $87 million brand.
Back then, they had just transitioned from a neighborhood greeting card and photography store to an audio specialty store. Competition was fierce and they didn’t even have a marketing plan. So they hired a salesman (who knew a lot about educating prospects with great information) to develop a solid profitable marketing plan.
Back then, they had just transitioned from a neighborhood greeting card and photography store to an audio specialty store. Competition was fierce and they didn’t even have a marketing plan. So they hired a salesman (who knew a lot about educating prospects with great information) to develop a solid profitable marketing plan.
The plan was to give prospective buyers something to focus on other than price – content.
They created a series of stereo buyer’s guides, which offered educational content that answered prospects’ questions about buying audio equipment. These were distributed as newspaper inserts (remember there was no Internet at the time!).
But the guides were quarterly and Magnolia needed to nurture their audience by keeping the story alive throughout the year. So they invested in weekly distribution channels and different content formats. As resources grew, they scaled content velocity to achieve broader distribution and broadcast frequency.
Within 18 months, the small, out-of-the-way store was joined by a huge store in Seattle’s high-traffic University District, followed by two more stores and finally expanding to Washington, Oregon and California.
In 2000, the father-son business sold to Best Buy for $87 million! Today, there are over 350 Magnolia Home Theater Locations in Best Buy stores throughout the U.S.
Here’s a question for you. You have all the advantages of the Internet, right? What’s stopping you from growing your business?
Content marketing is simply creating and sharing information that solves buyers’ problems or makes their lives easier. The result is that you build a platform that draws in ideal customers, increases your exposure and achieves sales growth for your business.
Content Marketing Use and Adoption Statistics
Want to know how successful B2B marketers are using content marketing?
Want to know how successful B2B marketers are using content marketing?
Here’s some research from Content Marketing Institute and MarketingProfs with the latest findings:
91% of B2B marketers are now using content marketing
79% use content marketing for brand awareness, 74% for customer acquisition and 71% for lead generation
On average, B2B marketers are spending 33% of their marketing budgets on content marketing, which is up from 26% last year
54% plan to increase their content marketing spending in 2013
Large companies use an average of 18 content marketing tactics while small companies use an average of 11 tactics
These numbers demonstrate the huge investment B2B marketers are making in content marketing.
79% use content marketing for brand awareness, 74% for customer acquisition and 71% for lead generation
On average, B2B marketers are spending 33% of their marketing budgets on content marketing, which is up from 26% last year
54% plan to increase their content marketing spending in 2013
Large companies use an average of 18 content marketing tactics while small companies use an average of 11 tactics
These numbers demonstrate the huge investment B2B marketers are making in content marketing.
Don’t you think you should invest a little to learn more about content marketing this coming year?
Are you interested in learning how to create awesome blogs, podcasts, video, webinars and other forms of content to keep customers focused on your brand?
One of the biggest challenges marketers face is not knowing if their tactics are effective (according to Content Marketing Institute).
In response to this challenge, Social Media Examiner is bringing together 22 of the world’s leading content marketing experts to present at the first-annual online Content Success Summit 2013.
It’s an online conference spread over an entire month to meet your busy schedule.
This conference is designed to help you build your own platform, market your products and grow your business.
“Content is what makes social work, and it is at the core of all that we do here at Social Media Examiner,” says Michael Stelzner, CEO and founder of Social Media Examiner. “We have one of the largest business blogs in the world and a successful podcast. This summit is about teaching people how to do exactly what Social Media Examiner has always been doing.”
Why a Content Marketing Summit?
Unlike the early days of Magnolia Hi-Fi, we live in an era where everyone has the opportunity to build any kind of platform they want.
Unlike the early days of Magnolia Hi-Fi, we live in an era where everyone has the opportunity to build any kind of platform they want.
Business owners can develop and use their own platforms to publish great content for marketing the products or services they’re trying to sell.
