Sunday, July 15, 2012

Belajar dari Pendiri e-Bay

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


...tahukah Anda bagaimana seorang yang bernama Pierre Omidyar, pemilik e-Bay, merintis bisnis multi-miliar-dolarnya? Cerita singkat ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Anda.

Pierre Omidyar yang berdarah Iran lahir di Paris, 12 Juli 1967. Saat dia masih belia, keluarganya migrasi ke Amerika Serikat. Ayahnya bekerja di pusat kesehatan Universitas John Hopkins. Karena Omidyar berakar dalam keluarga pekerja keras, ia cenderung larut dalam pekerjaan detail, rumit, dan menantang. Bahkan sejak SMP ia sudah tergila-gila mengotak-atik komputer. Gelar kesarjanaannya di UniversitasTufts memang di bidang ilmu komputer.

Karier pertamanya dirintis di Claris, anak perusahaan Apple Computer. Di situ, dia menjadi anggota tim pengembang perangkat lunak MacIntosh. Tahun 1991, bersama tiga konconya, Omidyar mendirikan Ink Development Corp, yang menyasar segmen pasar virtual. Tak lama perusahannya berubah nama menjadi eShop Inc. Perusahaan ini kemudian dibeli Microsoft pada tahun 1996. Kendati demikian, Omidyar tetap begumul dengan tantangan teknis bisnis di dunia maya komputer.

Omidyar tinggal di daerah dekat teluk San Fransisco (SF Bay). Di daerah itu pula dia jumpa dengan Pamela Wesley, sarjana biologi yang berkarier sebagai konsultan manajemen. Singkat cerita, Omidyar menikahi Pamela.

Di suatu senja bulan September 1995, saat makan malam, Pamela cerita soal hobi lamanya bersama tetangga dan sahabatnya, yaitu mengoleksi dan berjualan Pez Dispenser. Ini semacam tempat permen, mainan anak. Barang-barang ini telah mereka bungkus selama beberapa tahun dalam berbagai plastik warna-warni. Banyak diantaranya karakter kartun klasik. Pokoknya menarik dan unik. Cuma sayang, Pamela dan kawannya itu tidak punya akses untuk memperdagangkannya di daerah sekitar Teluk San Fransisco.

Rupanya, percakapan di seputar meja makan ini jadi bahan pemikiran sang suami. Omidyar berupaya membantu istrinya berkomunikasi dengan komunitas penggemar Pez Dispenser lewat internet. Awalnya, dia berpikir, "Ah, paling banter fasilitas swap elektronik yang kukembangkan sekadar jadi ajang rumpi para tetangga saja."

Maka, dengan ringan ia menamakan hasil hobi otak-atik komputernya dengan sebutan Electronic Bay Area (daerah teluk elektronik), yang akhirnya kondang dengan panggilan eBay.

Selanjutnya sejarah bisnis modern mencatat pertumbuhan fenomenal bisnis Omidyar yang bermula dari hobi otak-atik komputer dan niat membantu istrinya, hingga akhirnya 
jadi bisnis berskala miliaran dolar!

Pengamat bisnis menyebut Omidyar telah menciptakan format ritel masa depan. Jumlah barang yang diperdagangkan lewat infrastruktur eBay saat ini lebih dari 
15 juta jenis! Anda bisa intip bisnis Omidyar di: www.eBay.com.

Paling tidak ada lima hal yang bisa kita pelajari dari figur muda yang fenomenal ini.

Pertama, kemampuannya memusatkan perhatian pada suatu hal (fokus), dan tekun mendalaminya (detail).

Kedua, saat mengembangkan usahanya, Omidyar mampu menempatkan dirinya dengan tepat sesuai dengan minat dan kompetensinya. Ia mampu membagi peran dengan pas. Ia tidak memegang jabatan CEO di perusahaannya. Posisi ini dipercayakan pada Meg Whitman, seorang profesional. Omidyar sendiri fokus pada inovasi memperkaya fasilitas eBay dan berkutat mencari ide-ide baru demi melengkapi situsnya.

Ketiga, kecintaan dan semangat (passion) untuk menolong orang banyak mendapatkan pembeli bagi produk yang mau dijualnya. Ini telah mewarnai jiwa melayani yang kuat di dalam perusahaannya, sehingga sulit disaingi kompetitor.

