Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)
Meneruskan jalannya perusahaa sambil membalikkan kinerjanya jadi positif kembali merupakan suatu tantangan tersendiri. Tetap semangat dan etos untuk terus mencari jalan demi mengembalikan kejayaan usaha. Ada beberapa prinsip manajemen bisnis yang perlu dicermati.
Hal pertama, Anda tentu mesti meneliti tiga laporan keuangan dasar perusahaan, yakni:
1. Laporan keuangan arus-kas (cash-flow). Jangan sampai aliran dana keluar lebih besar dari aliran dana masuk (negative cash-flow).
2. Laporan neraca (balance-sheet) yang merupakan potret kekayaan atau asset perusahaan. Periksa apakah nilai utang lebih besar dibanding dengan harta, ini namanya negative networth.
3. Laporan rugi laba (profit and loss/income statement). Seperti kita tahu, laporan ini menggambarkan operasional perusahaan: bagaimana posisi laba kotor (gross profit) yang merupakan hasi dari pendapatan (revenue) dikurangi harga perolehan (cost of good sold).
Dari laporan rugi-laba ini, kita juga bisa melihat laba operasi (operating profit), yakni keuntungan yang diperoleh setelah dipotong ongkos operasional (seperti gaji, ongkos promosi dan penjualan, sampai biaya administrasi). Lalu, kita juga bisa melihat laba ditahan (retained earnings), apakah masih ada yang tersisa? Ini perlu untuk pertumbuhan perusahaan di masa depan, jangan sampai posisinya negatif.
Terkait dengan ketiga laporan tersebut, Anda bisa melakukan restrukturisasi dan strategi turn-around perusaahan.
Soal ini mari kita belajar dari pakarnya, Robby Djohan, yang telah membesarkan Bank Niaga, merestrukturisasi Garuda Indonesia Airways, serta memimpin penggabungan beberapa bank plat merah bermasalah menjadi Bank Mandiri.
Dalam buku Robby, 'The Art of Turn Around - Kiat Restrukturisasi', 2003, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik:
Pertaman, perbaiki cash-flow, dengan cara mengambil segala tindakan yang perlu demi menghentikan kerugian. Untuk itu mungkin perlu merestrukturisasi utang atau suntikan modal baru.
Kedua, identifikasi isu-isu pokok, misalnya: citra yang jelek, posisi keuangan yang insolvent, staf dan personalia yang demotivasi, segmen-segmen operasional yang tidak profitable, proses kerja yang tidak efisien dan efektif, faktor kompetisi, dan faktor eksternal lainnya.
Ketiga, tuntaskan tiga masalah operasional berikut:
1. Personalia.
Lakukanlah pembaruan pada posisi-posisi kunci. Rasionalisasi sekaligus
motivasi karyawan. Ubah kultur kerjanya.
2. Operasional.
Periksa semua aset perusahaan. Adakah aset menganggur? Atau, perlu perbaikan segera? Atau, adakah aset yang bisa dijual untuk memperbaiki posisi cash-flow? Periksa dengan rinci, tutup yang merugikan. Susun rencana usaha yang menjawab kebutuhan pelanggan.
3. Pemasaran.
Lakukan perbaikan citra produk maupun perusahaan. Prioritas pada segmen yang menguntungkan. Lalu siapkan faktor pendukung proses kerja, IT atau outsourcing.
Nah, dalam memimpin dan mengelola restrukturisasi itu, berikut saya kutipkan tips berdasarkan pengalaman Robby Djohan.
1. Misi dan budaya organisasi yang pragmatis.
2. Pemimpin yang visioner.
3. Pragmatis, dahulukan kepentingan perusahaan.
4. Kerjakan hari ini juga.
5. Berani ambil keputusan meskipun salah, daripada tidak memutuskan sama sekali. Keputusan salah masih dapat diperbaiki. Khususnya dalam keadaan krisis, ambil keputusan adalah keharusan. Ini memang sulit karena asumsinya sering tidak pasti dan akibatnya bisa cukup fatal. Tapi ingat, tanpa keputusan tidak akan terjadi apa-apa.
6. Hidup dalam perubahan.
7 Team work.
8. Komunikasi, ciptakan suasana kondusif agar jalur komunikasi dan inovasi terbuka dari segala arah.
Bersiaplah untuk sukses!
(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel terlampir, dari Tabloid Bisnis KONTAN, Minggu III, Juni 2007
STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Sunday, September 16, 2012
CN 235 VIP Membanggakan!
Dalam kesempatan kunjungan resmi ke Korea Selatan sebagai kepala staf Angkatan Udara Republik Indonesia, salah satu acara formal adalah mengunjungi lokasi strategis Angkatan Udara Korea di luar Kota Seoul.
Perjalanan ke tempat tersebut dilakukan menggunakan pesawat helikopter yang berpangkalan di salah satu pangkalan udara yang berdampingan dengan Air Force Base, unit dari Angkatan Udara Amerika Serikat.
Selesai acara resmi, rombongan kami saat itu tertunda lebih kurang satu jam dalam jadwal perjalanan kembali ke Seoul karena cuaca yang berubah buruk.
Seorang kolonel menghadap saya menjelaskan bahwa perjalanan kembali ke Seoul tidak dapat dilaksanakan menggunakan helikopter atau pesawat
rotary wing yang tadi.
Disebutkan alasannya adalah pesawat tersebut tidak bisa terbang tinggi berhubung dengan perkembangan keadaan cuaca yang memburuk. Markas Besar di Seoul memerintahkan untuk mengirim sebuah pesawat
fixed wing VIP menjemput saya dan rombongan.
Setelah pesawat siap, kami pun segera bergegas menuju tempat parkir pesawat. Agak sedikit kaget karena ternyata pesawat
fixed wing VIP yang disiapkan tersebut ternyata dari jenis
CN-235.
Selesai melaksanakan penghormatan berjajar sesuai dengan prosedur pemberangkatan VIP, sang Captain Pilot dengan tersenyum lebar mendekat ke saya dengan mengatakan penuh bangga bahwa saya akan diantar kembali ke Seoul dengan
pesawat fixed wing terbaik yang tersedia di Korea Selatan dan itu adalah pesawat terbang "asli" buatan negara anda! Terharu dalam hati, saya tersenyum sejenak dan mulai meneliti interior CN-235 yang sama sekali belum pernah saya saksikan sebelumnya.
Tidak bisa saya sembunyikan kekaguman terhadap desain interior CN-235 VIP Angkatan Udara Korea Selatan ini. Konon, belakangan setelah itu, saya memperoleh informasi bahwa desain dan perlengkapan VIP interior CN-235 tersebut adalah produk dari pesanan khusus Pemerintah Korea Selatan kepada pihak PTDI.
Terus terang, sangat mewah untuk ukuran Indonesia dan yang istimewa adalah sangat bersih, termasuk lantainya. Yang sangat mengharukan saya adalah melihat bagaimana para awak pesawat bertugas di pesawat itu dengan penuh kebanggaan. Bertugas menerbangkan VIP dengan pesawat khusus buatan BANDUNG di pertengahan masa jabatan saya lainnya, Panglima Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) berkunjung tidak resmi ke Surabaya dengan transit semalam di Jakarta. Saya datang menemuinya di salah satu hotel di Jakarta Pusat.
Ada rasa ingin tahu, apa gerangan yang menjadi acara penting Panglima ke Surabaya. Ternyata, Panglima TUDM beserta satu set kru lainnya hendak berlatih simulator CN-235 di Surabaya.
Saya bertanya kepada Panglima, Jenderal Dato' Suleiman, jam berapa tiba dan menggunakan apa? Surprise sekali saya memperoleh jawaban ternyata Panglima mengemudikan sendiri pesawat CN-235 TUDM VIP dengan menyertakan dua co-pilot yang akan berlatih simulator di Surabaya.
Jenderal Dato' Suleiman menceritakan kepada saya betapa dia sangat menikmati terbang dengan CN-235. Saya tidak punya rating/ kemampuan menerbangkan CN-235 karena sebagian besar perjalanan terbang saya adalah menerbangkan C-130 Hercules.
Secara kebetulan, Jenderal Dato' Suleiman juga mempunyai rating pesawat Hercules. Dengan demikian saya dapat mendiskusikannya agak lebih teknis apa yang dimaksudkannya "nikmat" menerbangkan CN-235 dengan membandingkannya dengan Hercules.
Diskusi berakhir dengan pernyataan Panglima TUDM yang sangat saya percaya jauh dari basa-basi bahwa secara teknis, menerbangkan CN-235 tidaklah kalah menyenangkan dari menerbangkan Hercules.
Dia menutup dengan hal yang sangat mengharukan hati saya bahwa seluruh warga TUDM sangat berbangga hati memiliki dan mengoperasikan pesawat CN-235 produksi dari bangsa serumpun!
Dari dua uraian ilustrasi tadi, kiranya telah lebih dari cukup untuk mewakili refleksi dari beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang juga menggunakan pesawat buatan anak bangsa CN-235.
Pesawat tersebut telah membuktikan dirinya, betapa kelas dari hasil jerih payah putra sang Ibu Pertiwi sudah memperoleh pengakuan de facto di panggung global.
Sangat disayangkan, kini justru di negeri sendiri kita mulai sulit untuk dapat menyaksikan CN-235 membelah angkasa Nusantara, menjaga persada. Sangat berbeda kehadiran CN- 235 bila dibandingkan dengan pesawat Casa-212 yang juga keluar dari kandungan PTDI.
