Oleh: Andre Vincent Wenas
Bagaimana menjual dengan bercerita? Temukan cerita yang menyentuh hati
pelanggan. Maka penjualan akan berjangka panjang dan premium.
Masih ingat waktu masih kecil kita gemar dongeng Si Kancil atau Cinderella.
Biarpun orangtua berulang kali berkisah – kadang sambil terkantuk – kita tidak
pernah bosan, malah selalu minta lagi. Saat dewasa, kegemaran itu tidak berubah,
kita masih suka mendengar cerita, secara langsung (obrolan) atau tidak langsung
(lewat media-massa, ingat kisah seputar selebritis atau tayangan reality-show
yang tinggi rating-nya).
Cerita mewarnai hidup, menambah wawasan dan yang terpenting menciptakan
koneksi emosi antara kita dengan tema cerita. Soal koneksi emosi inilah yang
dimanfaatkan pemasaran, terutama untuk menciptakan koneksi emosi dengan brand.
Sebabnya, cerita bisa langsung menusuk ke area emosi, berbeda dengan
komunikasi-pemasaran yang tertuju pada manfaat produk (product benefits) yang
umumnya mengajak pelanggan berhitung soal untung-rugi (atau costs & benefits).
Pelanggan yang tersentuh emosinya cenderung melupakan hitungan untung-rugi,
harga dan kandungan produk jadi nomor dua. Di sini cerita jadi senjata ampuh
untuk menggiring pertimbangan pelanggan dari intelektual-logis ke
emosional-loyal.
Pemasar dan penjual mesti bahu-membahu menciptakan cerita (story) tentang 3
hal : cerita tentang merek (brand story), tentang servis (service story), dan
proses operasi (process story).
Brand story, misalnya kisah Bank Buana yang ekuitas mereknya kuat di
kalangan pedagang, karena selama ini komitmen Bank Buana yang konsisten membantu
nasabah yang kesulitan. Saat krisis moneter 1998, Bank Buana justru tidak ikut
menaikkan bunga kreditnya, karena akan mematikan para pedagang. Justru langkah
melawan aruslah yang ditempuh, Bank Buana memotong tingkat bunga. Kemudian, saat
Pasar Mangga Dua kebakaran, Bank Buana malah memberikan keringanan kepada para
pedagang yang jadi korban berupa penangguhan sementara pembayaran kredit selama
tiga bulan!
Strategi ini menumbuhkan simpati publik. Sehingga cerita tentang Bank Buana
ini ditulis oleh wartawan, dan – ini yang terpenting – di kalangan pedagang pun
cerita ini beredar dari mulut ke mulut (word of mouth). Cerita ini memperkokoh
loyalitas nasabah dan menarik prospek baru. Bank Buana pun menempati urutan
pertama dalam Banking Loyality Index tahun 2005 yang baru lalu.
Saat ini, lanskap bisnis sangatlah kompetitif. Persoalannya, bagaimana
membangun kerjasama solid antara divisi penjualan dan marketing yang kerap
beselisih paham? Pertama-tama identifikasi dulu empat alasan yang kerap
menyebabkan pemasar dan penjual berseteru.
Pertama, perbedaan waktu perencanaan. Rencana penjualan yang dieksekusi
sebelum rencana pemasaran selesai, alasannya demi kejar target. Karena rencana
penjualan (sales plan) telah lebih dulu selesai, maka banyak hal di dalamnya
yang kelak tidak sesuai dengan rencana pemasaran. Padahal kelirulah jika rencana
pemasaran mengikuti rencana penjualan, karena ibaratnya rencana penjualan adalah
pigura kecil dan rencana pemasaran adalah pigura besarnya. Maka pigura kecil
mesti mengikuti pigura besar sehingga selaras dan benar, bukan sebaliknya.
Kedua, beda paham tentang hasil (result). Konflik klasik yang kerap muncul
adalah saat perumusan anggaran. Orang penjualan sering menganggap anggaran
pemasaran yang besar percuma karena dampaknya tidak nyata. Korelasi antara
besarnya anggaran pemasaran dengan kinerja penjualan tidak jelas. Menurut
mereka, andaikan perusahaan fokus menambah jumlah penjual dan meningkatkan
manajemen penjualan, maka hasilnya – dalam jangka pendek – langsung kelihatan,
berupa kenaikan volume penjualan.
Alasan ketiga penyebab perseteruan pemasar dan penjual adalah karakter.
Sampai sekarang kenyataan lapangan menunjukkan kualifikasi pemasar biasanya
lebih tinggi dari kualifikasi seorang penjual. Latar belakang pendidikan pemasar
biasanya sarjana, pascasarjana, bahkan Master of Business Administration (MBA)
dari luar negeri. Maka lazimnya pemasar akan kuat secara konseptual, punya daya
analisis tajam, dan berpikiran luas (helicopter view).
Meskipun para penjual berpendidikan lebih rendah, namun karena berada di
lapangan dan terus berinteraksi dengan pelanggan, maka daya empati dan
sensitivitasnya kuat. Para penjual biasanya mudah menjalin hubungan pertemanan
dengan siapa saja.
Perbedaan karakter ini mengakibatkan terjadinya perbedaan orientasi
pekerjaan. Pemasar biasanya fokus pada hasil, sementara penjual lebih pada
jalinan hubungan. Bahkan seringkali karena kelewat dekat dengan pelanggan,
penjual seakan-akan berada di sisi pelanggan, bukan di sisi perusahaan. Misalnya
dengan minta diskon tambahan demi menjaga hubungan yang telah lama dibina,
bukannya berusaha meyakinkan pelanggan bahwa harga yang telah ditetapkan adalah
wajar adanya.
Alasan keempat, perbedaan area pekerjaan. Manajer pemasaran bekerja di
depan layar komputer, di atas meja besar, baca riset pasar, analisa, menghadiri
rapat strategi, dsb. Sebaliknya, manajer penjualan kerjanya terjun ke pasar,
bergaul dengan ‘encik-encik” pedagang, canvassing dari toko ke toko, dan dari
satu pasar-becek ke pasar-becek lainnya.
Pendeknya, pekerjaan pemasar kelihatan derajatnya lebih tinggi daripada
penjual. Akibatnya penjual sering “iri hati” (cemburu), apalagi jika kerja
kerasnya tidak dihargai oleh pemasar. Padahal sebaik apapun strategi pemasaran,
akhirnya yang menentukan adalah eksekusi di lapangan, bukan perhitungan di atas
kertas.
