Monday, December 17, 2012

Menuju Kesejatian Hidup


Ketika kakek buyut saya berkisah tentang menjadi manusia sejati, saya sama sekali tidak mengerti. ‘Sajatining hurip’, katanya. Biarpun begitu, sampai dewasa pun saya masih mengingatnya. Dan sampai dewasa pula, saya tetap belum memahaminya. Seperti apa sih manusia sejati itu. Terus bagaimana juga cara mencapainya. Bertanya kepada para guru, juga tidak membuat hal itu lebih mudah dipahami. Sampai akhirnya saya bertemu dengan mahluk selain manusia yang ternyata bisa menjelaskannya secara gamblang. Tanpa kata-kata rumit teoritis. Mahluk itu langsung praktek dengan ditunjukkan oleh dirinya sendiri. Itulah mahluk, yang dapat membantu saya memahami makna kesejatian hidup. Tahukah Anda mahluk apakah itu?
 
Di musim hujan, banyak laron yang beterbangan. Mengerubungi sumber cahaya. Sampai sayap mereka terlepas. Kenapa laron-laron itu memilih pergi dari sarangnya untuk mengerubungi sumber cahaya itu ya? Jangan-jangan, itu adalah pertanda agar kita senantiasa berdekatan dengan sumber cahaya. Dari laron itu, saya bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang makna ‘sajatining hurip’ yang dahulu kakek buyut saya ceritakan. Jika Anda ingin menemukan pemahaman yang sama, sudah saya siapkan “Tantric Vioce #3: Menuju Kesejatian Hidup,” sebagai sarana untuk merenungkannya. Anda dapat menyimak dan mendownloadnya secara leluasa disini: http://www.youtube.com/watch?v=1_tF9gPhqTk&feature=youtu.be
 
Selamat menyimak. Semoga bermanfaat.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 5 Desember 2012
Leadership, Career and People Develompent Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Cahaya didalam diri setiap insan terpancar nyalanya melalui setiap perilakunya yang terpuji
 
Ingin mendapatkan kiriman “TV (=Tantric Voice)”   secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan di-share jika informasi ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman

Kursi Kosong


Pernahkah di kantor Anda ada kejadian begini; atasan Anda tiba-tiba saja keluar. Atau, mendadak dipindahkan ke bagian lain. Sehingga sekarang, kursi jabatannya kosong? Jika Anda belum pernah mengalami kejadian itu, anggap saja besok atau lusa hal itu akan terjadi. Karena bagaimana pun juga, cepat atau lambat peristiwa itu akan terjadi juga di tempat kerja Anda. Lantas apakah artinya hal itu bagi Anda? Itu berarti peluang bagi Anda, untuk masuk kedalam bursa pemilihan kandidat penggantinya. Pertanyaannya adalah; sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menyongsong tibanya momen istimewa itu?
 
Ketika Jennifer Sheppard yang menjabat sebagai Direktur NCIS tewas dalam baku tembak dengan 5 kriminal politik kelas kakap, terjadi kekosongan posisi sebagai pimpinan. Kursi kosong yang ditinggalkan oleh Jenny Sheppard itu kemudian ditempati oleh Asisten Direkturnya yaitu Leon Vance yang dipromosikan menjadi Direktur. Tidak aneh ya, jika asisten direktur kemudian dipromosi menjadi direktur. Di kantor kita juga banyak kejadian seperti itu. Jika seseorang pensiun atau meninggalkan jabatannya, maka orang paling senior dari teamnya yang menggantikan posisinya. Semacam antrian urut kacang. Jika atasan Anda pensiun. Atau mendapatkan tugas baru. Atau meninggalkan perusahaan; apakah Anda bisa menggantikannya menduduki kursi kosong yang ditinggalkannya?
 
Ketika Kolonel Eleanor Grant tewas dalam sebuah duel menghasilkan ledakan bom, Section 20 kembali kehilangan pemimpinnya. Secara hierarki, ada Mayor Oliver Sinclair sebagai tangan kanan Sang Kolonel yang biasa mengelola seluruh operasi sekaligus memandu team lapangan dengan kahlian strategis berteknologi tinggi. Mayor Oliver Sinclair kala itu menjabat sebagai Chief Intelligence Officer.  Sinclain sedang memimpin rapat seluruh anggota team sesaat setelah kematian Grant. Dalam rapat itu Sinclair mengatakan bahwa dia akan memperkenalkan pimpinan baru unit tersebut. Tentu semua anak buahnya paham siapa yang dimaksud. Lagi pula, tidak ada orang lain lagi disitu. Tapi, semua orang kemudian terkejut ketika Sinclair mengatakan;”Ucapkan selamat datang kepada Mayor Dalton….” Ternyata, yang menggantikan Kolonel Grant bukanlah orang yang mereka duga. Melainkan Rachel Dalton yang sama sekali bukan bagian dari team mereka. Dalton adalah orang luar yang tiba-tiba diangkat menjadi pemimpin bagi mereka. Apakah hal seperti ini juga terjadi di perusahaan Anda?
 