Content Success Summit is the first virtual conference created to help marketers figure out exactly how to build their platform. By attending this conference you will:
See how successful content producers operate and how you can achieve similar results
Learn how to grow a loyal following via blogging, video, podcasting, email marketing and webinars
Discover how to sell your products and services using content
Gain a leg up on your competitors, helping you stand out
Pick up new content marketing strategies that will bring you more exposure
Designed to accommodate your schedule, the conference will be conveniently spread over a four-week period starting February 5, 2013.
Learn how to grow a loyal following via blogging, video, podcasting, email marketing and webinars
Discover how to sell your products and services using content
Gain a leg up on your competitors, helping you stand out
Pick up new content marketing strategies that will bring you more exposure
Designed to accommodate your schedule, the conference will be conveniently spread over a four-week period starting February 5, 2013.
You will receive recordings and transcripts of all live sessions. And because it is fully online, you can attend right from your home or office, thus eliminating long-distance travel expenses and hotel bills.
Meet Your Presenters
Our first Content Success Summit features the most experienced leaders in the industry. Many of them have written a book about content marketing or are founders of successful businesses fueled by content. Among them are:
Our first Content Success Summit features the most experienced leaders in the industry. Many of them have written a book about content marketing or are founders of successful businesses fueled by content. Among them are:
Joe Pulizzi – founder of Content Marketing Institute and co-author of Get Content Get Customers
Ann Handley – chief content officer of MarketingProfs and co-author of Content Rules
Michael Hyatt – chairman and CEO of Thomas Nelson Publishers and author of Platform: Get Noticed in a Noisy World
Michael Stelzner – founder of Social Media Examiner and author of Launch
Amy Porterfield – co-author of Facebook Marketing All-in-One for Dummies
David Siteman Garland – founder of Rise to the Top and author of Smarter, Faster, Cheaper
Gini Dietrich – co-author of Marketing in the Round
Heidi Cohen – president of Riverside Marketing Strategies
Pat Flynn – founder of Smart Passive Income
Marcus Sheridan – founder of the popular blog, The Sales Lion
Mark Schaefer – author of Return on Influence
And many others!
Is This Summit Right for You?
Perhaps you’ve been focusing a lot on social media, but not much on content marketing. You’re wondering if you could learn something new that might be a game-changer for your business. Ask yourself the following:
Ann Handley – chief content officer of MarketingProfs and co-author of Content Rules
Michael Hyatt – chairman and CEO of Thomas Nelson Publishers and author of Platform: Get Noticed in a Noisy World
Michael Stelzner – founder of Social Media Examiner and author of Launch
Amy Porterfield – co-author of Facebook Marketing All-in-One for Dummies
David Siteman Garland – founder of Rise to the Top and author of Smarter, Faster, Cheaper
Gini Dietrich – co-author of Marketing in the Round
Heidi Cohen – president of Riverside Marketing Strategies
Pat Flynn – founder of Smart Passive Income
Marcus Sheridan – founder of the popular blog, The Sales Lion
Mark Schaefer – author of Return on Influence
And many others!
Is This Summit Right for You?
Perhaps you’ve been focusing a lot on social media, but not much on content marketing. You’re wondering if you could learn something new that might be a game-changer for your business. Ask yourself the following:
Do I have a content marketing plan for 2013?
Are there some content tactics that I’m not aware of that could be useful for my business?
Could I use some advice to build my platform, market my products and grow my business using content?
If you answered ‘Yes’ to any of these questions, then sign up and learn from the leading content marketing authorities in the industry.
Are there some content tactics that I’m not aware of that could be useful for my business?
Could I use some advice to build my platform, market my products and grow my business using content?
If you answered ‘Yes’ to any of these questions, then sign up and learn from the leading content marketing authorities in the industry.
Want to Save Money?
If you reserve your spot right now, you will save 50%. Click here for details.
If you reserve your spot right now, you will save 50%. Click here for details.
Over to You. Are you interested in learning how to create a content platform that will successfully grow your business? Please share your thoughts and comments in the box below.
