Bumiputera PHK 1.100 Karyawan Demi Penyelamatan
Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera (AJBB) resmi melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan 1.100 karyawan yang berasal dari berbagai jenjang jabatan, seperti agen, administrasi, aktuaria, dan lainnya.
Hal ini dilakukan setelah AJBB resmi memutus kerja sama dengan PT Evergreen Invesco Tbk (GREN) untuk merestrukturisasi asuransi tertua di Indonesia ini melalui PT Asuransi Jiwa Bersama (AJB).
Pengelola Statuter Bidang Sumber Daya Manusia, Umum, dan Komunikasi AJBB Adhi M. Massardhi mengatakan, PHK yang dilakukan telah dikomunikasikan kepada karyawan dan telah dilangsungkan dengan kesepakatan antar kedua belah pihak.
“Kami sudah alokasikan dana PHK sebagai bentuk kewajiban,” ujar Adhi, Jumat (26/1).
Selain telah mengurus kewajiban PHK dari perusahaan, menurutnya, karyawan juga ada yang dimigrasikan ke PT Asuransi Jiwa Bhinneka, yang merupakan perusahaan ganti nama dari AJB untuk dikelola Evergreen setelah resmi tak bekerja sama lagi.
Dengan PHK tersebut, Adhi memastikan, tak akan mengganggu proses bangkitnya AJB pada waktu selanjutnya. Sebab, AJB masih memiliki sekitar 2.100 karyawan untuk diajak bekerja sama merestrukturisasi perusahaan dengan menggaet investor lain.
“Buat perusahaan asuransi dengan usia 106 tahun tidak masalah. Ini sekaligus kemungkinan akan melakukan perbaikan organisasi,” katanya.
Terutama untuk agen, ia bilang, perusahaan juga masih bisa memaksimalkan jumlah agen yang tersisa untuk memasarkan produk yang ditargetkan bisa dilakukan kembali pada Februari 2018.
Sebelumnya, AJBB resmi memutus kerja sama dengan Evergreen lantaran dianggap tak lagi satu visi dalam merestrukturisasi AJB. Untuk itu, AJBB akan mencari investor lain untuk merestrukturisasi kembali AJB.
Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180131123910-78-272864/bumiputera-phk-1100-karyawan-demi-penyelamatan
Saturday, February 3, 2018
Sunday, November 5, 2017
Pabrik Panasonic dan Toshiba Tutup
Cerita di Balik Penutupan Pabrik Panasonic dan Toshiba
Penutupan tiga pabrik Toshiba dan Panasonic di Indonesia membawa dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak lebih dari 2.500 karyawan. Hal ini terimbas dari lesunya penjualan produk elektronik dua perusahaan raksasa asal Jepang itu akibat penurunan daya beli masyarakat.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan, Toshiba telah menutup pabrik televisi di Kawasan Industri Cikarang, Jawa Barat. Padahal satu pabrik ini yang tersisa dari enam perusahaan Toshiba lain yang sudah tutup sebelumnya dalam 10 tahun terakhir.
"Yang tutup ini adalah pabrik televisi Toshiba terbesar di Indonesia, selain di Jepang. Karyawan yang di PHK lebih dari 900 orang," tegasnya saat Konferensi Pers di Jakarta, Selasa, 2 Februari 2016.
Said mengatakan, penutupan pabrik bakal dieksekusi pada April 2016. Saat ini, sedang terjadi proses negosiasi pesangon antara manajemen perusahaan dengan serikat pekerja pabrik tersebut.
Perusahaan lainnya, kata Said yang ikut terhantam pemburukan ekonomi adalah Panasonic lighting. Sebanyak dua pabriknya resmi ditutup, seperti Panasonic Lighting Indonesia (PLI) di Pasuruan, Jawa Timur di awal Januari ini dan satu pabrik lainnya di Kawasan Industri Bekasi pada Februari 2016.
"Pabrik di Pasuruan mempekerjakan lebih dari 600 orang dan sudah di PHK. Sedangkan pabrik yang di Bekasi PHK hampir 1.000 lebih karyawan," ucap Said.
Dari data yang diterima, sampai Rabu ini tercatat buruh yang terkena PHK mencapai 2.145 orang dari dua perusahaan elektronik ternama itu.
Berikut data rinci jumlah PHK di Toshiba dan Panasonic versi KSPI, yaitu:
1. Sebanyak 865 orang terkena PHK di PT Toshiba Consumer products Indonesia. Pabrik ini beralamat di Jalan Citanduy Raya Park Plot 5G di kawasan EJIP Industrial Cikarang Selatan.
Perusahaan memulai perundingan pesangon dengan serikat pekerja pada 5 Januari 2016. Pengusaha menyatakan penutupan perusahaan bukan karena persoalan kenaikan upah, tapi karena daya beli masyarakat menurun secara domestik dan global. Perusahaan ini memproduksi televisi dan mesin cuci untuk pasar domestik dan dunia.
2. Sekitar 2. 480 buruh terkena PHK di PT Panasonic Gobel Eco Solutions Manufacturing Indonesia (PT PESGMFID) yang berlokasi di kawasan Industri Ejip Industrial Park Plot 3d Cikarang, Bekasi. Perusahaan ini memproduksi alat-alat listrik dan lampu yang dipasarkan mayoritas ke pasar domestik.
Rencananya perundingan nilai pesangon akan selesai di akhir Februari. Penutupan dikatakan bukan karena persoalan kenaikan upah.
3. Sebanyak 3. 800 buruh kena PHK di pabrik PT Panasonic Lighting Indonesia (PT PLI) yang berlokasi di kawasan Industri PIER Jalan Rembang Industri Raya 47 di Pasuruan.
Perusahaan ini memproduksi lighting yang ditujukan ke pasar domestik dan global. Proses perundingan pesangon sudah selesai pada September 2015 dan serikat pekerja secara resmi melaporkan proses PHK selesai pada Januari 2016 ini.
Alasan di balik tutupnya pabrik Panasonic
Menanggapi hal ini, Chairman Panasonic Gobel Group, Rachmat Gobel menegaskan pihaknya tengah melakukan rasionalisasi. Panasonic, lanjut Gobel akan merestrukturisasi tiga pabrik lampu yang dimilikinya di Indonesia.
"Panasonic enggak tutup pabriknya, kita itu melakukan rasionalisasi pabrik lighting," ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta.