Ya. Banyak kursi kosong di lingkungan kerja kita tidak diisi oleh orang-orang dari dalam organisasi sendiri. Melainkan ditempati oleh orang yang direkrut dari luar. Khususnya posisi-posisi yang sangat strategis. Jelas sekali jika kita semua menginginkan sang pengganti itu datang dari dalam perusahaan. Selain menandakan proses suksesi yang baik, hal itu juga memberikan harapan yang besar kepada karyawan untuk meraih pencapaian tinggi dalam karirnya. Pertanda bahwa perusahaan ini bisa menjadi tempat yang baik untuk memupuk harapan. Tapi, kenyataannya; kebanyakan perusahaan lebih suka merekrut orang dari luar daripada mempromosikan talenta dari dalam.
 
Emangnya masalah buat eloh? Hmmh… mungkin. Tetapi bukan berarti kita layak mempermasalahkan keputusan perusahaan itu. Bagaimana pun juga, management mempunyai hak untuk menentukan siapa yang layak menduduki kursi kosong itu. Lantas masih adakah tindakan yang bisa kita lakukan kalau keadaannya seperti itu? Ada. Yaitu; melakukan introspeksi diri. Merenungkan; mengapa kita belum dinilai layak untuk menduduki posisi itu? Hanya melalui proses perenungan itu, kita bisa mendapatkan jawaban yang paling obyektif.
 
Dalam banyak situasi, kita bisa melihat jika suatu jabatan ditinggalkan; maka anak buahnya berancang-ancang untuk saling rebutan. Misalnya, ada seorang atasan keluar. Maka dua atau tiga anak buah yang paling senior sudah langsung ke-GR-an berharap agar dirinya yang naik menggantikan atasannya. Mereka rebutan untuk mengisi kursi kosong itu. Tidak jarang, cara mereka hanya fokus pada balapan mencari simpati atau lomba-baik-baikan dihadapan management. Padahal, management yang pinter; bisa merasakan, betapa kikuknya cara mereka bersikap sejak kepergian atasannya. Dan semakin kikuk mereka, semakin jelas sinyal yang memancarkan informasi bahwa; mereka, belum layak menjadi penggantinya.
 
Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap? Sikap kita sebaiknya tidak berubah. Tetap saja natural seperti biasanya. Tidak usah berubah barang sedikit pun. Hal ini membantu management untuk menilai secara obyektif, kesiapan dan kematangan diri Anda. Lho, kalau sikap kita biasa-biasa saja; bagaimana mungkin kita bisa menunjukkan keunggulan dibandingkan dengan teman kita yang lain? Hey…., ingatlah ini baik-baik; keunggulan yang sesungguhnya bukanlah keunggulan yang terlihat pada saat-saat tertentu. Melainkan keunggulan yang secara konsisten kita perlihatkan setiap hari. Oleh karena itu sahabatku, jika Anda ingin terlihat unggul dari orang lain; maka Anda harus memperlihatkan keunggulan itu sepanjang waktu. Setiap hari ketika Anda menjalani hari-hari kerja Anda, tunjukkan keunggulan itu.
 
Jangan menunggu atasan Anda pergi dulu. Sekaranglah saatnya Anda tunjukkan bahwa Anda punya kualitas yang sekelas dengan atasan Anda. Bukan nanti setelah dia hengkang. Sekarang. Supaya top management tahu bahwa sebenarnya Anda mempunyai kapasitas yang lebih tinggi dari pada jabatan atau posisi yang saat ini Anda sandang. Biarkan mereka memikirkan posisi apa yang cocok untuk orang yang mempunyai kapasitas tinggi seperti itu. Karena mereka tahu, dimana dan kapan sebuah kursi akan kosong. Bahkan mereka tahu bagaimana caranya membuat sebuah kursi kosong dari titik nol. Dengan begitu, karir Anda tidak ditentukan oleh kepergian atasan Anda. Mending kalau atasan Anda pergi. Kalau dia nongkrong terus disitu, bagaimana?
 
Jadi apa kuncinya? Kuncinya adalah; setiap hari, tunjukkanlah kualitas dan kapasitas diri Anda yang lebih tinggi dari jabatan atau posisi yang Anda pegang sekarang. Supaya top management tahu sejak jauh-jauh hari jika Anda memang layak menduduki posisi lebih tinggi. Entah atasan Anda yang pergi. Ataukah atasan di team lain yang pergi. Anda selalu punya peluang untuk menduduki kursi kosong yang ditinggalkannya. Ataukah, mungkin juga top management menyediakan kursi kosong khusus untuk menampung kapasitas besar orang-orang seperti Anda. Berani mengambil peluang itu? Ayo mulai sekarang juga. Bagusin cara, dan hasil kerja Anda.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 3 Desember 2012
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
 
Catatan Kaki:
Kursi kosong itu bukan untuk ditunggu. Melainkan diciptakan melalui pembuktian kapasitas diri Anda yang tercermin dalam kualitas pekerjaan dan cara kerja Anda sehari-hari.
 
Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman

Tuesday, December 4, 2012

Kelebihan Seorang Pemula


Sudah berapa lama Anda bekerja? Tentu Anda sudah menjadi ahli dalam profesi yang Anda jalani. Tidak diragukan lagi jika keahlian Anda itu menjadi kelebihan, sekaligus faktor keunggulan Anda. Wajar. Jika semakin lama kita bekerja, semakin meningkat keahlian, keterampilan, maupun pengalaman kita. Wajar juga, jika dengan semua kelbihan itu kita bisa mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. Namun, ada kelemahan kronis yang sering dimiliki oleh para profesional berpengalaman seperti kita. Apakah itu? Antusiasme. Untuk soal yang satu ini, kita sering kalah jauh dibandingkan dengan para pemula. Makanya, dengan segudang pengalaman itu; kita sering cepat loyo. Cepat mengeluh. Dan cepat melemah. Setiap kali menghadapi situasi yang kurang menyenangkan di tempat kerja; kita, menjelma menjadi professional handal yang lembek. Tidak seperti para pemula yang selalu menggelora itu. Ataukah Anda masih antusias seperti mereka?

Ijinkan saya menceritakan sebuah kisah nyata. Tentang seorang karyawan yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan besar. Perusahaannya yang besar. Kalau gajinya sih, pas saja. Maksudnya; pas-pasan saja. Pas untuk membayar kontrakan, pas untuk makan sehari-hari. Pas untuk membayar ongkos naik bis. Tidak ada lagi yang bersisa. Memang hanya itu yang bisa dijangkaunya dengan gaji bulanan yang diterimanya. Tetapi dalam keserba ‘pas’-an itu sang karyawan baru seneng saja menjalani pekerjaannya. Setiap hari, dia bangun pagi-pagi sekali. Bergegas mandi, lalu segera pergi menaiki  metro mini yang sejalur dengan arah kantornya. Bukan hanya berusaha supaya bisa datang di kantor sebelum jam delapan, dia bahkan menjadi orang yang datang paling pagi. Anda boleh memberinya nama Mr. A.

Selain Mr. A ada juga Mr. B. Beliau ini sudah punya pengalaman kerja yang banyak. Bahkan sekarang gajinya hampir 10 kali lipat Mr. A. Tentu sudah tidak termasuk pas-pasan lagi. Sudah lebih dari cukup untuk menjalani hidup. Adapun soal keluhan-keluhannya mengenai gaji yang tidak pernah cukup, itu disebabkan karena dia sendiri yang gemar bergonta ganti gadget. Setiap kali ada yang baru, dia menukarnya meskipun sebenarnya gadget yang dia punya juga masih tergolong baru. Tak ragu dia menggunakan kartu kreditnya untuk mencicil ini dan itu. Jadi, tidak bisa menyalahkan perusahaan jika gajinya tidak kunjung bersisa. Toh perusahaan sudah membayarnya dengan harga yang pantas. Anehnya, dengan bayaran yang tinggi itu dia masih suka mengomelkan pekerjaannya. Setiap hari, dia bangun santai saja. Lalu, menyalahkan kemacetan di jalanan sebagai biang keladi keterlambatannya tiba di kantor.
Mr. A sekarang sudah mencicil motor. Mr. B sekarang sudah mendaptkan mobil dari kantor. Dengan sepeda motor cicilannya Mr. A bisa menghemat pengeluaran karena naik angkutan umum bisa menghabiskan biaya tiga kali lipat dibandingkan membeli bensin satu tengki untuk 3 hari. Dan dia semakin bersemangat saja pergi ke kantor, karena sekarang dia bisa punya sisa dari gaji. Sekaligus bisa mengefektifkan waktu perjalanan sehingga sekarang, dia tiba dikantor lebih pagi lagi. Sedangkan Mr. B semakin sering terjebak kemacetan. Sehingga semakin sering lagi terlambat datang ke kantor. Mr. A, tidak pernah terlambat karena dia sadar bahwa sebagai seorang pegawai kecil; dia harus menunjukkan kesungguhan. Dan dia bersyukur, perusahaan mau menerimanya bekerja disana. Sedangkan Mr B, tahu betul kalau dirinya adalah orang yang penting bagi perusahaan. Sehingga saking pentingnya, perusahaan tidak akan bisa menegurnya. Dia menganggap bahwa perusahaan beruntung punya karyawan seperti dirinya.

