Monday, December 3, 2012

Closed Group dan Across Closed Group

Perbedaan antara Closed Group dan Across Closed Group.
UN EDIFACT adalah metode EDI (Electronic Data Interchain) atau metode pertukaran data electronic dalam sebuah Cosed Group.

EDI itu TIDAK LEBIH hanya sebuah sebutan terminologi

ISO8583 adalah juga sama namun lebih ke arah Closed Group Banking.

Ketika sebuah entitas berdiri di antara Closed Group dan berperan dalam pertukaran data Across Closed Group maka UN EDIFACT atau ISO 8583 itu tidak bisa.dibanggakan dan mendominasi kesemuanya.

Dan ini terbukti pada Across Closed Group RosettaNet dalam.Dunia Logistik.

Tuntutannya adalah paradigma Across Closed Group dan bukan pada sebuah Closed Group.

Tidak Semua Kecanduan, Merugikan !


Oleh : Isywara Mahendratto

Kecanduan sebagai sebuah mekanisme pertahanan, diperlukan tubuh untuk melindungi diri dari resiko kelelahan akibat terpapar sumber stres, namun terlalu lama "berhenti" pada kecanduan juga merugikan karena membuat ybs. jadi enggan menghadapi hal yang baru.

Walau masih sama-sama berada di siklus uzur (pada skema SERVO), tidak semua bentuk-bentuk kecanduan seperti kecanduan ibadah, kecanduan kerja, kecanduan olah-raga, merugikan. Hal tersebut dikarenakan adanya keluaran positif yang masih dapat diharapkan seperti terhindar dari penggunaan narkoba, penghasilan yang lebih besar ataupun tubuh yang sehat.

Syukur-syukur jika "ibadah" dilakukan sebagai bentuk rasa syukur pada yang Maha Kuasa, begitu pula dengan "bekerja", idealnya dilakukan sebagai sebuah bentuk ibadah dan cara seseorang memperluas zona kendalinya, sedang "olah-raga" diniatkan sebagai sarana ybs. menyempurnakan dirinya.

Jadi jika terpaksanya Anda harus melarikan diri ke dalam bentuk bentuk kecanduan, akibat masalah keluarga, stres pekerjaan atau lingkungan yang buruk di sekitar Anda, pilihlah bentuk bentuk kecanduan yang produktif seperti kecanduan nyanyi, main musik, melukis dsb.

Siapa tau kecanduan hal yang produktif tersebut, kelak justru menjadi sumber penghasilan utama Anda !

Website : http://servoclinic.com/kesaksian/

Social Media


Jakarta - Tak bisa dipungkiri, peran jejaring sosial bagi individu pada umumnya dan kalangan korporasi pada khususnya semakin penting. Bagi perusahaan, jejaring sosial digunakan untuk aktivitas promosi dan pemasaran produk yang dimiliki, mendekatkan diri kepada para calon pembeli, pembeli, pengguna serta konsumen atas brand (brand engagement), produk yang ditawarkan serta layanan yang diberikan. 

Tujuannya beragam yaitu meningkatkan kepuasan konsumen, nilai brand itu sendiri serta penjualan sampai dengan memenangkan persaingan bisnis. 

Selain menggunakan kanal yang ada, tentunya pihak terkait baik pemilik brand, departemen pemasaran, divisi komunikasi pemasaran, manajer jejaring sosial, agensi periklanan, perusahaan Public Relation maupun buzzer memerlukan tool untuk mengawasi aktivitas komunikasi di berbagai channel. Di sinilah Social Media Monitoring akrab disingkat SMM hadir menjawab kebutuhan tersebut.

 

Social Media Monitoring

Merupakan bagian dari Social Media Optimization (SMO), SMM menggunakan beberapa metode untuk menelurusi percakapan yang ada: otomatisi dengan engine, manual dengan intervensi manusia, atau gabungan keduanya. 

Engine punya kemampuan menjaring dan mengintepretasikan percakapan. Dan juga bisa 'diajarkan' dengan cara diberikan algoritma dan pendekatan tertentu oleh kita sebagai pencipta sekaligus pengunanya. 

Pendekatannya bisa pasif dimana hanya digunakan untuk mendengarkan percakapan saja dan aktif yang artinya SMM digunakan untuk menelusuri komunikasi tentang sebuah brand, tren maupun peristiwa tertentu.