CN-235 dari sejak awal memang telah lahir dari kerja keras dan olah pikir anak-anak kebanggaan kita. Lahir dari pemikiran orisinal sejak desain dasar pesawatnya, bukan sekadar kerja yang mencampur "asem dengan beling" alias
assembling alias "jahit obras" belaka. Tidak berlebihan kiranya bila banyak pihak yang masih saja menginginkan produk kebanggaan seperti ini dapat diteruskan.
Diteruskan yang memang pasti membutuhkan tekad kuat yang harus dilandasi dengan rasa bangga atas karya sendiri. Yang memang diperlukan adalah spirit dan daya juang untuk bertempur dalam kancah persaingan internasional dibandingkan dengan hanya mencari kemudahan melalui kerja ringan memoles saja karya negara lain untuk diluncurkan melalui jalur
assembly-lineaircraft manufacturer yang bernama PTDI.
Mudah-mudahan kita ini semua tidak mudah untuk selalu tergoda dengan "jalan pintas" yang selalu saja merangsang alias "menggiurkan" itu.
CHAPPY HAKIM
Chairman CSE Aviation
Perjalanan ke tempat tersebut dilakukan menggunakan pesawat helikopter yang berpangkalan di salah satu pangkalan udara yang berdampingan dengan Air Force Base, unit dari Angkatan Udara Amerika Serikat.
Selesai acara resmi, rombongan kami saat itu tertunda lebih kurang satu jam dalam jadwal perjalanan kembali ke Seoul karena cuaca yang berubah buruk.
Seorang kolonel menghadap saya menjelaskan bahwa perjalanan kembali ke Seoul tidak dapat dilaksanakan menggunakan helikopter atau pesawat
rotary wing yang tadi.
Disebutkan alasannya adalah pesawat tersebut tidak bisa terbang tinggi berhubung dengan perkembangan keadaan cuaca yang memburuk. Markas Besar di Seoul memerintahkan untuk mengirim sebuah pesawat
fixed wing VIP menjemput saya dan rombongan.
Setelah pesawat siap, kami pun segera bergegas menuju tempat parkir pesawat. Agak sedikit kaget karena ternyata pesawat
fixed wing VIP yang disiapkan tersebut ternyata dari jenis
CN-235.
Selesai melaksanakan penghormatan berjajar sesuai dengan prosedur pemberangkatan VIP, sang Captain Pilot dengan tersenyum lebar mendekat ke saya dengan mengatakan penuh bangga bahwa saya akan diantar kembali ke Seoul dengan
pesawat fixed wing terbaik yang tersedia di Korea Selatan dan itu adalah pesawat terbang "asli" buatan negara anda! Terharu dalam hati, saya tersenyum sejenak dan mulai meneliti interior CN-235 yang sama sekali belum pernah saya saksikan sebelumnya.
Tidak bisa saya sembunyikan kekaguman terhadap desain interior CN-235 VIP Angkatan Udara Korea Selatan ini. Konon, belakangan setelah itu, saya memperoleh informasi bahwa desain dan perlengkapan VIP interior CN-235 tersebut adalah produk dari pesanan khusus Pemerintah Korea Selatan kepada pihak PTDI.
Terus terang, sangat mewah untuk ukuran Indonesia dan yang istimewa adalah sangat bersih, termasuk lantainya. Yang sangat mengharukan saya adalah melihat bagaimana para awak pesawat bertugas di pesawat itu dengan penuh kebanggaan. Bertugas menerbangkan VIP dengan pesawat khusus buatan BANDUNG di pertengahan masa jabatan saya lainnya, Panglima Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) berkunjung tidak resmi ke Surabaya dengan transit semalam di Jakarta. Saya datang menemuinya di salah satu hotel di Jakarta Pusat.
Ada rasa ingin tahu, apa gerangan yang menjadi acara penting Panglima ke Surabaya. Ternyata, Panglima TUDM beserta satu set kru lainnya hendak berlatih simulator CN-235 di Surabaya.
Saya bertanya kepada Panglima, Jenderal Dato' Suleiman, jam berapa tiba dan menggunakan apa? Surprise sekali saya memperoleh jawaban ternyata Panglima mengemudikan sendiri pesawat CN-235 TUDM VIP dengan menyertakan dua co-pilot yang akan berlatih simulator di Surabaya.
Jenderal Dato' Suleiman menceritakan kepada saya betapa dia sangat menikmati terbang dengan CN-235. Saya tidak punya rating/ kemampuan menerbangkan CN-235 karena sebagian besar perjalanan terbang saya adalah menerbangkan C-130 Hercules.
Secara kebetulan, Jenderal Dato' Suleiman juga mempunyai rating pesawat Hercules. Dengan demikian saya dapat mendiskusikannya agak lebih teknis apa yang dimaksudkannya "nikmat" menerbangkan CN-235 dengan membandingkannya dengan Hercules.
Diskusi berakhir dengan pernyataan Panglima TUDM yang sangat saya percaya jauh dari basa-basi bahwa secara teknis, menerbangkan CN-235 tidaklah kalah menyenangkan dari menerbangkan Hercules.
Dia menutup dengan hal yang sangat mengharukan hati saya bahwa seluruh warga TUDM sangat berbangga hati memiliki dan mengoperasikan pesawat CN-235 produksi dari bangsa serumpun!
Dari dua uraian ilustrasi tadi, kiranya telah lebih dari cukup untuk mewakili refleksi dari beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang juga menggunakan pesawat buatan anak bangsa CN-235.
Pesawat tersebut telah membuktikan dirinya, betapa kelas dari hasil jerih payah putra sang Ibu Pertiwi sudah memperoleh pengakuan de facto di panggung global.
Sangat disayangkan, kini justru di negeri sendiri kita mulai sulit untuk dapat menyaksikan CN-235 membelah angkasa Nusantara, menjaga persada. Sangat berbeda kehadiran CN- 235 bila dibandingkan dengan pesawat Casa-212 yang juga keluar dari kandungan PTDI.
CN-235 dari sejak awal memang telah lahir dari kerja keras dan olah pikir anak-anak kebanggaan kita. Lahir dari pemikiran orisinal sejak desain dasar pesawatnya, bukan sekadar kerja yang mencampur "asem dengan beling" alias
assembling alias "jahit obras" belaka. Tidak berlebihan kiranya bila banyak pihak yang masih saja menginginkan produk kebanggaan seperti ini dapat diteruskan.
Diteruskan yang memang pasti membutuhkan tekad kuat yang harus dilandasi dengan rasa bangga atas karya sendiri. Yang memang diperlukan adalah spirit dan daya juang untuk bertempur dalam kancah persaingan internasional dibandingkan dengan hanya mencari kemudahan melalui kerja ringan memoles saja karya negara lain untuk diluncurkan melalui jalur
assembly-lineaircraft manufacturer yang bernama PTDI.
Mudah-mudahan kita ini semua tidak mudah untuk selalu tergoda dengan "jalan pintas" yang selalu saja merangsang alias "menggiurkan" itu.
CHAPPY HAKIM
Chairman CSE Aviation
Problem Gila-gilaan itu Terpecahkan
Seorang matematikawan ITB menemukan teori baru yang bisa memecahkan
misteri matematika yang selama 200 tahun tak terungkap. Masih perlu
pengujian secara internasional.
Suatu kali, Anda mendapat tugas mengunjungi emapat kota dengan pesawat
carteran. Anda berangkat dari Jakarta. Kota-kota yang harus anda kunjungi,
katakanlah, Surabaya, Denpasar, Ujungpandang, serta Pontianak. Jika Anda
mendapat instruksi untuk menempuh jalur terpendek rute mana yang harus
Anda
lewati?
Kening Anda harus berkerut-kerut lebih dahulu, sebelum jawaban yang pasti
bisa ketemu. Syukur kalau Anda hafal di luar kepala jarak antara satu dan
lain kota. Kalau tidak, Anda harus encari jawaban di buku panduan wisata
atau mengukur skla jarak di peta. Itu baru langkah pertama. Selanjutnya,
Anda mesti menyusun beberapa alternative lintasan dan memilih jalur yang
paling hemat bahan bakar dan murah.
Jika Anda berhasil menemukan jawaban yang tepat dalam waktu singkat, Anda
termasuk kategori manusia cerdas. Betapa tidak, untuk mengunjungi 4
kota itu
ada 12 alternatif lintasan. Dan semua alternative itu harus dijajaki satu
persatu dengan menjumlahkan panjang lintasannya dan membandingkan satu
dengan yang lain.
Problem mencari lintasan semacam itu akan lebih memusingkan jika kota yang
harus disinggahi makin banyak. Ambil contoh, umpamanya trip itu ditambah
dengan Medan .Alternatif lintasan pada enam kota itu, termasuk Jakarta,
jumlahnya menjadi 60. Jika ditambah Padang, misalnya, alternatifnya
menjadi
360 lintasan. Kalau 16 kota?
Konon, problem matematis seperti itu telah ramai diperdebatkan sejak dua
abad silam. Selama ini, "teka-teki" tersebut tak pernah memperoleh jawaban
tuntas. Menghitung jumlah kombinasinya pun sudah pusing, apalagi kalau
harus
menentukan misalnya, lintasan terpendek atau terjauh. Kasus pelik, seperti
mencari lintasan terpendek pada trip ke sejumlah kota, adalah sebuah
contoh
kasus, dari gugus problem sejenis, yang oleh pakar matematika disebut
(nonpolynomial)-complete problem.
Kasus-kasus NP-complete problem ini mempunyai cirri yang khas: sebuah
problem matematik yang jika variabelnya bertambah sedikit saja akan
menyebabkan pertambahan waktu computer yang sangat besar untuk
memcahkannya. Pertambahan waktu yang berlipat-lipat itu tak lain
disebabkan
tidak tersedianya kunci praktis untuk menerobos inti persoalan.