Dalam lingkungan bisnis sekarang yang makin turbulen, di mana kompetisi
semakin menggila di satu sisi, dan sisi lain harapan pelanggan terhadap produk
semakin tinggi, maka sudah saatnya konflik yang tidak produktif ini dihentikan.
Sebaliknya, integrasi keduanya mulai digalang.
Era transaksional telah diganti era hubungan (relationship). Di sini yang
penting adalah konsistensi hantaran produk (deliverable). Supaya berhasil, tak
ada jalan lain kecuali mengusahakan terjadinya keseimbangan antara strategi dan
eksekusi. Artinya, mengintegrasikan pemasaran dan penjualan. Pemasaran condong
di sumbu strategi, sedangkan penjualan condong di sumbu eksekusi. Cuma lewat
integrasi keduanya maka konsistensi hantaran produk bisa terwujud.
Selain keempat alasan konflik di atas, cermati pula di mana konflik
penjualan dan pemasaran bisa muncul. Ada tiga: konflik eksekusi, konflik
strategi, dan konflik organisasi.
Konflik eksekusi atau konflik lapangan, muncul manakala penjual tidak
memakai strategi pemasaran saat menjual produk. Mereka cenderung menganut
filosofi “asal jual dan asal laku”, tidak peduli kecocokan prospek dengan
segmentasi, targeting dan positioning yang telah disusun.
Penjual yang tidak paham pemasaran tidak bakalan bisa menjual diferensiasi,
karena tidak kenal keunggulan produk secara fungsional maupun emosional, tidak
tahu produk pesaing, tidak tahu kebutuhan pelanggan, dan tidak tahu tren
perubahan pasar. Akibatnya, ketika bertemu pelanggan, tidak ada yang bisa
dikomunikasikan selain harga murah.
Ujungnya, karena tidak mampu menjual diferensiasi produk, para penjual
datang ke manajer pemasaran minta diskon lgi. Persoalannya, kalau penjual minta
harga murah (diskon melulu) lalu apa gunanya perusahaan menghabiskan anggaran
besar untuk membangun merek?
Konflik kedua adalah konflik strategi. Di sini konflik terjadi lantaran
orang pemasaran tidak mendengarkan masukan (insights) dari orang penjualan
ketika menyusun strategi pemasaran. Akibatnya strategi yang disusun terasa
dangkal dan tidak implementatif di lapangan.
Konflik ketiga adalah konflik organisasi yang terjadi akibat keduanya tidak
saling peduli. Orang pemasaran tidak mau tahu soal kondisi penjualan di
lapangan. Yang dipikirkan cuma bagaimana memaksimalkan pencapaiannya sendiri,
tercapainya brand awareness, brand image dan brand association setinggi mungkin.
Begitupun sebaliknya, penjual tidak mau tahu soal produk dan merek. Yang
penting target penjualannya tertutup, sebodo amat dengan dampak merek, misalnya
dengan mendiskon habis-habisan yang mengakibatkan terdilusinya ekuitas merek di
mata pelanggan.
Dalam buku ini, ditawarkan konsep pemasaran praktis yang bisa dipakai para
penjual yang ingin membekali dirinya dengan ketrampilan pemasaran. Ujungnya,
supaya hasil penjualan bisa berdampak jangka panjang dan premium dari hubungan
serta “cerita” tentang brand, servis dan proses yang berdampak emosional bisa
dikapitalisasi seoptimal mungkin.
Sunday, March 4, 2012
Kiat Promosi yang Tepat Sasaran
Oleh: Andre Vincent Wenas
...walau situasi ekonomi secara umum agak berat, namun tetaplah
optimis dengan prospek produk. Untuk itu rencanakan peningkatkan
penjualan dengan berpromosi atau beriklan. Tetap percaya justru saat inilah
produk lokal bisa menjadi substitusi produk impor, karenanya mesti
dikomunikasikan. Persoalannya, komunikasi-pemasaran yang efektif
seperti apakah yang mesti kita lancarkan?
Cermatlah membaca peluang. Saat banyak orang pesimis karena situasi
makro, justru Anda melihat bahwa produk Anda bisa menjadi
pengganti produk-produk yang selama ini diimpor dari luar negeri.
Merencanakan komunikasi-pemasaran ini memang mesti cermat, jangan sampai
upaya dan uang yang terpakai untuk itu malah terbuang percuma. Lord Cole,
pendiri Unilever, pernah bilang: “I know that half the money I spend on
advertising is wasted, unfortunately, I don’t know which half!”. Jadi kecermatan
adalah kuncinya.
Seperti diuraikan oleh Fandi Tjiptono, dkk. (dalam buku mereka: Pemasaran
Strategik, 2008), paling tidak ada delapan tahap pokok yang patut dicermati
dalam menyusun komunikasi pemasaran efektif.
Pertama, identifikasi sasaran audiens-nya (to whom). Ini adalah langkah
paling penting, karena dari sinilah bakal ditentukan apa pesannya (what),
bagaimana akan disampaikan (how), kapan (when), dan di mana (where). Ingat, yang
jadi audiens bisa saja: pembeli potensial, pengguna saat ini, deciders (orang
yang membuat keputusan pembelian), atau influencers (orang yang mempengaruhi
keputusan dan pilihan pembeli).
Kedua, menentukan tujuan komunikasi. Sederhananya, ada tiga tahap: tahap
kognitif (learn), tahap afektif (feel), dan tahap konatif (do). Dari konsep ini
dibangunlah model komunikasi yang popular yaitu AIDA (attention, interest,
desire, action). Anda perlu tentukan, tujuan komunikasi-pemasarannya adalah
bersifat informatif dulu (attention, awareness) atau sudah ke level emosional
(interest & desire), atau bahkan sudah mengharapkan suatu tindakan (do, action).
Ketiga, merancang pesan. Ada empat hal utama yang perlu dicermati: a) apa
yang ingin disampaikan (isi pesan), menyangkut USP (unique selling proposition)
atau hal unik apa sih yang ingin ditawarkan. Sehingga audiens bakal tertarik
secara rasional maupun emosional; b) bagaimana supaya struktur pesannya bisa
dipahami oleh audiens yang disasar; c) bagaimana cara menyampaikannya secara
simbolis. Ini soal format atau bentuk dari pesannya. Misalnya: headline, copy,
ilustrasi dan warna, kata-kata, kualitas suara (kalau lewat media elektronik);
d) siapa yang harus menyampaikannya. Ini soal sumber pesan, terutama menyangkut
kredibilitas penyampai pesan.
