Friday, August 17, 2012

Relasi Sosial & Relasi Ekonomi

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)

     Pertanyaan sederhana: “…transaksi ekonomi itu bagian dari hubungan sosial manusia, ataukah sebaliknya?” (B.Herry Priyono, ‘Dalam Pusaran Neoliberalisme’, 2003).

***

     Dulu memang transaksi ekonomi merupakan salah satu bagian saja dari pelbagai macam hubungan manusia (sosial). Namun, dalam penilikan lebih lanjut, semakin disadari bahwa sekarang ini telah (semakin) terjadi perihal sebaliknya, dimana hubungan sosial – termasuk relasi persahabatan, bahkan untuk mengikat tali perkawinan – pun semakin dikuasai kalkulasi ekonomi. Sehingga relasi sosial malah jadi bagian dari pertimbangan transaksi ekonomi, sekedar kalkulasi untung-rugi finansial.

***

     Dilaporkan (The Business Times, Thursday, July 19, 2012), bahwa pertumbuhan pasar barang mewah pun diperkirakan masih bakal turun ke 3,7 persen. Apa pasal?  Rupanya, seperti dikutip kantor berita Xinhua, penguasa China akan melarang aparat pemerintahannya belanja barang-barang mewah mulai tanggal 1 Oktober nanti. Ini juga akibat melemahnya kinerja ekonomi China yang semakin jauh dari prestasi pertumbuhan dua digitnya. Di samping itu juga upaya serius penguasa China membabat korupsi di kalangan pejabat. Akibatnya, dalam perkiraan CLSA (Credit Lyonnais Securities Asia) Ltd, pasar barang mewah China yang senilai 22 milyar euro (atau 35,4 milyar dollar Singapura) ditengarai bakal mengerut.

     Seketika setelah berita ini menyebar, beberapa produsen merek global sangat terpukul. Misalnya produsen Swatch, yang juga memayungi beberapa brand seperti jam tangan Omega dan Richemont, dikabarkan telah memotong perkiraan per-share earnings dari merek Richemont sebesar 7 persen pada tutup tahun bulan Maret 2014 nanti. Sedangkan untuk merek Swatch dipotong sekitar 5 persen pada tahun ini sampai bulan Desember 2013.

     Praktek beri “hadiah” kepada para pejabat pemerintahan adalah praktek yang umum dilakukan demi mempererat hubungan, dan “memperlancar” urusan bisnis. Memang yang selalu jadi soal adalah ukuran kelayakan dari “hadiah” yang diberikan, selain maksud dan cara memberikannya. Memang ukurang kewajaran di sini jadi serba sulit sehingga diperlukan banyak pemakaian “tanda kutip” sebagai penekanannya. Di Jepang misalnya, praktek membawa “buah tangan” (kado, yang dibungkus indah) adalah bagian dari tradisi (budaya) saat kunjungan formal atau jika kita diundang makan malam oleh kolega atau keluarga bos.

     Laporan The Business Times menyebutkan, “Rolex watches and bars of gold are often handed out by those seeking favours from business associated in China. Now the gift-givers are cutting back, and the luxury industry is holding its breath.”  Diceritakan, misalnya Vivian So, pemilik salon kecantikan berusia 38 tahun di Shanghai yang biasa memberikan jam tangan Rolex kepada para relasi bisnisnya sekarang mesti beralih memberikan kado dalam bentuk dompet yang tidak semahal jam tangan bergengsi itu. Juga kesaksian William Li, manajer di Hong Kong’s King’s Watch Co yang sudah biasa melihat pelanggannya yang datang dari mainland China belanja jam tangan seharga HK$100 ribu (16,500 dollar Singapura) untuk hadiah bagi pejabat pemerintahannya. Sekarang ini mereka tetap belanja jam tangan, hanya saja anggarannya turun sekitar 40 persen. 

     Fenomena ini di satu sisi merupakan terobosan dalam rangka good-governance otoritas di China, namun di sisi lain memukul pasar luxurious-goods seperti misalnya Cie Financiere yang menjual Cartier, Swatch Group dan Luk Fook Holdings International di Hong Kong yang menjual perhiasan mewah. Padahal – dalam analisa CLSA Ltd – corporate-gifts ini menduduki posisi kelima dalam urutan pengeluaran belanja (spending) di China. CFO (chief financial officer) Luk Fook Holdings, Paul Law, mengakui bahwa, “Lower earnings resulting from China’s economic slowdown may lead to companies spending less on business gifts.” Padahal di lain pihak ia juga meyakini bahwa, “Corporate gifting helps foster business relationships: You can cut the red tape and speed up approval processes when you have good relations.” 

     Barang mewah seperti apa sih yang biasa dibelanjakan sebagai corporate-gifts? Menurut pengakuan Paul Law, biasanya berupa emas batangan dengan tulisan “keberuntungan” di atasnya (seharga HK$20ribu) adalah bentuk yang paling jadi favorit. Lalu bola basket emas, kartu poker emas, dan set permainan catur dari emas merupakan simbol atau tanda berikutnya yang dipilih untuk “mempererat kerjasama” dengan mitra-mitra usaha.

***

     Sementara itu di tempat lain, demi memperlancar bisnis dan “mempererat kerjasama” tidak lagi menggunakan simbol atau tanda, tapi blatantly dengan uang! Hanya namanya saja yang disamarkan, kalau dollar namanya ‘apel washington’, sedangkan rupiah disebut dengan ‘apel malang’.

     Pada ujungnya, memang sulit menarik batas yang kasat mata, dimana garis kepantasan pemberian itu bisa ditarik. Ada bauran dimensi tradisi, kebudayaan, besaran uang (atau kadar kemewahan), bentuk dan cara pemberiannya. Misalnya gratifikasi dalam format jalan-jalan (tour) ke luar negeri atau dibungkus dalam bentuk yang lebih rapih: seminar/kongres ke luar negeri (beserta seluruh anggota keluarga). Macam-macam bentuk dan latar belakang maksud pemberiannya. Di titik ini kita semakin merasakan imperatif dari etika pemasaran pada khususnya, dan etika bisnis pada umumnya.

***

     Marketing memang semakin dirasakan kepentingannya demi survival di kancah globalisasi ini. Tetapi ideologi-pasar yang memandang semua relasi manusia dilandasi pertimbangan kalkulasi untung-rugi rupanya menyempitkan realitas manusia yang seyogianya jauh lebih bernuansa dari cuma sekedar transaksi ekonomi.

(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Agustus 2012 

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: strategicmanagementservices@yahoo.com

No comments:

Post a Comment