Keempat, ia sangat terbuka pada hal baru dan sikapnya sangat optimistis. Ini membuatnya selalu bisa menemukan cara baru mengembangkan bisnisnya.

Kelima, memulai dari apa adanya. Biarpun cuma jadi ajang rumpi tetangga dan kerabat istrinya, ia terus berimprovisasi dan bekerja efisien. Omidyar terkenal efisien dan cekatan. Konon, ia cuma mengutip uang jasa yang kecil, namun bisnisnya berkembang lewat proses yang benar, momen yang pas karena kesigapan Omidyar tanggap pada setiap peluang yang muncul. Dalam tiga tahun beroperasi, eBay go public.

Anda pun bisa, otak-atik komputer, tekun, terbuka, positif, optimistis, cekatan, dan efisien. Bersiaplah untuk sukses!



(twitter: @andrewenas)
-------------------------------------------------------------------------
artikel terlampir dari Tabloid Bisnis KONTAN edisi khusus Maret 2007

MIMPI DAN ATMOSFER

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


  Mulai dengan mimpi sampai akhirnya berani menetapkan sasaran, bertekad ambil 
keputusan lalu dengan persisten menciptakan serta menjaga atmosfir usaha yang 
kondusif. Ketiga hal itulah yang menjadi fondasi keberhasilan memulai dan 
keberlanjutan usaha.

  Sekilas cerita tentang seorang tokoh Perang Dunia kedua, Jenderal Bernard 
Montgomery, komandan lapangan pasukan Inggris di padang pasir Mesir yang juga 
terkenal dengan sebutan Tikus Gurun (The Dessert Rats), ia adalah musuh 
bebuyutannya Erwin Rommel, seorang jenderal lapangan yang sangat brilian di 
pihak Jerman.

  Saat itu 12 Agustus 1942, Jenderal Montgomery tiba di Kairo, tugasnya jelas 
harus mengalahkan pasukan Erwin Rommel mulai dari Alamein, seluruh Afrika bagian 
utara sampai di Sisilia dan Italia bagian selatan. Pertama kali bertemu dengan 
para perwiranya di medan laga Mesir, ia mendapati semua perwiranya sudah loyo 
patah semangat.

  Maka keesokan harinya ia segera mengumpulkan semua perwira dan menyampaikan 
pidatonya yang terkenal “We will stand and fight here!”. Di antaranya dikatakan, 
“…kita akan bekerjasama sebagai satu tim, dan bersama kita akan membangun 
percaya diri dari angkatan bersenjata yang hebat ini lalu maju meraih kemenangan 
akhir di Afrika.”

  Lalu disambungnya, “…saya percaya bahwa satu dari tugas-tugas awal seorang 
komandan adalah untuk menciptakan apa yang saya sebut ‘atmosfir’, dan di dalam 
atmosfir itu para staf, anak buah dari komandan dan seluruh pasukan akan 
berada,  bekerja dan berjuang.”

  Memang, orang yang sukses adalah orang yang punya mimpi. Pemimpin adalah orang 
yang berani untuk bermimpi tentang masa depan yang jauh di depan mata. Di masa 
sulit biasanya orang tidak berani lagi untuk bermimpi, terlalu idealis katanya, 
hidup itu mesti realistis sambungnya. Padahal seorang pemimpin sejatinya 
membebaskan imajinasinya bertaburan dengan mimpi-mimpi yang indah dan agung 
(great), karena ideal ini adalah faktor motivasi penggeraknya yang utama.

  Peter Senge, mahaguru dari MIT (Massachusetts Insitute of Technology) dalam 
bukunya The Fifth Discipline of A Learning Organization menjelaskan tentang 
‘creative tension’ atau ketegangan kreatif yang merupakan tegangan (tarik 
menarik) antara visi ideal dengan realitas yang sesungguhnya. Keduanya 
(visi/mimpi dan realitas saat ini) adalah dua hal yang harus dihadapi dan 
dikonfrontasi oleh seorang pemimpin usaha. Berani jujur terhadap kenyataan saat 
ini, berani melihat kekurangan tapi juga berani mengakui potensi-potensi yang 
ada, serta berani untuk meregangkan mimpi atau visinya sejauh mungkin. Seperti 
gelang karet yang ditarik, ujung yang satu adalah realitas saat ini, dan ujung 
lainnya adalah visi masa depan. Ketegangan kreatif adalah seperti itu. Dalam 
kelenturan itu, sejauh mana visi bisa ditarik ke atas berdasarkan realitas saat 
ini.

