Sunday, June 9, 2013

Menjadi Orang Optimis

  
Lisa Funderburg mengatakan kalau optimis itu bukanlah tanda keras kepala, melainkan cara yang secara ilmiah terbukti untuk menjadi lebih bahagia, sehat dan bahkan tampil menarik terhadap lawan jenis. 

Sebuah penelitian terbaru menyatakan kalau tahap optimis itu hadir dari serangkaian proses dalam diri yang aktif, bagian psikis diri kita. Hal ini merupakan berita baik karena ini berarti optimistis itu, sama seperti ketrampilan lainnya seperti memukul bola tenis, adalah sesuatu yang dapat kita tingkatkan dengan latihan-latihan. Ada lima latihan berdasarkan penelitian ilmiah yang dapat membantu otak kita untuk membuat kita menjadi lebih optimis. 

1.       Bermain ping-pong interpersonal 
Jika anda tersenyum pada orang lain, biasanya mereka akan tersenyum balik pada anda. Dan jika anda memaki mereka, mereka pun akan balik marah pada anda. Jadi : 

Sebuah penelitian menunjukkan kalau ekspresi wajah dan mood yang menemani mereka adalah sesuatu yang menular, mungkin karena mereka terlibat sebagai sebuah komunikasi nonverbal antar individu. 

Anda dapat menggunakan efek menular ini dalam memulai mengoptimiskan diri anda dengan mengirimkan pesan pada orang lain mengenai apa yang ingin anda terima dari mereka. Kata-kata yang baik kepada kasir supermarket akan dibalasnya dengan baik pada anda dan anda sudah berada di jalur optimisme yang tepat ! 

2.       Pesimisme sirkuit pendek 
Ada alasan lainnya mengapa diperlukan wajah bahagia, ini mempengaruhi otak anda dalam cara yang positif. 

Pada sebuah penelitian, subjek yang diminta untuk memegang bolpen dimulutnya (membuat mereka menggerakkan otot wajahnya membentuk karakteristik senyuman) menilai sebuah kartun lebih lucu daripada subjek lainnya, meskipun mereka tidak sadar kalau senyuman merekalah yang memicu reaksi tersebut. 

Ada penjelasan biologis menarik untuk efek ini: Jika anda merasa sedih, otak anda memberitahukan wajah anda kalau anda sedih dan otak di wajah anda berespon dengan membentuk ekspresi depresi (bersedih), lalu mengirim pesan kembali ke otak bahwa, ya, anda sedang bersedih. Dengan sadar merubah otot wajah sehingga mereka tidak berespon dengan apa yang anda rasakan adalah suatu cara mengirimkan pesan berbeda, "Ternyata hari ini tidak begitu buruk !" Maka otak pun akan berespon dengan merubah mood anda. 

3.       Gambarkan kesuksesan dan kegagalan seperti seorang optimis 
Dari penelitian juga ditunjukkan kalau bukanlah apa yang terjadi yang menentukan mood anda tapi bagaimana anda menggambarkan apa yang terjadilah yang penting. 

Jika seorang optimis menemukan jalan buntu saat menjalankan sebuah program komputer, biasanya ia berkata, "Mungkin manualnya tidak jelas atau programnya sulit atau hari ini bukan hari saya." Si optimis akan membiarkan kegagalan tersebut di luar dirinya (manual), khusus (program ini) dan sementara (hari ini bukan hari saya), sementara si pesimis akan menjadikan kegagalan sebagai sesuatu yang internal, global dan permanen. 

Saat seorang optimis menghadapi sukses, ia akan berkata, "Tentu saja acara ini sukses, saya seorang organizer yang baik." Sementara si pesimis akan berkata, "Wah, saya lagi beruntung hari ini." Jika anda mulai berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang positif saat anda sukses dan gagal, anda secara bertahap akan menjadi lebih optimis.   

4.       Tetapkan Kemasan yang anda sukai 
Sangatlah mudah untuk menjadi iri : Bandingkan saja diri anda dengan orang lain yang lebih sukses, maka anda akan selalu mengharap dan menjadi pesimis. Tapi mudah juga untuk bertindak sebaliknya :Tak peduli betapa buruknya sesuatu hal yang menimpa anda, pasti ada orang lain yang jauh lebih menderita. 

Dalam suatu penelitian sederhana, subjek penelitian dibagi ke dalam dua kelompok kecil secara acak. Satu kelompok diminta untuk menyelesaikan kalimat "Saya berharap Saya adalah seorang _____." Sementara kelompok lainnya diminta untuk menyelesaikan kalimat, "Saya bersyukur saya bukanlah seorang ___." Saat individu-individu ini menilai tingkat kepuasan hidupnya sebelum dan sesudah tugas ini, mereka yang menyelesaikan kalimat terakhir jelas-jelas lebih puas dibandingkan sebelumnya.   

5.       Belajarlah untuk merubah fokus anda 
Si Pesimis tidak dapat berhenti memikirkan fakta atau pikiran negatif dari kepala mereka tapi mereka dapat memilih untuk tidak berpikir terus ke arah situ. 

Jika anda melihat lewat sebuah lensa kamera, anda akan menemukan jika satu bagian dari gambar yang hendak anda potret berada dalam fokus anda, sementara area lainya blur sedikit. (Ini memang sebuah distorsi, tapi kadangkala kita perlu mempertahankan ide ini bahwa kita berada dalam sebuah balon proteksi untuk merasa optimis). Pengarahan diri yang aktif ini dari perspektif waktu ke waktu memungkinkan anda untuk membuat sebuah cerita hidup baru, dimana anda anda yang mengontrol emosi dan tindakan anda sendiri. 

Data penelitian menunjukkan bahwa mereka yang merasa memiliki kontrol diri lebih baik cenderung optimis, maka mengapa tidak mengontrol sendiri kemana fokus kamera hidup anda ? 




No comments:

Post a Comment

Related Posts