Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)
Siapa yang tidak kenal merek Intel. Hampir semua komputer ada tulisan “Intel
Inside”, artinya chips (microprocessor) di dalamnya adalah buatan Intel. Pendek
kata, Intel merajai pasaran chips komputer dunia. Namun, kenalkah Anda dengan
Andrew Grove, orang yang telah memimpin dan membawa Intel sampai sehebat
sekarang ini.
Dalam 11 tahun masa kepemimpinan Andrew Grove (1987-1998) Intel mematri
dirinya sebagai perusahaan chipmaker terbesar di dunia. Dalam ranking ‘The Most
Admired Company’ (perusahaan paling dikagumi) di Amerika Serikat menempati
posisi ke lima. Juga dalam ranking perusahaan paling menguntungkan (Most
Profitable Company) versi Fortune500 menempati posisi ke tujuh.
Saya sendiri sangat mengagumi sosok yang sangat inspiratif ini. Ia juga
teladan para intelektual praktis, kemampuannya mensinergikan karir akademik
dengan karir bisnisnya mengagumkan. Selain mengajar manajemen strategik di
Stanford University, Andrew Grove juga rajin menulis kolom di media-massa dan
menulis buku. Kisahnya mungkin juga bisa menginspirasi Bung Sonny dalam
mempertahankan bisnisnya bahkan mengembangkan terus.
Dua bukunya menarik disimak, High Output Management (1983) dan Only The
Paranoid Survive (1998). Pelajaran yang bisa kita simak dari bukunya yang
pertama – tentang output manajemen - sebenarnya sederhana saja, namun sayangnya
masih banyak para manajer yang salah menanggapinya. Ceritanya singkatnya begini:
Suatu ketika Grove mengumpulkan para manajer di perusahaan Intel, dan
me-review mereka dengan pertanyaan tentang output manajemen (achievement). Dan
jawaban mereka rata-rata masih berkutat pada aktivitas individual yang mereka
lakukan, bukannya output yang dihasilkan oleh timnya. Padahal manajemen adalah
permainan tim, “the game of management is a team game.” Output seorang manajer
bukanlah output individual sang manajer, melainkan output dari unit di bawah
supervisi atau pengaruh sang manajer.
Pendelegasian yang disertai empowering merupakan sebagian cara untuk
meningkatkan output manajer. Grove sendiri tidak mengukur output dirinya dengan
ukuran aktivitas pribadinya, melainkan dari output orang-orang yang dipimpinnya.
Menurutnya, tugas terpenting seorang pemimpin adalah berupaya mendapatkan
kinerja terbaik dari para stafnya. Mereka mesti diseleksi, dimotivasi, dilatih
dan diberikan sasaran-sasaran yang menantang, dinilai (review), dan dihargai
oleh seorang pemimpin yang mampu memberikan teladan pribadi yang kuat.
Dari buku kedua, kita belajar dari Andrew Grove bahwa sifat paranoia (selalu
cemas, gelisah dan resah) dalam konteks yang positif sangat diperlukan untuk
menghadapi sederetan rival bisnis yang senantiasa mengintai. Sifat paranoia ini
membuatnya senantiasa berjaga dan waspada terhadap berbagai ancaman yang
mengintai. Grove juga menginstruksikan bawahannya untuk bersikap yang sama.
Istilah manajemen perubahan modern adalah : menciptakan situasi ‘burning
platform’ (tempat berdiri yang terbakar). Maksudnya, senantiasa berpikir tentang
contingency-plan (rencana cadangan, alternatif jalan keluar). Berpikir dua-tiga
langkah ke depan dan kreatif.
Andrew Grove menggunakan sikap kegelisahannya demi mendorong para manajernya
bersikap tanggap dan peka terhadap perubahan. Memikirkan setiap aspek dari
bisnisnya, kemungkinan produk yang rusak atau layanan yang cacat (defect),
kemungkinan kemerosotan kinerja pabrik, berjaga-jaga terhadap kemungkinan
pesaing bakal mampu menemukan cara yang lebih baik dan lebih murah, dan
seterusnya.
Kepribadiannya yang bergairah, tegas, dan ambisius terbukti sangatlah cocok
dengan iklim persaingan keras di lembah Silicon. Anda juga bisa. Bersiaplah
untuk sukses.
(twitter@andrewenas)
---------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN, April 2007
Sunday, July 15, 2012
Keputusan Tiga Generasi
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)
"Insta, opportune, importune: argue obsecra, increpa in omni patientia." Siap
sedialah, baik atau pun tidak baik waktunya, nyatakan apa yang salah, tegurlah
dan nasehatilah dengan segala kesabaran. Begitu nasihat cendekiawan bernama
Paulus alias Saulus kepada santrinya Timotius di sebuah padepokan (pesantren)
Yahudi di kawasan Timur Tengah, kira-kira 2000 tahun lalu.
***
Konon katanya, bangsa Yahudi ini pandai, kohesif serta berdaya-tahan tinggi
lantaran pikiran mereka tatkala mengambil keputusan selalu mengacu dan
memperhitungkan dampaknya bagi 3 generasi ke depan (demi anak-cucu-cicit),
sekaligus berefleksi kepada 3 generasi ke belakang mempertimbangkan warisan
kebijaksanaan nenek moyang yang sangat dihormati dalam tradisi Yahudi.
Terlepas dari betul tidaknya soal di atas, saya sempat tercenung. Kisah
bobroknya moral bangsa lewat fenomena BLBI, KKN, skandal pejabat, lumpur
Lapindo, pembalakan hutan, global-warming, banjir, dll, bukanlah peristiwa yang
masing-masing eksklusif berdiri sendiri. Ada suatu pola umum yang jadi konteks
bagi itu semua.
Lantaran sempitnya cara pandang dan spektrum pemikiran yang pendek membawa
konsekuensi gawat. Walaupun – celakanya – memang tidak mudah membedakan
keputusan berdampak positif bagi 2 sampai 3 generasi ke depan. Seringkali
keputusan berdampak positif dalam jangka panjang ini malahan sering tidak
popular di jangka pendek. Sebaliknya, keputusan-keputusan nyaman di jangka
pendek bisa jadi sangat popular, walaupun pada galibnya ia menyimpan bom waktu
bagi anak-cucu. Di sinilah ‘tantangan & ketegangan kepemimpinan sejati’ (the
true leadership challenges & tensions) diuji.
Cara pandang, mind-set atau paradigma adalah seperti peta-mental, sehingga
krusial dalam meniti perziarahan hidup. Di jaman serba instan ini (seminar kiat
cepat kaya adalah yang paling laris!) maka caveat dari Al Gore patut kita simak,
“Our perspective is badly foreshortened in another way as well. Too often we are
unwilling to look beyond ourselves to see the effect of our action today on our
children and grandchildren. I am convinced that many people have lost their
faith in the future, because virtually every facet of our civilization we are
beginning to act as if our future is now so much in doubt that it makes more
sense to focus exclusively on our current needs and short term problems. This
growing tendency to discount the value of investments made for the long term –
whether of wealth, effort, or caution…” (Al Gore, Earth In The Balance, Ecology
and The Human Spirit, 1992).