Keempat, memilih saluran komunikasi. Pada umumnya ada dua saluran besar:
komunikasi personal dan komunikasi non-personal. Komunikasi personal artinya
berbicara langsung, baik tatap muka maupun via telepon, via email, online
chatting, maupun dalam bentuk presentasi. Biasanya untuk produk yang harganya
mahal dan beresiko tinggi, dan pembeliannya tidak setiap saat (situasional).
Juga untuk produk-produk yang berkaitan dengan status, sehingga butuh penasehat
ahli (desainer, konsultan ahli). Sedangan untuk saluran komunikasi non-personal
meliputi media-massa (cetak dan elektronik), ataupun acara (events) dan suasana
(atmosphere) yang dibangun, misalnya saat launching produk baru, eksibisi, dll.
Kelima, menyusun anggaran komunikasi total. Harus dipertimbangkan
masak-masak jangan sampai ada dana komunikasi-pemasaran yang terbuang percuma.
Ingat, ongkos promosi adalah biaya investasi jadi harus ada return-nya. Cara
menentukan anggaran bisa dengan: a) langsung menetapkan besarnya anggaran sesuai
dengan kemampuan finansial perusahaan; b) sesuai persentase terhadap penjualan
(percentage of sales method); c) untuk menembus paritas “kebisingan” promosi
para kompetitor, ini untuk merebut share-of-voice dari para pesaing. Maka
dananya juga harus minimal sama dengan pesaing utama.
Keenam, menentukan bauran komunikasi-pemasaran yang terintegrasi. Bauran
komunikasi-pemasaran yang harus diintegrasikan adalah: periklanan, promosi
penjualan, public relations, personal selling, dan direct & online marketing.
Ketujuh, implementasi komunikasi pemasaran yang terintegrasi (integrated
marketing communications). Ini adalah tahap eksekusi, di sini kepemimpinan
bisnis menjadi imperatif.
Kedelapan, mengumpulkan umpan balik. Ini adalah proses belajar dan
penyempurnaan terus menerus.
Nah, bersiaplah untuk sukses!
...walau situasi ekonomi secara umum agak berat, namun tetaplah
optimis dengan prospek produk. Untuk itu rencanakan peningkatkan
penjualan dengan berpromosi atau beriklan. Tetap percaya justru saat inilah
produk lokal bisa menjadi substitusi produk impor, karenanya mesti
dikomunikasikan. Persoalannya, komunikasi-pemasaran yang efektif
seperti apakah yang mesti kita lancarkan?
Cermatlah membaca peluang. Saat banyak orang pesimis karena situasi
makro, justru Anda melihat bahwa produk Anda bisa menjadi
pengganti produk-produk yang selama ini diimpor dari luar negeri.
Merencanakan komunikasi-pemasaran ini memang mesti cermat, jangan sampai
upaya dan uang yang terpakai untuk itu malah terbuang percuma. Lord Cole,
pendiri Unilever, pernah bilang: “I know that half the money I spend on
advertising is wasted, unfortunately, I don’t know which half!”. Jadi kecermatan
adalah kuncinya.
Seperti diuraikan oleh Fandi Tjiptono, dkk. (dalam buku mereka: Pemasaran
Strategik, 2008), paling tidak ada delapan tahap pokok yang patut dicermati
dalam menyusun komunikasi pemasaran efektif.
Pertama, identifikasi sasaran audiens-nya (to whom). Ini adalah langkah
paling penting, karena dari sinilah bakal ditentukan apa pesannya (what),
bagaimana akan disampaikan (how), kapan (when), dan di mana (where). Ingat, yang
jadi audiens bisa saja: pembeli potensial, pengguna saat ini, deciders (orang
yang membuat keputusan pembelian), atau influencers (orang yang mempengaruhi
keputusan dan pilihan pembeli).
Kedua, menentukan tujuan komunikasi. Sederhananya, ada tiga tahap: tahap
kognitif (learn), tahap afektif (feel), dan tahap konatif (do). Dari konsep ini
dibangunlah model komunikasi yang popular yaitu AIDA (attention, interest,
desire, action). Anda perlu tentukan, tujuan komunikasi-pemasarannya adalah
bersifat informatif dulu (attention, awareness) atau sudah ke level emosional
(interest & desire), atau bahkan sudah mengharapkan suatu tindakan (do, action).
Ketiga, merancang pesan. Ada empat hal utama yang perlu dicermati: a) apa
yang ingin disampaikan (isi pesan), menyangkut USP (unique selling proposition)
atau hal unik apa sih yang ingin ditawarkan. Sehingga audiens bakal tertarik
secara rasional maupun emosional; b) bagaimana supaya struktur pesannya bisa
dipahami oleh audiens yang disasar; c) bagaimana cara menyampaikannya secara
simbolis. Ini soal format atau bentuk dari pesannya. Misalnya: headline, copy,
ilustrasi dan warna, kata-kata, kualitas suara (kalau lewat media elektronik);
d) siapa yang harus menyampaikannya. Ini soal sumber pesan, terutama menyangkut
kredibilitas penyampai pesan.
Keempat, memilih saluran komunikasi. Pada umumnya ada dua saluran besar:
komunikasi personal dan komunikasi non-personal. Komunikasi personal artinya
berbicara langsung, baik tatap muka maupun via telepon, via email, online
chatting, maupun dalam bentuk presentasi. Biasanya untuk produk yang harganya
mahal dan beresiko tinggi, dan pembeliannya tidak setiap saat (situasional).
Juga untuk produk-produk yang berkaitan dengan status, sehingga butuh penasehat
ahli (desainer, konsultan ahli). Sedangan untuk saluran komunikasi non-personal
meliputi media-massa (cetak dan elektronik), ataupun acara (events) dan suasana
(atmosphere) yang dibangun, misalnya saat launching produk baru, eksibisi, dll.
Kelima, menyusun anggaran komunikasi total. Harus dipertimbangkan
masak-masak jangan sampai ada dana komunikasi-pemasaran yang terbuang percuma.