Source : tekkbuzz.com
GUEST POST, JIM TOMPKINS: THE AMAZON EFFECT — RETAILERS AT THE X-ROADS
Published by Jim Tompkins on October 22, 2012 |
Whether you’re a retailer, logistics provider, or supplier, what Amazon is doing will have a major impact on your future. As I explain in the video, in terms of total revenue, Amazon has the potential to be as large as Wal-Mart, and already it arguably exerts more reach and influence.
What is really exciting (or scary, depending on your position) is that unlike Wal-Mart, Amazon is increasing the rate of its infrastructure investments. They are set to open up their own retail store. Make no mistake: the real disruption is yet to come.
So what should you be doing to prepare yourself? Well, in addition to new processes, business practices, and strategies, you need to invest in the right technology. I agree with Greg Brady that connecting yourself to a many-to-many network can offer a way forward for many brick-and-mortar retailers, logistics providers, raw material suppliers, and manufacturers. Here’s why:
1. The need for real time operations — I’m sure you’ve read the articles that are cropping up everywhere. Amazon is moving toward offering same-day delivery. And for the coming holiday season, Wal-Mart will be doing the same. In addition, Best Buy and Target are looking at matching Amazon’s prices for holiday shoppers. All these strategies require real time capabilities, which means seamless collaboration among stores, e-commerce sites, suppliers, and logistics providers. This is tough to do, and few other companies have the resources and pre-existing network of an Amazon or Wal-Mart. That’s why I believe many companies would benefit from joining a preexisting network platform that is designed to enable demand-driven collaboration in real time.
2. Connects to all parties — Much of the information that is most important to you lies outside the four walls of your enterprise. Can you access it? And more importantly, do you have the ability to deliver an optimized response? Current technology simply isn’t designed to do this, but a “many-to-many” network is designed this way.
3. Designed for the future — Over the years, I’ve seen many IT projects that took so long to implement that they were obsolete before they even began! A many-to-many network platform can grow with your business—allowing you to easily scale across new product introductions, new infrastructure, and new trading partners. Just as important, a many-to-many network can give you the ability to design your own enterprise applications that are custom tailored for your own unique business processes.
In short, a many-to-many network can give you the ability to strategically respond to the Amazon Effect now, but it still sets you up for the challenges of the future.
Source : http://supplychainbeyond.com
One Thing You Need to Know About Social Media Today
• Increased traffic to your page
• Page exposure
• Increasing brand awareness
• Business development
It’s easy to get so excited over the technology sometimes we fail to plan or create the necessary road map for your online business to be successful.
I'm often asked, if there was only one thing you could tell people that will help them move their social media marketing forward, what would it be? And here is my answer.
When you are on social media, your goal is to drive traffic back to your site. That is the fundamental result you should be working toward every time you are on social media. Now, that doesn't mean that Every post should lead back to your website. It means once in a while you offer information from your website with a link. There are steps to drawing new prospects to you in social media, and then bringing them to your website. This can be viewed as a funnel, similar to a sales funnel. These are the steps you want your readers to take.
1. Engage in easy light conversation. You can talk about many things other than your business. It's often those simple posts that get responses and start conversations with new people.
2. Offer tips and information with no strings attached. As you're chatting with people, from time to time you should offer good useful information. Quick tips are an easy way to accomplish this. I may put out one sentence that says
"Placing a photo on your LinkedIn profile greatly increases your chances of engagement with new prospects."
This type of post doesn't need a link. Just the tip itself will show readers you care about giving good information with no strings attached.
"Placing a photo on your LinkedIn profile greatly increases your chances of engagement with new prospects."
This type of post doesn't need a link. Just the tip itself will show readers you care about giving good information with no strings attached.
3. Offer a link to information on your website. Once you've (1) engaged a new person in conversation (2) offered free information to gain trust, now it's time for the third step. Occasionally post information that leads back to your website. A blog is a great way to continually have good information to post to social media accounts. Readers will read the title, become interested enough to click the link, and they land on your website.
These are the simple easy steps you should be taking to increase engagement on your social media sites, and to drive traffic to your website.