Sebagai gambaran, lanjut Rachmat, saat ini Panasonic mempunyai sejumlah pabrik dengan berbagai macam produk. Antara lain pabrik alat rumah tangga, produk energi seperti baterai, produk alat kesehatan, produk alat kelistrikan seperti lampu, bohlam, dan lighting feature, serta pabrik komponen yang berlokasi di Batam, Kepulauan Riau.
"Pabrik lighting yang ada bohlam lampu, tadinya ada tiga di Indonesia, yaitu Panasonic, Philips dan Osram. Nah setahu saya sekarang mereka sudah tidak ada, satu-satunya tinggal Panasonic," kata dia.
Menurut Rachmat, sesuai dengan perkembangan zaman, produk lampu bohlam mulai digantikan dengan produk lampu light emitting diode (LED), maka Panasonic memutuskan untuk mengalihkan produksinya ke lampu LED. Tiga pabrik lampu Panasonic yang ada yaitu di Cikarang, Cileungsi dan Pasuruan akan dilebur menjadi dua pabrik yang bakal memproduksi lampu LED.
"Kita lakukan rasionalisasi dan restrukturisasi dan dua pabrik dijadikan satu menjadikan pabrik yang punya teknologi dan added value (nilai tambah). Karena trennya teknologinya mulai ke LED, kita mulai masuk ke sana," kata dia.
Rachmat mengungkapkan, rencananya Panasonic akan menutup pabrik lampu yang ada di Cikarang, Jawa Barat. Sedangkan yang akan dipertahankan yaitu pabrik yang berlokasi di Pasuruan dan Cileungsi.
"Pabriknya memang ada tiga lokasi, itu kita jadikan satu. Salah satu tempat ditutup, karena kan efisien, yang biasanya dilakukan di tiga pabrik kini gabung. Yang dihentikan di Cikarang. Di Pasuruan belum, satu lagi di Cileungsi. Itu biasa dalam manajemen, Panasonic kan punya komitmen di Indonesia jadi produk yang kita ciptakan mengikuti perkembangan zaman," kata Mantan Menteri Perdagangan ini.
PHK Karyawan
Rachmat mengakui adanya dampaknya dari restrukturisasi tersebut. Perusahaan terpaksa melakukan pengurangan pekerja di pabrik yang dilebur tersebut.
Saat ini Panasonic memiliki sekitar 20 ribu pekerja. Lantaran adanya rencana rasionalisasi ini, perusahaan terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja sekitar 1.000 orang.
"Itu otomatis karena kita lakukan rasionalisasi mesin dan added value kan teknologinya lebih advance, pasti terjadi (pengurangan tenaga kerja) tidak bisa tidak. Panasonic punya karyawan mencapai lebih dari 20 ribu orang, ini cuma sekitar 1.500 atau 1.000 orang sekian lah," ujarnya.
Namun demikian, jika program restrukturisasi pabrik ini telah berjalan dengan baik dan kembali terjadi peningkatan produksi, maka bukan tidak mungkin akan ada penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
"Bahkan dengan adanya peningkatan produksi dari produk baru nanti, nanti mungkin ada penambahan tenaga kerja kembali," kata dia.
Rachmat berpesan, serikat pekerja agar tidak selalu melakukan tuntutan tanpa peningkatan produktivitas dan memikirkan keberlangsungan perusahaan.
"Tapi yang penting industrinya jalan, serikat pekerja hanya menuntut tidak perduli industrinya jalan atau tidak. Yang kita perlukan bangun industrinya dulu, karena kan ada industrinya dulu baru ada serikat pekerja. Sekarang saya turunkan (jumlah pekerja), tapi kalau ada peningkatan produksinya nanti akan saya tambah lagi. Tapi kan industrinya harus dikembangkan dulu," tandasnya.
Toshiba PHK karyawan
Salah satu perusahaan elektronik asal Jepang, Toshiba, dikabarkan melakukan pengurangan tenaga kerjanya. Kabarnya pengurangan tenaga kerja ini sebagai dampak dari penutupan pabrik di Indonesia.
Manager HRD PT Toshiba Consumer Products Indonesia, Uis Al-Qarni membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan soal pengurangan tenaga kerja ini sebenarnya sudah diumumkan sejak akhir tahun lalu.
"Iya benar, sudah dari Desember, sudah ada pengumumannya. Itu sekitar 40 persen dari 900 pekerja (hasil sementara), dari lini televisi dan mesin cuci," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Rabu (3/2/2016).
Namun demikian, Uis mengatakan pabrik televisi dan mesin cuci akan tetap ada. Lantaran, pabrik tersebut akan diakuisisi oleh perusahaan asal Hongkong, Skywards. Sehingga kepemilikannya akan beralih dari Toshiba ke Skywards. Namun menurut Uis tidak semua pekerja akan diberhentikan.
"Ini sahamnya diakuisisi oleh perusahaan lain Skywards. Pengurangan tenaga kerja hanya sebentar, mungkin akan ditambah lagi oleh Skywards karena mereka akan ada lagi produk baru yang akan diproduksi di sini," kata dia.
Uis menyatakan, proses pengurangan tenaga kerja saat ini masih berlangsung. Kini tengah ada perundingan antara pihak manajemen dan pekerja. Namun dia memastikan saat ini semua karyawan masih bekerja secara normal.
"Sejauh ini proses PHK lancar, sedang ada perundingan untuk penyelesaian, dan biasanya itu wajar. Ada pemintaan karyawan seperti apa dan kemampuan perusahaan seperti apa, lancar tidaknya kamilihat dari waktu, ini prosesnya baru sebulan. Masih pembicaraan dasar saja. Sampai sekarang masih 100 persen, kalau 900 pekerja mungkin ini nanti akan ditentukan di akhir Maret," tutur dia.
Kalah saing dari China
Bos Panasonic Gobel Indonesia, Rachmat Gobel mengakui salah satu pabriknya tutup dan sejumlah karyawan di PHK. Salah satu alasannya adalah produk yang kalah bersaing dengan produk impor China.
Pabrik yang ditutup adalah Panasonic Lighting Indonesia yang memproduksi bohlam lampu. Pabrik tersebut akan ditutup karena produknyan tak lagi memiliki daya saing. Panasonic akan mengubah tren dengan membuat lampu light emitting diode (LED).
"Sekarang Panasonic sudah tidak bisa lagi membuat karena memang produk itu tidak ada daya saing lagi, karena kita tidak mampu menghadapi barang impor dari China," ungkap dia.
Rachmat menjelaskan, dengan melakukan rasionalisasi dan restrukturisasi pabrik-pabrik yang dioperasikan oleh Panasonic ini, maka perusahaan akan bisa fokus kepada produksi produk yang sesuai dengan perkembangan jaman dan permintaan pasar.