***
Strategi sesungguhnya adalah soal komitmen. Donald N. Sull (bukunya: Why Good
Companies Go Bad and How Great Managers Remake Them, 2005), merumuskan
komitmen ke dalam 5 kategori: 1) Strategic frames. Inilah mental-models yang
mempengaruhi cara pandang seorang dalam melihat dunianya. 2) Resources. Segala
sumber daya mesti dijahit ke dalam strategi, sehingga bisa memastikan perusahaan
bakal mampu melompat ke depan. 3) Processes. Setiap prosedur dan aktivitas yang
menjamin pekerjaan beres. 4) Relationships. Relasi yang terbangun baik niscaya
memperlancar organisasi mengakses segala sumber-daya yang dibutuhkan. 5) Values.
Tatanan nilai adalah norma-norma yang mengikat sekaligus menginspirasi anggota
organisasi.
Kelima komitmen atau strategi berdaya tahan lama ini harus dibentang jauh ke
depan namun tanpa kehilangan perspektif historisnya. Jangan sampai pembangunan
dilakukan dengan “merampok” masa depan anak-cucu kita. Isu lingkungan hidup
dalam peradaban global adalah cerminan paling gamblang, namun
dalam dunia korporasi hal ini pun relevan. Dunia dan korporasi macam apa yang
akan kita warisi pada anak-cucu?
Panggilan kepemimpinan yang sejati adalah panggilan kenabian (prophetic call).
Kata prophet dalam bahasa Inggris rupanya berasal dari bahasa Yunani prophete,
yang terdiri dari 2 suku kata: phemi (bicara) dan pro (sebelumnya). Jadi nabi
bicara sebelum segala sesuatu terjadi! Tanpa tercerabut dari historisitasnya,
pemimpin kelas dunia punya cara pandang visioner, tembus jaman. Spektrum
pemikiran saat mengambil keputusan merentang jauh ke masa depan dan sekaligus
bersauh jauh ke sejarah dan kekayaan tradisi.
Konsekuensinya, terhadap mal-praktek kepemimpinan, Anda yang telah tercerahkan
(berkat erudisi maupun fusi budaya) terpanggil untuk berani menyatakan apa yang
salah, menegur dan menasehati dengan segala kesabaran. Maju menjelang tugas
kepemimpinan Anda, baik atau pun tidak baik waktunya. Siap
sedia setiap saat, ini soal komitmen.
(twitter@andrewenas)
------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Maret 2008
(twitter@andrewenas)
"Insta, opportune, importune: argue obsecra, increpa in omni patientia." Siap
sedialah, baik atau pun tidak baik waktunya, nyatakan apa yang salah, tegurlah
dan nasehatilah dengan segala kesabaran. Begitu nasihat cendekiawan bernama
Paulus alias Saulus kepada santrinya Timotius di sebuah padepokan (pesantren)
Yahudi di kawasan Timur Tengah, kira-kira 2000 tahun lalu.
***
Konon katanya, bangsa Yahudi ini pandai, kohesif serta berdaya-tahan tinggi
lantaran pikiran mereka tatkala mengambil keputusan selalu mengacu dan
memperhitungkan dampaknya bagi 3 generasi ke depan (demi anak-cucu-cicit),
sekaligus berefleksi kepada 3 generasi ke belakang mempertimbangkan warisan
kebijaksanaan nenek moyang yang sangat dihormati dalam tradisi Yahudi.
Terlepas dari betul tidaknya soal di atas, saya sempat tercenung. Kisah
bobroknya moral bangsa lewat fenomena BLBI, KKN, skandal pejabat, lumpur
Lapindo, pembalakan hutan, global-warming, banjir, dll, bukanlah peristiwa yang
masing-masing eksklusif berdiri sendiri. Ada suatu pola umum yang jadi konteks
bagi itu semua.
Lantaran sempitnya cara pandang dan spektrum pemikiran yang pendek membawa
konsekuensi gawat. Walaupun – celakanya – memang tidak mudah membedakan
keputusan berdampak positif bagi 2 sampai 3 generasi ke depan. Seringkali
keputusan berdampak positif dalam jangka panjang ini malahan sering tidak
popular di jangka pendek. Sebaliknya, keputusan-keputusan nyaman di jangka
pendek bisa jadi sangat popular, walaupun pada galibnya ia menyimpan bom waktu
bagi anak-cucu. Di sinilah ‘tantangan & ketegangan kepemimpinan sejati’ (the
true leadership challenges & tensions) diuji.
Cara pandang, mind-set atau paradigma adalah seperti peta-mental, sehingga
krusial dalam meniti perziarahan hidup. Di jaman serba instan ini (seminar kiat
cepat kaya adalah yang paling laris!) maka caveat dari Al Gore patut kita simak,
“Our perspective is badly foreshortened in another way as well. Too often we are
unwilling to look beyond ourselves to see the effect of our action today on our
children and grandchildren. I am convinced that many people have lost their
faith in the future, because virtually every facet of our civilization we are
beginning to act as if our future is now so much in doubt that it makes more
sense to focus exclusively on our current needs and short term problems. This
growing tendency to discount the value of investments made for the long term –
whether of wealth, effort, or caution…” (Al Gore, Earth In The Balance, Ecology
and The Human Spirit, 1992).
***
Strategi sesungguhnya adalah soal komitmen. Donald N. Sull (bukunya: Why Good
Companies Go Bad and How Great Managers Remake Them, 2005), merumuskan
komitmen ke dalam 5 kategori: 1) Strategic frames. Inilah mental-models yang
mempengaruhi cara pandang seorang dalam melihat dunianya. 2) Resources. Segala
sumber daya mesti dijahit ke dalam strategi, sehingga bisa memastikan perusahaan
bakal mampu melompat ke depan. 3) Processes. Setiap prosedur dan aktivitas yang
menjamin pekerjaan beres. 4) Relationships. Relasi yang terbangun baik niscaya
memperlancar organisasi mengakses segala sumber-daya yang dibutuhkan. 5) Values.
Tatanan nilai adalah norma-norma yang mengikat sekaligus menginspirasi anggota
organisasi.
Kelima komitmen atau strategi berdaya tahan lama ini harus dibentang jauh ke
depan namun tanpa kehilangan perspektif historisnya. Jangan sampai pembangunan
dilakukan dengan “merampok” masa depan anak-cucu kita. Isu lingkungan hidup
dalam peradaban global adalah cerminan paling gamblang, namun
dalam dunia korporasi hal ini pun relevan. Dunia dan korporasi macam apa yang
akan kita warisi pada anak-cucu?