Source : tekkbuzz.com
YOUR SUSTAINABILITY CHECKLIST
Published by Bruce Tompkins on December 31, 2012
Here is a sustainability checklist that you can use as a starting point:
- A comprehensive sustainability strategy: This should cover emissions, resource consumption, reporting, and a good public relations message. Sustainability is truly an opportunity.
- Facility audit: Analyze your facility locations, numbers, purpose, construction, and equipment. Doing this from an emissions/sustainability perspective will reveal potential opportunities for improvement.
- Transportation: What are your transportation practices and what modes do you use? Transitioning to more sustainable transportation best practices can have a huge effect.
- IT systems: Find technology that monitors and controls your sustainability activities. Choosing the right IT system is critical. Don’t be afraid to think outside the box.
- Reporting Requirements: Determine what your reporting requirements are. Seemy recent post for a discussion of potential reporting requirements.
- Benchmarking: Measure and benchmark any steps you take toward sustainability.
Source : http://supplychainbeyond.com
Sunday, December 23, 2012
Niat Bisnis
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya”.
Saya pernah meremehkan kalimat ini. Tapi setelah mengalaminya sendiri, saya harus mengamini. Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Hal ini berlaku dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari pekerjaan, asmara, kehidupan social, sampai hubungan transcendental dengan Tuhan.
Saya tidak berbicara ala the secret-nya Rhonda Byrne, tetapi dalam bisnis, saya sudah merasakan sendiri. Niat dalam menjalankan usaha akan menentukan apa yang kita dapatkan. Contohnya niat bisnis ibu saya. Setelah pensiun tahun lalu, Ibu saya lalu mendirikan rumah makan. Menyewa kios dan sempat menyewa cabang.
Kelihatan maju? Tapi Ibu saya hanya meniatkan untuk mengisi waktu dan sedikit-sedikit menambah uang sisa pensiun. Dan Ibu saya mendapatkan apa yang ia dapatkan. Usaha kateringnya cenderung stagnan dan bahkan mengalami penurunan (kedua cabang itu sudah tutup). Sekarang, Ibu menggunakan system delivery order. Kerja juga nggak ngoyo (menggebu-gebu). Yang penting cukup dan bisa mengisi kegiatan di hari tua.
Niat Baik = Hasil Baik
Pelajarannya: niat usaha itu penting. Beberapa hari lalu saya berkenalan dengan Ricky. Seorang pengusaha pupuk di Surabaya. Umurnya masih muda, baru 28 tahun. Baru saja lulus S-2 dari ITS. Ketika saya bertanya, bagaimana dia bisa menjadi pemilik pabrik, ternyata ada lagi tentang kekuatan dibalik niat.
Ricky sempat membeberkan sejarah bisnisnya. Jadi setelah ia lulus kuliah, Ricky lalu bekerja di sebuah perusahaan distributor pupuk. Selama bekerja 4 tahun, ia mempelajari bisnis ini dari hulu hingga hilir. Dari mulai produksi hingga pemasaran ke petani. Dari situ, dia memiliki pengetahuan A sampai Z tentang bisnis pupuk. Tak lupa ia juga membangun relasi dengan pabrik-pabrik besar dan berbagai distributor. Pokoknya, Pupuk dicinta, ulampun tiba. Hehehe.
Karena ingin fokus melanjutkan S-2, dia nekat resign. Ilmunya sudah mentok. Tak ada yang bisa dipelajari lagi. Menjelang lulus S-2, dia pernah diminta untuk menjadi konsultan sebuah pabrik pupuk. Dan dalam sebulan, pabrik yang tidak beroperasi tadi dapat berproduksi dan langsung mencetak omset 300 juta. Dia mengaku hanya memperbaiki system pemasaran yang ada.
Pemilik pabrik yang puas ternyata memiliki kenalan yang juga punya pabrik. Tapi mangkrak. Alias bertahun-tahun tidak terpakai. Dia meminta Ricky untuk menjualkan pabrik itu. Hanya 9 milyar. Bukannya menjual, Ricky justru membawa pabrik itu sebagai agunan kredit di bank. Dan coba tebak berapa nilai taksiran pihak bank? 55 milyar!.