Hal apa saja yang bisa dilakukan oleh SMM? Yang paling pertama tentunya media apa saja yang bisa ditelusuri. Hampir semua media sosial maupun percakapan yang ada saat ini seperti Twitter, Facebook, Google+ mailing list, blog, dan forum. 

Fungsinya secara sederhana adalah menulusuri metriks berupa data kuantitatif (berapa banyak jumlah tweet yang diretweet, berapa jumlah Facebook page yang mendapatkan status 'Like', komentar pada sebuah blog, jumlah post dalam sebuah forum) serta data kualitatif (sentimen percakapan yang terjadi di semua media yang disebutkan di atas, apakah cenderung positif atau negatif atau gabungan keduanya). 

Isi percakapan sendiri tergantung kata kunci yang ingin dijaring dan hampir bisa tentang apa saja: nama individu, perusahaan, brand, pujian, komplain, perilaku, sanksi, keinginan dan lain sebagainya. 

Bagi korporasi, SMM merupakan salah satu tool Business Intelligence era digital karena selain bisa 'mengawasi' brandnya sendiri juga bisa menjaring sentiment brand para pesaingnya.

Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan hasil (output) yaitu laporan termasuk bentuk, tampilan, isi dan format file laporan. Bentuk dan tampilan biasanya menggunakan eleven visual seperti tabel dan grafik sementara format file yang didukung adalah format populer seperti csv, pdf dan xml. 

Isi laporan, selain sentiment, bisa berupa intensitas (berapa jumlah twit mengenai klub Barcelona bulan lalu misalnya), tren (percakapan mengenai cagub tertentu apakah meningkat atau menurun) dan pengaruh (kanal mana dan pengguna teraktif yang membicarakan kedatangan Lady Gaga).

Manfaat

Dengan menggunakan SMM, maka kita akan mengetahui bagaimana brand kita dibicarakan dan dipersepsikan oleh publik termasuk kekuatan, kelemahan, tantangan maupun ancaman terhadap produk yang kita miliki. 

Pelayanan terhadap konsumen juga diharapkan akan meningkat karena komplain maupun komplimen bisa segera ditindaklanjuti sehingga tingkat kepuasan mereka tetap terjaga sementara di sisi lain kinerja perusahaan diharapkan akan meningkat. 

Riset dari lembaga Maritz menyatakan bahwa pelanggan yang memperoleh respons yang cepat setelah mereka menyebutkan brand tersebut di Twitter meningkatkan persepsi positif terhadap brand tersebut sampai dengan 83 persen. 

Jika feedback dari pengguna secara proaktif ditelusuri dan ditindaklanjuti maka reputasi brand tersebut tentunya akan tetap terjaga dan positif. Selain itu dengan aktivitas BI, maka kekuatan dan kelemahan lawan akan bisa diketahui dan dianalisa, yang pada akhirnya akan membuat brand memperkuat kekuatannya dan memperbaiki kelemahannya agar bisa bersaing dan mengungguli para kompetitornya.


(Foto: PurpleStrategies)

Keterbatasan dan Tantangan

SMM hanya menjaring percakapan tentang apa yang ingin kita telusuri. Jika tidak ada percakapan tentang produk yang kita tawarkan, tentunya tidak ada data yang bisa dianalisa. 

Tentunya deviasi hasil laporan akan selalu ada terlepas dari metode interpretasi yang dipilih (otomatisasi, manual atau gabungan keduanya). Di sinilah perlunya intervensi analis agar akurasi laporan dapat ditingkatkan. Setelah laporan berhasil diperoleh, tantangan yang akan dihadapi adalah memberikan bobot atas hasil percakapan di berbagai media tersebut serta menindaklanjuti hasilnya untuk 

Masa Depan

Saat ini ada sekitar 200 tool dan platform SMM di seluruh dunia, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang mampu menyajikan begitu banyak fitur. Ada yang gratis dan ada pula yang berbayar. 

Jumlah dan jenis media yang dapat dijaring, kecepatan dan metode menelusuri, menganalisa dan mengintepretasikan data dan informasi, jumlah dan jenis metriks serta laporan merupakan beberapa pertimbangan penting sebelum kita memutuskan tool atau platform mana yang akan digunakan. 