"Kita lakukan rasionalisasi dan restrukturisasi dan dua pabrik dijadikan satu menjadikan pabrik yang punya teknologi dan adedd value. Karena trennya teknologinya mulai ke LED, kita mulai masuk ke sana," kata dia.
Sementara itu Kepala BKPM Franky Sibarani mengaku telah memperoleh informasi bahwa Panasonic dan Toshiba melakukan restrukturisasi sebagai upaya efisiensi di tengah persaingan industri elektronik yang ketat di Tanah Air.
"Dari informasi yang diterima, ada yang menyampaikan memang ada restrukturisasi," ujarnya saat ditemui dalam konferensi pers Realisasi Komitmen Investasi Januari 2016 di Gedung BKPM, Jakarta.
Dia menjelaskan, restrukturisasi perusahaan terpaksa dilakukan Panasonic dan Toshiba karena kalah bersaing dengan produk elektronik dari China. Akhirnya, perusahaan tersebut berencana memproduksi barang elektronik jenis lain.
"Dari sisi kompetisi, produk mereka kalah dengan China, tapi bukan berarti mati. Mereka switch (pindah) ke produk lain," ia menerangkan.
Meski Panasonic dan Toshiba melakukan efisiensi, Franky tetap yakin industri elektronik di Indonesia masih bertumbuh dengan baik. Buktinya, kata Franky, izin prinsip komitmen investasi di sektor mesin dan elektronik meningkat 106 persen pada periode Januari 2016.
Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/2427664/cerita-di-balik-penutupan-pabrik-panasonic-dan-toshiba
Penutupan tiga pabrik Toshiba dan Panasonic di Indonesia membawa dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak lebih dari 2.500 karyawan. Hal ini terimbas dari lesunya penjualan produk elektronik dua perusahaan raksasa asal Jepang itu akibat penurunan daya beli masyarakat.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan, Toshiba telah menutup pabrik televisi di Kawasan Industri Cikarang, Jawa Barat. Padahal satu pabrik ini yang tersisa dari enam perusahaan Toshiba lain yang sudah tutup sebelumnya dalam 10 tahun terakhir.
"Yang tutup ini adalah pabrik televisi Toshiba terbesar di Indonesia, selain di Jepang. Karyawan yang di PHK lebih dari 900 orang," tegasnya saat Konferensi Pers di Jakarta, Selasa, 2 Februari 2016.
Said mengatakan, penutupan pabrik bakal dieksekusi pada April 2016. Saat ini, sedang terjadi proses negosiasi pesangon antara manajemen perusahaan dengan serikat pekerja pabrik tersebut.
Perusahaan lainnya, kata Said yang ikut terhantam pemburukan ekonomi adalah Panasonic lighting. Sebanyak dua pabriknya resmi ditutup, seperti Panasonic Lighting Indonesia (PLI) di Pasuruan, Jawa Timur di awal Januari ini dan satu pabrik lainnya di Kawasan Industri Bekasi pada Februari 2016.
"Pabrik di Pasuruan mempekerjakan lebih dari 600 orang dan sudah di PHK. Sedangkan pabrik yang di Bekasi PHK hampir 1.000 lebih karyawan," ucap Said.
Dari data yang diterima, sampai Rabu ini tercatat buruh yang terkena PHK mencapai 2.145 orang dari dua perusahaan elektronik ternama itu.
Berikut data rinci jumlah PHK di Toshiba dan Panasonic versi KSPI, yaitu:
1. Sebanyak 865 orang terkena PHK di PT Toshiba Consumer products Indonesia. Pabrik ini beralamat di Jalan Citanduy Raya Park Plot 5G di kawasan EJIP Industrial Cikarang Selatan.
Perusahaan memulai perundingan pesangon dengan serikat pekerja pada 5 Januari 2016. Pengusaha menyatakan penutupan perusahaan bukan karena persoalan kenaikan upah, tapi karena daya beli masyarakat menurun secara domestik dan global. Perusahaan ini memproduksi televisi dan mesin cuci untuk pasar domestik dan dunia.
2. Sekitar 2. 480 buruh terkena PHK di PT Panasonic Gobel Eco Solutions Manufacturing Indonesia (PT PESGMFID) yang berlokasi di kawasan Industri Ejip Industrial Park Plot 3d Cikarang, Bekasi. Perusahaan ini memproduksi alat-alat listrik dan lampu yang dipasarkan mayoritas ke pasar domestik.
Rencananya perundingan nilai pesangon akan selesai di akhir Februari. Penutupan dikatakan bukan karena persoalan kenaikan upah.
3. Sebanyak 3. 800 buruh kena PHK di pabrik PT Panasonic Lighting Indonesia (PT PLI) yang berlokasi di kawasan Industri PIER Jalan Rembang Industri Raya 47 di Pasuruan.
Perusahaan ini memproduksi lighting yang ditujukan ke pasar domestik dan global. Proses perundingan pesangon sudah selesai pada September 2015 dan serikat pekerja secara resmi melaporkan proses PHK selesai pada Januari 2016 ini.
Alasan di balik tutupnya pabrik Panasonic
Menanggapi hal ini, Chairman Panasonic Gobel Group, Rachmat Gobel menegaskan pihaknya tengah melakukan rasionalisasi. Panasonic, lanjut Gobel akan merestrukturisasi tiga pabrik lampu yang dimilikinya di Indonesia.
"Panasonic enggak tutup pabriknya, kita itu melakukan rasionalisasi pabrik lighting," ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta.
Sebagai gambaran, lanjut Rachmat, saat ini Panasonic mempunyai sejumlah pabrik dengan berbagai macam produk. Antara lain pabrik alat rumah tangga, produk energi seperti baterai, produk alat kesehatan, produk alat kelistrikan seperti lampu, bohlam, dan lighting feature, serta pabrik komponen yang berlokasi di Batam, Kepulauan Riau.
"Pabrik lighting yang ada bohlam lampu, tadinya ada tiga di Indonesia, yaitu Panasonic, Philips dan Osram. Nah setahu saya sekarang mereka sudah tidak ada, satu-satunya tinggal Panasonic," kata dia.
Menurut Rachmat, sesuai dengan perkembangan zaman, produk lampu bohlam mulai digantikan dengan produk lampu light emitting diode (LED), maka Panasonic memutuskan untuk mengalihkan produksinya ke lampu LED. Tiga pabrik lampu Panasonic yang ada yaitu di Cikarang, Cileungsi dan Pasuruan akan dilebur menjadi dua pabrik yang bakal memproduksi lampu LED.
