Friday, August 17, 2012

Kapasitas Pikir Manusia

Bondan Winarno
Penulis masalah-masalah manajemen

Ki Sarino Mangunpranoto (almarhum) dulu sering mengatakan kepada saya bahwa7
salah hitung adalah sebuah kesalahan yang bisa dipahami, tapi salah pikir
merupakan hal yang lebih fatal. Ia menjalani "dogma"-nya itu secara
konsisten. Untuk sarapan, misalnya, Ki Sarino tidak makan roti, melainkan
pisang rebus dengan madu.

Kadang-kadang singkong atau ketan dengan parutan kelapa. "Memang, bangsa kita
yang penduduknya terus bertambah ini pada suatu titik nanti akan kesulitan
beras," katanya. "Maka itu kita harus mulai melakukan diversifikasi pangan.
Namun, kalau diversifikasinya ke pangan yang memakai bahan gandum atau
terigu, itu berarti salah pikir. Soalnya, gandum dan terigu tidak bisa
tumbuh di negeri kita dan harus diimpor."

Berhitung adalah keterampilan teknis. Berpikir adalah keterampilan
intelijen. Proyeksi matematis yang benar tidak akan berarti apa-apa bila
tidak dibarengi dengan analisis yang tajam dan merupakan hasil olah pikir
yang dalam. Sayangnya, kita sering salah melakukan kedua hal itu. Ya salah
berhitung, ya salah berpikir.

Kapasitas pikir manusia ternyata juga terus berubah. Buku Bill Gates yang
saat ini sedang laris berjudul Business at the Speed of Thought. Kemampuan
berpikir seseorang makin menjadi keunggulan inti dalam persaingan bisnis.
Piranti komputer yang serbacepat - berkonvergensi dengan jaringan
telekomunikasi yang andal - telah mampu mengantarkan apa saja yang ada dalam
benak seseorang ke benak orang lain dalam waktu hampir seketika. Setiap
pemimpin kini makin dituntut kemampuannya untuk berpikir secara instan, agar
menghasilkan keputusan-keputusan tepat yang instan pula.

Seorang pialang saham kini sudah bisa menerima informasi real time ketika
sedang berada 30.000 kaki di atas Alaska, dan secara real time pula melakukan
penjualan dan pembelian saham di bursa-bursa New York dan London sekaligus. Tak
ada sedetik pun yang terbuang.

Ternyata, otak ciptaan Tuhan masih membuktikan keunggulannya sebagai
superproduk yang tiada tara. Kemampuan berpikir telah menjadi "berhala" yang
lebih tinggi derajatnya daripada superproduk ciptaan manusia.
Sebelum buku Bill Gates ini beredar, Edward de Bono - seorang filsuf yang telah
menulis 31 buku tentang teori berpikir - juga telah menerbitkan sebuah buku
berjudul New Thinking for the New Millennium. Dari seorang De Bono tentulah
kita tak bisa berharap bahwa buku ini hanya sekadar gimmick untuk memasuki
milenium baru.

Di dalam buku ini De Bono justru menyampaikan caveat bahwa teknologi yang dengan
hebatnya telah memfasilitasi cara manusia melakukan proses berpikir dan
mengomunikasikannya justru berpotensi menumpulkan daya pikir seseorang. "The
ability to send hundreds of e-mails does not ensure the ability to write
something intelligent or amusing," tulisnya.

Cara kerja komputer juga menumbuhkan sebuah jargon baru dalam manajemen dan
bisnis akhir-akhir ini, yaitu: to replicate. Dengan hanya memencet satu tombol
komputer, kita bisa melakukan pengulangan (replication) sebanyak yang kita
ingini.

Cara pikir business process reengineering juga bersandar pada konsep proses
yang dianggap andal dan jitu untuk menyelesaikan satu tugas (task).

Kebiasaan - yang merupakan resultan dari replikasi atau pengulangan -
adalah pola standar yang bisa kita pakai untuk mengambil keputusan yang
gampang dan aman. Namun, keputusan yang gampang dan aman tidak akan membuat
kita unggul dari pihak lain yang lebih progresif. Kita harus juga mampu
menciptakan desain-desain pikir baru untuk membuka peluang-peluang baru.
(Naskah asli berbunyi begini: The judgement habits of the past millennium
keep us out of trouble. The design habits of the next millennium will open
up new opportunities).

Seorang pengusaha tidak akan kesulitan melakukan perjalanan ke Tokyo. Ia cukup
melakukan replikasi terhadap pengalamannya selama ini. Ia tahu maskapai
penerbangan mana yang mempunyai rute terbaik dan jam ketibaan yang cocok dengan
jadwal bisnisnya. Ia tahu di hotel mana ia akan menginap agar bisa berjalan
kaki lima menit ke kantor yang akan ditujunya.

Yang sulit adalah membuat keputusan tentang apakah ia harus pergi ke Tokyo
atau ke New York untuk memberi return yang terbaik bagi bisnisnya? Keputusan
tentang ini bukanlah sesuatu yang replicable, karena ia berhadapan dengan
masalah yang lebih krusial: penciptaan nilai (value creation).
Kalau kita masih berpikir bahwa berpikir adalah sesuatu yang alamiah, maka
kita perlu memperhatikan kata-kata bijak Albert Einstein beberapa dasawarsa
lalu dan masih sahih hingga kini: everything has changed, except our way of
thinking.

Sumber : Kontan

No comments:

Post a Comment