Semua elemen pada SMM bisa disesuaikan tergantung dari produk mana yang akan dipilih. Hasil atau laporan dapat digunakan untuk berbagai keperluan strategis seperti pengembangan produk, pengembangan layanan konsumen, riset pemasaran, pengadaan event serta manajemen pelayanan pelanggan.

Masih banyak pengguna berkutat di tataran bagaimana cara menggunakan media sosial yang baik dan benar serta bermanfaat bagi berbagai pihak. Ini learning curve yang harus dilalui karena merupakan media yang tergolong baru. 

Namun seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan peranan dan manfaat media digital ini bagi seluruh komponen stakeholder baik internal maupun eskternal, maka hal tersebut akan berbanding lurus dengan kehadiran dan penggunaan SMM.

__._,_.___

How To Survive And How To Improve Performance ?


Untuk bisa terus bersaing dalam kompetisi bisnis Global, perusahaan tidak cukup dengan hanya memiliki Manajemen Operational yang baik, yang mampu mengendalikan operational rutin perusahaan, namun perusahaan juga perlu memiliki Manajemen Perubahanuntuk meningkatkan kinerja dan untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi eksternal yang terus berkembang.
 
 
 
Oleh karena itulah, perusahaan perlu menjalankan 2 sistem manajemen yang dijalankan secara simultan (bersinergi) untuk meningkatkan daya saing perusahaan :
 
  1. Manajemen Operational. Manajemen operational terkait dengan aturan (sistem) yang disusun sebagai pedoman dalam menjalankan aktifitas sehari-hari sehingga karyawan bisa bekerja dengan  
    1. Kesalahan yang minimum dan
    2. Bekerja dengan efisien.
Manajemen operational yang baik akan membuat perusahaan memiliki sistem baku yang dapat digunakan sebagai acuan bagi siapapun yang bekerja pada perusahaan.
·         Dengan adanya sistem, konsistensi output perusahaan dapat terjaga, walaupun terjadi pergantian orang.
·         Dengan konsisten menjalankan sistem, dan bila tidak ada perubahan pada faktor ekternal yang berdampak pada perusahaan, seperti misalnya krisis Eropa, masuknya pesaing baru, perubahan teknologi, perubahan peraturan pemerintah, dan perubahan lainnya,  kinerja perusahaan akan stabil pada posisi yang telah dicapai.
 
Tantangan dalam sistem manajemen operational adalah bagaimana kita bisa menyusun sistem yang efisien, tidak sekedar mendokumentasikan operational sehari-hari yang sudah biasa kita lakukan. Oleh karena itu dalam pengembangan manajemen operational, perusahaan perlu memahami
1.    Permasalahan yang terjadi pada perusahaan sebagai inputan dalam menyusun sistem manajemen operational. Target dalam penyusunan sistem manajemen operational:  “Sistem bisa mengurangi permasalahan operational sehari-hari”
2.    Teknologi proses, bagaimana benchmark teknologi proses terbaik dijadikan acuan untuk  menyusun sistem manajemen operational. Sebagai contoh : benchmark teknologi proses produksi yang fokus pada pencegahan defect dengan cara mengendalikan faktor penyebab defect bukan fokus pada pengontrolan output (note : pengontrolan output sudah terlambat, defect sudah tejadi).  
 
  1. Manajemen Perubahan. Manajemen perubahan terkait dengan bagaimana perusahaan melakukan improvement (peningkatan terus menerus) dan bagaimana perusahaan menyusun perubahan untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada faktor eksternal, misalnya perubahan peraturan penghilangan proteksi (pengurangan pajak import, penghapusan larangan import) yang berdampak pada masuknya barang import (persaingan lokal berubah menjadi persaingan global), masuknya pesaing baru yang berdampak pada kompetisi yang semakin tajam, perubahan teknologi produk yang mengakibatkan produk menjadi usang, perubahan teknologi proses yang mengakibatkan proses kompetitor menjadi lebih efisien dan lain sebagainya.
 
Sayangnya banyak perusahaan atau pimpinan yang terjebak atau terfokus pada manajemen operational, akibatnya perusahaan berjalan ditempat dan tidak siap menghadapi perubahan pada faktor eksternal. Kalaupun ada perubahan, pada umumnya perubahan dilakukan secara spontan dan kurang terstruktur.
 