Dibulan Desember, Mr A dan Mr. B menjalani performance appraisal dengan atasannya masing-masing. Mr. A sadar jika penilaian atasan merupakan masukan penting bagi dirinya agar bisa menjadi karyawan yang lebih baik lagi. Sedangkan Mr. B sadar benar jika perusahaan mesti lebih banyak lagi mendengarkan dirinya sehingga dia menang mutlak saat beradu argument dengan atasannya tentang penilaian itu. Walhasil, di bulan April; Mr A dan Mr B mendapatkan surat kenaikan gaji. Masing-masing, mendapatkan kenaikan gaji 10%. Meskipun persentasenya sama, tapi absoultnya berbeda karena basis angkanya berbeda. Kenaikan 10% dari gaji 10 juta kan menghasilkan tambahan 1 juta. Sedangkan 10% dari gaji satu setengah juta ya hanya seratus lima puluh ribuh rupiah saja. Meskipun begitu, Mr. A berujud sambil berurai air mata bisa mendapatkan kenaikan gaji double digit. Sedang Mr. B mempertanyakan, kenapa sih kenaikan gaji kok cuman 10% saja?!!!

Mr. A bertekad untuk bekerja lebih baik, karena perusahaan sudah baik memberinya kenaikan gaji double digit. Maka kerjanya pun semakin giat. Semakin bersemangat. Semakin hebat. Sedangkan Mr. B mengirim pesan chating pada temannya di perusahaan lain;”ditempat elo kenaikan gaji berapa persen?”. Ketika temannya menjawab “15%” kepalanya langsung puyeng. Lalu mengetik pesan ini:”Sialan, ditempat gue cuman 10%. Bego nih perusahaan. Nggak menghargai karyawannya.”

Temannya membalas:”Kan setiap perusahaan beda policy dan kemampuannya….” Lalu dia pun kembali menimpali dengan ping begini:”Kalau gini sih ngapain gue bertahan disini. Ditempat elo ada lowongan nggak…..?”

Mr. A dan Mr. B. Menjalani dua kondisi yang berbeda. Yang baru bekerja, dan yang berpengalaman lama. Yang harus mencicil motor pribadi, dan yang mendapatkan fasilitas mobil dari perusahaan. Yang gajinya UMR pas-pas, dan yang gajinya eksekutif plus-plus. Yang tempat kerjanya dikubikal sumpek, dan yang tempat kerjanya ruang kantor tertutup berAC sejuk. Yang seragamnya itu-itu saja, dan yang dasi dan jasnya berganti-ganti. Yang kenaikan gajinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan yang kenaikan gajinya bernilai jutaan.

Jelas sekali kondisi Mr A berbeda jauh dengan kondisi Mr. B. Sekarang, siapakah yang paling bisa menikmati hidup. Siapakah yang paling baik menjalankan pekerjaannya. Siapakah yang paling mencintai pekerjaannya. Dan. Siapakah yang paling menghargai kebaikan-kebaikan perusahaannya?

Anda, apakah termasuk Mr.A itu. Ataukah Mr.B? Apapun pilihannya, hanya Anda sendirilah yang tahu jawabannya. Tetapi, sebelum Anda terlanjur jauh memikirkan jawaban yang paling jujur, izinkan saya untuk memberi tahu Anda bahwa Mr. A dan Mr. B mempunyai sebuah persamaan. Tahukah Anda apa persamaan diantara mereka? Ketahuilah bahwa Mr. A dan Mr. B itu adalah orang yang sama. Kisah ini adalah tentang seorang pribadi, bukan dua. Seorang manusia. Seorang saja.  Hanya saja, mereka berada pada periode waktu yang berbeda. Mr. A adalah gambaran kehidupan kerjanya ketika baru diterima di kantor itu. Sedangkan Mr.B adalah gambaran kehidupan kerjanya beberapa tahun kemudian. Dapatkah Anda menemukan orang-orang seperti Mr. A dan Mr. B di tempat kerja Anda? Ataukah, mungkin Anda sendiri adalah Mr.A dan Mr. B itu? Jawaban terbaiknya, hanya Anda sendiri yang mengetahui.

Sekalipun demikian, ada jenis karyawan lain yang setelah menjalani fase masa kerjanya sebagai Mr. A, dia berevolusi menjadi Mr. C. Yaitu orang yang antusiasmenya tidak pernah luntur barang sedikitpun. Profesional yang meskipun pengalaman, dan masa kerjanya terus bertambah; tetapi selalu bisa menjaga komitmennya kepada pekerjaan. Eksukutif yang meskipun sudah menapak semakin tinggi dengan beragam fasilitas yang diberikan oleh kantornya; dia masih tetap memelihara rasa syukur, kecintaan, dan dedikasinya terhadap pekerjaan dan perusahaan.

Setelah melalui fase sebagai Mr A itu; Anda ingin menjadi pribadi yang lebih dekat dengan gambaran Mr. B, ataukah Mr. C? Hanya Anda sendirilah yang berhak menentukannya. Kenapa? Karena masa depan Anda. Kualitas hidup Anda. Dan nilai pribadi Anda. Adalah teritori yang hanya Anda sendirilah yang berhak menentukannya. Namun apapun pilihan Anda; hendaknya Anda tidak pernah membuang segala kelebihan dan sikap positif yang pernah Anda miliki. Sebagai seorang pemula. Karena setiap pemula, mempunya kelebihan yang sering tidak dimiliki lagi; ketika dia, sudah tidak menjadi pemula lagi.



Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 26 November 2012
Leadership and Personnel Development Trainer

Monday, December 3, 2012

Indonesia Research: $110 thousand per year for three years.


Credit:  I got the enclosed information from Dr Didit Ontowirjo.


PROPOSAL DEADLINE: DECEMBER 4, 2012, 11:59 PM (U.S. EASTERN STANDARD TIME.

Funding: Up to $110,000 per year for up to three years.

"The United States Agency for International Development (USAID) and the National Sciences Foundation (NSF) are working together to support the second cycle of Partnerships for Enhanced Engagement in Research (PEER) Science. PEER Science is a competitive grants program that invites scientists in developing countries to apply for funds to support research and capacity-building activities on topics of importance to USAID and conducted in partnership with their NSF-funded collaborators.

Indonesia: PEER Science is seeking research projects that support the goals and objectives of USAID/Indonesia as outlined in the mission’s Country Strategy (http://indonesia.usaid.gov/en/home). Projects should also contribute to USAID/Indonesia’s higher education objectives by achieving one or more of the following:

1. Improved instructional delivery through better teaching methods and more relevant curricula in a STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics) field;

2. Enhanced research skills and methods in a STEM field; and

3. New and/or strengthened partnerships between Indonesian and U.S.-based researchers.
 
USAID/Indonesia is particularly interested in projects that involve other external stakeholders such as private sector partners as well as projects that have the potential to inform government policy at the national or local level. 
 

Budget requests should be developed commensurate with the support needed to achieve the project goals. Most projects are anticipated to run for one to three years, with release of each funding increment contingent on the project meeting annual financial and technical reporting requirements. The number of PEER Science awards is subject to the availability of funds.
 
Single institution awards are anticipated to range in size from $30,000 to $60,000 per year for one to three years. A few larger and more complex projects (those involving multiple institutions and/or multiple countries, with one of them serving as the lead) may receive up to $110,000 per year for up to three years. Applicants whose funding requests do not fit within these parameters are encouraged to contact PEER Science staff at the National Academies (peer@nas.edu) before preparing their proposals. When preparing their PEER Science proposal budgets, applicants should keep in mind that requested funds may be used only to support costs for developing country researchers and institutions. 

More information:


Satu pukulan Lino untuk 130 tahun

Senin, 10 September 2012
Manufacturing Hope 42
 
Inilah bukti bahwa birokrasi kita tidak jadi faktor penghambat. Kata-kata itu diucapkan dengan semangat oleh RJ Lino, Direktur Utama PT Indonesia Port Corporation, nama baru PT Pelindo II (Persero).
Nadanya seperti promosi. Juga seperti melawan arus besar yang hidup di masyarakat. Tapi Lino memberikan bukti.
Mungkin Lino sendiri kaget bahwa proyek besar yang dia prakarsai itu akhirnya bisa berjalan. Tidak gagal, misalnya, karena ruwetnya birokrasi. Padahal proyek yang dia gagas dan dia perjuangkan ini bukan proyek sembarangan. Besar skalanya, besar urusannya, dan besar biayanya. Inilah proyek pelabuhan baru Tanjung Priok yang akan menelan biaya Rp 40 triliun.
Lino, dengan ucapannya yang agak bombastis itu sebenarnya bukan hanya ingin memuji birokrasi, tapi juga ingin mengkhotbahkan prinsip bahwa seberat apa pun persoalan asal diurus sungguh-sungguh akan berhasil.
Jadi, kuncinya di sungguh-sungguh itu.
 
Banyak orang mengatakan sudah bersungguh-sungguh tapi tidak juga berhasil. Untuk orang seperti ini, rasanya perlu diukur kadar kesungguhannya itu. Seperti juga emas, sungguh-sunggu itu ada beberapa macam. Ada sungguh-sungguh yang 24 karat, tapi ada yang 22 karat, 20 karat, dan bahkan ada yang hanya 18 karat. Jangan-jangan ada sungguh-sungguh yang tidak berkarat sama sekali.
Lino tentu termasuk yang sungguh-sungguhnya 24 karat. Kalau hanya 20 karat tidak mungkin dia berhasil. Untuk menggambarkan beratnya merintis proyek ini, saya bisa mengatakannya dengan satu kalimat: mungkin hanya proyek Jembatan Selat Sunda yang lebih sulit dari ini.
Inilah proyek yang kalau jadi nanti bisa mengubah peta logistik nasional. Inilah SATU proyek yang kalau jadi nanti nilainya lebih besar dari apa yang sudah dibangun di Tanjung Priok selama 130 tahun.
Inilah proyek yang akan membuat pelabuhan di Indonesia sejajar dengan pelabuhan-pelabuhan besar di dunia. Kalau pun tidak menang, kita tidak akan kalah lagi dari Malaysia atau Singapura. Inilah pelabuhan yang dalamnya sampai 16 meter sehingga kapal terbesar di dunia pun bisa bersandar di Jakarta.
Inilah The New Tanjung Priok.
Dunia perkapalan memang punya kecenderungan baru; kian tahun kian besar saja ukuran kapal yang dibuat. Ini untuk mengejar efisiensi angkutan barang. Kian besar kapalnya kian banyak yang bisa diangkut. Dan kian murah biaya angkutannya. Akibatnya kian banyak saja kapal yang tidak bisa mampir ke Indonesia.
 