Namun, problem tua itu agaknya kini mulai terkuak. Dr. Anang Zaini
Gani, matematikawan ITB, mengemukakan sebuah teori yang disebut "teori
interaksi", sebagai kunci pemecah NP-complete problem. Bahkan kasus-kasus
paling rumit dalam gugus itu, yang disebut The Trveling Salesman Problem
(TSP), oleh Anang Zaini dikatakan bisa ditembus oleh teori temuannya.
"Teori saya ini mampu memecahkan problem TSP sampai jumlah variable 57
atau lebih,"
TSP memang boleh disebut problem matematik yang gila-gilaan. Sepintas,
seperti problem mencari lintasan tadi, persoalan tampak sederhana. Tapi
program konvensional pada supercomputer pun bisa dibikin menyerah.
Bayangkan, untuk lima buah variable, supercomputer - dengan kemampuan satu
juta operasi per detik - hanya memerlukan 0,02 detik untuk memcahkan TSP.
Jika peubah bebas itu ditambah menjadi sepuluh, waktu yang diperlukan
untuk
memecahkannya berlipat hingga sepuluh menit. Namun, jika variable itu
digandakan menjadi 50, "Waktu yang diperlukan sampai tahunan,"
kata
Anang Zaini. Maklum, komputer itu harus membandingkan kombinasi-kombinasi
yang jumlahnya mencapai sebuah bilangan yang terdiri atas 65 angka!
Anang Zaini mengembangkan teorinya berdasarkan sebuah gagasan unik: sebuah
angka tidaklah mutlak adanya. "Nilai suatu elemen dalam sistem itu
sesungguhnya relative, tidak absolute," kata Zaini. Kenisbian nilai elemen
sistem itu, kata ayah empat anak ini, tergantung lingkungannya. Maka,
dalam
membangun teorinya, Zaini mengaitkan satu elemen dengan elemen lain
disekelilingnya, sehingga memperoleh koefisien interaksi. Komponen inilah
yang memungkinkan ahli desain industri itu memperoleh nilai-nilai nisbi.
Dalam memecahkan persolan TSP, Zaini tak melakukan pendekatan dengan
matematika tinggi."Cukup dengan aritmatika (ilmu hitung) biasa, " ujarnya.
Elemen TSP biasanya disusun dalam matriks. Ukuran matriks itu tentu
tergantung variable yang ada. Jika peubah bebasnya 50, matriksnya pun
berukuran 50 x50.
Anggota matriks kemudian ditransformasikan dengan mengalikan terhadap
koefisien interaksi. Indeks koefisien itu diperoleh dari penguadratan
anggota matriks terhadap besaran tertentu. Tahap berikutnya, setelah
transformasi, adalah penggarapan terhadap nilai-nilai nisbi dalam tubuh
matriks itu. Dan yang paling penting pada metode interaksi itu, "Hasil
yang
diperoleh dijamin optimal dan eksak," kata Zaini.
Sumber : Tempo
misteri matematika yang selama 200 tahun tak terungkap. Masih perlu
pengujian secara internasional.
Suatu kali, Anda mendapat tugas mengunjungi emapat kota dengan pesawat
carteran. Anda berangkat dari Jakarta. Kota-kota yang harus anda kunjungi,
katakanlah, Surabaya, Denpasar, Ujungpandang, serta Pontianak. Jika Anda
mendapat instruksi untuk menempuh jalur terpendek rute mana yang harus
Anda
lewati?
Kening Anda harus berkerut-kerut lebih dahulu, sebelum jawaban yang pasti
bisa ketemu. Syukur kalau Anda hafal di luar kepala jarak antara satu dan
lain kota. Kalau tidak, Anda harus encari jawaban di buku panduan wisata
atau mengukur skla jarak di peta. Itu baru langkah pertama. Selanjutnya,
Anda mesti menyusun beberapa alternative lintasan dan memilih jalur yang
paling hemat bahan bakar dan murah.
Jika Anda berhasil menemukan jawaban yang tepat dalam waktu singkat, Anda
termasuk kategori manusia cerdas. Betapa tidak, untuk mengunjungi 4
kota itu
ada 12 alternatif lintasan. Dan semua alternative itu harus dijajaki satu
persatu dengan menjumlahkan panjang lintasannya dan membandingkan satu
dengan yang lain.
Problem mencari lintasan semacam itu akan lebih memusingkan jika kota yang
harus disinggahi makin banyak. Ambil contoh, umpamanya trip itu ditambah
dengan Medan .Alternatif lintasan pada enam kota itu, termasuk Jakarta,
jumlahnya menjadi 60. Jika ditambah Padang, misalnya, alternatifnya
menjadi
360 lintasan. Kalau 16 kota?
Konon, problem matematis seperti itu telah ramai diperdebatkan sejak dua
abad silam. Selama ini, "teka-teki" tersebut tak pernah memperoleh jawaban
tuntas. Menghitung jumlah kombinasinya pun sudah pusing, apalagi kalau
harus
menentukan misalnya, lintasan terpendek atau terjauh. Kasus pelik, seperti
mencari lintasan terpendek pada trip ke sejumlah kota, adalah sebuah
contoh
kasus, dari gugus problem sejenis, yang oleh pakar matematika disebut
(nonpolynomial)-complete problem.
Kasus-kasus NP-complete problem ini mempunyai cirri yang khas: sebuah
problem matematik yang jika variabelnya bertambah sedikit saja akan
menyebabkan pertambahan waktu computer yang sangat besar untuk
memcahkannya. Pertambahan waktu yang berlipat-lipat itu tak lain
disebabkan
tidak tersedianya kunci praktis untuk menerobos inti persoalan.
Namun, problem tua itu agaknya kini mulai terkuak. Dr. Anang Zaini
Gani, matematikawan ITB, mengemukakan sebuah teori yang disebut "teori
interaksi", sebagai kunci pemecah NP-complete problem. Bahkan kasus-kasus
paling rumit dalam gugus itu, yang disebut The Trveling Salesman Problem
(TSP), oleh Anang Zaini dikatakan bisa ditembus oleh teori temuannya.
"Teori saya ini mampu memecahkan problem TSP sampai jumlah variable 57
atau lebih,"
TSP memang boleh disebut problem matematik yang gila-gilaan. Sepintas,
seperti problem mencari lintasan tadi, persoalan tampak sederhana. Tapi
program konvensional pada supercomputer pun bisa dibikin menyerah.
Bayangkan, untuk lima buah variable, supercomputer - dengan kemampuan satu
juta operasi per detik - hanya memerlukan 0,02 detik untuk memcahkan TSP.
Jika peubah bebas itu ditambah menjadi sepuluh, waktu yang diperlukan
untuk
memecahkannya berlipat hingga sepuluh menit. Namun, jika variable itu
digandakan menjadi 50, "Waktu yang diperlukan sampai tahunan,"
kata
Anang Zaini. Maklum, komputer itu harus membandingkan kombinasi-kombinasi
yang jumlahnya mencapai sebuah bilangan yang terdiri atas 65 angka!
Anang Zaini mengembangkan teorinya berdasarkan sebuah gagasan unik: sebuah
angka tidaklah mutlak adanya. "Nilai suatu elemen dalam sistem itu
sesungguhnya relative, tidak absolute," kata Zaini. Kenisbian nilai elemen
sistem itu, kata ayah empat anak ini, tergantung lingkungannya. Maka,
dalam
membangun teorinya, Zaini mengaitkan satu elemen dengan elemen lain
disekelilingnya, sehingga memperoleh koefisien interaksi. Komponen inilah
yang memungkinkan ahli desain industri itu memperoleh nilai-nilai nisbi.
Dalam memecahkan persolan TSP, Zaini tak melakukan pendekatan dengan
matematika tinggi."Cukup dengan aritmatika (ilmu hitung) biasa, " ujarnya.
Elemen TSP biasanya disusun dalam matriks. Ukuran matriks itu tentu
tergantung variable yang ada. Jika peubah bebasnya 50, matriksnya pun
berukuran 50 x50.
Anggota matriks kemudian ditransformasikan dengan mengalikan terhadap
koefisien interaksi. Indeks koefisien itu diperoleh dari penguadratan
anggota matriks terhadap besaran tertentu. Tahap berikutnya, setelah
transformasi, adalah penggarapan terhadap nilai-nilai nisbi dalam tubuh
matriks itu. Dan yang paling penting pada metode interaksi itu, "Hasil
yang
diperoleh dijamin optimal dan eksak," kata Zaini.
Sumber : Tempo
Labels:
Inspiration,
Logistic,
Supply Chain Management
The Death of Samurai : Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo
Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang
mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri
elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki
lorong kegelapan yang terasa begitu perih.
Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian
trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan
harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup
divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan
mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut
(setelah produk televisi mereka juga mati).
Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi
kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi
ini, kita akan coba menelisiknya.
Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang,
kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan
mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan
produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk
Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak
seperti robot yang bodoh dan tolol.
What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti
pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai
pelajaran.
Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan
adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in
product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek
lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang
sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu
sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan
begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru,
dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.
Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban
mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).
Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris
tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi
menjaga "keindahan budaya harmoni". Ouch.
Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi
adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel
dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada
atasan.
Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas.
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan
Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young
Creative Guy adalah keanehan.
Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang
tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang,
loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai
pensiun adalah kelaziman.
Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya
senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan
kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.
Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan
faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua.
Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.
Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam
kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.
Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja
pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang
berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer
senior dan tua itu.
Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan
selalu berjalan dengan tersengal-sengal.
Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa
raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada
tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam
bayang-bayang kematian.
sumber :
http://strategimanajemen.net/2012/09/03/the-death-of-samurai-robohnya-sony-panasonic-sharp-dan-sanyo/
mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri
elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki
lorong kegelapan yang terasa begitu perih.
Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian
trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan
harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup
divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan
mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut
(setelah produk televisi mereka juga mati).
Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi
kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi
ini, kita akan coba menelisiknya.
Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang,
kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan
mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan
produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk
Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak
seperti robot yang bodoh dan tolol.
What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti
pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai
pelajaran.
Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan
adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in
product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek
lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang
sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu
sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan
begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru,
dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.
Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban
mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).
Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris
tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi
menjaga "keindahan budaya harmoni". Ouch.
Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi
adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel
dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada
atasan.
Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas.
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan
Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young
Creative Guy adalah keanehan.
Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang
tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang,
loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai
pensiun adalah kelaziman.
Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya
senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan
kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.
Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan
faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua.
Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.
Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam
kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.
Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja
pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang
berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer
senior dan tua itu.
Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan
selalu berjalan dengan tersengal-sengal.
Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa
raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada
tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam
bayang-bayang kematian.
sumber :
http://strategimanajemen.net/2012/09/03/the-death-of-samurai-robohnya-sony-panasonic-sharp-dan-sanyo/
Pesan Perjuangan dari seorang Prof. Widjajono Partowidagdo
https://www.facebook.com/ photo.php?fbid= 10150973439233835&set=a. 278825338834.189526.718338834& type=1
Copas via Nurman Diah (via Forum Pembaca The Global Review):
Pesan Perjuangan dari seorang Prof. Widjajono Partowidagdo demi Kedaulatan, Kemandirian dan Ketahanan Energi Republik Indonesia:
"Indonesia merupakan negara yang lucu. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber energi murah yaitu batubara, tetapi justru batubara tersebut malah diekspor. Sedangkan Indonesia memilih impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya lebih mahal. "Indonesia negara lucu, ekspor yang murah, tapi impor yang mahal. Orang yang gak kaya minyak tapi pakai yang mahal. Orang miskin kalau pakai yang mahal maka akan susah hidupnya," tegas Widjajono saat ditemui di Ballroom Hotel Kempinski Jakarta, Jumat (30/3/2012).
Widjajono heran dengan kultur masyarakat Indonesia yang justru bangga dengan jumlah mobil yang banyak meskipun bahan bakarnya masih disubsidi. "Mobil di Singapura itu 5 tahun ganti, tapi di Indonesia malah bangga mobil tambah meskipun BBM-nya disubsidi," pungkasnya (detikFinance.com, 30/3/12).
Lebih dari itu, negara ini juga pas disebut negara aneh. Pasalnya memang banyak keanehan dalam pengaturan negara ini. Berikut sebagian diantara keanehan yang terjadi di negeri ini:
Pertama, semua orang di dunia akan sangat takjub dengan melimpahnya kekayaan negeri ini. Hampir semua bentuk kekayaan alam ada di negeri ini. Namun anehnya, kekayaan itu tidak bisa membuat rakyatnya hidup makmur.
Menurut data BPS: (http://www.bps.go.id/tab_sub/ view.php?tabel=1&daftar=1& amp;id_ subyek=23&notab=1 ) pada tahun 2011 orang miskin di negeri ini masih ada 11.046.750 orang di kota, ada 18.972.180 orang di desa dan secara total di negeri ini masih ada 30.018.930 orang miskin. Itu pun dengan ukuran garis kemiskinan di kota Rp 253.016,- per bulan, di desa Rp 213.395,- perbulan dan secara gabungan ukuran garis kemiskinan jika pengeluaran Rp 233.740,- perbulan. Orang yang disebut miskin di negeri ini jika pengeluarannya kurang dari Rp 7.790,- perhari. Padahal dengan pengeluaran sebesar itu per hari hanya cukup untuk sekali makan dengan lauk ala kadarnya.
Kedua, dengan melimpahnya kekayaan negeri ini, ternyata pendapatan negeri ini termasuk dari hasil pengelolaan bermacam kekayaan alam itu tidak cukup untuk membiayai belanja negara sehingga kekurangannya ditutup dengan mencari utang baik dari dalam negeri dalam bentuk Surat Berharga Negara dan dari luar negeri. Jumlah utang pada akhir Januari 2012 yang telah mencapai Rp 1837,39 triliun. Jumlah itu jika dibagi dengan jumlah penduduk 239 juta maka tiap orang penduduk temasuk bayi yang baru lahir sekalipun terbebani utang sebesar Rp 7,688 juta.
Keanehan ini makin menjadi. Negara ini sangat patuh dalam membayar cicilan utang pokok dan bunganya tiap tahun. Normalnya, orang berutang itu hanya sementara, sesekali, tidak seterusnya dan punya rencana atau skenario untuk melunasi utangnya. Itu normalnya. Tapi hal itu tak terlihat dalam hal utang negeri ini. Utang seolah menjadi sesuatu yang tetap. Tiap tahun harus ada. Hal itu diantaranya adalah akibat tipuan doktrin anggaran berimbang. Sayangnya terlihat tidak ada rencana atau skenario mengakhiri utang itu. Di dalam Buku Saku Perkembangan Utang Negara edisi Februari 2012 bahkan sudah ada prediksi besaran cicilan utang pokok dan bunga hingga tahun 2055 dan itu bukan akhir dari cicilan utang. Normalnya, utang itu sifatnya emergensi/darurat, tapi anehnya dalam pengelolaan negeri ini, utang justru bersifat baku, tetap dan kontinu. Jelas ini adalah aneh dan abnormal.
Lebih aneh lagi, ternyata cicilan utang selama ini tidak mengurangi jumlah utang. Padahal cicilan utang itu jika diakumulasi sudah melebihi akumulasi utangnya sendiri. Akumulasi pembayaran cicilan utang baik bunga maupun pokok selama 12 tahun antara tahun 2000-2011 mencapai Rp 1.843,10 triliun. Tapi anehnya, jumlah utang negara tidak berkurang tapi justru bertambah. Utang negara per 3 Januari 2012 mencapai Rp 1.837,39 triliun.
Kalau dikatakan utang itu untuk membiayai pembangunan, maka bisa jadi itu bohong besar. Sebab sejatinya utang yang diambil itu adalah untuk membayar cicilan utang. Ambil contoh tahun 2012 ini. Di dalam APBN-P sudah ditetapkan defisit sekitar Rp 190,1 triliun atau 2,23% dengan rencana akan ditutupi dari pembiayaan (utang) dalam negeri sebesar Rp 194,5 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar minus Rp 4,4 triliun (artinya total pinjaman LN berkurang Rp 4,4 triliun). Ternyata jumlah itu habis dan tidak cukup untuk membayar cicilan utang. Di tahun 2012 besarnya cicilan utang mencapai Rp 261,1 triliun (cician pokok Rp 139 triliun dan cicilan bunga Rp 122,13 triliun). Bahkan jika mengacu pada Buku Saku Perkembangan Utang Negara edisi Februari 2012 yang dikeluarkan oleh Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di halaman 46 disebutkan, pagu APBN-P 2012 untuk pembayaran cicilan utang (pokok dan bunganya) mencapai Rp 322,709 triliun, terdiri dari cicilan pokok utang Rp 200,491 triliun dan cicilan bunga Rp 122,218 triliun. Cicilan pokok utang itu terbagi dalam cicilan pokok pinjaman Rp 47,400 triliun (pinjaman DN Rp 140 miliar dan pinjaman LN Rp 47,260 triliun) dan cicilan pokok Surat Berharga Negara (SBN) Rp 153,091 triliun (SBN Rupiah Rp 152,091 triliun dan SBN Valas Rp 1 triliun). Sementara cicilan bunga Rp 122,218 triliun itu, terdiri dari cicilan bunga pinjaman Rp 17,887 triliun ( bunga pinjaman DN Rp 225 miliar dan bunga pinjaman LN Rp 17,662 triliun) dan cicilan bunga SBN Rp 104,331 triliun (bunga SBN Rupiah Rp 88,278 triliun dan SBN Valas Rp 16,052 triliun). Jadi seluruh utang yang ditarik di tahun 2012 sebenarnya bukan untuk membiayai pembangunan tetapi untuk membayar cicilan utang dan itupun belum cukup dan harus mengurangi alokasi APBN yang seharusnya bisa untuk membiayai pembangunan.
Ketiga, subsidi secara umum khususnya subsidi BBM dirasakan memberatkan pemerintah dan menjadi beban APBN sebab menyedot alokasi APBN. Padahal istilah subsidi BBM itu masih dipertanyakan. Soalnya, istilah subsidi itu seolah pemerintah mengeluarkan uang dari kantongnya untuk dibayarkan kepada rakyat atau untuk nomboki pembelian BBM. Banyak kalangan menilai istilah subsidi BBM itu tidak tepat sebab yang sebenarnya adalah berkurangnya potensi pemasukan kepada kas pemerintah yang berasal dari migas. Soalnya diasumsikan BBM itu dijual ke pasar internasional dengan harga pasar internasional. Namun karena BBM dijual di dalam negeri dengan harga murah di bawah harga pasar internasional, artinya ada potensi pemasukan yang hilang dan itulah yang dinamakan subsidi. Nah jika yang seperti itu dianggap memberatkan pemerintah dan membebani APBN, anehnya, pembayaran cicilan pokok dan bunga utang tidak pernah dianggap memberatkan pemerintah dan membebani APBN. Padahal
jumlahnya jauh lebih besar dari besaran subsidi. Dan pembayaran cicilan pokok dan bunga utang itu artinya uang benar-benar keluar dari kantong pemerintah, dan bukan hanya berkurangnya potensi pemasukan.