Panggilan kepemimpinan yang sejati adalah panggilan kenabian (prophetic call).
Kata prophet dalam bahasa Inggris rupanya berasal dari bahasa Yunani prophete,
yang terdiri dari 2 suku kata: phemi (bicara) dan pro (sebelumnya). Jadi nabi
bicara sebelum segala sesuatu terjadi! Tanpa tercerabut dari historisitasnya,
pemimpin kelas dunia punya cara pandang visioner, tembus jaman. Spektrum
pemikiran saat mengambil keputusan merentang jauh ke masa depan dan sekaligus
bersauh jauh ke sejarah dan kekayaan tradisi.
Konsekuensinya, terhadap mal-praktek kepemimpinan, Anda yang telah tercerahkan
(berkat erudisi maupun fusi budaya) terpanggil untuk berani menyatakan apa yang
salah, menegur dan menasehati dengan segala kesabaran. Maju menjelang tugas
kepemimpinan Anda, baik atau pun tidak baik waktunya. Siap
sedia setiap saat, ini soal komitmen.
(twitter@andrewenas)
------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Maret 2008
Pengembangan Jejaring
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)
Sebagai seorang pedagang (trader), peran Anda sangatlah menuntut
kreatifitas dan kemampuan mengorganisir beberapa pemain bisnis sekaligus.
Melewati fase perintisan, tugas Anda sang business-leader memang
menumbuh-kembangkannya menjadi berskala besar, bahkan – mengapa tidak –
berskala global.
Apa yang dibagikan Victor Fung, William Fung & Yoram (Jerry) Wind (dalam
buku mereka: Competing in a Flat World, Building Enterprise for a Borderless
World, 2008) bisa jadi panduan para pemain tengah (trading company). Walaupun
awalnya bergerak sebagai pedagang, di dalam era dunia yang semakin mendatar - di
mana para pemain baru dari pelbagai sudut bumi serentak bisa ikut masuk ke dalam
kancah persaingan – maka Anda pun harus berpikir untuk senantiasa menciptakan
nilai tambah bagi setiap pemain yang ada dalam konfigurasi jejaring yang sedang
Anda orkestrasi.
Pertanyaan mendasar yang perlu selalu ditanyakan pada diri sendiri: mengapa
para produsen harus menjual melalui perusahaan/organisasi kita? Dan, mengapa
para pelanggan mesti membeli lewat perantaraan kita? Apa nilai tambah yang
mereka terima (perceived-value) jika berbisnis dengan (melalui) jasa-jasa kita?
Dengan dipicu oleh perkembangan teknologi komunikasi (internet,
digitalisasi informasi) dan teknologi pengelolaan-rantai-pasok
(supply-chain-management) skala global yang makin canggih, para pebisnis semakin
dimungkinkan untuk berselancar di dunia maya dalam rangka mencari mitra pemasok
dan sekaligus pembeli potensial dari dan ke seluruh dunia.
Dengan mengkoordinasikan para pendukung lain, misalnya: surveyor,
transporter, logistik-pergudangan, forwader dan packaging, lalu juga
mendayagunakan optimal fasilitas perbankan dan intrumen derivatif perdagangan,
niscaya kesempatan bisnis Anda untuk terus bertumbuh semakin besar. Di samping
aspek mengembangkan sistem organisasi dan membangun kompetensi orang-orang
(karyawan).
Ada tiga peran yang mesti diolah dengan baik oleh orkestrator sebuah
network bisnis: 1) Design and manage networks, merancang dan mengelola
jejaringnya, 2) Control through empowerment, pengendalian melalui pemberdayaan
3) Create value through integration, menciptakan nilai lewat integrasi.
Pertama, merancang dan mengelola jejaring. Jaman sekarang, persaingan usaha
bukan Cuma antar satu perusahaan dengan perusahaan saingannya. Melainkan
kekuatan jejaring suatu perusahan versus kapabilitas jejaring dari pesaing.
Networks compete against networks. Maka siapa pun yang paling mumpuni mengelola
rantai-pasok (supply-chain)nya, maka dialah yang bakal jadi pemenang. Tugas
konduktor adalah mengorkestrasi jejaring yang seluas mungkin, lalu mengupayakan
terjadinya rantai-pasok yang paling efektif dan efisien.
Kedua, pengendalian melalui pemberdayaan. Menimbang bahwa sentra
produksinya bukan milik Anda sendiri, maka diperlukan suatu model kepemimpinan
dan pengendalian yang berbeda dengan cara konvensional. Pertanyaannya, apa sih
faktor utama yang membuat anggota jejaring itu kohesif dan saling terikat?
Jawabnya, kombinasi rewards (imbalan), empowerments (pemberdayaan) dan trust
(kepercayaan), di samping tentunya pelatihan dan sertifikasi demi pengembangan
kompetensi. Sang konduktor (orkestrator) mungkin saja tidak bisa memecat atau
merekrut orang di masing-masing perusahaan anggota jejaring Anda, tetapi – ini
yang terpenting – Anda mengkoordinasikan sekumpulan orang berkompetensi tinggi
dan independen.
Ketiga menciptakan nilai lewat integrasi. Jika dalam format industri jaman
dulu nilai diciptakan lewat spesialisasi, maka bagi Anda para trader di dunia
yang semakin datar, nilai tambah yang Anda ciptakan datangnya lewat integrasi.
Menjadi penghubung sekaligus mampu mengungkit (leveraging) asset perusahaan
melalui jejaring yang Anda bangun dan kelola.
Bersiaplah untuk sukses.
(twitter@andrewenas)
-------------------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN, Minggu I, April 2008
(twitter@andrewenas)
Sebagai seorang pedagang (trader), peran Anda sangatlah menuntut
kreatifitas dan kemampuan mengorganisir beberapa pemain bisnis sekaligus.
Melewati fase perintisan, tugas Anda sang business-leader memang
menumbuh-kembangkannya menjadi berskala besar, bahkan – mengapa tidak –
berskala global.
Apa yang dibagikan Victor Fung, William Fung & Yoram (Jerry) Wind (dalam
buku mereka: Competing in a Flat World, Building Enterprise for a Borderless
World, 2008) bisa jadi panduan para pemain tengah (trading company). Walaupun
awalnya bergerak sebagai pedagang, di dalam era dunia yang semakin mendatar - di
mana para pemain baru dari pelbagai sudut bumi serentak bisa ikut masuk ke dalam
kancah persaingan – maka Anda pun harus berpikir untuk senantiasa menciptakan
nilai tambah bagi setiap pemain yang ada dalam konfigurasi jejaring yang sedang
Anda orkestrasi.