Dengan dana sebesar itu, ia berencana menghidupkan kembali pabrik itu dan melakukan diversifikasi usaha dengan mendirikan pabrik pengolahan singkong untuk etanol dan juga menanam kayu sengon. Sungguh tidak disangka-sangka. Seorang penjual pupuk, bisa memiliki pabrik pupuk. Dia mengaku tidak pernah punya impian menjadi pengusaha pupuk. Ketika saya tanya apa rahasianya, dia Cuma berkata,
“Yang penting itu doa Mas. Saya Cuma niatin pingin mendirikan sekolah gratis. Untuk urusan jalannya, saya pasrahkan sama Allah”.
Not just profit
Tuhan memang punya jalan yang tak disangka-sangka untuk hambanya. Dan ternyata, banyak perusahaan yang mampu bertahan selama ratusan tahun karena mereka berbicara beyond profit. Mereka berpikir tentang kesejahteraan manusia, bagaimana membuat kehidupan menjadi lebih manusiawi.
Seperti pesan George Merck II:
“Kami mencoba mengingat bahwa obat adalah untuk pasien.. obat bukan untuk laba. Laba mengikuti, dan bila kita mengingat hal ini, laba tidak pernah gagal untuk muncul. Semakin baik kita mengingatnya, laba akan semakin besar”
Hal ini diamini oleh David Packard, pendiri HP:
“Laba bukan tujuan akhir dan tujuan dari manajemen-tetepi apa yang membuat tujuan akhir dan tujuan manajemen tercapai”
Dan disimpulkan oleh Jim Collins:
“Berlawanan dengan doktrin dalam sekolah bisnis, kami tidak menganggap “memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham” atau “memaksimumkan laba” sebagai tenaga pendorong yang dominan atau tujuan utama dari perusahaan-perusahaan visioner sebagai terlibat dalam sejarahnya… (mereka) menunjukkan bahwa bisnis lebih dari sekedar kegiatan ekonomi, lebih dari sekedar mencari uang… kami melihat bahwa ideology inti lebih penting daripada pertimbangan masalah ekonomi. Dan inilah kunci utamanya, perusahaan-perusahaan visioner mempunyai ideology inti yang mengangkat mereka ke derajat yang lebih tinggi”
Perusahaan yang mampu bertahan ratusan tahun adalah perusahaan dengan corporate shared value. Nilai-nilai untuk kebaikan kemanusiaan. Dan ini bukan hanya dalam bentuk corporate social responsibility. Menurut Michael Porter dalam Harvard Business Review edisi Jan-Feb 2011, corporate social responsibility tidaklah cukup. CSR seringkali hanya gimmick pemasaran dan menjadi kedok pengurang pajak.
Perusahaan masa depan adalah perusahaan yang memiliki shared value kepada masyarakat. Mereka yang tidak hanya memandang konsumen sebagai kantong uang yang bisa disedot, tapi sebagai manusia yang harus dibantu dan dimudahkan hidupnya untuk menjadkan dunia menjadi sedikit lebih baik.
Ricky tidak pernah bermimpi mendirikan pabrik pupuk. Dia hanya berniat baik, berdoa baik, dan berikhtiar dengan baik. Tapi itulah kuncinya. Niat baik disertai usaha yang baik pasti akan menemukan jalan baik. Pastikan saja niat kita sudah benar. Karena mereka yang berniat baik saja hasilnya belum tentu baik, apalagi jika berniat tidak baik. Kita hanya perlu berdoa, berusaha, dan bersabar. Sisanya? Serahkan saja kepada Tuhan.
disadur dari EG
NIAT MENJADI WIRAUSAHA YG DIRIDHAI ALLAH SWT
Banyak pilihan yang ada dalam hidup kita, salah satunya adalah pilihan dalam menjemput rizqi,semua pilihan akan mulia jika berlandaskan keridhaan Allah semata, tulisan dibawah ini ditujukan kepada sahabat-sahabat yang sedang atau sudah menentukan pilihan untuk menjadi seorang wirausaha ,semoga bermanfaat.