Keempat, pemerintah negeri ini begitu ngotot menaikkan harga BBM bersubsidi. Diantara alasannya adalah untuk penghematan. Jika harga BBM dinaikkan, penghematan bisa mencapai Rp 53 triliunan. Anehnya, pemerintah tidak terlihat ngotot menghilangkan anggaran-anggaran yang boros dan lebih berkesan kemewahan. Contohnya, anggaran kunjungan yang lebih bernuansa plesiran yang mencapai Rp 21 triliun, atau anggaran beli baju Presiden, Wapres, Gubernur, Wagub, Bupati/Walikota dan wakilnya, anggaran pembangunan atau renovasi gedung DPR yang sudah bagus, anggaran fasilitas bagi para pejabat, mobil dinas, dsb. Anehnya lagi, pemerintah tidak terlihat ngotot membenahi penggunaan anggaran yang selalu saja penyerapannya numpuk di akhir-akhir tahun yang kemudian rawan pemborosan, inefisiensi, tidak efektif dan rawan diselewengkan. Lebih aneh lagi, pemerintah juga tidak terlihat ngotot memberantas korupsi dan menyita harta koruptor termasuk mengejar uang negara yang
dikemplang dalam kasus Centruy, BLBI dan lainnya?
Kelima, pemerintah bekerja keras meyakinkan bahkan terkesan memaksa rakyat untuk memahami dan menerima rencana kenaikan harga BBM. Anehnya, pemerintah tidak terlihat bekerja keras atau bahkan memaksa kontraktor-kontraktor tambang dan migas agar bagian pemerintah lebih besar lagi atau untuk menaikkan royalti yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Sekedar contoh, tak terlihat kerja keras dan paksaan pemerintah kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk menaikkan royalti PTFI sekedar agar sesuai dengan ketentuan PP No 45/2003, yaitu royalti emas 3,75 persen, tembaga 4 persen dan perak 3,25 persen. Bayangkan saja, selama ini royalti yang diterima negara dari PTFI untuk emas 1%, untuk tembaga 1,5% (jika harga kurang dari US$ 0.9/pound) sampai 3.5% (jika harga US$ 1.1/pound) dan untuk perak 1,25 %. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada kontrak karya atau kontrak bagi hasil pertambangan lainnya.
Keenam, Pemerintah berkeluh kesah dan merasa berat harus mensubsidi BBM untuk rakyat dengan jalan menjual BBM kepada rakyat di bawah harga internasional. Karenanya subsidi BBM harus dikurangi atau bahkan dihilangkan alias BBM harus dijual mengikuti harga pasar internasional. Dengan itu akan didapat penghematan Rp 53 triliunan pertahun. Menjual BBM kepada rakyat dengan harga murah dianggap pemerintah sebagai beban. Anehnya, gas dijual ke Cina dengan harga super murah, tapi pemerintah tidak pernah berkeluh kesah dan merasa berat.
Padahal menurut anggota BPH Migas, A. Qoyum Tjandranegara, potensi kerugian negara tahun 2006-2009 mencapai 410,4 T. Itu sama saja mensubsidi rakyat Cina Rp 100 triliunan lebih pertahun. Belum lagi ditambah kerugian tak langsungnya akibat PLN tidak bisa mendapat gas karena dijual ke luar negeri dan PLN harus memakai BBM yang harganya mahal sehingga PLN harus mengeluarkan biaya lebih banyak sekutar 37 triliun pertahun. Aneh sekali, pemerintah merasa sangat berat hati mensubsidi rakyatnya, pada saat yang sama pemerintah sama sekali tidak merasa berat bahkan merasa senang mensubsidi rakyat negara lain yaitu rakyat Cina."
(dikutip dari pidato, keynote speech, narasumber dan wawancara di berbagai acara)
* dikutip dari FB Bambang Supono
Copas via Nurman Diah (via Forum Pembaca The Global Review):
Pesan Perjuangan dari seorang Prof. Widjajono Partowidagdo demi Kedaulatan, Kemandirian dan Ketahanan Energi Republik Indonesia:
"Indonesia merupakan negara yang lucu. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber energi murah yaitu batubara, tetapi justru batubara tersebut malah diekspor. Sedangkan Indonesia memilih impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya lebih mahal. "Indonesia negara lucu, ekspor yang murah, tapi impor yang mahal. Orang yang gak kaya minyak tapi pakai yang mahal. Orang miskin kalau pakai yang mahal maka akan susah hidupnya," tegas Widjajono saat ditemui di Ballroom Hotel Kempinski Jakarta, Jumat (30/3/2012).
Widjajono heran dengan kultur masyarakat Indonesia yang justru bangga dengan jumlah mobil yang banyak meskipun bahan bakarnya masih disubsidi. "Mobil di Singapura itu 5 tahun ganti, tapi di Indonesia malah bangga mobil tambah meskipun BBM-nya disubsidi," pungkasnya (detikFinance.com, 30/3/12).
Lebih dari itu, negara ini juga pas disebut negara aneh. Pasalnya memang banyak keanehan dalam pengaturan negara ini. Berikut sebagian diantara keanehan yang terjadi di negeri ini:
Pertama, semua orang di dunia akan sangat takjub dengan melimpahnya kekayaan negeri ini. Hampir semua bentuk kekayaan alam ada di negeri ini. Namun anehnya, kekayaan itu tidak bisa membuat rakyatnya hidup makmur.
Menurut data BPS: (http://www.bps.go.id/tab_sub/ view.php?tabel=1&daftar=1&
Kedua, dengan melimpahnya kekayaan negeri ini, ternyata pendapatan negeri ini termasuk dari hasil pengelolaan bermacam kekayaan alam itu tidak cukup untuk membiayai belanja negara sehingga kekurangannya ditutup dengan mencari utang baik dari dalam negeri dalam bentuk Surat Berharga Negara dan dari luar negeri. Jumlah utang pada akhir Januari 2012 yang telah mencapai Rp 1837,39 triliun. Jumlah itu jika dibagi dengan jumlah penduduk 239 juta maka tiap orang penduduk temasuk bayi yang baru lahir sekalipun terbebani utang sebesar Rp 7,688 juta.
Keanehan ini makin menjadi. Negara ini sangat patuh dalam membayar cicilan utang pokok dan bunganya tiap tahun. Normalnya, orang berutang itu hanya sementara, sesekali, tidak seterusnya dan punya rencana atau skenario untuk melunasi utangnya. Itu normalnya. Tapi hal itu tak terlihat dalam hal utang negeri ini. Utang seolah menjadi sesuatu yang tetap. Tiap tahun harus ada. Hal itu diantaranya adalah akibat tipuan doktrin anggaran berimbang. Sayangnya terlihat tidak ada rencana atau skenario mengakhiri utang itu. Di dalam Buku Saku Perkembangan Utang Negara edisi Februari 2012 bahkan sudah ada prediksi besaran cicilan utang pokok dan bunga hingga tahun 2055 dan itu bukan akhir dari cicilan utang. Normalnya, utang itu sifatnya emergensi/darurat, tapi anehnya dalam pengelolaan negeri ini, utang justru bersifat baku, tetap dan kontinu. Jelas ini adalah aneh dan abnormal.
Lebih aneh lagi, ternyata cicilan utang selama ini tidak mengurangi jumlah utang. Padahal cicilan utang itu jika diakumulasi sudah melebihi akumulasi utangnya sendiri. Akumulasi pembayaran cicilan utang baik bunga maupun pokok selama 12 tahun antara tahun 2000-2011 mencapai Rp 1.843,10 triliun. Tapi anehnya, jumlah utang negara tidak berkurang tapi justru bertambah. Utang negara per 3 Januari 2012 mencapai Rp 1.837,39 triliun.
Kalau dikatakan utang itu untuk membiayai pembangunan, maka bisa jadi itu bohong besar. Sebab sejatinya utang yang diambil itu adalah untuk membayar cicilan utang. Ambil contoh tahun 2012 ini. Di dalam APBN-P sudah ditetapkan defisit sekitar Rp 190,1 triliun atau 2,23% dengan rencana akan ditutupi dari pembiayaan (utang) dalam negeri sebesar Rp 194,5 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar minus Rp 4,4 triliun (artinya total pinjaman LN berkurang Rp 4,4 triliun). Ternyata jumlah itu habis dan tidak cukup untuk membayar cicilan utang. Di tahun 2012 besarnya cicilan utang mencapai Rp 261,1 triliun (cician pokok Rp 139 triliun dan cicilan bunga Rp 122,13 triliun). Bahkan jika mengacu pada Buku Saku Perkembangan Utang Negara edisi Februari 2012 yang dikeluarkan oleh Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di halaman 46 disebutkan, pagu APBN-P 2012 untuk pembayaran cicilan utang (pokok dan bunganya) mencapai Rp 322,709 triliun, terdiri dari cicilan pokok utang Rp 200,491 triliun dan cicilan bunga Rp 122,218 triliun. Cicilan pokok utang itu terbagi dalam cicilan pokok pinjaman Rp 47,400 triliun (pinjaman DN Rp 140 miliar dan pinjaman LN Rp 47,260 triliun) dan cicilan pokok Surat Berharga Negara (SBN) Rp 153,091 triliun (SBN Rupiah Rp 152,091 triliun dan SBN Valas Rp 1 triliun). Sementara cicilan bunga Rp 122,218 triliun itu, terdiri dari cicilan bunga pinjaman Rp 17,887 triliun ( bunga pinjaman DN Rp 225 miliar dan bunga pinjaman LN Rp 17,662 triliun) dan cicilan bunga SBN Rp 104,331 triliun (bunga SBN Rupiah Rp 88,278 triliun dan SBN Valas Rp 16,052 triliun). Jadi seluruh utang yang ditarik di tahun 2012 sebenarnya bukan untuk membiayai pembangunan tetapi untuk membayar cicilan utang dan itupun belum cukup dan harus mengurangi alokasi APBN yang seharusnya bisa untuk membiayai pembangunan.