Ingat, ongkos promosi adalah biaya investasi jadi harus ada return-nya. Cara
menentukan anggaran bisa dengan: a) langsung menetapkan besarnya anggaran sesuai
dengan kemampuan finansial perusahaan; b) sesuai persentase terhadap penjualan
(percentage of sales method); c) untuk menembus paritas “kebisingan” promosi
para kompetitor, ini untuk merebut share-of-voice dari para pesaing. Maka
dananya juga harus minimal sama dengan pesaing utama.
Keenam, menentukan bauran komunikasi-pemasaran yang terintegrasi. Bauran
komunikasi-pemasaran yang harus diintegrasikan adalah: periklanan, promosi
penjualan, public relations, personal selling, dan direct & online marketing.
Ketujuh, implementasi komunikasi pemasaran yang terintegrasi (integrated
marketing communications). Ini adalah tahap eksekusi, di sini kepemimpinan
bisnis menjadi imperatif.
Kedelapan, mengumpulkan umpan balik. Ini adalah proses belajar dan
penyempurnaan terus menerus.
Nah, bersiaplah untuk sukses!
Mari Belajar dari Pesaing!
Oleh: Andre Vincent Wenas
...usaha memang seringkali direpotkan oleh beberapa pesaing
yang menawarkan produk mirip dengan produk kami. Dengan agresivitas kompetitor
yang seperti ini profitabilitas bisa terancam. Bagaimana seharusnya menyikapi
pesaing yang sangat agresif seperti ini.
Kehadiran kompetitor selalu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi ia
merepotkan, karena mengancam dominasi pasar kita. Sementara itu di sisi lain, ia
juga “membangunkan” kita dari kelengahan. Pesaing juga bisa di lihat sebagai
“mitra” untuk mendidik pasar.
Namun, sementara ini banyak perusahaan yang enggan untuk belajar dari
pesaingnya, entah karena “gengsi”, atau lantaran tidak tahu caranya. Sebab,
manakala perusahaan saling bersaing maka mereka akan saling menutupi sumber
informasi yang dianggapnya bisa menguntungkan pesaing.
Analisa pesaing sangatlah krusial, selain soal saingan produk dan perebutan
jalur distribusi penjualan, adalah juga soal penetapan struktur harga. Hal yang
sederhana misalnya, jangan sampai kita beri harga terlalu tinggi dibanding
kompetitor sehingga pelanggan jadi resisten. Atau sebaliknya harga terlalu
murah, sehingga kita malah kehilangan kesempatan (lost-opportunity) memperoleh
keuntungan lebih.
Menyimak apa yang dirumuskan Freddy Rangkuti (bukunya: Creating Effective
Marketing Plan, Penerbit Gramedia, 2002), dapat kita pelajari teknik analisa
kompetitor secara komprehensif.
Maksud utama analisa pesaing adalah supaya diperoleh gambaran detail
tentang pengaruh pelbagai faktor eksternal seperti peluang (opportunity) dan
ancaman (threats) yang berpengaruhi pada bisnis kita secara langsung maupun
tidak langsung. Beberapa keuntungan praktis dari proses analisa kompetitor ini
adalah: kita mengetahui keunggulan pesaing, jadi tahu alasan pelanggan
menggunakan produk pesaing, kita bisa merancang program komunikasi pemasaran
secara lebih efektif, analisa kompetitor yang tajam bisa memicu kreativitas dan
daya inovasi kita sendiri untuk melakukan perubahan dan perbaikan produk kita.
Langkah awal analisa pesaing adalah membuat daftar perusahan yang produknya
atau penawarannya bersaingan langsung. Juga identifikasi produk lain yang
potensial jadi pengganti (substitusi) produk Anda. Supaya lebih efektif dan
tajam observasinya, pilihlah tiga sampai lima produk (perusahaan) yang dianggap
paling relevan.
Beberapa cara memperoleh informasi pesaing adalah lewat: a) internet, b)
kunjungan personal ke perusahaan pesaing (banyak cara untuk ini, misalnya lewat
asosiasi, kelompok profesi yang kadangkala menyelenggarakan factory-tour, dll),
c) bicara dengan pelanggan, dan pelajari bagaimana pendapatnya mengenai
perusahaan Anda maupun pesaing, d) pelajari iklan pesaing, yaitu tentang: target
market-nya, posisi pasar, penampilan produk, keuntungan (benefits) yang
ditawarkan, dan harga, e) hadiri seminar atau presentasi yang diadakan pesaing,
f) amati pameran dagang para pesaing secara kritis, terutama dari sudut pandang
pelanggan potensial, g) pelajari dokumen tertulisnya, seperti: publikasi bisnis,
publikasi iklan dan pemasaran (brosur, leaflet, dll), jurnal ilmiah, surat
kabar, majalah, publikasi dari asosiasi industri dan perdagangan, publikasi
hasil penelitian sektor industri tertentu, data base atau publikasi
perpusatakaan perguruan tinggi, laporan tahunan, yellow pages, dll, h) akhirnya
buatlah file (folder) untuk masing-masing pesaing, serta update data itu secara
berkala.
Beberapa pertanyaan panduan yang bisa dipakai dalam analisa pesaing:
a) Seberapa komprehensif permainan pesaing Anda? Apakah mereka berorientasi
pada produk atau proses? Hal yang juga penting, seberapa jauh mereka memiliki
keterkaitan organisasional dengan perusahaan global atau internasional?
b) Bagaimana pesaing Anda melihat masa depan? Skenario apa yang akan
dipakainya di masa depan?
c) Kira-kira sumber daya apa yang belum dimanfaatkan oleh pesaing kita?
Dari mana perusahaan kompetitor memperoleh ide untuk masa depan? Seberapa banyak
sumber daya yang tersedia di perusahaan tersebut?
d) Bagaimana positioning kompetitor? Bagaimana Anda dapat memahami semua
pesaing untuk memperdalam visi bisnis yang Anda kelola?
e) Akhirnya, tanyakan juga, apakah kita perlu bersaing dengan mereka?
Setelah melihat semua faktor internal dan eksternal, toh akhirnya kita mesti
memilih untuk bersaing dengan siapa.
Pada intinya, jadikan analisa pesaing juga sebagai sumber inspirasi
pengembangan produk, juga unutk perbaikan proses produksi dan proses pelayanan
pelanggan. Karena hal itu sekaligus akan memperbaiki kinerja manajemen bisnis
kita. Bersiaplah untuk sukses.
...usaha memang seringkali direpotkan oleh beberapa pesaing
yang menawarkan produk mirip dengan produk kami. Dengan agresivitas kompetitor
yang seperti ini profitabilitas bisa terancam. Bagaimana seharusnya menyikapi
pesaing yang sangat agresif seperti ini.