  Tarikan gelang karet sampai di titik optimal, maka sejauh itulah visi mulai 
bisa diciptakan, sasaran-sasaran mulai ditetapkan. Memang perlu keberanian untuk 
menetapkan sasaran dan mengambil keputusan-keputusan untuk melakukan segala 
konsekuensinya. Banyak orang dalam hidupnya tidak mau atau tepatnya: tidak 
berani untuk menetapan sasaran (tujuan). Sebabnya adalah sederhana, karena dari 
setiap sasaran yang ditetapkan membawa konsekuensi untuk pengambilan keputusan 
dan bertanggungjawab terhadap akibat atau konsekuensi dari keputusan itu.

  Saat kecil seorang anak biasanya sangatlah idealis, mimpinya banyak. Kalau 
ditanya mau jadi apa saat besar nanti, maka dijawab: mau jadi presiden, 
jenderal, pilot, astronot dan professor serta posisi-posisi lain yang 
hebat-hebat. Saat mulai tumbuh dewasa, kesulitan dan masalah dalam kehidupan 
menempanya dari orang yang sangat idealis menjadi orang yang sangat realistis. 
Dari satu ekstrim ke ujung ekstrim lainnya, pupuslah idealismenya!

  Atmosfir perlu dibangun dan dijaga terus menerus karena ia seumpama tanah di 
mana benih unggulan ditabur dan upaya merawat dilakukan. Kontinuitas bisnis 
jangka panjang bisa dicapai dengan menjaga atmosfir yang sehat dan kondusif. 
Jenderal Montgomory, dengan sasarannya yang jelas, keputusannya yang bulat dan 
komitmennya untuk senantiasa membangun atmosfir yang kondusif akhirnya berhasil 
meluluhlantakan pasukan lawan, meraih kemenangan yang gemilang. Anda juga bisa, 
di bidang Anda masing-masing.


(twitter: @andrewenas)
----------------------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN, edisi Mg III Maret 2007

Realitas Kosmetik

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


“Kita telah mencapai suatu masa saat kosmetik menggantikan ideologi sebagai bidang keahlian yang harus dikuasai oleh seorang politisi.” – Neil Postman.

***

     Media-massa (radio, tv, cetak) adalah wahana melalui mana seseorang disuguhi dan karenanya dapat memahami realitas. Namun sejak instansi pertama perlulah disadari bahwa media-massa selalu berdiri di atas perspektif tertentu. Karenanya media dalam penyajian (audio, visual, tulisan) senantiasa “memerangkap” sekaligus juga “mengungkap” realitas ke dalam atau lewat kerangka-acuan (frame of reference) serta medan-pengalaman (field of experience) tertentu pula.

***

     Pemberitaan di bidang ekonomi, misalnya yang bertajuk: “Dana Asing Mengalir ke Pasar Obligasi Tanah Air: Kepemilikan asing di surat utang negara tahun ini bisa tumbuh 38% menjadi Rp270 triliun” (Harian Kontan, Selasa 19 Juli 2011) melaporkan bahwa peta investasi global mulai bergeser seiring krisis utang yang melanda pasar Eropa dan Amerika Serikat. Investor global kini mengincar emerging market, termasuk Indonesia. Satu momentum yang bisa mengantarkan investor asing masuk Indonesia adalah rencana lelang surat utang negara. Dalam lelang ini, pemerintah menawarkan enam seri SUN dengan target indikatif senilai Rp 7 triliun. Kemudian disitir pula pendapat seorang analis pasar obligasi yang mengatakan bahwa hasil lelang surat utang tersebut akan positif selama imbal hasil (yield) yang ditawarkan menarik bagi investor. Selanjutkan dikatakan juga bahwa dana asing diprediksi bakal masuk pasar obligasi domestik seiring adanya kecemasan krisis Eropa akan meluas.

     Pewartaan yang menggambarkan optimisme pada sisi penawaran obligasi di pasar global tentu baru sebelah bagian dari koin yang utuh. Karena perspektif kewajiban negara (pemerintah serta rakyatnya) untuk nanti bagaimana bisa melunasi atau menjaga performa ekonomi makro-mikro tidaklah masuk dalam kerangka pemberitaan. Padahal – anehnya – produk yang dijual bernama obligasi (yang arti harafiahnya adalah: kewajiban, atau obligation dalam bahasa Inggris). Optimisme di aspek penjualan (sales) perlu diimbangi dengan ulasan di sisi kewajiban secara proporsional, sehingga realitas yang hendak diberitakan bakal lebih mencakup.