Pertanyaan mendasar yang perlu selalu ditanyakan pada diri sendiri: mengapa
para produsen harus menjual melalui perusahaan/organisasi kita? Dan, mengapa
para pelanggan mesti membeli lewat perantaraan kita? Apa nilai tambah yang
mereka terima (perceived-value) jika berbisnis dengan (melalui) jasa-jasa kita?
Dengan dipicu oleh perkembangan teknologi komunikasi (internet,
digitalisasi informasi) dan teknologi pengelolaan-rantai-pasok
(supply-chain-management) skala global yang makin canggih, para pebisnis semakin
dimungkinkan untuk berselancar di dunia maya dalam rangka mencari mitra pemasok
dan sekaligus pembeli potensial dari dan ke seluruh dunia.
Dengan mengkoordinasikan para pendukung lain, misalnya: surveyor,
transporter, logistik-pergudangan, forwader dan packaging, lalu juga
mendayagunakan optimal fasilitas perbankan dan intrumen derivatif perdagangan,
niscaya kesempatan bisnis Anda untuk terus bertumbuh semakin besar. Di samping
aspek mengembangkan sistem organisasi dan membangun kompetensi orang-orang
(karyawan).
Ada tiga peran yang mesti diolah dengan baik oleh orkestrator sebuah
network bisnis: 1) Design and manage networks, merancang dan mengelola
jejaringnya, 2) Control through empowerment, pengendalian melalui pemberdayaan
3) Create value through integration, menciptakan nilai lewat integrasi.
Pertama, merancang dan mengelola jejaring. Jaman sekarang, persaingan usaha
bukan Cuma antar satu perusahaan dengan perusahaan saingannya. Melainkan
kekuatan jejaring suatu perusahan versus kapabilitas jejaring dari pesaing.
Networks compete against networks. Maka siapa pun yang paling mumpuni mengelola
rantai-pasok (supply-chain)nya, maka dialah yang bakal jadi pemenang. Tugas
konduktor adalah mengorkestrasi jejaring yang seluas mungkin, lalu mengupayakan
terjadinya rantai-pasok yang paling efektif dan efisien.
Kedua, pengendalian melalui pemberdayaan. Menimbang bahwa sentra
produksinya bukan milik Anda sendiri, maka diperlukan suatu model kepemimpinan
dan pengendalian yang berbeda dengan cara konvensional. Pertanyaannya, apa sih
faktor utama yang membuat anggota jejaring itu kohesif dan saling terikat?
Jawabnya, kombinasi rewards (imbalan), empowerments (pemberdayaan) dan trust
(kepercayaan), di samping tentunya pelatihan dan sertifikasi demi pengembangan
kompetensi. Sang konduktor (orkestrator) mungkin saja tidak bisa memecat atau
merekrut orang di masing-masing perusahaan anggota jejaring Anda, tetapi – ini
yang terpenting – Anda mengkoordinasikan sekumpulan orang berkompetensi tinggi
dan independen.
Ketiga menciptakan nilai lewat integrasi. Jika dalam format industri jaman
dulu nilai diciptakan lewat spesialisasi, maka bagi Anda para trader di dunia
yang semakin datar, nilai tambah yang Anda ciptakan datangnya lewat integrasi.
Menjadi penghubung sekaligus mampu mengungkit (leveraging) asset perusahaan
melalui jejaring yang Anda bangun dan kelola.
Bersiaplah untuk sukses.
(twitter@andrewenas)
-------------------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN, Minggu I, April 2008
Banalitas dalam Arus Globalisasi
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)
“Da spatium tenuemque moram, male cuncta ministrant impetus.” (berilah ruang,
kelapangan, dan jeda; yang serba tergesa-gesa menyebabkan semuanya menjadi
buruk) – pepatah Latin.
***
Di jaman serba instan di mana dunia nampak tergopoh-gopoh, melatih kebiasaan
berpikir secara mendasar dan menghargai proses malah terlihat renta, tidak
relevan dan ketinggalan jaman. Kiat-kiat praktis marak dipasarkan (supply)
lantaran itu yang diminta orang (demand), walau tanpa disadari hidup yang
digantungkan hanya pada kiat-kiat praktis pada gilirannya bakalan menjadi tidak
praktis lagi nantinya. Banalitas adalah realitas kontemporer.
Metode pemecahan masalah yang hanya menyisir tepian masalah (periferal) tanpa
pernah menukik ke kedalaman (hakekat) segala sesuatu, pada galibnya tidaklah
memahami masalah yang sesungguhnya alih-alih menyelesaikannya. Ia cuma
menghilangkan symptom sakit kepala, tanpa sadar bahwa akar masalahnya ada di
kanker yang perlu dibedah tuntas.
Obyek pemikiran memang tidak pernah sederhana, maka “Dalam rangka untuk
mengenal benar-benar obyek semacam itu, seseorang harus dengan rajin
memperhatikan semua seginya, membanding-bandingkan apa yang telah dilihatnya,
dan selalu melihat serta menganalisis obyek tersebut dari berbagai-bagai
pendirian yang berbeda. Kesemuanya ini adalah berpikir.” (J.M. Bochenski, 1972).
***
“Ekonomi-global” adalah realitas sosial kontemporer, sedangkan
“globalisasi-ekonomi” adalah programa sistematis gerakan neoliberal. Dua konsep
yang kedengarannya mirip tapi hakekatnya berbeda. Para pemasar yang berasal dari
perusahaan nasional dan yang tergabung dalam perusahaan multinasional tentu
punya paradigma berbeda meski keduanya sama-sama orang Indonesia. Struktur
sosial di mana kedua agensi itu beroperasi berbeda, meskipun keduanya berada di
satu negara yang sama. Globalisasi telah mengikis batas demarkasi teritori
bangsa.
Baiklah disadari bahwa ketika sistem perekonomian suatu bangsa terintegrasi
dengan pasar global, maka ia tidak lagi steril terhadap pengaruh maupun
kepentingan politik dan ekonomi eksternal. Prof. Dr. Budi Winarno (bukunya:
Globalisasi, Peluang atau Ancaman bagi Indonesia, 2008) dengan mengutip Geofrey
Garret (Global Markets and National Politics, 2000) menyebutkan tiga mekanisme
bagaimana pengaruh eksternal itu berdampak pada ekonomi nasional, yakni: 1)
tekanan perdagangan yang semakin kompetitif, 2) multinasionalisasi produksi, dan
3) integrasi pasar keuangan.
Mekanisme pertama, intensitas kompetisi perdagangan yang semakin meningkat
adalah unsur pokok dari tesis globalisasi konvensional. Meskipun tesis
meningginya intensitas perdagangan ini sudah diterima umum, sesungguhnya
kompetisi global yang terjadi bukan hanya isu perdagangan, tapi juga soal
memperebutkan investasi. MNC (multi-national corporations) dan global investment
capital hanya akan mengalir ke wilayah yang menguntungkan (buat mereka) dan
menawarkan (kepada mereka) insentif terbaik.