Kehadiran kompetitor selalu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi ia
merepotkan, karena mengancam dominasi pasar kita. Sementara itu di sisi lain, ia
juga “membangunkan” kita dari kelengahan. Pesaing juga bisa di lihat sebagai
“mitra” untuk mendidik pasar.
Namun, sementara ini banyak perusahaan yang enggan untuk belajar dari
pesaingnya, entah karena “gengsi”, atau lantaran tidak tahu caranya. Sebab,
manakala perusahaan saling bersaing maka mereka akan saling menutupi sumber
informasi yang dianggapnya bisa menguntungkan pesaing.
Analisa pesaing sangatlah krusial, selain soal saingan produk dan perebutan
jalur distribusi penjualan, adalah juga soal penetapan struktur harga. Hal yang
sederhana misalnya, jangan sampai kita beri harga terlalu tinggi dibanding
kompetitor sehingga pelanggan jadi resisten. Atau sebaliknya harga terlalu
murah, sehingga kita malah kehilangan kesempatan (lost-opportunity) memperoleh
keuntungan lebih.
Menyimak apa yang dirumuskan Freddy Rangkuti (bukunya: Creating Effective
Marketing Plan, Penerbit Gramedia, 2002), dapat kita pelajari teknik analisa
kompetitor secara komprehensif.
Maksud utama analisa pesaing adalah supaya diperoleh gambaran detail
tentang pengaruh pelbagai faktor eksternal seperti peluang (opportunity) dan
ancaman (threats) yang berpengaruhi pada bisnis kita secara langsung maupun
tidak langsung. Beberapa keuntungan praktis dari proses analisa kompetitor ini
adalah: kita mengetahui keunggulan pesaing, jadi tahu alasan pelanggan
menggunakan produk pesaing, kita bisa merancang program komunikasi pemasaran
secara lebih efektif, analisa kompetitor yang tajam bisa memicu kreativitas dan
daya inovasi kita sendiri untuk melakukan perubahan dan perbaikan produk kita.
Langkah awal analisa pesaing adalah membuat daftar perusahan yang produknya
atau penawarannya bersaingan langsung. Juga identifikasi produk lain yang
potensial jadi pengganti (substitusi) produk Anda. Supaya lebih efektif dan
tajam observasinya, pilihlah tiga sampai lima produk (perusahaan) yang dianggap
paling relevan.
Beberapa cara memperoleh informasi pesaing adalah lewat: a) internet, b)
kunjungan personal ke perusahaan pesaing (banyak cara untuk ini, misalnya lewat
asosiasi, kelompok profesi yang kadangkala menyelenggarakan factory-tour, dll),
c) bicara dengan pelanggan, dan pelajari bagaimana pendapatnya mengenai
perusahaan Anda maupun pesaing, d) pelajari iklan pesaing, yaitu tentang: target
market-nya, posisi pasar, penampilan produk, keuntungan (benefits) yang
ditawarkan, dan harga, e) hadiri seminar atau presentasi yang diadakan pesaing,
f) amati pameran dagang para pesaing secara kritis, terutama dari sudut pandang
pelanggan potensial, g) pelajari dokumen tertulisnya, seperti: publikasi bisnis,
publikasi iklan dan pemasaran (brosur, leaflet, dll), jurnal ilmiah, surat
kabar, majalah, publikasi dari asosiasi industri dan perdagangan, publikasi
hasil penelitian sektor industri tertentu, data base atau publikasi
perpusatakaan perguruan tinggi, laporan tahunan, yellow pages, dll, h) akhirnya
buatlah file (folder) untuk masing-masing pesaing, serta update data itu secara
berkala.
Beberapa pertanyaan panduan yang bisa dipakai dalam analisa pesaing:
a) Seberapa komprehensif permainan pesaing Anda? Apakah mereka berorientasi
pada produk atau proses? Hal yang juga penting, seberapa jauh mereka memiliki
keterkaitan organisasional dengan perusahaan global atau internasional?
b) Bagaimana pesaing Anda melihat masa depan? Skenario apa yang akan
dipakainya di masa depan?
c) Kira-kira sumber daya apa yang belum dimanfaatkan oleh pesaing kita?
Dari mana perusahaan kompetitor memperoleh ide untuk masa depan? Seberapa banyak
sumber daya yang tersedia di perusahaan tersebut?
d) Bagaimana positioning kompetitor? Bagaimana Anda dapat memahami semua
pesaing untuk memperdalam visi bisnis yang Anda kelola?
e) Akhirnya, tanyakan juga, apakah kita perlu bersaing dengan mereka?
Setelah melihat semua faktor internal dan eksternal, toh akhirnya kita mesti
memilih untuk bersaing dengan siapa.
Pada intinya, jadikan analisa pesaing juga sebagai sumber inspirasi
pengembangan produk, juga unutk perbaikan proses produksi dan proses pelayanan
pelanggan. Karena hal itu sekaligus akan memperbaiki kinerja manajemen bisnis
kita. Bersiaplah untuk sukses.
Terampil Memimpin Perusahaan
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)
...Anda dipercaya mengendalikan usaha. Mulai saat ini Anda mesti menunjukkan
kinerja bisnis secara menyeluruh, bukan lagi parsial segi produksi-manufaktur
saja.
Saat ini, sebagai business-leader pandangan Anda sangat ditentukan oleh
cognitive bandwidth dan personality Anda. Bagaimana Anda menyikapi posisi
bisnis, menyerang (offensive) atau bertahan (defensive) terhadap gempuran
kompetitor? Cari tahu gambaran besar (the big picture) yang disebut
business-landscape serta detail komponennya, bagaimana interaksi dan
relevansinya masing-masing.
Cermati posisi uang kas tiap minggu, kalau perlu tiap hari. Dengan mencermati
cash-flow, Anda bisa dapat gambaran awal tentang mekanisme bisnis Anda (the
business-mechanics). Dari segmen produk dan pasar mana saja uang itu mengalir
masuk? Sektor apa saja yang paling besar mengalirkan uang keluar? Kemudian, di
akhir minggu (atau tiap hari) posisi uang-kas Anda negatif atau positif?
Bagaimana proyeksi uang kas ini minggu depan? bulan dan semester depan? Di akhir
tahun?