***

     Kekuasaan media-massa terletak dalam kemampuannya menentukan, dan dengan demikian mendefinisikan, apa dan siapa yang penting untuk diketahui publik (layak diberitakan), apa yang dianggap benar (membentuk opini publik), juga secara aksiologis ikut merumuskan pembentukan nilai-nilai apa yang dianggapbaik atau buruk. Persoalannya, seperti disitir Neil Postman (“Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Business”, 1985), kita tidak dapat mengukur suatu budaya dengan output topik remeh temeh, melainkan dengan apa yang dianggap penting. Maka media-massa adalah juga sebagai epistemologi. Penjelasan Postman,bahwa epistemologi adalah suatu subyek yang kompleks yang berurusan dengan asal-usul pengetahuan. Bagian dari pembahasannya yang relevan di sini adalah berbagai definisi kebenaran dan sumber-sumber semua definisi tersebut dibentuk oleh karakter media komunikasi yang melalui mana informasi dilayangkan. Singkatnya, media-massa memengaruhi epistemologi kita.

***

     Tatkala kepemimpinan nasional sedang disibukkan dengan isu kaburnya “sang bendahara”, di Nusa Dua Bali Hillary Clinton memotivasi para wirausaha muda Indonesia, seperti dilaporkan The Jakarta Post, July 24, 2011, dikatakan, “We are here today because we believe in the power of opportunities and entrepreneurship to transform lives and lift up communities.” Diingatkan pula, “But we need to tackle the obstacles that entrepreneurs face… among others bribing government officials to get permits. By tackling the problems, entrepreneurs could easily start up business and would have global links, while investors would enter a better business climate and have enhanced protection of intellectual property rights.” Dan ia pun berjanji, “We will do anything we can to help you.” Tegas dan mantap nadanya.

     Sementara itu di ibu kota, dengan intonasi memelas: “Nazaruddin, pulanglah!”, begitu pernyataan SBY menyikapi dinamika komunikasi politik yang berkembang ke segala arah (untuk tidak mengatakan kacau balau) akibat kaburnya sang bendahara partai yang sedang berkuasa. Entah ia kabur ke mana, kabarnya ke negeri jiran yang tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Komunikasi politik lokal telah bergeser masuk ke kancah internasional gara-gara sang buron melintas batas demarkasi. Situasi makin heboh tatkala sang buron malah diwawancara langsung di hadapan publik kecil (The Jakarta Lawyers Club) dan serentak juga disimak publik besar (pemirsa TVOne). Wawancara interlokal (yang diduga dari Singapura), selain menghebohkan dari dimensi sosial-politik, di sisi lain juga telah mengirim sinyal pemasaran-internasional bahwa Singapura adalah lokasi yang aman bagi mereka yang mau menginvestasikan uangnya. Negeri kecil ini kebal dan tidak bisa didikte sekalipun oleh tetangganya yang besar.

     Pernyataan sikap yang disampaikan dalam sebuah konperensi pers itu telah mengundang pelbagai interpretasi atas tokoh penyampai pesan, maupun atas peristiwa itu sendiri. Banyak opini berkembang, konperensi pers yang walau dibuka dengan justifikasi-posisi, namun akibat tampilannya melewati frame/cara yang agakcengeng, telah membuat sementara publik menilainya sebagai lemah.

     Repotnya, resonansi tampilan realitas kosmetik seperti ini bakal menciptakan kesan inkompetensi yang mengakibatkan gugurnya kepercayaan, basis dari efektivitas kepemimpinan. Quo vadis? 




(twitter: @andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Agustus 2011

Globalisasi dan Hasrat Segitiga

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


"Apabila aku sibuk, gunung memandangku. Apabila aku senggang, aku memandang gunung. Walau kelihatan sama, tapi tak sama. Karena kesibukan lebih rendah dari kesenggangan." - Mitsuhiro menurunkan baris-baris sajak Tsai Wen, dalam novel 'Musashi', buku ke-4, karya Eiji Yoshikawa.