Kedua, multinasionalisasi produksi. Termasuk di dalamnya resiko (ancaman) MNC
yang dengan mudah bisa memindahkan lokasi produksi dari satu negara ke negara
lain (dalam rangka optimalisasi profitabilitas, return on investment). Dalam
konteks ekonomi global ini, pembedaan antara “kita” dan “mereka” tidak lagi
terjadi antar-negara, tetapi lebih bersifat antar-warganegara dan MNC yang
beroperasi di dalamnya, terlepas dari/di negara mana mereka berdiri. Konsekuensi
bagi pemerintah adalah aplikasi kebijakan pasar bebas, sebagai prasyarat
memenangkan kompetisi menggaet investasi MNC demi membuka lapangan kerja.
Ketiga, integrasi pasar finansial global. Pasar dunia semakin terkoneksi dan
terintegrasi satu sama lain. Akibatnya – seperti kita ketahui dan alami bersama
– gejolak mata uang (dan ekonomi) di suatu negara akan mengimbas ke lain
wilayah. Bencana sub-prime mortgage di AS sampai terjadinya krisis ekonomi dunia
saat ini adalah verifikasi interdependensi ekonomi global.
Akhirnya disimpulkan bahwa globalisasi berwajah plural dan tidak bisa dilihat
secara fragmentaris. Sebagai sebuah fenomena sosial, ekonomi dan politik,
globalisasi membawa hal positif sekaligus negatif, peluang sekaligus ancaman.
Untuk menyikapi globalisasi secara adekuat niscaya dibutuhkan daya kritis yang
tidak menggampangkan persoalan hanya dengan kiat-kiat manajemen praktis semata.
Dibutuhkan reformasi cara berpikir dan cara bertindak. Yang jelas, banalitas
bukanlah rutenya.
Bulan Desember adalah saat kita melakukan retrospeksi dan introspeksi untuk
mengambil pelajaran demi menyongsong tahun yang baru. 'Benedictus qui venit
in nomine domini' (diberkatilah yang datang atas nama Tuhan). Selamat
Natal, damai di bumi dan damai di hati.
(twitter@andrewenas)
-----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Desember 2008
(twitter@andrewenas)
“Da spatium tenuemque moram, male cuncta ministrant impetus.” (berilah ruang,
kelapangan, dan jeda; yang serba tergesa-gesa menyebabkan semuanya menjadi
buruk) – pepatah Latin.
***
Di jaman serba instan di mana dunia nampak tergopoh-gopoh, melatih kebiasaan
berpikir secara mendasar dan menghargai proses malah terlihat renta, tidak
relevan dan ketinggalan jaman. Kiat-kiat praktis marak dipasarkan (supply)
lantaran itu yang diminta orang (demand), walau tanpa disadari hidup yang
digantungkan hanya pada kiat-kiat praktis pada gilirannya bakalan menjadi tidak
praktis lagi nantinya. Banalitas adalah realitas kontemporer.
Metode pemecahan masalah yang hanya menyisir tepian masalah (periferal) tanpa
pernah menukik ke kedalaman (hakekat) segala sesuatu, pada galibnya tidaklah
memahami masalah yang sesungguhnya alih-alih menyelesaikannya. Ia cuma
menghilangkan symptom sakit kepala, tanpa sadar bahwa akar masalahnya ada di
kanker yang perlu dibedah tuntas.
Obyek pemikiran memang tidak pernah sederhana, maka “Dalam rangka untuk
mengenal benar-benar obyek semacam itu, seseorang harus dengan rajin
memperhatikan semua seginya, membanding-bandingkan apa yang telah dilihatnya,
dan selalu melihat serta menganalisis obyek tersebut dari berbagai-bagai
pendirian yang berbeda. Kesemuanya ini adalah berpikir.” (J.M. Bochenski, 1972).
***
“Ekonomi-global” adalah realitas sosial kontemporer, sedangkan
“globalisasi-ekonomi” adalah programa sistematis gerakan neoliberal. Dua konsep
yang kedengarannya mirip tapi hakekatnya berbeda. Para pemasar yang berasal dari
perusahaan nasional dan yang tergabung dalam perusahaan multinasional tentu
punya paradigma berbeda meski keduanya sama-sama orang Indonesia. Struktur
sosial di mana kedua agensi itu beroperasi berbeda, meskipun keduanya berada di
satu negara yang sama. Globalisasi telah mengikis batas demarkasi teritori
bangsa.
Baiklah disadari bahwa ketika sistem perekonomian suatu bangsa terintegrasi
dengan pasar global, maka ia tidak lagi steril terhadap pengaruh maupun
kepentingan politik dan ekonomi eksternal. Prof. Dr. Budi Winarno (bukunya:
Globalisasi, Peluang atau Ancaman bagi Indonesia, 2008) dengan mengutip Geofrey
Garret (Global Markets and National Politics, 2000) menyebutkan tiga mekanisme
bagaimana pengaruh eksternal itu berdampak pada ekonomi nasional, yakni: 1)
tekanan perdagangan yang semakin kompetitif, 2) multinasionalisasi produksi, dan
3) integrasi pasar keuangan.
Mekanisme pertama, intensitas kompetisi perdagangan yang semakin meningkat
adalah unsur pokok dari tesis globalisasi konvensional. Meskipun tesis
meningginya intensitas perdagangan ini sudah diterima umum, sesungguhnya
kompetisi global yang terjadi bukan hanya isu perdagangan, tapi juga soal
memperebutkan investasi. MNC (multi-national corporations) dan global investment
capital hanya akan mengalir ke wilayah yang menguntungkan (buat mereka) dan
menawarkan (kepada mereka) insentif terbaik.
Kedua, multinasionalisasi produksi. Termasuk di dalamnya resiko (ancaman) MNC
yang dengan mudah bisa memindahkan lokasi produksi dari satu negara ke negara
lain (dalam rangka optimalisasi profitabilitas, return on investment). Dalam
konteks ekonomi global ini, pembedaan antara “kita” dan “mereka” tidak lagi
terjadi antar-negara, tetapi lebih bersifat antar-warganegara dan MNC yang
beroperasi di dalamnya, terlepas dari/di negara mana mereka berdiri. Konsekuensi
bagi pemerintah adalah aplikasi kebijakan pasar bebas, sebagai prasyarat
memenangkan kompetisi menggaet investasi MNC demi membuka lapangan kerja.
Ketiga, integrasi pasar finansial global. Pasar dunia semakin terkoneksi dan
terintegrasi satu sama lain. Akibatnya – seperti kita ketahui dan alami bersama
– gejolak mata uang (dan ekonomi) di suatu negara akan mengimbas ke lain
wilayah. Bencana sub-prime mortgage di AS sampai terjadinya krisis ekonomi dunia
saat ini adalah verifikasi interdependensi ekonomi global.