Untuk meningkatkan kelihaian berbisnis, pelajari ketiga laporan dasar
keuangan: Cash-Flow (laporan arus-kas), Income Statement (laporan laba-rugi),
dan Balance-Sheet (neraca keuangan). Ketiganya penting, namun yang kritikal
adalah cash-flow!
Dengan terus mewaspadai mekanisme arus-kas, kita bisa meraba apa sih yang
sesungguhnya dibeli pelanggan? Bisa menyelidiki mengapa mereka beli dari Anda?
Bisa segera tahu, apa yang mesti dilakukan jika barang dagangan tidak laku?
Secara lugas, Ram Charan, (bukunya: Know How, The 8 Skills That Separate People
Who Perform from Those Who Don’t, 2007. Catatan: sudah diterbitkan dalam bahasa
Indonesia oleh Gramedia) menyebutkan 8 keterampilan business-leader yang
mendasar:
1. Positioning and repositioning. Keterampilan mencari dan menemukan “ide besar”
atau model-bisnis yang menghasilkan profit. Dan ketika business-landscape secara
signifikan berubah, Anda pun mampu, secara intelektual-emosional, mereposisi
bisnis.
2. Kemampuan mengidentifikasi perubahan eksternal, dan lebih dulu memahami
pola-pola bisnis (business patterns) yang terjadi, sehingga bisa mengambil
posisi menyerang.
3. Keterampilan memimpin sistem-sosial bisnis Anda. Mempekerjakan orang yang
tepat, yang bisa unjuk kerja tinggi (performance-nya bagus) serta perilaku dan
tatanan-nilai pribadi (personal values)nya selaras dengan tatanan-nilai
organisasi. Maka proses pengambilan keputusan bisa cepat dan pelaksanaan proses
bisnisnya berkualitas tinggi.
4. Kemampuan ”menilai orang” (judge people) berdasarkan fakta dan observasi demi
menemukenali talenta terbaik mereka dan mencocokannya dengan kebutuhan bisnis.
5. Mencetak tim (molding a team) sedemikian rupa sehingga para pemimpinnya (yang
semuanya berkompetensi tinggi) bisa meredam ego-nya masing-masing, dan bisa
saling berkoordinasi tanpa kendala (seamlessly).
6. Kemampuan mengembangkan tujuan (goals). Visioning, dengan tetap menjaga
keseimbangan antara potensi bisnis dengan kenyataan organisasi. Bukan cuma
bertolak dari kinerja tahun lalu (past performance), lalu merencanakan
peningkatan incremental. Ini yang disebut rear-view mirror business-plan,
merencanakan bisnis ke masa depan tapi caranya dengan melihat kaca-spion (tengok
ke belakang) melulu.
7. Prioritizing. Ini adalah kemampuan tingkat tinggi para business-leaders.
Menetapkan prioritas yang tajam (laser-sharp priorities), dengan merumuskan
tugas-tugas spesifik serta mampu menyelaraskan (allignment) semua sumber daya
(resources), tindakan (actions), dan energi organisasi agar setiap vektornya
fokus ke satu titik. Sinergi dan fokus.
8. Kreativitas dan sikap positif dalam menanggulangi kekuatan luar (external
forces). Tekanan-tekanan sosial ini ada di luar kendali, namun pengaruhnya
cukup besar, maka mesti disikapi dan direspon dengan tepat.
Bersiaplah untuk sukses!
(twitter: @andrewenas)
...Anda dipercaya mengendalikan usaha. Mulai saat ini Anda mesti menunjukkan
kinerja bisnis secara menyeluruh, bukan lagi parsial segi produksi-manufaktur
saja.
Saat ini, sebagai business-leader pandangan Anda sangat ditentukan oleh
cognitive bandwidth dan personality Anda. Bagaimana Anda menyikapi posisi
bisnis, menyerang (offensive) atau bertahan (defensive) terhadap gempuran
kompetitor? Cari tahu gambaran besar (the big picture) yang disebut
business-landscape serta detail komponennya, bagaimana interaksi dan
relevansinya masing-masing.
Cermati posisi uang kas tiap minggu, kalau perlu tiap hari. Dengan mencermati
cash-flow, Anda bisa dapat gambaran awal tentang mekanisme bisnis Anda (the
business-mechanics). Dari segmen produk dan pasar mana saja uang itu mengalir
masuk? Sektor apa saja yang paling besar mengalirkan uang keluar? Kemudian, di
akhir minggu (atau tiap hari) posisi uang-kas Anda negatif atau positif?
Bagaimana proyeksi uang kas ini minggu depan? bulan dan semester depan? Di akhir
tahun?
Untuk meningkatkan kelihaian berbisnis, pelajari ketiga laporan dasar
keuangan: Cash-Flow (laporan arus-kas), Income Statement (laporan laba-rugi),
dan Balance-Sheet (neraca keuangan). Ketiganya penting, namun yang kritikal
adalah cash-flow!
Dengan terus mewaspadai mekanisme arus-kas, kita bisa meraba apa sih yang
sesungguhnya dibeli pelanggan? Bisa menyelidiki mengapa mereka beli dari Anda?
Bisa segera tahu, apa yang mesti dilakukan jika barang dagangan tidak laku?
Secara lugas, Ram Charan, (bukunya: Know How, The 8 Skills That Separate People
Who Perform from Those Who Don’t, 2007. Catatan: sudah diterbitkan dalam bahasa
Indonesia oleh Gramedia) menyebutkan 8 keterampilan business-leader yang
mendasar:
1. Positioning and repositioning. Keterampilan mencari dan menemukan “ide besar”
atau model-bisnis yang menghasilkan profit. Dan ketika business-landscape secara
signifikan berubah, Anda pun mampu, secara intelektual-emosional, mereposisi
bisnis.
2. Kemampuan mengidentifikasi perubahan eksternal, dan lebih dulu memahami
pola-pola bisnis (business patterns) yang terjadi, sehingga bisa mengambil
posisi menyerang.
3. Keterampilan memimpin sistem-sosial bisnis Anda. Mempekerjakan orang yang
tepat, yang bisa unjuk kerja tinggi (performance-nya bagus) serta perilaku dan
tatanan-nilai pribadi (personal values)nya selaras dengan tatanan-nilai
organisasi. Maka proses pengambilan keputusan bisa cepat dan pelaksanaan proses
bisnisnya berkualitas tinggi.
4. Kemampuan ”menilai orang” (judge people) berdasarkan fakta dan observasi demi
menemukenali talenta terbaik mereka dan mencocokannya dengan kebutuhan bisnis.