***

Dalam salah satu penerbangan Garuda yang saya tumpangi baru-baru ini, pramugari menyuguhi koran 'The Wall Street Journal' (Friday-Sunday, January 18-20, 2008). Satu tulisan pokok di halaman depan, judulnya sangat menggelitik: "Can Asia escape drag of weak U.S.?" (oleh: Joanna Slater & Antonio Regaland).

Begini paragraf pembukanya: "To escape woes in the U.S., investors have piled into shares in fast growing economies such as China, India and Brazil. Now it looks like these markets might not offer a hoped-for-refuge." Wow, betapa merananya jika para "pengungsi modal" ini kehabisan tempat mengungsi! Di pelataran dunia yang makin mendatar, tak ada lagi tempat lari atau sembunyi. Transparansi bukan lagi soal pilihan dan ignorance adalah proses pembekuan.

Beberapa bulan terakhir, prediksi ekonomi AS rada suram. Para investor mulai bertanya apakah emerging markets mampu melepas gerbongnya (decouple) dari rangkaian kereta ekonomi AS. Dan setelah itu mampu tumbuh terus sesuai harapan walaupun AS sebagai lokomotif ekonomi dunia melemah.

Yang jadi soal, meski emerging markets itu memang semakin berdaya-tahan-mandiri-lentur (resilient), namun pasar modalnya malah makin terhubung-erat dengan ekonomi AS. Kekhawatiran soal resesi AS cukup mencekam dunia. Di awal tahun ini saja, benchmark indexes di pasar saham Korea, Turki dan Brasil turun rata-rata 7% bahkan lebih.

Memang telah cukup lama AS dan Eropa Barat menjadi model pembangunan disusul Jepang, kemudian Korea, Taiwan dan Singapura. Sekarang ada China, India, dan negara jiran Malaysia.

***

Lewat buah pikir Rene Girard tentang mimesis, hasrat segitiga (buku Sindhunata, Kambing Hitam: Teori Rene Girard, 2006), kita sadar bahwa homo-economicus bukan cuma makhluk yang secara ekonomis bisa berhitung rasional, tapi juga makhluk yang memperjuangkan kepentingannya karena meniru keinginan dan hasrat sesamanya. Pada dasarnya, masyarakat sangatlah rawan dan mudah pecah, serta gampang terbenam krisis. Maklum, menurut Girard, dalam masyarakat ini bertakhta rivalitas tiada habis, yang setiap saat bisa menyulut kekerasan.

Mimesis adalah teori hasrat segitiga (triangular desire). Masyarakat Adil Makmur (MAM) seperti diimpikan Bung Karno dalam banyak pidatonya telah merasuk ke sanubari bangsa sebagai gambaran ideal. Kita sebagai subjek punya gagasan ideal tentang MAM, inilah objek pemikiran kita. Namun karena obyek pikiran ini abstrak luar biasa, maka kita perlu mediator sebagai perantara.

Kita sejak kecil menyerap nilai-nilai ideal, misalnya kepahlawanan (heroism). Namun karena konsep kepahlawanan sebagai obyek pikiran rada susah dicerna, maka kita butuh mediator yang berupa tokoh-tokoh (heroes). Pangeran Diponegoro, Gajah Mada, sampai Batman, Superman dan Spiderman, merekalah personifikasi sekaligus mediator kita untuk sampai ke gambaran ideal konsep kepahlawanan.

Maka, hubungan kita dengan para tokoh tadi pada dasarnya adalah pola 'imitiatio', peniruan. Seperti di kecil Joni yang ngotot sama ibunya minta dibelikan kostum Spiderman, yang lalu sepanjang mal berlagak laksana Spiderman betulan, bangga dan merasa gagah, meski sesungguhnya cuma 'imitatio' dari sang mediator.

Kita sebagai subjek punya gambaran ideal MAM sebagai objek, dan AS adalah mediatornya. Dalam perjalanan waktu, bukan lagi subjek, tetapi malahan mediatorlah yang menentukan objek bagi subjek. Dan objek, yang tadinya dihasratkan oleh subjek, terjadi dan ada karena penentuan dan pilihan mediator. Sampai di sini, hubungan subjek-objek tidaklah dalam garis linear langsung, melainkan dalam hubungan segitiga. Hubungan subjek-objek itu selalu harus lewat titik ketiga, yakni mediator. Karena pada akhirnya mediatorlah yang kerap menentukan dan memilihkan objek-objek bagi hasrat subjek, maka Rene Girard sang filsuf, menyebut hubungan segitiga itu sebagai hasrat segitiga (triangular desire).