"Kita lakukan rasionalisasi dan restrukturisasi dan dua pabrik dijadikan satu menjadikan pabrik yang punya teknologi dan added value (nilai tambah). Karena trennya teknologinya mulai ke LED, kita mulai masuk ke sana," kata dia.
Rachmat mengungkapkan, rencananya Panasonic akan menutup pabrik lampu yang ada di Cikarang, Jawa Barat. Sedangkan yang akan dipertahankan yaitu pabrik yang berlokasi di Pasuruan dan Cileungsi.
"Pabriknya memang ada tiga lokasi, itu kita jadikan satu. Salah satu tempat ditutup, karena kan efisien, yang biasanya dilakukan di tiga pabrik kini gabung. Yang dihentikan di Cikarang. Di Pasuruan belum, satu lagi di Cileungsi. Itu biasa dalam manajemen, Panasonic kan punya komitmen di Indonesia jadi produk yang kita ciptakan mengikuti perkembangan zaman," kata Mantan Menteri Perdagangan ini.
PHK Karyawan
Rachmat mengakui adanya dampaknya dari restrukturisasi tersebut. Perusahaan terpaksa melakukan pengurangan pekerja di pabrik yang dilebur tersebut.
Saat ini Panasonic memiliki sekitar 20 ribu pekerja. Lantaran adanya rencana rasionalisasi ini, perusahaan terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja sekitar 1.000 orang.
"Itu otomatis karena kita lakukan rasionalisasi mesin dan added value kan teknologinya lebih advance, pasti terjadi (pengurangan tenaga kerja) tidak bisa tidak. Panasonic punya karyawan mencapai lebih dari 20 ribu orang, ini cuma sekitar 1.500 atau 1.000 orang sekian lah," ujarnya.
Namun demikian, jika program restrukturisasi pabrik ini telah berjalan dengan baik dan kembali terjadi peningkatan produksi, maka bukan tidak mungkin akan ada penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
"Bahkan dengan adanya peningkatan produksi dari produk baru nanti, nanti mungkin ada penambahan tenaga kerja kembali," kata dia.
Rachmat berpesan, serikat pekerja agar tidak selalu melakukan tuntutan tanpa peningkatan produktivitas dan memikirkan keberlangsungan perusahaan.
"Tapi yang penting industrinya jalan, serikat pekerja hanya menuntut tidak perduli industrinya jalan atau tidak. Yang kita perlukan bangun industrinya dulu, karena kan ada industrinya dulu baru ada serikat pekerja. Sekarang saya turunkan (jumlah pekerja), tapi kalau ada peningkatan produksinya nanti akan saya tambah lagi. Tapi kan industrinya harus dikembangkan dulu," tandasnya.
Toshiba PHK karyawan
Salah satu perusahaan elektronik asal Jepang, Toshiba, dikabarkan melakukan pengurangan tenaga kerjanya. Kabarnya pengurangan tenaga kerja ini sebagai dampak dari penutupan pabrik di Indonesia.
Manager HRD PT Toshiba Consumer Products Indonesia, Uis Al-Qarni membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan soal pengurangan tenaga kerja ini sebenarnya sudah diumumkan sejak akhir tahun lalu.
"Iya benar, sudah dari Desember, sudah ada pengumumannya. Itu sekitar 40 persen dari 900 pekerja (hasil sementara), dari lini televisi dan mesin cuci," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Rabu (3/2/2016).
Namun demikian, Uis mengatakan pabrik televisi dan mesin cuci akan tetap ada. Lantaran, pabrik tersebut akan diakuisisi oleh perusahaan asal Hongkong, Skywards. Sehingga kepemilikannya akan beralih dari Toshiba ke Skywards. Namun menurut Uis tidak semua pekerja akan diberhentikan.
"Ini sahamnya diakuisisi oleh perusahaan lain Skywards. Pengurangan tenaga kerja hanya sebentar, mungkin akan ditambah lagi oleh Skywards karena mereka akan ada lagi produk baru yang akan diproduksi di sini," kata dia.
Uis menyatakan, proses pengurangan tenaga kerja saat ini masih berlangsung. Kini tengah ada perundingan antara pihak manajemen dan pekerja. Namun dia memastikan saat ini semua karyawan masih bekerja secara normal.
"Sejauh ini proses PHK lancar, sedang ada perundingan untuk penyelesaian, dan biasanya itu wajar. Ada pemintaan karyawan seperti apa dan kemampuan perusahaan seperti apa, lancar tidaknya kamilihat dari waktu, ini prosesnya baru sebulan. Masih pembicaraan dasar saja. Sampai sekarang masih 100 persen, kalau 900 pekerja mungkin ini nanti akan ditentukan di akhir Maret," tutur dia.
Kalah saing dari China
Bos Panasonic Gobel Indonesia, Rachmat Gobel mengakui salah satu pabriknya tutup dan sejumlah karyawan di PHK. Salah satu alasannya adalah produk yang kalah bersaing dengan produk impor China.
Pabrik yang ditutup adalah Panasonic Lighting Indonesia yang memproduksi bohlam lampu. Pabrik tersebut akan ditutup karena produknyan tak lagi memiliki daya saing. Panasonic akan mengubah tren dengan membuat lampu light emitting diode (LED).
"Sekarang Panasonic sudah tidak bisa lagi membuat karena memang produk itu tidak ada daya saing lagi, karena kita tidak mampu menghadapi barang impor dari China," ungkap dia.
Rachmat menjelaskan, dengan melakukan rasionalisasi dan restrukturisasi pabrik-pabrik yang dioperasikan oleh Panasonic ini, maka perusahaan akan bisa fokus kepada produksi produk yang sesuai dengan perkembangan jaman dan permintaan pasar.
"Kita lakukan rasionalisasi dan restrukturisasi dan dua pabrik dijadikan satu menjadikan pabrik yang punya teknologi dan adedd value. Karena trennya teknologinya mulai ke LED, kita mulai masuk ke sana," kata dia.
Sementara itu Kepala BKPM Franky Sibarani mengaku telah memperoleh informasi bahwa Panasonic dan Toshiba melakukan restrukturisasi sebagai upaya efisiensi di tengah persaingan industri elektronik yang ketat di Tanah Air.