Ketiga, subsidi secara umum khususnya subsidi BBM dirasakan memberatkan pemerintah dan menjadi beban APBN sebab menyedot alokasi APBN. Padahal istilah subsidi BBM itu masih dipertanyakan. Soalnya, istilah subsidi itu seolah pemerintah mengeluarkan uang dari kantongnya untuk dibayarkan kepada rakyat atau untuk nomboki pembelian BBM. Banyak kalangan menilai istilah subsidi BBM itu tidak tepat sebab yang sebenarnya adalah berkurangnya potensi pemasukan kepada kas pemerintah yang berasal dari migas. Soalnya diasumsikan BBM itu dijual ke pasar internasional dengan harga pasar internasional. Namun karena BBM dijual di dalam negeri dengan harga murah di bawah harga pasar internasional, artinya ada potensi pemasukan yang hilang dan itulah yang dinamakan subsidi. Nah jika yang seperti itu dianggap memberatkan pemerintah dan membebani APBN, anehnya, pembayaran cicilan pokok dan bunga utang tidak pernah dianggap memberatkan pemerintah dan membebani APBN. Padahal
jumlahnya jauh lebih besar dari besaran subsidi. Dan pembayaran cicilan pokok dan bunga utang itu artinya uang benar-benar keluar dari kantong pemerintah, dan bukan hanya berkurangnya potensi pemasukan.
Keempat, pemerintah negeri ini begitu ngotot menaikkan harga BBM bersubsidi. Diantara alasannya adalah untuk penghematan. Jika harga BBM dinaikkan, penghematan bisa mencapai Rp 53 triliunan. Anehnya, pemerintah tidak terlihat ngotot menghilangkan anggaran-anggaran yang boros dan lebih berkesan kemewahan. Contohnya, anggaran kunjungan yang lebih bernuansa plesiran yang mencapai Rp 21 triliun, atau anggaran beli baju Presiden, Wapres, Gubernur, Wagub, Bupati/Walikota dan wakilnya, anggaran pembangunan atau renovasi gedung DPR yang sudah bagus, anggaran fasilitas bagi para pejabat, mobil dinas, dsb. Anehnya lagi, pemerintah tidak terlihat ngotot membenahi penggunaan anggaran yang selalu saja penyerapannya numpuk di akhir-akhir tahun yang kemudian rawan pemborosan, inefisiensi, tidak efektif dan rawan diselewengkan. Lebih aneh lagi, pemerintah juga tidak terlihat ngotot memberantas korupsi dan menyita harta koruptor termasuk mengejar uang negara yang
dikemplang dalam kasus Centruy, BLBI dan lainnya?
Kelima, pemerintah bekerja keras meyakinkan bahkan terkesan memaksa rakyat untuk memahami dan menerima rencana kenaikan harga BBM. Anehnya, pemerintah tidak terlihat bekerja keras atau bahkan memaksa kontraktor-kontraktor tambang dan migas agar bagian pemerintah lebih besar lagi atau untuk menaikkan royalti yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Sekedar contoh, tak terlihat kerja keras dan paksaan pemerintah kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk menaikkan royalti PTFI sekedar agar sesuai dengan ketentuan PP No 45/2003, yaitu royalti emas 3,75 persen, tembaga 4 persen dan perak 3,25 persen. Bayangkan saja, selama ini royalti yang diterima negara dari PTFI untuk emas 1%, untuk tembaga 1,5% (jika harga kurang dari US$ 0.9/pound) sampai 3.5% (jika harga US$ 1.1/pound) dan untuk perak 1,25 %. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada kontrak karya atau kontrak bagi hasil pertambangan lainnya.
Keenam, Pemerintah berkeluh kesah dan merasa berat harus mensubsidi BBM untuk rakyat dengan jalan menjual BBM kepada rakyat di bawah harga internasional. Karenanya subsidi BBM harus dikurangi atau bahkan dihilangkan alias BBM harus dijual mengikuti harga pasar internasional. Dengan itu akan didapat penghematan Rp 53 triliunan pertahun. Menjual BBM kepada rakyat dengan harga murah dianggap pemerintah sebagai beban. Anehnya, gas dijual ke Cina dengan harga super murah, tapi pemerintah tidak pernah berkeluh kesah dan merasa berat.
Padahal menurut anggota BPH Migas, A. Qoyum Tjandranegara, potensi kerugian negara tahun 2006-2009 mencapai 410,4 T. Itu sama saja mensubsidi rakyat Cina Rp 100 triliunan lebih pertahun. Belum lagi ditambah kerugian tak langsungnya akibat PLN tidak bisa mendapat gas karena dijual ke luar negeri dan PLN harus memakai BBM yang harganya mahal sehingga PLN harus mengeluarkan biaya lebih banyak sekutar 37 triliun pertahun. Aneh sekali, pemerintah merasa sangat berat hati mensubsidi rakyatnya, pada saat yang sama pemerintah sama sekali tidak merasa berat bahkan merasa senang mensubsidi rakyat negara lain yaitu rakyat Cina."
(dikutip dari pidato, keynote speech, narasumber dan wawancara di berbagai acara)
* dikutip dari FB Bambang Supono
Perang Ginseng
Kalau Anda mengenal watak orang Korea dan Amerika, mungkin
Anda akan sepakat dengan saya, Samsung tak akan menyerah ditekan Apple.
Pekan lalu Samsung didenda USD1 miliar atas tudingan telah mengambil
tanpa hak beberapa elemen kekayaan intelektual Apple (yang tak diakui
Samsung) dan minggu ini Apple meminta pengadilan melakukan injunction
agar melarang delapan produk Samsung beredar di seluruh pasar Amerika
Serikat. Di lain pihak, Samsung baru saja mengumumkan rencana ekspansi
dengan membuka pabrik besar-besaran di Amerika Serikat untuk memasok
kebutuhan memory chip bagi Apple.
Orang Korea yang saya kenal bersuara halus, tetapi berwatak keras.Daya
juangnya seakan tak pernah habis, sekuat tenaga yang dijanjikan akar
ginseng. Mental menembusnya sangat kuat sekalipun medan yang dihadapi
berbahaya untuk dimasuki. Seperti itulah mereka menempati kawasan
berbahaya di Los Angeles (LA) yang tak berani didiami warga Amerika
sekalipun.
Anda mungkin masih ingat bagaimana mereka mempersenjatai diri tatkala LA
dilanda kerusuhan berat pada 1992. Bukannya lari seperti kebanyakan
kelas menengah kita yang mengalami hal serupa di Jakarta tahun 1998,
mereka justru menghadapinya dengan senjata laras panjang. Padahal bahasa
Inggris mereka pas-pasan. Dengan modal bahasa isyarat, mereka menguasai
titik-titik strategis di berbagai pelosok dunia. Sekeras baja itulah pegolf perempuannya, Se Ri Pak, dididik ayahnya menjadi juara dunia
turnamen golf.
Dua Perspektif Berbeda
Pada sisi lain mari kita lihat perspektifApple.Langkah yang diambil
Apple adalah cerminan watak orang Amerika yang saya kira mudah Anda
kenal.Mereka sangat straight to the point,apa yang dirasakan itu yang
diungkapkan, pegangan mereka adalah aturan hukum,kompensasi kerugian
tanpa perasaan, dan sangat kompetitif. Orang Amerika yang kita kenal
memang amat beragam,tetapi dunia mengenal mereka sebagai bangsa yang
ingin mengatur dunia dan merasa pusat dunia ada di rumah mereka.
Sejak kecil anak-anak di sekolah Amerika dibiasakan berbicara terbuka,
menghargai kesetaraan, berkompetisi, dan berinovasi. Melakukan plagiat
adalah haram. Kalau mengutip kalimat orang lain sekalipun, harus
disebutkan sumbernya. Itu pun belum cukup. Para pelajar dan mahasiswa
wajib mengolah kembali kutipan milik orang lain itu dengan kata-kata
buatan sendiri. Mereka menghargai orisinalitas ide dan kreativitas.
Tapi begitu ada yang meniru, jangankan bangsa lain,bangsa sendiri pun
dikenai sanksi berat. Seorang plagiator yang tertangkap tak akan pernah
bisa berkarier di dunia akademis sepanjang hidupnya dan seorang pencuri
karya cipta didenda sangat berat. Di lain pihak,Korea Selatan memasuki
pasar dunia yang sudah lebih dulu dikuasai Jepang yang menjadi
obsesinya. Seorang ilmuwan Korea pernah mengatakan, jalur yang harus
mereka lalui adalah inovasi melalui imitasi.