***

"The world is flat, Indonesia dan AS ada dalam lingkungan yang semakin menyatu  dan transparan. Gerak rivalitas yang naluriah membuat situasinya bisa jadi makin kompleks. Soalnya bukan hanya karena mediator dan subjek yang saling berdekatan dan bisa kontak langsung, tapi terlebih karena baik mediator maupun subjek sama-sama mengingkari peniruannya, menjaga gengsi keaslian dirinya, menyembunyikan imitasinya. Repotnya, justru karena saling jaga gengsi inilah kebencian pun pecah. Dan rivalitas antar mereka tak mungkin dihindari lagi. Hubungan benci tapi rindu ini memang repot. Benci (karena gengsi dan iri) sekaligus rindu (karena kagum). Sangat paradoksal."

Banyak soal yang perlu dicermati. Gunung memandangku, atau akulah yang memandang gunung. Kalau kita cuek, persoalan memandang kita. Kala kita peduli, kitalah yang memandang persoalan, dan mencari jalan keluar.




(tiwtter: @andrewenas)
--------------------------------------------------------------------
Artikel terlampir, dari Majalah MARKETING, edisi Februari 2008

Angka Kecelakaan di USA


Angka kematian akibat kecelakaan kerja di Amerika Serikat semakin meningkat.
The Bureau of Labor Statistics mengeluarkan data final bahwa telah terjadi kenaikan angka kematian akibat kecelakaan kerja sebesar 3% dari perbandingan antara tahun 2009 dan 2010.
Berikut ini adalah rincian jumlah  kasus kematian akibat kecelakaan kerja berdasarkan kejadian/ paparan tahun 2010:
  • Kecelakaan dalam penggunaan alat transportasi : 1857 kasus
  • Penyerangan dan tindak kekerasan: 832 kasus
  • Kontak dengan benda dan peralatan : 738 kasus
  • Jatuh dari ketinggian: 646 kasus
  • Terkena benda yang membahayakan atau berada di lingkungan yang membahayakan: 414 kasus
  • Lain lain: 203 kasus

Berikut ini adalah rincian jumlah  kasus kematian akibat kecelakaan kerja tahun 2010 berdasarkan jenis industri tempat kejadian:
  • Konstruksi: 774 kasus
  • Transportasai dan Pergudangan: 661 kasus
  • Pertanian, Kehutanan, Perikanan, dan Perburuan: 621 kasus
  • Pemerintahan: 484 kasus
  • Jasa Profesional dan Pelayanan Bisnis: 364 kasus
  • Manufaktur: 329 kasus
  • Retail dan Perdagangan: 311 kasus
  • Industri Perhotelan dan Pariwisata: 238 kasus
  • Perdagangan Grosir: 191 kasus

Kota Texas menempati peringkat pertama sebagai kota dengan kasus  kematian akibat kecelakaan kerja tertinggi di angka 456 kasus. Sedangkan peringkat kedua adalah kota California dengan angka 302 kasus.
Apakah para sahabat pro safety ada yang tahu sebabnya, kenapa kasus  kematian akibat kecelakaan kerja di negeri Paman Sam semakin meningkat ?.
Semoga informasi ini dapat menginspirasi para rekan Pro Safety.
Salam Safety

Quo Vadis Strategi Perindustrian Indonesia?

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


“Dalam abad global ini dibutuhkan industri yang tangguh dan
kompetitif. Hanya industri demikianlah yang dapat menjadi pendorong
tumbuhnya perekonomian, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan
pendapatan masyarakat dan akhirnya mengurangi kemiskinan.” – Airlangga
Hartarto, 2004.