"Innama 'amalu bin niat, wa innama likulli riim man nawar"
ALASAN EKSTERNAL BERWIRAUSAHA :
- pondasi ekonomi berbasis kerakyatan/usaha kecil menengah/industry riil sudah terbukti mampu bertahan terhadap dampak krisis ekonomi.
- Membuka lapangan pekerjaan:
- Angkatan kerja Indonesia : 106 juta.
- Pengangguran di Indonesia : 11 juta
- Penduduk di bawah garis kemiskinan : 37 juta.
- suatu teori : Bahwa jika 2% saja penduduk sebuah negara terlibat aktif dalam kewirausahaan, maka dapat dipastikan bahwa negara tersebut akan sejahtera (David Mc Clelland)
- Penduduk Indonesia : 231 juta jiwa
- 2%nya : 4.620.000 jiwa
- Sekarang di Indonesia jumlah pengusaha : 400.000
3. Indonesia kaya raya, jangan sampai kita dijajah / menjadi lahan emas investor asing (berusaha menncukupi kebutuhan dari produksi dalam negri )
ALASAN INTERNAL BERWIRAUSAHA :
- IBADAH ; segala aktifitas untuk mencapai keridhaanNya
- KALIFAH ; berkarya seoptimal mungkin, sehingga saat kematian kita kelak adalah puncak kita berkarya dalam hidup ini yang bermanfaat bagi peradaban manusia, mensejahterakan diri dan orang lain.
- DAKWAH ; apapun aktifitas yang kita lakukan , menjadi pencerminan pribadi pribadi yang menjaditeladan dalam kebenaran.
ALASAN LAIN BERWIRAUSAHA :
> Bebas bercita-cita dan bebas mewujudkannya.
> Waktu yg flexible
Target
> Penghasilan yang tidak terbatas
> Ide tak terbatas bisa langsung diimplementasikan, dll
BISNIS ISLAMI VS BISNIS NON ISLAMI
>BISNIS ISLAMI (Fair Trade)
>BISNIS NON ISLAMI
Asas : Islam
Asas : Sekuler
Motivasi : Dunia – Akhirat
Motivasi : Duniawi
Orientasi : Profit, Pertumbuhan, Keberlangsungan,
Keberkahan
Orientasi : Profit,Pertumbuhan,keberlangsungan
Produk : Berusaha Sesuai dengan syari’ah*
Produk : Umum, yg penting laku*
Keuangan : Halal
Keuangan : tdk ada jaminan halal
SDM : Profesional, bertanggung jawab pada diri,
SDM: Profesional, bertgg jwb pada owner*
owner dan Allah SWT *
Pemasaran : Koridor jaminan Halal.
Pemasaran : Dengan segala cara.
contoh : usaha garment (pasar eksport)
LANGKAH MEMULAI USAHA :
1. Tanyalah pada dirimu , apa tujuan hidupmu dan kenapa diciptakan ;
Pertama, kita diciptakan oleh Tuhan untuk menjadikan segala aktifitas kita sebagai ibadah. Itu artinya bisnis bagi kita adalah ibadah, bukan semata – mata mencari uang.
Kedua, tugas hidup. Kita diberi kesempatan hidup di dunia satu kali oleh karena itu kita harus berkarya seoptimal mungkin, sehingga saat kematian kita kelak adalah puncak kita berkarya dalam hidup ini yang bermanfaat bagi peradaban manusia, mensejahterakan diri dan mensejahterakan orang lain.