 
 
Peran Pimpinan dalam Manajemen Operational 
 
 
 
Peran Pimpinan dalam Manajemen Perubahan
 
 
 
 
Imanuel Iman (Penulis Buku Transforming Organization  @imanueliman_
 
 
 
There Is Always Room For Improvement

Perjalanan Cahaya Pemimpin Sejati

Oleh : Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


“Perception is built up with states of consciousness as a house is built with 
bricks, and a mental chemistry is invoked which fuses these materials into a 
compact whole.” (Maurice Merleau-Ponty: Phenomenology of Perception, 1945).

***

  Kalau sudah sama-sama tahu bahwa sebagai bangsa sedang terpuruk (harga BBM 
meroket, korupsi-kolusi merajalela, tatanan sosial retak, dll) maka seharusnya 
burning-platform sudah tercipta untuk suatu perubahan. Change or Die, seperti 
judul buku Alan Deutschman (Change or Die, Could you change when change matters 
most?, Harper Collins, 2007).  Persoalannya, kesadaran-kesadaran bisa masuk dan 
tersusun menjadi kesatuan bangunan yang utuh lewat suatu rumusan mental yang 
bisa mencampur masukan-masukan tadi. Dan repotnya, studi yang dilakukan Alan 
Deutchman menyimpulkan bahwa reaksi “normal” terhadap saran perubahan adalah: 
denial (penolakan) dulu. “We all live in denial about many scary things.” 
Akibatnya situasi makin runyam.

  Ternyata orang enggan berubah cuma lantaran facts, fears & force (faktanya 
menakutkan plus tekanan). Kalau perubahan mau berkelanjutan, studi Alan 
Deutschman menyarankan 3R. Relate, Repeat, Reframe. Pada galibnya manusia mesti 
merasa terhubung (relate, “nyambung”, feel-connected) dengan manusia lainnya. 
Dalam konteks sosial, ya mesti ada pemimpin yang bisa jadi model, dimana setiap 
orang bisa melihat dan merasakan cita-cita serta harapannya sendiri terpantul 
dari kharisma orang itu. Dan di titik inilah persisnya letak persoalan bangsa 
kita: krisis kepemimpinan!

***

  Terhadap kebobrokan moral yang melanda Athena di mana korupsi merajalela, 
Sokrates meratap, “…kalau kondisi ini berlarut, tembok-tembok Athena akan roboh 
dilalap keserakahan manusia.”  Tak kalah tajamnya, Pramoedya Ananta Toer (“Saya 
Terbakar Amarah Sendirian”, wawancara yang dibukukan Andre Vltchek & Rossie 
Indira, 2006) juga meradang: “Secara geografis, sebagai negara Indonesia masih 
bersatu, tapi secara sosial memang terpecah-belah. Indonesia sekarang sedang 
sakit. Sakit parah…” Lalu lanjutnya, “…Indonesia sekarang ini dalam keadaan 
membusuk. Korupsi dan birokrasi di mana-mana, dan ini adalah dua sindrom utama 
dari penyakit kita. Dalam hal ekonomi, hampir tidak ada produksi tapi kita punya 
konsumsi yang sangat besar. Keluarga tidak mengajari anak-anak mereka bagaimana 
berproduksi...” Konklusinya, “Indonesia sudah tidak tertolong lagi, kecuali 
dengan melakukan perubahan yang radikal. Dan ini harus dipimpin oleh angkatan
muda…”

  Krisis kepemimpinan adalah lanskap saat ini. Kita perlu melahirkan 
pemimpin-pemimpin (bisnis & politik) yang otentik, berani, jujur, cerdas, 
bijaksana dan punya wawasan kebangsaan (ingat agenda Bung Karno: nation and 
character building!). 

  Perlu hati bening untuk mendeteksi pemimpin seperti itu, karena – terinspirasi 
oleh Arthur Schopenhauer (On the Suffering of the World, 1850) – bahwa calon 
pemimpin “…can be divided into meteors, planets and fixed stars. The first 
produce a momentary effect: you gaze up, cry: ‘Look!’ – and then they vanish 
forever. The second, the moving stars, endure for much longer. By virtue of 
their proximity they often shine more brightly than the fixed star, which the 
ignorant mistake them for. But they too must soon vacate their place, they shine 
moreover only with a borrowed light, and their sphere of influence is limited to 
their own fellow travelers (their contemporaries). The third alone are 
unchanging, stand firm in the firmament, shine by their own light and influence 
all ages equally, in that their aspects does not alter when our point of view 
alters since they have no parallax. Unlike the others, they do not belong to one 
system (nation) they belong to the Universe. But it is precisely because they 
are so high that their light usually takes so many years to reach the eyes of 
dwellers on earth.” 