***

Paling tidak ada tiga fenomena bisnis global yang terjadi
baru-baru ini dan menarik untuk dicermati. Dikabarkan (The Jakarta
Post, 20 Nov 2010) bahwa LG group bakal meningkatkan investasinya di
Indonesia demi memperkuat dominasinya di pasar elektronik lokal.
Presdir LG Electronic Indonesia, Kim Weon Dae, menegaskan komitmennya,
“We’ll focus on creating a longterm portfolio and financial policies
to become the number one electronic brand in this country.” Dan
menurut  GFK (Growth for Knowledge) sebuah lembaga riset independen
berbasis di Jerman, di tahun 2009 LG telah mendominasi pasar
elektronik Indonesia di 9 kategori: AC, mesin cuci, monitor LCD, TV
LCD,  TV Plasma, Audio home-system, home-theaters, DVD players, dan
Blue-ray DVD players. Untuk kesembilan kategori produk itu (dengan
mempekerjakan 4500 karyawan, 22 kantor cabang yang disertai 174 pusat
layanan purna jual yang tersebar di seantero Indonesia)  LG telah
meraup lebih dari 30 persen dari total pasar elektronik di Indonesia.
Kedua pabriknya di Indonesia selain berperan sebagai basis produksi
untuk pasar lokal juga melayani  pasar global (diekspor). Bahkan
kontribusi ekspornya adalah yang terbesar dalam porsi keseluruhan
ekspor barang elektronik Indonesia yang tahun 2010 ini bakal berkisar
sekitar USD$10 milyar, dimana porsi LG adalah sekitar USD$1,3 milyar
atau 13 persennya.

Fenomena kedua adalah Garuda Indonesia (flag carrier kita) bakal
beraliansi dengan SkyTeam, sebuah aliansi perusahaan penerbangan
internasional. Dengan bergabung dalam aliansi ini Garuda  bisa
menerbangkan penumpang dari para mitra yang tergabung dalam SkyTeam,
dan sebaliknya para penumpang Garuda pun bisa diterbangkan oleh
airlines lainnya. Dengan demikian frekuensi penerbangan Garuda bisa
lebih optimal.

Perusahaan penerbangan yang tergabung dalam SkyTeam ada 13,
yaitu: Aerosoft, Aeromexico, AirEuropa, Air France, Alitalia, China
Southern, Czeh Airlines, Delta Airlines, Kenya Airways, KLM, Korean
Air, TAROM, dan Vietnam Airlines. Tentunya untuk bergabung dalam
aliansi ini Garuda perlu meningkatkan kualifikasinya dulu, misalnya:
punya terminal yang dedicated, serta masih ada 29 kriteria lainnya
yang mencakup jumlah pesawat, ketepatan waktu dan akses bagi para
penumpang menuju bandara. Dan untuk itu, tim Garuda yang dipimpin sang
CEO Emirsyah Satar, telah menjalin kesepakatan dengan PT Angkasa Pura
II yang mengelola bandara antarbangsa SoeTa untuk meningkatkan segala
fasilitasnya di terminal 2E dan 2F.

Fenomena ketiga, adalah terobosan grup Bakrie yang melakukan
tukar guling sahamnya (di BUMI dan BRAU) dengan Vallar Plc, sebuah
perusaaan investasi yang baru saja mencatatkan sahamnya di bursa
London. Di belakang Vallar Plc ternyata ada nama besar dalam dunia
bisnis yaitu Rothschild (Nathaniel Rothschild – yang jadi Co-Chairman
Vallar Plc pasca tukarguling bakal mendampingi Indra Bakrie yang
didapuk jadi Chairman – adalah anak bungsu Jacob Rothschild generasi
keempat keluarga Rothschild). Yang menarik, Nathaniel Rothschild lewat
Vallar Plc yang baru saja (bulan Juli lalu) menjual sahamnya ke public
(IPO) di bursa efek London, berhasil meraup dana US$ 1,07 miliar
(laporan Tabloid Kontan, edisi 22-28 Nov 2010). Bahkan, dalam laporan
keuangan periode enam bulan yang berakhir Sept 2010, Vallar hanya
memperoleh revenue sebesar 772ribu poundsterling, dan lantaran mesti
mengeluarkan biaya sebesar 20,75 juta pound maka perusahaan ini
menanggung rugi bersih sebesar 21,54 juta poundsterling. Luar biasa
sekali, hanya dengan nama besar Rothschild, ia mampu meraup dana
sedemikian besar walau secara relatif perusahaannya belum punya
aktivitas bisnisnya! Sebuah model bisnis yang semata-mata menjual
citra-merek (brand image) Rothschild. Namun bagi grup Bakrie,
kepemilikan di Vallar Plc (yang bakal diubah namanya jadi Bumi Plc)
adalah sekaligus membuka akses – lewat teknik back-door listing ini –
ke sumber-sumber pendanaan di London yang sangat kaya raya.