Akhirnya disimpulkan bahwa globalisasi berwajah plural dan tidak bisa dilihat
secara fragmentaris. Sebagai sebuah fenomena sosial, ekonomi dan politik,
globalisasi membawa hal positif sekaligus negatif, peluang sekaligus ancaman.
Untuk menyikapi globalisasi secara adekuat niscaya dibutuhkan daya kritis yang
tidak menggampangkan persoalan hanya dengan kiat-kiat manajemen praktis semata.
Dibutuhkan reformasi cara berpikir dan cara bertindak. Yang jelas, banalitas
bukanlah rutenya.
Bulan Desember adalah saat kita melakukan retrospeksi dan introspeksi untuk
mengambil pelajaran demi menyongsong tahun yang baru. 'Benedictus qui venit
in nomine domini' (diberkatilah yang datang atas nama Tuhan). Selamat
Natal, damai di bumi dan damai di hati.
(twitter@andrewenas)
-----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Desember 2008
Manajemen Kinerja
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)
...demi meningkatkan kinerja perusahaan yang semakin besar (dalam
jumlah orang), banyak yang mulai mencoba menerapkan manajemen kinerja, demi
berusaha melakukan pengukuran seobyektif mungkin terhadap kinerja tim. Namun
tidak jarang pula malah terjadi keresahan dan ketidakpuasan di antara anggota
tim dengan para manajernya. Karenanya perlu diperhatikan prakondisi yang
diperlukan agar penerapan manajemen kinerja ini bisa berdampak positif.
Salah satu tantangan terberat pemimpin bisnis adalah mengelola dan menyambungkan
kinerja anggota timnya dengan kinerja organisasi secara keseluruhan. Baiklah
disadari sejak mula, bahwa Anda sebagai pimpinan seorang diri hanya dapat
meningkatkan kinerja sedikit saja. Para karyawan masing-masing juga hanya bisa
memperbaiki kinerja sedikit saja. Namun demikian, ketika Anda bersama karyawan
Anda bersatu dalam pihak yang sama dan bekerja bahu-membahu, maka Anda pasti
mampu meningkatkan kinerja secara signifikan. Hukum sinergi menjanjikan
pertumbuhan eksponensial.
Sebagai langkah awal, perlu di pahami serta diwaspadai sungguh-sungguh
terlebih dahulu, apa yang seharusnya dilakukan dalam manajemen kinerja dan apa
yang tidak seharusnya dilakukan olehnya.
Kita mulai saja dari yang tidak seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan manajemen
kinerja. Bahwa manajemen kinerja bukanlah cara untuk mengancam dan
mengintimidasi karyawan supaya kinerjanya lebih produktif. Juga, manajemen
kinerja bukanlah suatu metode untuk menyalahkan dan mencari-cari kesalahan
karyawan. Dan yang penting sekali, bahwa manajemen kinerja bukan sarana untuk
menyerang kepribadian dan sikap karyawan.
Jadi, apa itu manajemen kinerja? Ringkasnya, manajemen kinerja adalah
seperangkat alat dalam aspek pengelolaan SDM yang digunakan untuk mengoptimalkan
tingkat keberhasilan tiap karyawan. Bahkan bukan hanya setiap karyawan, tetapi
ia juga berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja setiap unit kerja, kinerja para
manajernya dan akhirnya kinerja organisasi secara menyeluruh.
Perlu pembaharuan cara pikir, bukan dengan menoleh ke belakang (kita sering
menyebutnya: menajemen kaca spion), namun dengan suatu gagasan cerdas untuk
membangun kesuksesan sekarang ini dan terus ke masa depan. Kunci keberhasilan
penerapan manajemen kinerja adalah komitmen keseharian para pimpinan bersama
dengan seluruh tim untuk membuka jalur komunikasi dua arah, alias dialog. Bukan
monolog (satu arah) atau duolog (dua pihak saling bicara tanpa ada yang
mendengar!). Hati-hati, manajemen kinerja bukanlah suatu perkara yang ramai
dibicarakan hanya di akhir semester pada saat penilaian karya. Namun, manajemen
kinerja adalah proses komunikasi terus-menerus (on going communication process).
Beberapa prakondisi untuk menerapkan manajemen kinerja dari Robert Bacal
(bukunya: How to Manage Performance, McGraw-Hill, 2004) baik disimak: pertama,
manajemen kinerja butuh investasi Anda sebagai pimpinan. Investasi waktu,
pikiran dan kehadiran Anda. Manajemen kinerja di satu sisi sebetulnya tidaklah
terlalu sukar. Memang ada bagian-bagian yang membutuhkan keterampilan tertentu,
misalnya menterjemahkan dan menurunkan tujuan strategis perusahaan beserta
indikasi ukuran keberhasilannya sampai menjadi indikasi ukuran keberhasilan tiap
unit kerja, dan akhirnya diturunkan menjadi indikasi ukuran keberhasilan setiap
individu karyawan. Berjenjang dari atas sampai karyawan di lapangan.
Kedua, adalah rasa tanggung-jawab bersama (shared responsibility). Agar rasa
tanggung-jawab bersama ini muncul, syaratnya adalah keterbukaan atau
transparansi, komunikasi dua arah. Jangan ada informasi yang terdistorsi oleh
pelbagai kepentingan yang de facto bisa berakibat kontra-produktif. Distorsi
informasi ini misalnya: laporan ABS, laporan tentang kejelekan karyawan lain
(tanpa didukung data) sehingga mengakibatkan keharmonisan kerja terganggu.
Ajak dan gugah tim Anda agar jadi bagian dari solusi (problem solver), bukan
sekedar jadi pelapor masalah (problem reporter). Apa lagi kalau yang dilaporkan
cuma keburukan atau kekurangan seseorang atau unit kerja tertentu. Sepakati
bersama, bahwa yang didefinisikan sebagai suatu masalah dalam organisasi adalah:
adanya kesenjangan (gap) antara target (standar) dengan kenyataan yang ada.
Sehingga setiap orang disemangati untuk berani mengemukakan masalah, bukan
menyembunyikannya.
Ketiga, senantiasa hargai dan dorong tim agar berani menyampaikan pendapat,
berargumentasi dan bahkan memakai hikmat (wisdom)nya masing-masing. Apalagi jika
Anda memimpin tim yang berpengetahuan serta berketerampilan tinggi. Mereka perlu
apresiasi bukan sinisme.
.
(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN Minggu I Juni 2009
(twitter@andrewenas)
...demi meningkatkan kinerja perusahaan yang semakin besar (dalam
jumlah orang), banyak yang mulai mencoba menerapkan manajemen kinerja, demi
berusaha melakukan pengukuran seobyektif mungkin terhadap kinerja tim. Namun
tidak jarang pula malah terjadi keresahan dan ketidakpuasan di antara anggota
tim dengan para manajernya. Karenanya perlu diperhatikan prakondisi yang
diperlukan agar penerapan manajemen kinerja ini bisa berdampak positif.