"Dari informasi yang diterima, ada yang menyampaikan memang ada restrukturisasi," ujarnya saat ditemui dalam konferensi pers Realisasi Komitmen Investasi Januari 2016 di Gedung BKPM, Jakarta.
Dia menjelaskan, restrukturisasi perusahaan terpaksa dilakukan Panasonic dan Toshiba karena kalah bersaing dengan produk elektronik dari China. Akhirnya, perusahaan tersebut berencana memproduksi barang elektronik jenis lain.
"Dari sisi kompetisi, produk mereka kalah dengan China, tapi bukan berarti mati. Mereka switch (pindah) ke produk lain," ia menerangkan.
Meski Panasonic dan Toshiba melakukan efisiensi, Franky tetap yakin industri elektronik di Indonesia masih bertumbuh dengan baik. Buktinya, kata Franky, izin prinsip komitmen investasi di sektor mesin dan elektronik meningkat 106 persen pada periode Januari 2016.
Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/2427664/cerita-di-balik-penutupan-pabrik-panasonic-dan-toshiba
Tuesday, October 17, 2017
Tjiwi Kimia Libatkan Warga Sekitar Pabrik dalam Berproduksi
Tjiwi Kimia Libatkan Warga Sekitar Pabrik dalam Berproduksi
Unit Industri Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk melibatkan 1.400 orang warga di sekitar pabrik untuk melakukan tahap finalisasi produk kertasnya.
"Dalam proses finishing kantong belanja, Tjiwi Kimia menyediakan 100 persen bahan baku. Mitra usaha kami yang menyelesaikan sampai tuntas, mulai dari melipat, mengelem, sampai memasangkan tali dan aksesori lainnya," kata Sugiyanto, Manajer Humas Tjiwi Kimia, Jumat (7/10).
Menurutnya, mayoritas warga yang dilibatkan dalam program Kemitraan Proses (KP) Tjiwi Kimia adalah ibu rumah tangga yang ingin membantu perekonomian keluarganya.
“Mereka berasal dari 27 desa di tujuh Kecamatan seputar Kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, dan Jombang,” katanya.
Sugiyanto berpendapat, secanggih apapun mesin pabrik yang dimiliki perusahaan tempatnya bekerja, tidak dapat sepenuhnya menggantikan detil dan kecermatan yang dihasilkan manusia.
“Beberapa produk yang kami hasilkan masih memerlukan penanganan secara manual, khususnya proses finishing,” ujarnya.
Agar kualitas tetap terpelihara, Tjiwi Kimia menyediakan pelatihan (workshop), bantuan modal, selain tentunya juga bahan baku.
"Kami tentunya tidak melepas para mitra usaha begitu saja. Ini berkaitan dengan pemenuhan standar kualitas yang ketat dari perusahaan," terang Sugiyanto.
Pilihan Redaksi
Produk Diboikot Singapura, APP Bantah Bakar Lahan
Tercatat dalam 'Panama Papers', Pertamina Irit Bicara
Selain kantong belanja, Tjiwi Kimia juga melibatkan masyarakat untuk mengerjakan tahap akhir produksi hard cover buku.
“Tahap produksi tersebut membutuhkan proses finishing berupa penjilidan dan perekatan cover buku. KP hard cover memiliki lima kelompok mitra usaha yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 190 orang,” katanya.
Sementara KP Cetak menjadi jenis kemitraan ketiga untuk keperluan percetakan (offset) meliputi pencetakan cover dan plastik sheet. Kemitraan ini memiliki tiga mitra usaha, dan mampu menyerap puluhan tenaga kerja dari daerah Mojokerto, Surabaya, dan Gresik.
Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161007184555-92-164079/tjiwi-kimia-libatkan-warga-sekitar-pabrik-dalam-berproduksi/
Unit Industri Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk melibatkan 1.400 orang warga di sekitar pabrik untuk melakukan tahap finalisasi produk kertasnya.
"Dalam proses finishing kantong belanja, Tjiwi Kimia menyediakan 100 persen bahan baku. Mitra usaha kami yang menyelesaikan sampai tuntas, mulai dari melipat, mengelem, sampai memasangkan tali dan aksesori lainnya," kata Sugiyanto, Manajer Humas Tjiwi Kimia, Jumat (7/10).
Menurutnya, mayoritas warga yang dilibatkan dalam program Kemitraan Proses (KP) Tjiwi Kimia adalah ibu rumah tangga yang ingin membantu perekonomian keluarganya.
“Mereka berasal dari 27 desa di tujuh Kecamatan seputar Kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, dan Jombang,” katanya.
Sugiyanto berpendapat, secanggih apapun mesin pabrik yang dimiliki perusahaan tempatnya bekerja, tidak dapat sepenuhnya menggantikan detil dan kecermatan yang dihasilkan manusia.
“Beberapa produk yang kami hasilkan masih memerlukan penanganan secara manual, khususnya proses finishing,” ujarnya.
Agar kualitas tetap terpelihara, Tjiwi Kimia menyediakan pelatihan (workshop), bantuan modal, selain tentunya juga bahan baku.
"Kami tentunya tidak melepas para mitra usaha begitu saja. Ini berkaitan dengan pemenuhan standar kualitas yang ketat dari perusahaan," terang Sugiyanto.
Pilihan Redaksi
Produk Diboikot Singapura, APP Bantah Bakar Lahan
Tercatat dalam 'Panama Papers', Pertamina Irit Bicara
Selain kantong belanja, Tjiwi Kimia juga melibatkan masyarakat untuk mengerjakan tahap akhir produksi hard cover buku.
“Tahap produksi tersebut membutuhkan proses finishing berupa penjilidan dan perekatan cover buku. KP hard cover memiliki lima kelompok mitra usaha yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 190 orang,” katanya.
Sementara KP Cetak menjadi jenis kemitraan ketiga untuk keperluan percetakan (offset) meliputi pencetakan cover dan plastik sheet. Kemitraan ini memiliki tiga mitra usaha, dan mampu menyerap puluhan tenaga kerja dari daerah Mojokerto, Surabaya, dan Gresik.
Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161007184555-92-164079/tjiwi-kimia-libatkan-warga-sekitar-pabrik-dalam-berproduksi/
Monday, August 21, 2017
Job Desc Kadiv Produksi
Job desc Kadiv Produksi adalah sebagai berikut :
- Mengawasi proses produksi agar kualitas, kuantitas dan waktunya sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat
- Bertanggung jawab mengatur manajemen persediaan agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan bahan baku, bahan penunjang maupun produk yang sudah jadi di gudang
- Bertanggung jawab mengatur manajemen alat dan mesin agar fasilitas produksi berfungsi sebagaimana mestinya dan beroperasi dengan lancar
- Membuat laporan secara berkala mengenai kegiatan di masing-masing bagian
- Bertanggung jawab pada peningkatan ketrampilan dan keahlian karyawan yang berada di bawah tanggung jawabnya
- Memberikan penilaian dan sanksi jika karyawan di bawah tanggung jawabnya melakukan kesalahan dan pelanggaran
- Berinovasi dalam pengerjaan produksi dan memberikan masukan pada perusahaan yang berkaitan dengan bagian produksi
Monday, August 7, 2017
PT Nyonya Meneer Bangkrut
Nyonya Meneer
Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895 adalah seorang wirausahawan di bidang industri jamu di Indonesia.
Namanya berasal dari beras menir, yaitu sisa butir halus penumbukan padi. Ibunya mengidam dan memakan beras ini sehingga pada waktu bayi yang dikandungnya lahir kemudian diberi nama Menir. Karena pengaruh ejaan Belanda ejaan Menir berubah menjadi Meneer.
Ibu Meneer merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Pada masa pendudukan Belanda tahun 1900an, pada masa-masa penuh keprihatinan dan sulit itu suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia.
Ibu Meneer mencoba meramu jamu Jawa yang diajarkan orang tuanya dan suaminya sembuh. Sejak saat itu, Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu Jawa untuk menolong keluarga, tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan. Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar.
Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer yang kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia. Selain mendirikan pabrik Ny Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar.
Pada tahun 1940 melalui bantuan putrinya, Nonnie, yang hijrah ke Jakarta, berdirilah cabang toko Nyonya Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta.
Di tangan Ibu dan anak, Nyonya Meneer dan Hans Ramana perusahaan berkembang pesat.
Nyonya Meneer meninggal dunia tahun 1978, generasi kedua yaitu anaknya, Hans Ramana, yang juga mengelola bisnis bersama ibunya meninggal terlebih dahulu pada tahun 1976. Operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni ke lima cucu Nyonya Meneer.
Namun ke lima bersaudara ini kurang serasi dan menjatuhkan pilihan untuk berpisah. Kini perusahaan murni dimiliki dan dikendalikan salah satu cucu Nyonya Meneer yaitu Charles Saerang. Sedangkan ke empat orang saudaranya dan setelah menerima bagian masing-masing, memilih untuk berpisah.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Nyonya_Meneer
Dinyatakan Pailit, Bagaimana Kondisi Nyonya Meneer Sesungguhnya?
Pengadilan Negeri (PN) Semarang Kamis (3/8/2017) kemarin menyatakan produsen jamu legendaris Nyonya Meneer pailit. Nyonya Meneer dinyatakan pailit setelah digugat kreditur asal Sukoharjo, Hendrianto Bambang Santoso karena terbukti tidak sanggup membayar utang.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu) Dwi Ranny Pertiwi Zarman mengatakan, kondisi produsen jamu yang telah berdiri sejak tahun 1919 tersebut, berada dalam kondisi yang baik. Ia juga menambahkan pasar jamu dan obat tradisional di Indonesia dan luar negeri juga dalam kondisi yang cukup baik.
Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3588108/dinyatakan-pailit-bagaimana-kondisi-nyonya-meneer-sesungguhnya
Presiden Direktur Nyonya Meneer: Saya Kaget, Padahal Perusahaan Kami Sehat
Presiden Direktur PT Nyonya Meneer, Charles Saerang, tidak menyangka perusahaan yang telah dirintis sejak 1919 dinyatakan pailit Pengadilan Negeri Semarang.
Menurut Charles, manajemen melalui tim legal akan melakukan banding sebagaimana diatur dalam perundang-undangan dan untuk mempertahankan produk jamu Nyonya Meneer yang saat ini masih banyak permintaan.
Charles menjelaskan, saat ini manajemen menghormati dan mengikuti mekanisme hukum. Serta menunggu keputusan kurutor terkait produksi.
Sumber :
http://www.tribunnews.com/bisnis/2017/08/05/presiden-direktur-nyonya-meneer-saya-kaget-padahal-perusahaan-kami-sehat
Analisa penyebab bangkrutnya produsen jamu Nyonya Meneer
PT Nyonya Meneer dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Beratnya beban utang yang ditanggung, membuat perusahaan tak lagi sehat.
Selain beban utang, sengketa perebutan kekuasaan antar keluarga disebut-sebut menjadi pemicu bangkrutnya perusahaan yang lahir sejak 1919 tersebut.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J. Rachbini menjelaskan bagaimana suatu perusahaan dapat mengalami kebangkrutan meskipun telah lama beroperasi salah satunya yang terjadi pada perusahaan jamu PT Nyonya Meneer.
"Nyonya Meneer lebih kepada korporasi, korporasi yang tidak dapat menyesuaikan dengan perubahan yang sangat cepat. Jadi di Jepang dan di negara lain juga ribuan perusahaan pailit karena tidak mampu menyesuaikan diri," ujar Didik saat ditemui di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (5/8).
Didik mengatakan bangkrutnya suatu perusahaan bisa disebabkan ambisi yang ingin tetap beroperasi ditengah-tengah kondisi perusahaan yang tidak memungkinkan. Sehingga apabila dipaksakan malah akan memicu membengkaknya utang.
"Pailit, kalau dia tidak bisa membayar utang dan tidak bisa membayar karyawan, tidak bisa membayar cost produksi. Karena itu produksi berhenti. Kalau diteruskan produksi utang yang malah akan terus bertambah," jelasnya.
Untuk itu, Didik menyarankan perusahaan harus jeli melihat kondisi operasional dan manajemen perusahaan. Selain itu, perusahaan juga harus cerdas dalam mengikuti perkembangan jaman.
"Harus cepat menyesuaikan diri, tahu kondisi perusahaan bagaimana. Kalau Nyonya Meneer katanya ada masalah keluarga, saya tidak tahu pasti. Karena itu urusan internal. Tapi yang pasti, harus memahami kondisi yang ada," pungkasnya.
Sumber :
https://www.merdeka.com/uang/analisa-penyebab-bangkrutnya-produsen-jamu-nyonya-meneer.html
Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895 adalah seorang wirausahawan di bidang industri jamu di Indonesia.
Namanya berasal dari beras menir, yaitu sisa butir halus penumbukan padi. Ibunya mengidam dan memakan beras ini sehingga pada waktu bayi yang dikandungnya lahir kemudian diberi nama Menir. Karena pengaruh ejaan Belanda ejaan Menir berubah menjadi Meneer.