***

Memang, segala daya upaya akan dilakukan oleh korporasi
(misalnya LG, Garuda & Bakrie/Vallar) – dari mana pun mereka berasal –
untuk senantiasa menjaga business model-nya. Namun yang juga perlu
diingat bagi kita di Indonesia saat ini adalah adanya masalah besar
pengangguran yang sangat urgent untuk dicari solusinya. Pengangguran
adalah soal ekonomi (produktivitas dan daya beli) serta sekaligus
masalah sosial (kriminalitas).

Penyediaan lapangan kerja – pada fase ini – adalah dengan jalan
perindustrian. Karena itulah, investasi sektor perindustrian perlu
segera – secara menyeluruh dan koheren – dikerjakan oleh Indonesia
Incorporated. Namun sayangnya kita juga mendengar tentang cukup banyak
korporasi yang merelokasi pabriknya ke luar Indonesia (lantaran
hambatan-gangguan di pelbagai aspek, termasuk ekonomi biaya tinggi).
Terjadi semacam gerak deindustrialisasi! Untuk itu kita mungkin perlu
merenungkan kembali apa yang pernah dilansir oleh Airlangga Hartarto
(bukunya: ‘Strategi Clustering dalam Industrialisasi  Indonesia’,
2004), “Agaknya deindustrialisasi di Indonesia bukanlah proses alami
dari majunya perekonomian. Ini lebih merupakan gejala memburuknya
dunia industri, hancurnya daya saing serta pengelolaan kebijakan
industri yang buruk dan tanpa arah.” Quo Vadis?

Selamat natal dan tahun baru 2011.



(twitter@andrewenas)
-------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Januari 2011

13 Tweets Tentang Kecelakaan Pesawat


Apa saja 13 tweets tentang data dan fakta seputar kecelakaan pesawat ?
http://lorco.co.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif
Berikut ini adalah 13 tweets dari twitter @kaptenlorco tentang data dan fakta seputar kecelakaan pesawat dan keselamatan penerbangan dengan model data dari Negeri Paman Sam.
1.      Pernahkah Anda berpikir tidak ada harapan selamat jika pesawat yang Anda tumpangi mengalami kecelakaan? #flyingsafety
2.      Fakta: Terjadi 568 kecelakan pesawat terbang dari tahun 1980 hingga 2000 di AS dan lebih dari 95.7 % penumpangnya SELAMAT! #flyingsafety
3.      Prof. Arnold Barnett dari MIT: Kemungkinan Anda meninggal saat naik pesawat di AS adalah  1 per 35 juta penerbangan. #flyingsafety
4.      Jika Anda terbang ke negara maju (misalnya Eropa), angka kematiannya adalah 1 per 10 jutapenerbangan. #flyingsafety
5.      Dan jika Anda terbang ke negara dunia ke-tiga (misalnya Afrika), angka kematiannya adalah 1 per 2 juta penerbangan. #flyingsafety
6.      Fakta: Selama tahun 2000, terdapat 18 juta penerbangan berpenumpang 1.09 milyar dan hanya terjadi 20 kecelakan fatal. #flyingsafety
7.      Berdasarkan hitungan, resiko menjadi korban kecelakaan pesawat adalah 1 per 3 jutapenerbangan. #flyingsafety
8.      3 juta penerbangan sama dengan Anda terbang sekali setiap hari selama lebih dari 8200 tahun. #flyingsafety
9.      Hasil studi U.S. National Safety Council: naik pesawat terbang 22 kali lebih aman daripada naik mobil. #flyingsafety
10.  Fakta: Angka kematian kecelakaan pesawat selama 60 tahun lebih sedikit daripada kecelakaan mobil selama 3 bulan. #flyingsafety
11.  Fakta: Selama tahun 2000, terjadi 41.800 kematian karena kecelakaan mobil dan hanya 878akibat kecelakaan pesawat. #flyingsafety
12.  Angka kecelakaan pesawat 30 tahun yang lalu:1 per 140 juta mil perjalanan, hari ini: 1 per 1.4 miliar mil penerbangan. #flyingsafety
13.  Semoga tingkat keselamatan penerbangan semakin meningkat dan Anda memiliki peran untuk mewujudkan hal itu. #flyingsafety
Semoga para sahabat Pro Safety bisa terinspirasi.
Salam Safety
By Afiyan
Sumber: www.Lorco.co.id

Related Posts