5. Mencetak tim (molding a team) sedemikian rupa sehingga para pemimpinnya (yang
semuanya berkompetensi tinggi) bisa meredam ego-nya masing-masing, dan bisa
saling berkoordinasi tanpa kendala (seamlessly).
6. Kemampuan mengembangkan tujuan (goals). Visioning, dengan tetap menjaga
keseimbangan antara potensi bisnis dengan kenyataan organisasi. Bukan cuma
bertolak dari kinerja tahun lalu (past performance), lalu merencanakan
peningkatan incremental. Ini yang disebut rear-view mirror business-plan,
merencanakan bisnis ke masa depan tapi caranya dengan melihat kaca-spion (tengok
ke belakang) melulu.
7. Prioritizing. Ini adalah kemampuan tingkat tinggi para business-leaders.
Menetapkan prioritas yang tajam (laser-sharp priorities), dengan merumuskan
tugas-tugas spesifik serta mampu menyelaraskan (allignment) semua sumber daya
(resources), tindakan (actions), dan energi organisasi agar setiap vektornya
fokus ke satu titik. Sinergi dan fokus.
8. Kreativitas dan sikap positif dalam menanggulangi kekuatan luar (external
forces). Tekanan-tekanan sosial ini ada di luar kendali, namun pengaruhnya
cukup besar, maka mesti disikapi dan direspon dengan tepat.
Bersiaplah untuk sukses!
Mari Memuaskan Para Pelanggan
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)
...setelah mulai menggaet pelanggan yang lumayan banyak, biasanya juga
diikuti komplain atau keluhan pelanggan yang mulai sering berdatangan ke
kantor. Bagaimana kita mengatasi dilema ini?
Seiring dengan perkembangan bisnis, maka perkembangan organisasi (orang dan
sistem/struktur) memang perlu segera mengimbanginya. Ini adalah hal yang wajar
sekali, karena kekuatan seorang pemimpin bisnis (a business leader) pada titik
tertentu akan mentok. “Sang Pemimpin Besar” alih-alih berkontribusi menciptakan
nilai ia malah destruktif atau minimal menghambat pertumbuhan.
Kepekaan terhadap model-bisnis yakni dari mana aliran revenue diperoleh,
lalu bagaimana struktur dan sistem organisasi bekerja menciptakan nilai tambah,
serta akibat keterbatasan spektrum kepemimpinannya, maka perlu dipertajam dan
dibantu bahkan disinergikan dengan kekuatan tim.
Bagaimana memastikan kepuasan pelanggan (dengan memenuhi kebutuhannya)
adalah imperatif model bisnis yang krusial. Sepuluh patokan yang selidiki Greg
Vance (Delivering The Goods: Developing Sales & Service Excellence, 1995) baik
sekali untuk dicermati dengan seksama demi memastikan bahwa organisasi
digerakkan oleh suatu pola pikir (mind-set) yang kongruen dengan model
bisnisnya.
1. Hasil (result); waspadalah selalu bahwa – pada akhirnya – yang
dibutuhkan pelanggan adalah hasil akhir di mana produk atau jasa kita
menunjukkan efektivitas kinerjanya. Rumusan sederhana adalah QCD (Quality, Cost,
Delivery). Kualitas mesti match (pas) dengan permintaan pelanggan. Biaya (di
mata pelanggan adalah harga) mesti dirasa win-win oleh kedua pihak. Waktu
penerimaan/pengiriman yang tepat, atau saat pembeli mencari maka barang atau
jasa itu tersedia.
2. Dapat diandalkan (reliability); sistem pendukung mesti dipastikan
befungsi pada waktu dibutuhkan. Apalagi untuk bisnis yang memerlukan pelayanan
purna jual dalam bentuk perawatan, suku cadang, sampai konsultasi tentang
penggunaan produk.
3. Hidup (semangat), hangat, bersahabat serta ramah dalam melayani
pelanggan. Ini berlaku untuk aspek orang dan juga sistemnya. Sistem mesti
didesain dan di-update (diperbaharui) sedemikian rupa, sehingga – di mata
pelanggan – jadi bersahabat (user friendly), tidak ribet dan bertele-tele.
4. Empati; ini adalah semangat memahami secara tulus akan kebutuhan setiap
individu pelanggan.
5. Pemasok yang juga handal; jangan lupa bahwa sistem bisnis Anda
sesungguhnya adalah rangkaian proses penciptaan nilai dari berbagai pihak,
internal maupun eksternal. Pastikan bahwa para pemasok adalah mitra bisnis
handal yang mengerti proses bisnis Anda. Sehingga mereka bisa menjalankan fungsi
pasokan (inbound) yang bermutu. Jika perlu, mereka perlu diikutsertakan dalam
program-program pelatihan Anda.
6. Kekuatan komunikasi (strong communication); pastikan semua pihak yang
terlibat proses pelaksanaan strategi dibekali dengan kadar informasi yang cukup.
Ini adalah salah satu faktor pembangun tim dan motivasi kelompok yang penting.
Anggota tim akan merasa terlibat, karena dilibatkan dan dipercaya sebagai
peserta aliran informasi strategis.
7. Integritas; keterbukaan, kejujuran dan perlakuan adil. Integritas juga
berkaitan dengan kata integrasi, yang maksudnya adalah bersatunya (integrasi)
perkataan dengan tindakan. Orang sering mengistilahkannya dengan: walk the talk.
Artinya, konsisten antara apa yang diucapkannya dengan tindakannya.
8. Adanya perasaan kemitraan (a feeling of partnership) dengan para
pelanggan Anda; untuk melanggengkan relasi dengan pelanggan, sudah pada
tempatnya untuk membagikan (to share) sistem nilai bahkan aspirasi Anda kepada
para pelanggan.
9. Solusi kreatif dalam pemecahan masalah; ingat bahwa setiap pelanggan,
di samping kesamaannya juga punya keunikan masing-masing. Kerap kali Anda mesti
melakukan pendekatan kreatif sesuai dengan konteks permasalahan setiap pelanggan
(atau sesuai segmennya), di samping pendekatan generik bagi seluruh pelanggan.