Salah satu tantangan terberat pemimpin bisnis adalah mengelola dan menyambungkan
kinerja anggota timnya dengan kinerja organisasi secara keseluruhan. Baiklah
disadari sejak mula, bahwa Anda sebagai pimpinan seorang diri hanya dapat
meningkatkan kinerja sedikit saja. Para karyawan masing-masing juga hanya bisa
memperbaiki kinerja sedikit saja. Namun demikian, ketika Anda bersama karyawan
Anda bersatu dalam pihak yang sama dan bekerja bahu-membahu, maka Anda pasti
mampu meningkatkan kinerja secara signifikan. Hukum sinergi menjanjikan
pertumbuhan eksponensial.
Sebagai langkah awal, perlu di pahami serta diwaspadai sungguh-sungguh
terlebih dahulu, apa yang seharusnya dilakukan dalam manajemen kinerja dan apa
yang tidak seharusnya dilakukan olehnya.
Kita mulai saja dari yang tidak seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan manajemen
kinerja. Bahwa manajemen kinerja bukanlah cara untuk mengancam dan
mengintimidasi karyawan supaya kinerjanya lebih produktif. Juga, manajemen
kinerja bukanlah suatu metode untuk menyalahkan dan mencari-cari kesalahan
karyawan. Dan yang penting sekali, bahwa manajemen kinerja bukan sarana untuk
menyerang kepribadian dan sikap karyawan.
Jadi, apa itu manajemen kinerja? Ringkasnya, manajemen kinerja adalah
seperangkat alat dalam aspek pengelolaan SDM yang digunakan untuk mengoptimalkan
tingkat keberhasilan tiap karyawan. Bahkan bukan hanya setiap karyawan, tetapi
ia juga berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja setiap unit kerja, kinerja para
manajernya dan akhirnya kinerja organisasi secara menyeluruh.
Perlu pembaharuan cara pikir, bukan dengan menoleh ke belakang (kita sering
menyebutnya: menajemen kaca spion), namun dengan suatu gagasan cerdas untuk
membangun kesuksesan sekarang ini dan terus ke masa depan. Kunci keberhasilan
penerapan manajemen kinerja adalah komitmen keseharian para pimpinan bersama
dengan seluruh tim untuk membuka jalur komunikasi dua arah, alias dialog. Bukan
monolog (satu arah) atau duolog (dua pihak saling bicara tanpa ada yang
mendengar!). Hati-hati, manajemen kinerja bukanlah suatu perkara yang ramai
dibicarakan hanya di akhir semester pada saat penilaian karya. Namun, manajemen
kinerja adalah proses komunikasi terus-menerus (on going communication process).
Beberapa prakondisi untuk menerapkan manajemen kinerja dari Robert Bacal
(bukunya: How to Manage Performance, McGraw-Hill, 2004) baik disimak: pertama,
manajemen kinerja butuh investasi Anda sebagai pimpinan. Investasi waktu,
pikiran dan kehadiran Anda. Manajemen kinerja di satu sisi sebetulnya tidaklah
terlalu sukar. Memang ada bagian-bagian yang membutuhkan keterampilan tertentu,
misalnya menterjemahkan dan menurunkan tujuan strategis perusahaan beserta
indikasi ukuran keberhasilannya sampai menjadi indikasi ukuran keberhasilan tiap
unit kerja, dan akhirnya diturunkan menjadi indikasi ukuran keberhasilan setiap
individu karyawan. Berjenjang dari atas sampai karyawan di lapangan.
Kedua, adalah rasa tanggung-jawab bersama (shared responsibility). Agar rasa
tanggung-jawab bersama ini muncul, syaratnya adalah keterbukaan atau
transparansi, komunikasi dua arah. Jangan ada informasi yang terdistorsi oleh
pelbagai kepentingan yang de facto bisa berakibat kontra-produktif. Distorsi
informasi ini misalnya: laporan ABS, laporan tentang kejelekan karyawan lain
(tanpa didukung data) sehingga mengakibatkan keharmonisan kerja terganggu.
Ajak dan gugah tim Anda agar jadi bagian dari solusi (problem solver), bukan
sekedar jadi pelapor masalah (problem reporter). Apa lagi kalau yang dilaporkan
cuma keburukan atau kekurangan seseorang atau unit kerja tertentu. Sepakati
bersama, bahwa yang didefinisikan sebagai suatu masalah dalam organisasi adalah:
adanya kesenjangan (gap) antara target (standar) dengan kenyataan yang ada.
Sehingga setiap orang disemangati untuk berani mengemukakan masalah, bukan
menyembunyikannya.
Ketiga, senantiasa hargai dan dorong tim agar berani menyampaikan pendapat,
berargumentasi dan bahkan memakai hikmat (wisdom)nya masing-masing. Apalagi jika
Anda memimpin tim yang berpengetahuan serta berketerampilan tinggi. Mereka perlu
apresiasi bukan sinisme.
.
(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN Minggu I Juni 2009
Semiglobalisasi
Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)
“The future, including whether the direction of globalization creates headwinds or tailwinds for global strategies, certainly has a bearing on the success or failure of those strategies. But it should not be allowed to crowd out consideration of other factors that also matter, including those in the here and now.”– Pankaj Ghemawat, ‘Redefining Global Strategy: Crossing Borders in a World Where Differences Still Matter’, Harvard Business School Press, Boston 2007.
***
Untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia, maka wakil presiden Iran Ebrahim Azizi dikabarkan akan menunjuk pejabat khusus demi menangani program kerjasama
bilateral, terutama ekonomi dan perdagangan. Kebijakan pemerintah Iran baru-baru ini menarik dikaji. Walaupun minyak masih menjadi sumber utama pendapatan Iran, namun dana yang diperoleh dari minyak tidaklah lagi dipakau untuk membiayai operasional administrasi pemerintahan, paling tidak dalam 5 tahun kedepan. Hasil dari minyak Iran hanya dipergunakan untuk investasi dan program pengembangan. Dilaporkan juga (Kompas, 23 Juni 2012) bahwa saat ini Iran juga membuat kas khusus untuk menampung dana yang disisihkan dari hasil penjualan minyak yang nilainya mencapai 30 miliar dollar AS atau sekitar Rp 283 triliun per tahun.
Dengan negara jiran Malaysia, kita bertikai lagi. Indonesia pernah marah soal pelanggaran tapal batas, perlakuan buruk terhadap TKI, sampai ke soal pencurian ikan. Baru-baru ini Malaysia mendaku (meng-klaim) warisan budaya kita, tari tortor, yang dari Sumatera Utara itu. Tarian yang energetik ini memang unik dan dinamis gayanya. Cocok untuk menyimbolkan keakraban dan membangun suasana kekerabatan yang erat. Kita akui bahwa Indonesia memang lalai dan lengah dalam menjaga dan apalagi mengelola dengan baik aset-aset warisan budaya serta mengapitalisasikannya secara ekonomis demi kemaslahatan bangsa Indonesia sendiri.