***

  Di tataran korporasi global, para CEO-nya bisa berasal dari negara (bangsa) 
mana saja asalkan mumpuni. Mudah-mudahan fenomena ini belum perlu bagi Indonesia 
Incorporated. Walaupun Mahatma Gandhi memang pernah bilang, “My nationality is 
humanity.”

  Soalnya, ketika kebutuhan makin mendesak dan calon pemimpin itu tak kunjung 
tampak sinarnya dari blantika Indonesia, maka – dengan justifikasi globalisasi 
dan dengan sangat terpaksa – kita mulai berpikir untuk minta kesediaan Mahathir 
Mohammad, Lee Kuan Yeuw atau Nelson Mandela (mereka kebetulan sudah pensiun) 
agar mau dikontrak sebagai CEO Indonesia Inc! Bila ingin calon lebih muda, bisa 
tunggu hasil pertarungan Hillary Clinton versus Barack Obama. Wallahualam!

  Maka, panggilan bagi para professional Indonesia adalah menjadi fixed stars 
yang cahayanya genuine, bertahan menembus perjalanan sejarah.



(twitter@andrewenas)
-----------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Juni 2008


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: strategicmanagementservices@yahoo.com

Menyehatkan Aliran Komunikasi

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


"Hindari menarik kesimpulan tergesa-gesa sebelum proses penyampaian pesan selesai dan pesan dipahami"

Komunikasi adalah seperti darah dalam tubuh organisasi. JIka aliran darah terhambat, tubuh organisasi mengalami stroke. Maka, penting bagi seorang pemimpin organisasi bisnis mengatasi hambatan komunikasi itu.

Beberapa saran pernah dikemukakan Prof. Jit S. Chandan dalam bukunya 'Organizational Behavior' edisi ketiga, thn 2005. Komunikasi menjadi efektif tatkala hambatan-hambatannya dieliminasi, dan situasi kondusif bagi keberhasilan komunikasi ditingkatkan. Buka jalur komunikasi vertikal ke atas, tingkatkan keterampilan menyimak dan keterampilan menulis, serta atasi kesenjangan kredibilitas.

Mari kita urai satu persatu. Umpan balik dan membuka jalur komunikasi vertikal. Fungsi utama dari mekanisme umpan balik adalah mengurangi kesalahpahaman. Informasi yang disampaikan bisa lebih akurat manakala si penerima pesan (karyawan Anda) punya kesempatan "mengajukan pertanyaan klarifikasi" dan mendapat jawaban yang memadai.

Komunikasi dua arah, wlaau memakan waktu, namun ampuh mencegah kecurigaan, membangun keterbukaan dan kepercayaan yang merupakan fondasi hubungan yang sehat. Ini pada gilirannya akan sangat berkontribusi kepada komunikasi efektif.

Komunikasi vertikal dimungkinkan jika Anda sebagai pemimpin punya "kebijakan pintu terbuka" dan punya hati mendengar saran dan masukan bawahan.

Karena itu, sebagai langkah awal, tingkatkan keterampilan Anda untuk menyimak. Menyimak lebih mendalam daripada sekedar mendengar. Bahkan Stuart Chase dalam 'Power of Words' (1954) bilang, "Listening is the other half of talking... Listening is an active mental process and goes beyond simply hearing."