Ibu Meneer merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Pada masa pendudukan Belanda tahun 1900an, pada masa-masa penuh keprihatinan dan sulit itu suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia.
Ibu Meneer mencoba meramu jamu Jawa yang diajarkan orang tuanya dan suaminya sembuh. Sejak saat itu, Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu Jawa untuk menolong keluarga, tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan. Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar.
Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer yang kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia. Selain mendirikan pabrik Ny Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar.
Pada tahun 1940 melalui bantuan putrinya, Nonnie, yang hijrah ke Jakarta, berdirilah cabang toko Nyonya Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta.
Di tangan Ibu dan anak, Nyonya Meneer dan Hans Ramana perusahaan berkembang pesat.
Nyonya Meneer meninggal dunia tahun 1978, generasi kedua yaitu anaknya, Hans Ramana, yang juga mengelola bisnis bersama ibunya meninggal terlebih dahulu pada tahun 1976. Operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni ke lima cucu Nyonya Meneer.
Namun ke lima bersaudara ini kurang serasi dan menjatuhkan pilihan untuk berpisah. Kini perusahaan murni dimiliki dan dikendalikan salah satu cucu Nyonya Meneer yaitu Charles Saerang. Sedangkan ke empat orang saudaranya dan setelah menerima bagian masing-masing, memilih untuk berpisah.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Nyonya_Meneer
Dinyatakan Pailit, Bagaimana Kondisi Nyonya Meneer Sesungguhnya?
Pengadilan Negeri (PN) Semarang Kamis (3/8/2017) kemarin menyatakan produsen jamu legendaris Nyonya Meneer pailit. Nyonya Meneer dinyatakan pailit setelah digugat kreditur asal Sukoharjo, Hendrianto Bambang Santoso karena terbukti tidak sanggup membayar utang.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu) Dwi Ranny Pertiwi Zarman mengatakan, kondisi produsen jamu yang telah berdiri sejak tahun 1919 tersebut, berada dalam kondisi yang baik. Ia juga menambahkan pasar jamu dan obat tradisional di Indonesia dan luar negeri juga dalam kondisi yang cukup baik.
Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3588108/dinyatakan-pailit-bagaimana-kondisi-nyonya-meneer-sesungguhnya
Presiden Direktur Nyonya Meneer: Saya Kaget, Padahal Perusahaan Kami Sehat
Presiden Direktur PT Nyonya Meneer, Charles Saerang, tidak menyangka perusahaan yang telah dirintis sejak 1919 dinyatakan pailit Pengadilan Negeri Semarang.
Menurut Charles, manajemen melalui tim legal akan melakukan banding sebagaimana diatur dalam perundang-undangan dan untuk mempertahankan produk jamu Nyonya Meneer yang saat ini masih banyak permintaan.
Charles menjelaskan, saat ini manajemen menghormati dan mengikuti mekanisme hukum. Serta menunggu keputusan kurutor terkait produksi.
Sumber :
http://www.tribunnews.com/bisnis/2017/08/05/presiden-direktur-nyonya-meneer-saya-kaget-padahal-perusahaan-kami-sehat
Analisa penyebab bangkrutnya produsen jamu Nyonya Meneer
PT Nyonya Meneer dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Beratnya beban utang yang ditanggung, membuat perusahaan tak lagi sehat.
Selain beban utang, sengketa perebutan kekuasaan antar keluarga disebut-sebut menjadi pemicu bangkrutnya perusahaan yang lahir sejak 1919 tersebut.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J. Rachbini menjelaskan bagaimana suatu perusahaan dapat mengalami kebangkrutan meskipun telah lama beroperasi salah satunya yang terjadi pada perusahaan jamu PT Nyonya Meneer.
"Nyonya Meneer lebih kepada korporasi, korporasi yang tidak dapat menyesuaikan dengan perubahan yang sangat cepat. Jadi di Jepang dan di negara lain juga ribuan perusahaan pailit karena tidak mampu menyesuaikan diri," ujar Didik saat ditemui di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (5/8).
Didik mengatakan bangkrutnya suatu perusahaan bisa disebabkan ambisi yang ingin tetap beroperasi ditengah-tengah kondisi perusahaan yang tidak memungkinkan. Sehingga apabila dipaksakan malah akan memicu membengkaknya utang.
"Pailit, kalau dia tidak bisa membayar utang dan tidak bisa membayar karyawan, tidak bisa membayar cost produksi. Karena itu produksi berhenti. Kalau diteruskan produksi utang yang malah akan terus bertambah," jelasnya.
Untuk itu, Didik menyarankan perusahaan harus jeli melihat kondisi operasional dan manajemen perusahaan. Selain itu, perusahaan juga harus cerdas dalam mengikuti perkembangan jaman.
"Harus cepat menyesuaikan diri, tahu kondisi perusahaan bagaimana. Kalau Nyonya Meneer katanya ada masalah keluarga, saya tidak tahu pasti. Karena itu urusan internal. Tapi yang pasti, harus memahami kondisi yang ada," pungkasnya.
Sumber :
https://www.merdeka.com/uang/analisa-penyebab-bangkrutnya-produsen-jamu-nyonya-meneer.html
Wednesday, August 2, 2017
Jumlah Toilet di Kantor dan Pabrik
Kamar mandi / toilet biasanya dilengkapi dengan perlengkapan untuk buang air kecil maupun besar. Kamar mandi yang dilengkapi dengan urinals, kloset dan bak mandi biasa dinamakan restroom.
Toilet adalah fasilitas sanitasi untuk tempat buang air besar dan kecil, tempat cuci tangan dan muka. Umum adalah tidak menyangkut yang khusus (semuanya) secara menyeluruh. Toilet Umum adalah fasilitas sanitasi yang mengakomodasi kebutuhan membuang hajat yang digunakan oleh masyarakat umum, tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin dari pengguna tersebut.
Ruang istirahat harus mempunyai sirkulasi udara yang baik, tidak berhubungan langsung dengan ruang pengolahan. Ruang istirahat sebaiknya terpisah dari ruang ganti karyawan. Untuk toilet sebaiknya tidak berhubungan langsung dengan ruang pengolahan. Toilet dilengkapi dengan fasilitas seperti suplai air yang lancar, ventilasi, pintu ,dan langit-langit dalam kondisi baik, sabun cair, alat pengering dan suplai air panas.