Ketiga, Ber aktifitas untuk menjadi teladan dalam kebenaran
SUMBER MOTIVASI tertinggi= Spiritual motivation, mengetahui tujuan kita diciptakan
2. Menentukan Tujuan Hidup disertai kepasrahan Total kepada Allah SWT
3. Langkah teknis :
- Mencari ide: ubah kegemaran menjadi peluang berbisnis
- Utarakan keinginan Anda pada keluarga/org terdekat
- Cari tahu tentang jasa/produk yang ingin Anda jadikan bisnis; Sumber Gagasan Bagi Produk dan Jasa Baru :
- Kebutuhan akan sumber penemuan
- Membuat inovasi baru
- Sesuai keahlian
- Hobi atau kesenangan pribadi
- Menyesuaikan dengan kebutuhan sekitar
- Memanfaatkan koneksi dan relasi
- Mengamati kecenderungan-kecenderunga n
- Mengamati kekurangan-kekurangan produk dan jasa yang ada
4. Membuat rencana bisnis (business plan) *contoh copy ke panitia.
5. Pengurusan Izin Usaha
6. Membuat Time Line / Jadwal
7. Pelaksanaan
8. Evaluasi
9. Perbaikan terus menerus
INDIKATOR SDM MUSLIM yang Berkepribadian Islam
AQLIYAH : Memahami Aqidah Islam dan menjadikannya landasan berfikir.
Indikasi :
Memahami dan mengimani seluruh perkara Aqidah Islam
Memahami Hukum Islam yang berkaitan dengan Ibadah, halal haram makanan/minuman, pakaian , akhlaq, muamalah.
Memahami problematika umat dan ide2 yg bertentangan dengan Islam serta Ihwal kewajiban dakwah.
NAFSIYAH : Menjadikan syari’at islam sebagai tolok ukur perbuatan.
Ibadah : melaksanakan Ibadah sesuai syari’at
Makanan dan minuman : mengkonsumsi makanan halal
Pakaian : menutup aurat sesuai syari’at
Akhlaq : - akhlaqul karimah, amanah, motivasi dan produktifitas tinggi
Menata pergaulan dalam koridor syariat
Muamalah : Selalu bermuamalah secara Islami
Dakwah: memiliki kepedulian thdp umat dan bersedia terlibat dalam dakwah.
*Indikator kematangan Syakhshiyah Islamiyah
(SEM, 2000)
> PRINSIP KEIMANAN ENTREPRENEUR MUSLIM :
1. Meyakini bahwa harta adalah milik Allah semata.
2.Manusia hanya diberi mandat
3. Menghadirkan niat yang baik dalam bekerja
4. mengimani qadha dan Takdir allah, Disertai sikap selalu syukur
5.Siap menjalani proses dan bekerja untuk mendapatkan rezeki
6.Meyakini bahwa Allah telah menentukan kelebihan atas orang lain
7.Selalu menjaga aturan syari'at dalam ibadah
>PRINSIP AKHLAQ ENTREPRENEUR MUSLIM :
1. Berinteraksi dengan akhlaq dasar IsLAm :
- Jujur,Amanah, Toleran, Menepati janji.
2. Memilih yang baik menjauhi yang haram :
- Tidak berbisnis pada barang atau jasa yang dilarang syari'at
- Tidak memakan harta dengan cara bakhil.
- Melakukan penimbunan.
- boros, berlebihan, bermegah-megahan
- Persaingan yang tidak sehat
-Menjual barang yang masih dalam transaksi orang lain.
- menghadang di jalan
Semoga bermanfaat bagi siapa saja yg ingin memulai usaha atau yg ingin meluruskan niat dalam menjalankan usaha selama ini ^^
dari berbagai sumber.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Rekan2, berikut ini saya sampaikan beberapa hal mengenai perancangan gudang yang merupakan hasil pengalaman praktis dalam melakukan peren...
-
Rekan-rekan, Prosedur sertifikasi APICS CSCP tercantum dalam bulletin yang bisa di-download dari website. Ringkasnya, syarat dan prosesnya a...
-
Belajar ERP (Enterprise Resource Planning) adalah memang memerlukan effort yang sangat besar dikarenakan luas cakupannya dan banyaknya b...
-
Introduction A company’s supply chain will incorporate some warehousing function. This can be company-owned, owned by a third party log...
-
Supply Chain Management Edisi Kedua Buku ini menyajikan konsep, teori, dan contoh-contoh aplikasi dari supply chain management. Dike...