Kebiasaan menyimak yang baik akan mengantar pada pemahaman yang lebih benar serta membuat relasi-relasi membaik. Beberapa patokan effective listening:

a. Infrastruktur pertama adalah atensi yang penuh kepada si pembicara. Jangan biarkan pikiran melayang ke soal lain yang bakal memecah fokus. Jika tidak, peluang memahami apa yang dimaksud pembicara (yaitu apa yang dikatakan dan yang terbaca dari bahasa tubuhnya) menjadi kecil.

b. Perhatikan bahasa yang digunakan, nada suara, dan "dengarkan" emosi di dalamnya.

c. Ajukan pertanyaan mengklarifikasi poin-poin yang belum dipahami, dan pantulkan kembali hal-hal yang sudah Anda mengerti sebagai respon bahwa Anda sungguh memperhatikannya.

d. Pastikan tak ada interupsi ataupun gangguan luar selama proses percakapan.

e. Hindari prasangka atau penilaian apriori terhadap pesan yang disampaikan berdasarkan pengalaman masa lalu Anda dengan karyawan sebagai penyampai pesan. Baik itu pengalaman negatif maupun positif.

f. Hindari menarik kesimpulan tergesa-gesa sebelum proses penyampaian pesan selesai dan pesannya dipahami dengan benar.

g. Akhirnya, biasakan senantiasa meringkas apa-apa yang telah dibicarakan, yaitu setelah karyawan Anda selesai dan Anda tak ragu lagi dengan pemahaman isi dan maksud dari pesannya. 

Selain menyimak, kembangkan juga keterampilan menulis. Karena, dengan menulis yang baik, Anda bisa mencegah kesalahan semantik dan halangan persepsi.

Robert Degise dalam bukunya 'Writing: Don't Let the Mechanics Obscure the Message' (1976) punya beberapa saran:

- 'Keep words simple'. Pesan yang sederhana lebih gampang dibaca atau dimengerti.

- 'Do not bogged down by rules of composition'. Meskipun kita mesti menghormati tata bahasa, namun jangan jadikan itu beban yang menghambat dalam menuangkan pikiran. Mengalir saja.

- 'Write concisely'. Gunakanlah kalimat-kalimat pendek, sehingga gampang dicerna.

- 'Be specific'. Segera masuk pada pokok soalnya. Jangan berputar-putar, ini cuma menciptakan kesalahpahaman.

Sehatkan aliran darah dalam organisasi Anda, ciptakan situasi komunikasi yang kondusif. Bersiaplah untuk sukses!




(twitter@andrewenas)
-----------------------------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN, edisi Minggu IV, Agustus 2007


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: strategicmanagementservices@yahoo.com

There Is Always Room For Improvement


KECEWA ? MERASA TIDAK DIHARGAI ?

Pernahkah Anda sudah merasa bekerja sebaik-baiknya, bahkan telah memberikan hasil positif (membuat kerja lebih efisien, menciptakan efisiensi) namun atasan atau Customer Anda tetap saja complain ?

Tentunya banyak dari kita yang sering mengalami hal seperti ini, yang akhirnya membuat kita kecewa dan merubah sikap kita dari yang sebelumnya penuh semangat, peduli terhadap masalah, berubah menjadi orang yang apatis, tidak peduli, tidak hormat kepada Customer atau atasan, dan sikap negatif lainnya. Buat apa kerja kalau tidak dihargai ?

Jika Anda pernah merasakan hal tersebut, atau Anda sekarang ini sedang ada dalam kondisi tersebut, coba renungkan sejenak untung ruginya kita bersikap seperti itu.

·         Sikap seperti ini menjadikan diri kita sebagai obyek, dimana kita bisa berubah mengikuti kondisi external yang terjadi. Ketika lingkungan kita bersemangat kita akan bersemangat, ketika lingkungan kita jelek, kita akan ikut menjadi jelek. Lalu apakah kita ingin menjadikan diri kita sebagai obyek ??

·         Kelemahan lain dari sikap ini adalah menjadikan diri kita tertutup akan koreksi diri. Seharusnya kita bisa lebih positif dalam melihat suatu masalah, mungkin manajemen menyalahkan kita dengan maksud untuk menjadikan kita sebagai orang yang lebih baik (memberikan input bukan menyalahkan), atau memang komunikasi kita yang kurang baik ke Manajemen sehingga Manajemen tidak mengetahui improvement apa yang sudah kita kerjakan

Kembali ke topik utama kenapa Pimpinan masih complain walapun kita telah memberikan hasil positif kepada Perusahaan ? Ada 2 penyebab utama kenapa hal tersebut bisa terjadi:

1.    Apa yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut Pimpinan. Bisa saja Anda memang benar telah melakukan improvement, namun bisa juga menurut Pimpinan : yang lebih penting adalah hal lain. Anda melakukan improvement A, tetapi menurut Pimpinan yang lebih penting adalah B. Berikut salah satu contoh kasus yang pernah kami alami:
·         Staff client kami ingin cepat memdapatkan sertifikat dan tidak mau report-report dengan improvement karena ada banyak pekerjaan dan proyek baru. Kemudian kita mengikuti kemauan mereka. Namun di akhir proyek top manajemen complain karena tidak merasa ada perubahan atau improvement. Lalu apa gunanya sertifikat ??  Tentu saja complain tersebut membuat kita kecewa, tapi kita harus belajar untuk mau menerima complain dan melakukan koreksi diri. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Tidak mungkin ada complain kalau kita melakukannya dengan sempurna, pasti ada sesuatu yang salah di kami (berpikir positif sambil mengurut dada). Keterbukaan, kelapangan dada akhirnya memberikan jawaban atas kasus kami bahwa Prioritas Top Manajemen berbeda dengan prioritas kami (prioritas yang kami dapat dari keinginan staff client). Seharusnya kami lebih menggali “hidden agenda” dari Top Manajemen dan menyamakan prioritas kami dengan prioritas Top Manajemen.  
.
2.    Kurangnya kita melakukan sosialisasi atas improvement yang telah kita lakukan. Ketika kita melakukan improvement, apakah Pimpinan mengetahui improvement yang telah kita lakukan ? Ketika kita tidak pernah menceritakan improvement yang telah kita lakukan, bagaimana manajemen bisa tahu kalau kita telah bekerja dengan baik ? Pengalaman saya, banyak Pimpinan yang tahu masalah karena masalah akan mudah sekali terangkat, namun tidak tahu akan improvement karena jarang sekali yang mengangkat cerita keberhasilan tersebut. Jadi wajar saja kalau manajemen tahu masalah dan tidak tahu improvement yang telah dilakukan J akibatnya kita merasa bahwa manajemen tidak menghargai kita. Kita kecewa, cemberut, bête dll. Berikut pengalaman kami terkait dengan kasus ini
·         Dalam salah satu project improvement yang kami tangani, tiba-tiba ada issue dari beberapa orang yang merasa bahwa setelah project improvement berjalan beberapa bulan,  bukannya jadi tambah baik tapi kok jadi tambah kacau ? Issue tersebut tentu saja sampai ke Manajemen dan membuat Manajemen merasa project ini tidak ada gunanya dan ingin memutuskan kontrak. Padahal kami telah banyak melakukan improvement. Dulu tidak ada schedule delivery yang jelas, sekarang ada schedule delivery, bahkan kita bisa menelusuri status dari setiap part sampai ke detil prosesnya. Dulu schedule produksi hanya quantity sekarang sudah dibuat per jam dan dibuat berdasarkan cycle time yang diukur. Mencoba berlapang dada, kami kemudian mencoba mencari penyebab kasus ini terjadi ? Kami akhirnya menemukan jawaban atas kasus ini “Kami kurang berkomunikasi dengan Manajemen, kurang menceritakan progress improvement yang telah kami lakukan”.  Akibatnya mudah sekali manajemen terseret dengan issue negative dari orang-orang yang resistance terhadap perubahan. Orang-orang yang merasa tidak sejalan dengan perubahan yang terus dilakukan. Atas kasus ini, kami kemudian menyiapkan detil laporan hasil yang telah kami lakukan dan mempresentasikan hasilnya kepada Top Manajemen dan ternyata Top Manajemen surprise dengan hasil yang telah kami lakukan. Keterbukaan ini akhirnya mampu membuat kita menjadi lebih baik. Sekarang ini kami secara rutin menyusun standard laporan hasil improvement kepada Manajemen supaya mereka bisa ikut merasakan progress improvement yang sedang berjalan. Dengan adanya perubahan ini, sekarang kami justru malah bisa menjadi lebih dekat dengan Top Manajemen dan mendapat support lebih dari Top Manajemen.

Jadi kenapa harus kecewa ketika atasan kita merasa kita kurang baik ?? Jadikan itu sebagai pecutan untuk kita lebih berintrospeksi.
Apa yang salah dengan kita ?? TIDAK ADA ASAP JIKA TIDAK ADA API


Salam Transformasi
Imanuel Iman (Penulis buku Transforming Organization) @imanueliman


Sentral Sistem Consulting
There Is Always Room For Improvement

Related Posts