Indonesia pun kian terkucil. Pelabuhan-pelabuhan Indonesia hanya bisa jadi feeder untuk pelabuhan-pelanbuhan besar di negara lain.
Sekarang ini misalnya sudah ada kapal yang begitu besarnya sehingga bisa mengangkut 18.000 kontainer. Pelabuhan kita kian jauh dari itu. Pelabuhan sebesar Tanjung Perak Surabaya pun hanya mampu menerima kapal 3.000 kontainer. Medan, Makassar, dan Batam hanya bisa menerima kapal 1.000 kontainer. Betapa jauhnya kapasitas yang harus kita loncati.
Lino tergolong CEO BUMN yang pantang menyerah. Dia tembus semua kesulitan. Dia gedor semua pintu. Dia hadapi semua persoalan. Wajar jika di ajang Anugerah BUMN tahun lalu di mendapat gelar CEO BUMN Paling Inovatif.
Tapi Lino juga beruntung. Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof Armida Alisyahbana, dan terutama Menteri Perhubungan EE Mangindaan, berada dalam satu barisan. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden memonitor terus proyek ini.
 
Masalah terakhir yang sangat melegakan adalah ketika Menhub EE Mangindaan memberikan hak konsesi selama 70 tahun. Dengan keluarnya keputusan itu tidak ada lagi masalah birokrasi yang dinanti. Kini semuanya tinggal menjadi tanggung jawab Lino. Mulai dari bagaimana membangun fisiknya hingga bagaimana mencari uangnya yang sebesar gajah bengkak itu.
Proyek ini memang tidak menggunakan dana dari negara sama sekali. Tidak ada dana dari APBN. Begitu kuatnya keinginan agar proyek ini segera terealisasikan (tahap satua harus sudah bisa diresmikan tahun 2014), sebelum hak konsesi didapat pun semua persiapan sudah diselesaikan. Dengan demikian begitu semua perizinan beres proyek langsung bisa dimulai.
Minggu ini kontrak pekerjaan sudah bisa ditandatangani antara Lino dan Bambang Triwibowo Dirut PT PP (Persero) Tbk. PP adalah BUMN yang sudah sangat berpengalaman membangunm pelabuhan. Saya akan minta begitu hari itu tanda tangan kontrak dilakukan, besoknya PT PP sudah harus mulai bekerja.
 
Lantaran letak pelabuhan baru ini di tengah laut (untuk mendapatkan kedalaman yang cukup), maka Lino juga menggagas perlunya jalan tol baru yang langsung menuju pelabuhan ini. Sekaligus ikut mengatasi padatnya lalu lintas truk di kawasan Priok. Proyek jalan tol sepanjang 7 km inilah yang Jumat lalu juga disepakati untuk langsung saja dibangun oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Proyek ini juga melibatkan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) karena harus menggunakan tanah miliknya.
Begitu pelabuhan baru dan jalan tol baru mulai dikerjakan, empat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelabuhan mulai menjalankan program peningkatan kapasitas di beberapa pelabuhan utama.
Dengan demikian pelabuhan seperti Medan, Batam, Surabaya, dan Makassar akan berubah menjadi pelabuhan yang bisa dimasuki kapal 3.000 kontainer. Mereka juga akan membuat pelabuhan baru yang langsung berukuran besar di Sorong.
Semua perubahan tersebut tentu perlu segera diantisipasi oleh kalangan bisnis, terutama bisnis perkapalan. Misalnya saja sampai saat ini belum ada pengusaha kapal kita yang memiliki kapal kelas 3.000 kontainer. Tentu sekarang perlu menyiapkan diri agar kelak bisa benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.(*)
 
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
 
Catatan : Tulisan ini dibuat di BB sambil tiduran disela-sela pemeriksaan kesehatan di rumah sakit SGH setelah flu yang tidak sembuh-sembuh sejak pulang dari Mekkah dan Baghdad, dua pekan lalu.
------------------------------------------
Salam Positive..

Outcome-Driven Supply Chains: Towards a New Paradigm of Supply Chain Management

Supply Chain Management is changing from strategically decoupled/price-driven to strategically coupled/value driven. This change is forcing managers to rethink how they design and manage supply chains. This presentation introduces six “pure” outcomes that supply chains can deliver: “efficiency” (a combination of cost, delivery and quality), responsiveness, sustainability, security, resilience, and innovation. In practice, effective supply chains are often hybrids that reflect various combinations of these six “pure” designs. The presentation will explore these outcomes, their impact on supply chain design, present guidelines for judging when various types of supply chain outcomes should be mixed and, as importantly, when they should not be.