Adapun bagi masyarakat Amerika, imitasi adalah perbuatan kriminal yang
berarti mencuri kekayaan orang lain dan bisa menghancurkan daya saing
bangsa karena imitasi menghalangi niat orang lain berinovasi. Imitasi
adalah disinsentifbagiinovasisehingga ujung-ujungnya konsumen sendiri
yang dirugikan. Namun badan orang Korea terlalu kecil untuk melompat
sejauh inovasi yang sudah dibangun Amerika selama dua abad. Maka imitasi
yang dulu dilakukan Jepang kini mereka ikuti.
Hanya saja dunia telah berubah menjadi lebih kompleks, industri
berteknologi tinggi semakin ruwet,dan Amerika sudah semakin licin
memagari dirinya dengan jeratanjeratan hukum. Jadi sesungguhnya bukan
Amerika yang ingin mereka tundukkan,melainkan Jepang. Kalau Jepang bisa
buat Honda, Korea buat Hyundai dan bunyinya mirip. Platform pengembangan
teknologinya mirip-mirip Jepang, tetapi diawali dengan tangan besi militer di bawah kekuasaan Jenderal Park Chung-hee.Nah,begitu pasar
automotif dan konstruksi memasuki tahap saturation, Korea mengopi cara
Jepang mengembangkan platform teknologi informasi (TI).
Dulu Jepang melalui korporasinya, Fujitsu, juga pernah mempermalukan
Intel saat mengembangkan microprocessor chip pada 1980-an. Meski hak
patennya ada di Intel, Fujitsu selalu mampu meluncurkan chipyang
kapasitasnya dua kali lebih besar dalam waktu enam bulan lebih cepat
dari kemampuan Intel memasuki pasar. Toh Intel bukannya menyeret Fujitsu
ke ranah hukum, melainkan melakukan switching ke chip komputer dan
membiarkan Fujitsu berjaya dalam industri game dan entertainment. Tapi
mengapa sekarang Apple begitu marah pada Samsung?
Nazar Keras Kepala
Beberapa menit lalu, saat transit di Bandara Sydney,saya menyaksikan
sejumlah orang memperdebatkan kasus Samsung. Seorang warga Korea
menunjukkan tablet Samsung berlayar kaca antigores yang tak bisa dibuat
Apple. Baginya Samsung pahlawan. Samsung bukanlah plagiator sejati
karena juga mengembangkan teknologi hardware. Dan baginya, konsumen
telah diuntungkan. Buktinya produk berteknologi sama bisa dipasarkan
Samsung dengan separuh harga Apple.
Orang Amerika yang berada di sampingnya ternyata tak membela Apple, ia
justru mengutuknya. Ia tidak bisa menerima langkah sweeping yang diajukan Apple untuk melakukan injunction sebagai lanjutan dari putusan
peradilan yang memenangkan gugatannya. Injunction itu berupa permintaan
agar delapan produk Samsung dilarang beredar di seluruh pasar Amerika.
Seperti biasanya, setelah itu lawyer Apple yang jeli melihat uang akan
melakukan hal serupa di negara-negara lain. Memang kalau diperhatikan,
denda sebesar USD1 miliar yang diajukan kelihatan impresif.
Tapi bagi perusahaan global yang sedang tumbuh, jumlah sebesar itu hanya
menarik di mata media. Harap maklum, anggaran promosi tahunan Samsung
USD2,75 miliar.Samsung adalah penguasa pasar hardware Android terbesar
di Benua Amerika (33%) mengalahkanLG, Moto,Sony,danHTC. Bahkan Samsung
menjadi pemasok komponen dan memory chip yang penting bagi Apple.
Samsung menguasai 70% pasar memory chip untuk handset berbasiskan
Android dan Apple, jauh melebihi Toshiba.
Bahkan 40% pasokan DRAM Apple datang dari Samsung. Maka, seperti yang
saya duga, Samsung memilih bertempur ketimbang menarik diri. Cara
Samsung memang berbeda dengan yang biasa ditempuh korporasi Jepang yang
mudah menyerah kalau ditekan Amerika. Beberapa detik yang lalu CEO
Samsung sudah membuat pernyataan yang sangat mengejutkan."Kita akan
terus bertempur dan bersungguh- sungguh menghadapi kenyataan ini.
Kita akan melakukan banding dan kami nyatakan akan terus berupaya untuk
menjamin keberadaan barangbarang ini di berbagai jaringan ritel di
Amerika Serikat dan dunia,"ujarnya. Saya kira, selain berwatak keras,
Samsung juga paham bagaimana cara menghadapi lawyer Amerika Serikat.
Menghadapi bangsa besar ini Anda tak bisa bermain dengan perasaan.
Bangsa ini harus dilawandenganargumentasi.
Bila Anda diam berarti tidak mengerti atau kalah.Dan bagi yang kalah,
pintu terbuka lebar. Bukan dengan sowan,cium tangan atau membuat
pernyataan maaf di koran seperti yang menjadi ciri khas tuntutan para
lawyer kita,melainkan membayar. Beberapa waktu lalu Apple juga membayar
ganti rugi sebesar USD600 juta kepada Nokia karena dianggap lalai
menyalahgunakan perjanjian hak cipta dalam kasus IP.
Selain itu Apple juga sepakat membayar sebesar USD11,5 dari setiap
penjualan iPhone-nya kepada Nokia. Nah sekarang Apple wajib mencari dana
penggantinya. Mudah saja bukan? Kalau Samsung tak bisa membayar, mereka
akan mengalihkannya kepada pelanggannya.Itu saja. Mereka tak pernah
berpikir konsumen itu perasa, punya pertimbangan lain dan seterusnya.
Mereka juga tak berpikir hubungan jangka panjang dengan vendor-vendornya.Amerika adalah bangsa seperti yang saya sebutkan di atas.
Mereka pragmatis dan main logis,bukan win-windan bukan hubungan saling
membantu. Media massa di Amerika menyebut cara yang ditempuh Apple
sebagai cara pemungut pajak. Denda ini kini dikenal dengan istilah
"Apple Tax". Jadi bagi Samsung,buat apa bawa-bawa perasaan atau memakai
budaya Asia lainnya.Hadapi saja dengan perang ginseng, toh dengan
beredarnya kasus ini brand power Samsung naik beberapa kali lipat.
Kendati harga sahamnya sempat anjlok dan platform baru bermunculan,
Samsung masih punya kekuatan pasar yang besar. Samsung juga mulai
mengincar Nokia dan Microsoft yang akan masuk besar-besaran ke dalam
kategori produk yang sama. Jadi, bagi saya, perang ginseng masih
panjang. Ini adalah bagian dari perjuangan yang diajarkan guru-guru
sekolah bisnis Amerika Serikat sendiri pada bangsa-bangsa Asia. Mereka
mengajarkan cara menyaingi korporasi dunia Amerika, bahkan cara
menaklukkannya.
Mereka mengajarkan pentingnya inovasi dan memiliki paten teknologi.Dan
bagi negara seperti Indonesia, penting agar menciptakan sophisticated
corporate yang mampu menggantikan peran negara dalam penciptaan
kesejahteraan. Ini berarti penting bagi kita melakukan transformasi dari
factor-based economy (ekonomi berbaikan SDA) menjadi innovation-based
economy. Dan dalam transformasi itu, intrik, saling menuntut dan menuduh
dalam business law adalah hal yang biasa.Kata Ross Perot semua itu ada
aturannya, kecuali bila Anda memasuki ranah politik. Jadi adu pintar
saja. Mari kita pantau terus perang ginseng ini.●
RHENALD KASALI
Ketua Program MM
Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia. com/edisicetak/content/view/ 522185/
Anda akan sepakat dengan saya, Samsung tak akan menyerah ditekan Apple.
Pekan lalu Samsung didenda USD1 miliar atas tudingan telah mengambil
tanpa hak beberapa elemen kekayaan intelektual Apple (yang tak diakui
Samsung) dan minggu ini Apple meminta pengadilan melakukan injunction
agar melarang delapan produk Samsung beredar di seluruh pasar Amerika
Serikat. Di lain pihak, Samsung baru saja mengumumkan rencana ekspansi
dengan membuka pabrik besar-besaran di Amerika Serikat untuk memasok
kebutuhan memory chip bagi Apple.
Orang Korea yang saya kenal bersuara halus, tetapi berwatak keras.Daya
juangnya seakan tak pernah habis, sekuat tenaga yang dijanjikan akar
ginseng. Mental menembusnya sangat kuat sekalipun medan yang dihadapi
berbahaya untuk dimasuki. Seperti itulah mereka menempati kawasan
berbahaya di Los Angeles (LA) yang tak berani didiami warga Amerika
sekalipun.
Anda mungkin masih ingat bagaimana mereka mempersenjatai diri tatkala LA
dilanda kerusuhan berat pada 1992. Bukannya lari seperti kebanyakan
kelas menengah kita yang mengalami hal serupa di Jakarta tahun 1998,
mereka justru menghadapinya dengan senjata laras panjang. Padahal bahasa
Inggris mereka pas-pasan. Dengan modal bahasa isyarat, mereka menguasai
titik-titik strategis di berbagai pelosok dunia. Sekeras baja itulah pegolf perempuannya, Se Ri Pak, dididik ayahnya menjadi juara dunia
turnamen golf.
Dua Perspektif Berbeda
Pada sisi lain mari kita lihat perspektifApple.Langkah yang diambil
Apple adalah cerminan watak orang Amerika yang saya kira mudah Anda
kenal.Mereka sangat straight to the point,apa yang dirasakan itu yang
diungkapkan, pegangan mereka adalah aturan hukum,kompensasi kerugian
tanpa perasaan, dan sangat kompetitif. Orang Amerika yang kita kenal
memang amat beragam,tetapi dunia mengenal mereka sebagai bangsa yang
ingin mengatur dunia dan merasa pusat dunia ada di rumah mereka.