10. Value (nilai); suatu patokan harga yang mesti dibayar saat ekspektasi
terpenuhi. Dalam mencari titik kesetimbangan (equilibrium) harga ini memang
pekat dipengaruhi pelbagai aspek nilai-tambah lainnya, aspek emosional serta
persepsi pasar, dan lain-lain, di samping faktor biaya-biaya langsung
(direct-costs). Yang penting, harga yang dipatok bisa dipersepsi adil (fair)
oleh pelanggan yang ada dalam pangsa (segmen) pasar yang disasar.
Nah, bersiaplah untuk sukses!
(twitter: @andrewenas)
...setelah mulai menggaet pelanggan yang lumayan banyak, biasanya juga
diikuti komplain atau keluhan pelanggan yang mulai sering berdatangan ke
kantor. Bagaimana kita mengatasi dilema ini?
Seiring dengan perkembangan bisnis, maka perkembangan organisasi (orang dan
sistem/struktur) memang perlu segera mengimbanginya. Ini adalah hal yang wajar
sekali, karena kekuatan seorang pemimpin bisnis (a business leader) pada titik
tertentu akan mentok. “Sang Pemimpin Besar” alih-alih berkontribusi menciptakan
nilai ia malah destruktif atau minimal menghambat pertumbuhan.
Kepekaan terhadap model-bisnis yakni dari mana aliran revenue diperoleh,
lalu bagaimana struktur dan sistem organisasi bekerja menciptakan nilai tambah,
serta akibat keterbatasan spektrum kepemimpinannya, maka perlu dipertajam dan
dibantu bahkan disinergikan dengan kekuatan tim.
Bagaimana memastikan kepuasan pelanggan (dengan memenuhi kebutuhannya)
adalah imperatif model bisnis yang krusial. Sepuluh patokan yang selidiki Greg
Vance (Delivering The Goods: Developing Sales & Service Excellence, 1995) baik
sekali untuk dicermati dengan seksama demi memastikan bahwa organisasi
digerakkan oleh suatu pola pikir (mind-set) yang kongruen dengan model
bisnisnya.
1. Hasil (result); waspadalah selalu bahwa – pada akhirnya – yang
dibutuhkan pelanggan adalah hasil akhir di mana produk atau jasa kita
menunjukkan efektivitas kinerjanya. Rumusan sederhana adalah QCD (Quality, Cost,
Delivery). Kualitas mesti match (pas) dengan permintaan pelanggan. Biaya (di
mata pelanggan adalah harga) mesti dirasa win-win oleh kedua pihak. Waktu
penerimaan/pengiriman yang tepat, atau saat pembeli mencari maka barang atau
jasa itu tersedia.
2. Dapat diandalkan (reliability); sistem pendukung mesti dipastikan
befungsi pada waktu dibutuhkan. Apalagi untuk bisnis yang memerlukan pelayanan
purna jual dalam bentuk perawatan, suku cadang, sampai konsultasi tentang
penggunaan produk.
3. Hidup (semangat), hangat, bersahabat serta ramah dalam melayani
pelanggan. Ini berlaku untuk aspek orang dan juga sistemnya. Sistem mesti
didesain dan di-update (diperbaharui) sedemikian rupa, sehingga – di mata
pelanggan – jadi bersahabat (user friendly), tidak ribet dan bertele-tele.
4. Empati; ini adalah semangat memahami secara tulus akan kebutuhan setiap
individu pelanggan.
5. Pemasok yang juga handal; jangan lupa bahwa sistem bisnis Anda
sesungguhnya adalah rangkaian proses penciptaan nilai dari berbagai pihak,
internal maupun eksternal. Pastikan bahwa para pemasok adalah mitra bisnis
handal yang mengerti proses bisnis Anda. Sehingga mereka bisa menjalankan fungsi
pasokan (inbound) yang bermutu. Jika perlu, mereka perlu diikutsertakan dalam
program-program pelatihan Anda.
6. Kekuatan komunikasi (strong communication); pastikan semua pihak yang
terlibat proses pelaksanaan strategi dibekali dengan kadar informasi yang cukup.
Ini adalah salah satu faktor pembangun tim dan motivasi kelompok yang penting.
Anggota tim akan merasa terlibat, karena dilibatkan dan dipercaya sebagai
peserta aliran informasi strategis.
7. Integritas; keterbukaan, kejujuran dan perlakuan adil. Integritas juga
berkaitan dengan kata integrasi, yang maksudnya adalah bersatunya (integrasi)
perkataan dengan tindakan. Orang sering mengistilahkannya dengan: walk the talk.
Artinya, konsisten antara apa yang diucapkannya dengan tindakannya.
8. Adanya perasaan kemitraan (a feeling of partnership) dengan para
pelanggan Anda; untuk melanggengkan relasi dengan pelanggan, sudah pada
tempatnya untuk membagikan (to share) sistem nilai bahkan aspirasi Anda kepada
para pelanggan.
9. Solusi kreatif dalam pemecahan masalah; ingat bahwa setiap pelanggan,
di samping kesamaannya juga punya keunikan masing-masing. Kerap kali Anda mesti
melakukan pendekatan kreatif sesuai dengan konteks permasalahan setiap pelanggan
(atau sesuai segmennya), di samping pendekatan generik bagi seluruh pelanggan.
10. Value (nilai); suatu patokan harga yang mesti dibayar saat ekspektasi
terpenuhi. Dalam mencari titik kesetimbangan (equilibrium) harga ini memang
pekat dipengaruhi pelbagai aspek nilai-tambah lainnya, aspek emosional serta
persepsi pasar, dan lain-lain, di samping faktor biaya-biaya langsung
(direct-costs). Yang penting, harga yang dipatok bisa dipersepsi adil (fair)
oleh pelanggan yang ada dalam pangsa (segmen) pasar yang disasar.
Nah, bersiaplah untuk sukses!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Gelombang PHK 7.000 Karyawan Disney Akan Dimulai Pekan Ini Rabu, 29 Maret 2023 Raksasa hiburan Amerika Serikat (AS) Walt Disney Company akan...
-
Supply chain This section contains information on the following distributed examples: * Decentralization * Multistage supply chain * Outsour...
-
Sharing soal competency yang bisa diartikan sebagai set of skill atau knowledge yang harus dimiliki atau di develop oleh person yang meme...
-
Anang Z. Gani Abstract This paper presents a new paradigm for solving the Travelling Salesman Problem (TSP). TSPis known as an NP-complete p...
-
KOMPAS.com - Pengalaman kerja seringkali dijadikan referensi saat melamar pekerjaan. Lantas bagaimana dengan para fresh graduate, yang boleh...