Introduction
Supply Chain Management is changing from strategically decoupled/price-driven to strategically coupled/value driven. This change is forcing managers to rethink how they design and manage supply chains.  This presentation introduces six “pure” outcomes that supply chains can deliver: “efficiency” (a combination of cost, delivery and quality), responsiveness, sustainability, security, resilience, and innovation.  In practice, effective supply chains are often hybrids that reflect various combinations of these six “pure” designs.  We explore these outcomes, their impact on supply chain design, present guidelines for judging when various types of supply chain outcomes should be mixed and, as importantly, when they should not be.

Session Objectives:
    To introduce the concept of the outcome-driven supply chain;
    To identify and discuss the six outcomes around which the effective and efficient supply chain is built (efficiency, responsiveness, security, resilience, sustainability, and innovation);
    To discuss the impact of these outcomes on supply chain design, management, and performance measurement; and,
    To explore the implementation of the outcome driven supply chain (obstacles and enablers).

Session Outline:
Until recently, the major benefits offered by typical supply chain management have primarily been reduced costs, reliable or faster delivery and improved quality.  Increasingly managers are now recognizing that these three advantages are imperative but not absolute and are not always the main features of new emerging supply chains.  The new supply chain is based on creating value for the customer, is linked to the firm’s strategy, and is tied to the goals of its supply chain partners.  Currently, managers are rethinking supply chain design to support this new view of the supply chain.  We introduce a new framework for supply chain design and management based upon findings and insights drawn from the SCM 2010 and Beyond Research Initiative.  At the heart of this framework is the notion that supply chains should be designed to deliver certain outcomes.  We argue that there are six “pure” outcomes that supply chains can be designed to deliver: “efficiency” (a combination of cost, delivery and quality), responsiveness, sustainability, security, resilience, and innovation.  In practice, however, effective supply chains are often hybrids that reflect various combinations of these six “pure” designs.  We explore some of the factors associated with the six “pure” supply chains, present guidelines for judging when various types of supply chain outcomes should be mixed and, as importantly, when they should not be.  The guidelines presented in this presentation should help managers and researchers think beyond the notion that supply chains are only a tool for cost reduction.

Benefits to the participants:
    To learn about the six basic outcomes that are now driving the new generation of supply chain design.
    To understand the implications of these six outcomes for effective supply chain design and management.
    To learn how to apply the lessons introduced in the session to their own supply chains.

Source: http://www.etracc.net/conference/conference_speakers.php?s=2&sp=73&lang=en

Standarisasi Dokumen dan Proses Pada Sebuah Komunitas Industri


Pada saat saya melihat Komunitas Supply Chain Indonesia, ini mengingatkan saya sebuah komunitas banker pada sekitar tahun 1970an di kawasan Eropa. Bank-bank di Eropa sedang mencari cara yang cukup praktis, efektif, efisien dan aman dalam membangun proses interaksi dan transaksi antar bank. Apapun industri atau bisnis yang kita jalankan, interaksi antar institusi atau personal adalah kuncinya. Tidak ada bisnis tanpa interaksi. Kita butuh berinteraksi dengan supplier, perusahaan pengiriman barang, perusahaan angkutan, regulator (lembaga pemerintah), jasa pergudangan, customer dan lain-lain. Tulisan ini mencoba untuk melihat apa yang telah dilakukan oleh komunitas bank di Eropa pada tahun 1970-an yang kemungkinan dapat diterapkan di komunitas Supply Chain.

Tantangan Dunia Perbankan Tahun 1970-an.
Industri perbankan memiliki banyak kesamaan dalam konsep hubungan antar institusi (atau inter-organization system).  Mari kita lihat beberapa interaksi bank yang menjadi penggerak (business driven) dari terbentuknya komunitas perbankan ini.
  • Pada saat sebuah bank membutuhkan mata uang Yen Jepang (karena ada nasabah yang membutuhkan) dan memiliki kelebihan mata uang Dolar US di brankas kas, mereka tentu saja membutuhkan interaksi dengan bank lain yang bersedia untuk menjadi ‘supplier’ mata uang Yen dan bersedia untuk dibeli menggunakan Dolar US.
  • Kita sering menggunakan jasa bank untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekan bisnis, saudara atau teman yang berada di luar negeri. Pada saat kita menyerahkan uang kita kepada pihak bank, di belakang layar terjadi proses interaksi dengan bank lain. Bank ini akan mengirimkan ‘order’ kepada bank lain di luar negeri untuk meneruskan uang kita sehingga dapat diterima dengan baik oleh sang penerima.
  • Dalam transaksi ekspor impor, eksportir merasa kurang nyaman jika harus memproduksi dan mengirimkan barangnya terlebih dahulu sebelum importir membayarkan barang yang mereka beli. Disisi lain, importir merasa tidak nyaman jika harus membayar terlebih dahulu sebelum mereka menerima barang. Bank adalah ‘perantara’ yang tepat bagi kedua belah pihak. Dalam kasus ini kedua belah pihak akan menggunakan jasa bank masing-masing dan kedua bank harus berinteraksi.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pihak bank dapat berinteraksi atau bertransaksi dengan semua bank di seluruh dunia dan dapat menyelesaikan transaksi antar bank menjadi efektik, efisien, aman dan lebih murah.
  