Sejak kecil anak-anak di sekolah Amerika dibiasakan berbicara terbuka,
menghargai kesetaraan, berkompetisi, dan berinovasi. Melakukan plagiat
adalah haram. Kalau mengutip kalimat orang lain sekalipun, harus
disebutkan sumbernya. Itu pun belum cukup. Para pelajar dan mahasiswa
wajib mengolah kembali kutipan milik orang lain itu dengan kata-kata
buatan sendiri. Mereka menghargai orisinalitas ide dan kreativitas.
Tapi begitu ada yang meniru, jangankan bangsa lain,bangsa sendiri pun
dikenai sanksi berat. Seorang plagiator yang tertangkap tak akan pernah
bisa berkarier di dunia akademis sepanjang hidupnya dan seorang pencuri
karya cipta didenda sangat berat. Di lain pihak,Korea Selatan memasuki
pasar dunia yang sudah lebih dulu dikuasai Jepang yang menjadi
obsesinya. Seorang ilmuwan Korea pernah mengatakan, jalur yang harus
mereka lalui adalah inovasi melalui imitasi.
Adapun bagi masyarakat Amerika, imitasi adalah perbuatan kriminal yang
berarti mencuri kekayaan orang lain dan bisa menghancurkan daya saing
bangsa karena imitasi menghalangi niat orang lain berinovasi. Imitasi
adalah disinsentifbagiinovasisehingga ujung-ujungnya konsumen sendiri
yang dirugikan. Namun badan orang Korea terlalu kecil untuk melompat
sejauh inovasi yang sudah dibangun Amerika selama dua abad. Maka imitasi
yang dulu dilakukan Jepang kini mereka ikuti.
Hanya saja dunia telah berubah menjadi lebih kompleks, industri
berteknologi tinggi semakin ruwet,dan Amerika sudah semakin licin
memagari dirinya dengan jeratanjeratan hukum. Jadi sesungguhnya bukan
Amerika yang ingin mereka tundukkan,melainkan Jepang. Kalau Jepang bisa
buat Honda, Korea buat Hyundai dan bunyinya mirip. Platform pengembangan
teknologinya mirip-mirip Jepang, tetapi diawali dengan tangan besi militer di bawah kekuasaan Jenderal Park Chung-hee.Nah,begitu pasar
automotif dan konstruksi memasuki tahap saturation, Korea mengopi cara
Jepang mengembangkan platform teknologi informasi (TI).
Dulu Jepang melalui korporasinya, Fujitsu, juga pernah mempermalukan
Intel saat mengembangkan microprocessor chip pada 1980-an. Meski hak
patennya ada di Intel, Fujitsu selalu mampu meluncurkan chipyang
kapasitasnya dua kali lebih besar dalam waktu enam bulan lebih cepat
dari kemampuan Intel memasuki pasar. Toh Intel bukannya menyeret Fujitsu
ke ranah hukum, melainkan melakukan switching ke chip komputer dan
membiarkan Fujitsu berjaya dalam industri game dan entertainment. Tapi
mengapa sekarang Apple begitu marah pada Samsung?
Nazar Keras Kepala
Beberapa menit lalu, saat transit di Bandara Sydney,saya menyaksikan
sejumlah orang memperdebatkan kasus Samsung. Seorang warga Korea
menunjukkan tablet Samsung berlayar kaca antigores yang tak bisa dibuat
Apple. Baginya Samsung pahlawan. Samsung bukanlah plagiator sejati
karena juga mengembangkan teknologi hardware. Dan baginya, konsumen
telah diuntungkan. Buktinya produk berteknologi sama bisa dipasarkan
Samsung dengan separuh harga Apple.
Orang Amerika yang berada di sampingnya ternyata tak membela Apple, ia
justru mengutuknya. Ia tidak bisa menerima langkah sweeping yang diajukan Apple untuk melakukan injunction sebagai lanjutan dari putusan
peradilan yang memenangkan gugatannya. Injunction itu berupa permintaan
agar delapan produk Samsung dilarang beredar di seluruh pasar Amerika.
Seperti biasanya, setelah itu lawyer Apple yang jeli melihat uang akan
melakukan hal serupa di negara-negara lain. Memang kalau diperhatikan,
denda sebesar USD1 miliar yang diajukan kelihatan impresif.
Tapi bagi perusahaan global yang sedang tumbuh, jumlah sebesar itu hanya
menarik di mata media. Harap maklum, anggaran promosi tahunan Samsung
USD2,75 miliar.Samsung adalah penguasa pasar hardware Android terbesar
di Benua Amerika (33%) mengalahkanLG, Moto,Sony,danHTC. Bahkan Samsung
menjadi pemasok komponen dan memory chip yang penting bagi Apple.
Samsung menguasai 70% pasar memory chip untuk handset berbasiskan
Android dan Apple, jauh melebihi Toshiba.
Bahkan 40% pasokan DRAM Apple datang dari Samsung. Maka, seperti yang
saya duga, Samsung memilih bertempur ketimbang menarik diri. Cara
Samsung memang berbeda dengan yang biasa ditempuh korporasi Jepang yang
mudah menyerah kalau ditekan Amerika. Beberapa detik yang lalu CEO
Samsung sudah membuat pernyataan yang sangat mengejutkan."Kita akan
terus bertempur dan bersungguh- sungguh menghadapi kenyataan ini.
Kita akan melakukan banding dan kami nyatakan akan terus berupaya untuk
menjamin keberadaan barangbarang ini di berbagai jaringan ritel di
Amerika Serikat dan dunia,"ujarnya. Saya kira, selain berwatak keras,
Samsung juga paham bagaimana cara menghadapi lawyer Amerika Serikat.
Menghadapi bangsa besar ini Anda tak bisa bermain dengan perasaan.
Bangsa ini harus dilawandenganargumentasi.
Bila Anda diam berarti tidak mengerti atau kalah.Dan bagi yang kalah,
pintu terbuka lebar. Bukan dengan sowan,cium tangan atau membuat
pernyataan maaf di koran seperti yang menjadi ciri khas tuntutan para
lawyer kita,melainkan membayar. Beberapa waktu lalu Apple juga membayar
ganti rugi sebesar USD600 juta kepada Nokia karena dianggap lalai
menyalahgunakan perjanjian hak cipta dalam kasus IP.
Selain itu Apple juga sepakat membayar sebesar USD11,5 dari setiap
penjualan iPhone-nya kepada Nokia. Nah sekarang Apple wajib mencari dana
penggantinya. Mudah saja bukan? Kalau Samsung tak bisa membayar, mereka
akan mengalihkannya kepada pelanggannya.Itu saja. Mereka tak pernah
berpikir konsumen itu perasa, punya pertimbangan lain dan seterusnya.
Mereka juga tak berpikir hubungan jangka panjang dengan vendor-vendornya.Amerika adalah bangsa seperti yang saya sebutkan di atas.
Mereka pragmatis dan main logis,bukan win-windan bukan hubungan saling
membantu. Media massa di Amerika menyebut cara yang ditempuh Apple
sebagai cara pemungut pajak. Denda ini kini dikenal dengan istilah
"Apple Tax". Jadi bagi Samsung,buat apa bawa-bawa perasaan atau memakai
budaya Asia lainnya.Hadapi saja dengan perang ginseng, toh dengan
beredarnya kasus ini brand power Samsung naik beberapa kali lipat.
Kendati harga sahamnya sempat anjlok dan platform baru bermunculan,
Samsung masih punya kekuatan pasar yang besar. Samsung juga mulai
mengincar Nokia dan Microsoft yang akan masuk besar-besaran ke dalam
kategori produk yang sama. Jadi, bagi saya, perang ginseng masih
panjang. Ini adalah bagian dari perjuangan yang diajarkan guru-guru
sekolah bisnis Amerika Serikat sendiri pada bangsa-bangsa Asia. Mereka
mengajarkan cara menyaingi korporasi dunia Amerika, bahkan cara
menaklukkannya.
Mereka mengajarkan pentingnya inovasi dan memiliki paten teknologi.Dan
bagi negara seperti Indonesia, penting agar menciptakan sophisticated
corporate yang mampu menggantikan peran negara dalam penciptaan
kesejahteraan. Ini berarti penting bagi kita melakukan transformasi dari
factor-based economy (ekonomi berbaikan SDA) menjadi innovation-based
economy. Dan dalam transformasi itu, intrik, saling menuntut dan menuduh
dalam business law adalah hal yang biasa.Kata Ross Perot semua itu ada
aturannya, kecuali bila Anda memasuki ranah politik. Jadi adu pintar
saja. Mari kita pantau terus perang ginseng ini.●
RHENALD KASALI
Ketua Program MM
Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Gelombang PHK 7.000 Karyawan Disney Akan Dimulai Pekan Ini Rabu, 29 Maret 2023 Raksasa hiburan Amerika Serikat (AS) Walt Disney Company akan...
-
Supply chain This section contains information on the following distributed examples: * Decentralization * Multistage supply chain * Outsour...
-
Sharing soal competency yang bisa diartikan sebagai set of skill atau knowledge yang harus dimiliki atau di develop oleh person yang meme...
-
Anang Z. Gani Abstract This paper presents a new paradigm for solving the Travelling Salesman Problem (TSP). TSPis known as an NP-complete p...
-
KOMPAS.com - Pengalaman kerja seringkali dijadikan referensi saat melamar pekerjaan. Lantas bagaimana dengan para fresh graduate, yang boleh...