Jumlah toilet tergantung pada jumlah karyawan yang bekerja. Jumlah toilet yang dipersyaratkan untuk unit pengolahan
Ø 1-9 Orang = 1 Toilet
Ø 10-24 Orang = 2 Toilet
Ø 25-49 Orang = 3 Toilet
Ø 50-100 Orang = 5 Toilet
Setiap Penambahan 30 pekerja dari 100 pekerja ditambah 1 (satu) toilet.
Rasio ideal jumlah WC perempuan 1:25 dari jumlah murid perempuan sedangkan rasio WC pria 1:40.
Rasio Jumlah Toilet dan Perturasan dengan Jumlah Tenaga Kerja.
Pria 1 : 40
Wanita 1 : 25
Aturan mengenai jumlah toilet kita bisa melihat referensi berikut :
Peraturan Menteri Perburuhan No 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405 / Menkes / SK / XI / 2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri
Sumber :
http://pustaka.pu.go.id/?q=content/standar-toilet-umum-indonesia
http://teorisingkat.blogspot.co.id/2015/11/tinjauan-pustaka-template-pabrik.html
https://rafel896.wordpress.com/2011/10/16/standard-sanitation-operating-procedure-ssop/
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=236910809737552&id=176487049113262
http://www.hijausehatkemenkes.net/index.php/penyelenggaraan/hygiene-dan-sanitasi-kantor/toilet-kamar-mandi
Thursday, July 20, 2017
MSDS
MSDS adalah kependekan dari material safety data sheet memuat informasi mengenai sifat-sifat zat kimia, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengunaan zat kimia, pertolongan apabila terjadi kecelakaan, penanganan zat yang berbahaya.
Termasuk dalam MSDS tentang sifat bahayanya, cara-cara: pengangkutan, penanganan, penyimpanan, penggunaan, cara pencegahan bahayanya serta penyem buhan bila terjadi kontak dengan tubuh manusia.
MSDS merupakan salah satu alat bantu dari kegiatan pengendalian sebelum bahan bahan berbahaya tersebut digunakan. MSDS memberikan informasi secara detail terhadap suatu bahan.
Setiap material berbahaya yang didatangkan harus disertai MSDS, baik itu berasal dari fabrikannya atau agen penjualannya. Apabila belum ada, maka harus dimintakan atau disusun / dibuat MSDS-nya lebih dulu oleh orang yang berkompeten.
MSDS harus dapat digunakan oleh seluruh pekerja. Maka dalam penyediaannya harus disajikan dalam bahasa Indonesia atau bahasa yang dimengerti oleh seluruh karyawan/pekerja. Bila aslinya berasal dari fabrikan yang berbahasa asing, maka harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
MSDS harus ditempelkan/ditempatkan pada tempat yang mudah terbaca, sehingga seluruh karyawan/pekerja dapat memahami dan mengendalikan bahan bebahaya tsb.
MSDS berisi informasi tentang identifikasi produk/bahan tsb, kandungan unsur-unsur yang berbahaya, data fisik, data bahaya kebakaran, bahaya terpapar, data bahaya keselamatan, data sifat reaksi bahan, prosedur menghadapi tumpahan/cipratan/kontak dengan anggota tubuh dan cara pengobatan / penyembuhan / pembersihannya, serta informasi untuk pencegahan dan penanggulangannya.
Secara umum, isi MSDS a.l.:
Bagian I : Identifikasi Produk
Berisi informasi yang meliputi identitas produk seperti nama asli bahan (jika merupakan bahan tunggal pastikan nama kimianya sedangkan jika bahan campuran pastikan rumus kimianya), senyawa atau rumus kimia, identitas penghasil, identitas penjual, tanggal perubahan MSDS,jika ada, serta nomor yang dapat dihubungi jika keadaan darurat. Pastikan bahwa data di atas efektif untuk digunakan.
Bagian II: Bahan Baku
Berisi informasi mengenai bahan baku atau unsur-unsur yang ada di dalam bahan tersebut, termasuk jumlah dan presentase dari kandungan bahan sehingga informasi menjadi jelas.
Bagian III : Data Fisik
Berisi informasi secara fisik dari bahan berbahaya. Informasi ini meliputi bentuk bahan seperti padat, cair atau gas kemudian hal- hal yang berhubungan dengan sifat fisik dari bahan seperti titik didih, tekanan, dll.
Bagian IV : Data Bahaya Kebakaran dan Ledakan
Berisi informasi mengenai aspek-aspek yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran dan ledakan dari bahan tersebut, termasuk batas timbulnya kebakaran atau ledakan serta jenis kebakaran dan alat yang dapat digunakan untuk penanganannya.
Bagian V : Data Bahaya Kesehatan
Berisi tentang potensi bahaya terhadap kesehatan meliputi efek akut dari terpaparnya bahan ke tubuh termasuk didalamnya efek terhadap reproduksi, cara masuk kedalam tubuh, dan gejala-gejala yang timbul. Dan prosedur keadaan darurat dan tindakan pertama yang harus diambil. Juga konsultasi secara medis setelah terjadi kecelakaan.
Bagian VI : Data Keaktifan
Berisi mengenai keaktifan dari bahan jika bersenyawa dengan bahan lain. Dan kondisi-kondisi yang harus dihindari sehingga tidak akan menimbulkan bahaya. Bagian VII : Prosedur untuk bahan yang Tumpah atau Bocor. Berisi informasi mengenai cara penanganan untuk bahan yang tumpah atau bocor.
Bagian VIII : Informasi Perlindungan Khusus.
Berisi informasi serta kondisi atau peralatan yang digunakan untuk penanganannya
Sumber :
https://qhseconbloc.wordpress.com/msds/
https://www.slideshare.net/almarson/panduan-dasar-k3
http://330dustlessblasting.com/msds-dustless-blasting/
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Gelombang PHK 7.000 Karyawan Disney Akan Dimulai Pekan Ini Rabu, 29 Maret 2023 Raksasa hiburan Amerika Serikat (AS) Walt Disney Company akan...
-
Supply chain This section contains information on the following distributed examples: * Decentralization * Multistage supply chain * Outsour...
-
Sharing soal competency yang bisa diartikan sebagai set of skill atau knowledge yang harus dimiliki atau di develop oleh person yang meme...
-
Anang Z. Gani Abstract This paper presents a new paradigm for solving the Travelling Salesman Problem (TSP). TSPis known as an NP-complete p...
-
KOMPAS.com - Pengalaman kerja seringkali dijadikan referensi saat melamar pekerjaan. Lantas bagaimana dengan para fresh graduate, yang boleh...