Sebelum komunitas terbentuk
Sesudah komunitas terbentuk
Setiap bank membangun jaringan (sistem) berdiri sendiri. Jika sebuah bank bekerja sama dengan 10 bank, maka dia harus membangun 10 jaringan dan sistem terpisah.
Akibatnya, bank harus selalu berinvestasi dengan bank baru, terlalu banyak sistem yang harus dikendalikan, dokumen antar bank tidak standar dan semakin sulit mengelola.

Bank hanya membangun satu jaringan (sistem) ke komunitas dan menggunakan dokumen-dokumen standar (atau form standar) untuk saling berinteraksi.
Hasilnya, bank yang perlu investasi satu kali untuk berinteraksi dengan seluruh bank di dunia, menggunakan cara dan dokumen yang standar, pengelolaan menjadi lebih sederhana dan otomasi teknologi menjadi sangat mudah.
Peranan Komunitas Bank
Apa yang telah dilakukan komunitas bank ini adalah duduk bersama untuk menganalisa atau mereview seluruh transaksi atau interaksi yang ada antara satu bank dengan bank lain diseluruh dunia. Mereka menciptakan dokumen standar untuk masing-masing interaksi/transaksi, sehingga seluruh bank di dunia memiliki cara atau bahasa yang sama dalam berinteraksi.
Mari kita lihat salah satu form/dokumen antar bank berikut :
:32A:111026USD1000,
:52K:Mr. Andi
Jalan Sehat Sejahtera No. 123
Jakarta, Indonesia
:59:Mr. Anda
123 Hill Street
New York, USA

Seluruh bank di dunia akan mengerti bahwa dokumen tersebut adalah sebuah ‘order’ pengiriman uang sebesar USD1000 yang efektif tanggal 26 Oktober 2011 dari Mr. Andi di Jakarta dan harus diterima oleh Mr. Anda di Amerika.
Institusi ini menciptakan ratusan dokumen standar yang juga melingkupi proses flow yang seragam. Mereka kemudian membangun sebuah infrastruktur teknologi secara bersama-sama sehingga seluruh biaya operasional di tanggung bersama.
Organisasi ini dikenal dengan nama SWIFT (Society Worldwide Inter-Bank Financial Telecommunication). Mereka adalah organisasi non profit dimana pengurusnya adalah representasi bank, mereka merekrut dan menggaji tenaga IT profesional untuk mengelola infrastruktur mereka dengan uang iuran dan juga berdasarkan banyaknya dokumen yang mereka kirim. Semakin banyak anggota dari komunitas ini, semakin murah biaya teknologi yang mereka bayarkan.

Sebuah Implementasi di Indonesia
Di Indonesia, saya pernah terlibat dalam implementasi EDI (Electronic Data Interchange) di pelabuhan. Konsep ini memiliki kesamaan dengan apa yang telah dilakukan oleh komunitas bank di atas. EDI Pabean menciptakan interaksi bagi seluruh pelaku industri kepabeanan menggunakan teknologi. Mereka adalah PT. Pelabuhan, Bea Cukai, Bank, Karantina, Exportir/Importir, Pelayaran dan lain-lain.

Penutup
Dalam angan-angan saya saat ini, komunitas Supply Chain memiliki peluang untuk mencoba melihat kemungkinan sebuah sistem terintegrasi yang bisa menghubungkan semua institusi yang terlibat dalam komunitas ini sehingga akan tercipta sebuah proses dan dokumentasi yang standar dalam interkasi bisnis antar institusi. Kuncinya adalah standarisasi ini, sedangkan implementasi teknologi bukannya faktor yang cukup sulit karena banyak pilihan untuk itu.

Terima kasih …
Eko Kusuma Suryanzah
Berdomisili di Singapore dan bekerja pada sebuah bank global (team Global Technology).

Latar belakang penulis berkaitan dengan tulisan ini.
  • Pernah menjadi pengurus Asosiasi SWIFT Indonesia (komisi Edukasi) – pada saat bekerja di Bank BNI.
  • Pernah menjadi partner dari SWIFT untuk implementasi SWIFT di Indonesia – bekerja sebagai SWIFT partner
  • Pernah terlibat dalam implementasi EDI di Terminal Peti Kemas – pada saat bekerja di PT. Pelabuhan Indonesia

Related Posts