Terpicu oleh munculnya dua fenomena itu (soal hubungan bilateral dengan Iran, dan persinggungan budaya dengan negara jiran Malaysia) kita seolah kembali diingatkan bahwa ditengah arus globalisasi yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai fenomena runtuhnya batas-batas demarkasi negara-bangsa, dan semakin uniform-nya kultur mondial, justru keunikan dan pelbagai perbedaan yang nyata ada dunia saat ini (the reality of the here and now) adalah merupakan kekayaan pasar yang bisa juga digarap jika saja kita menyadari dan punya kerangka analisa yang bisa membantu.
***
Dunia yang oleh banyak cendekiawan disebut semakin global, dalam arti semakin menyatu dengan runtuhnya batas-batas pergerakan arus barang, arus uang, arus informasi dan arus orang, di mata Prof.Pankaj Ghemawat belumlah seterbuka atau sedahsyat yang dikira oleh banyak orang. Menurutnya, posisi gerak globalisasi dunia saat ini paling banter hanya layak disebut sebagai semiglobalisasi. Studinya yang dilengkapi dengan informasi tentang ‘level of internationalization’ masihlah dalam kisaran ‘the 10 percent presumption’. Indikator-indikator internasionalisasi yang diukur misalnya ‘telephone calls’ (yaitu: international component of total calling minutes) yang bahkan belum mencapai kisaran 5%. Indikator lainnya: immigrants (to population), university students, management research, private charity, direct investment, tourist arrivals, patents, stock investment, dan trade (to GDP) yang rata-rata perbandigan dunianya belum mencapai 10 persen.
Untuk mendeteksi berbagai perbedaan yang relevan dalam penyusunan strategi global, Prof.Pankaj Ghemawat dari Harvard Business School, USA, yang saat ini sedang menjadi gurubesar tamu IESE Business School di Barcelona, Spanyol, mengusulkan tiga kerangka kerja (framework) analisis dan praktis.
Pertama adalah ‘CAGE distance framework’ yang berargumentasi bahwa perbedaan antar negara bisa diukur dalam dimensi Cultural, Administrative, Geographic, dan Economic. Dengan memahami keberjarakan masing-masing negara dalam dimensi-dimensi itu bakal membantu mengenali setiap kendala dari strategi global Anda yang mesti diatasi.
Kedua adalah ‘ADDING Value scorecard’ yang terdiri dari 6 komponen, yaitu: Adding volume or growth, Decreasing costs, Differentiating or increasing willingness-to-pay, Improving industry attractiveness or bargaining power, Normalizing (or optimizing) risk, Generating knowledge (and other resources and capabilities).
Ketiga adalah ‘AAA triangle’ yang bisa dipakai dalam penyusunan strategi besar untuk melintasi batas-batas perbedaan yang ada: Adaptation, untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan. Lalu Aggregation, untuk mengatasi perbedaan. Dan akhirnya Arbitrage, untuk justru menarik keuntungan dari ketidakseimbangan antar pasar yang memang tidak terhindarkan. Seyogianya, strategi ini mampu melebarkan ruang gerak korporasi untuk melampaui strategi konvensional “one-size-fits-all”.
***
Pesannya, dalam menyikapi fenomena globalisasi ini, janganlah kita terburu-buru untuk menyamaratakan semua situasi pasar dengan strategi satu pendekatan untuk seluruh medan dengan mengabaikan realitas perbedaan yang nyata ada disini dan pada saat ini.
Sekedar contoh saja, dalam CAGE distance framework, perbedaan budaya (Cultural) sangatlah berarti tatkala produknya sarat dengan konten bahasa (misalnya program televisi tertentu), soal selera lidah masyarakat tertentu, gaya keunikan dalam tarian, motif-motif, ekspresi berkesenian dan lain-lainnya. Dalam aspek Administrative distance contonya misalnya pemerintah Iran yang punya policy unik soal pengelolaan dana dari penjualan minyaknya. Aspek Geographic distance dan Economic distance adalah kenyatan perbedaan letak geografis suatu negara atau bangsa dan realitas kinerja ekonominya. Keunikan dan pelbagai perbedaan ini justru adalah potensi yang bisa dikapitalisasi sedemikian rupa.
Memang dibutuhkan kreatifitas serta kerja keras serta tekan untuk tidak lagi lengah dan lalai dalam menjaga serta mengelola warisan aset budaya. Semoga.
(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Juli 2012
(twitter@andrewenas)
“The future, including whether the direction of globalization creates headwinds or tailwinds for global strategies, certainly has a bearing on the success or failure of those strategies. But it should not be allowed to crowd out consideration of other factors that also matter, including those in the here and now.”– Pankaj Ghemawat, ‘Redefining Global Strategy: Crossing Borders in a World Where Differences Still Matter’, Harvard Business School Press, Boston 2007.
***
Untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia, maka wakil presiden Iran Ebrahim Azizi dikabarkan akan menunjuk pejabat khusus demi menangani program kerjasama
bilateral, terutama ekonomi dan perdagangan. Kebijakan pemerintah Iran baru-baru ini menarik dikaji. Walaupun minyak masih menjadi sumber utama pendapatan Iran, namun dana yang diperoleh dari minyak tidaklah lagi dipakau untuk membiayai operasional administrasi pemerintahan, paling tidak dalam 5 tahun kedepan. Hasil dari minyak Iran hanya dipergunakan untuk investasi dan program pengembangan. Dilaporkan juga (Kompas, 23 Juni 2012) bahwa saat ini Iran juga membuat kas khusus untuk menampung dana yang disisihkan dari hasil penjualan minyak yang nilainya mencapai 30 miliar dollar AS atau sekitar Rp 283 triliun per tahun.
Dengan negara jiran Malaysia, kita bertikai lagi. Indonesia pernah marah soal pelanggaran tapal batas, perlakuan buruk terhadap TKI, sampai ke soal pencurian ikan. Baru-baru ini Malaysia mendaku (meng-klaim) warisan budaya kita, tari tortor, yang dari Sumatera Utara itu. Tarian yang energetik ini memang unik dan dinamis gayanya. Cocok untuk menyimbolkan keakraban dan membangun suasana kekerabatan yang erat. Kita akui bahwa Indonesia memang lalai dan lengah dalam menjaga dan apalagi mengelola dengan baik aset-aset warisan budaya serta mengapitalisasikannya secara ekonomis demi kemaslahatan bangsa Indonesia sendiri.
Terpicu oleh munculnya dua fenomena itu (soal hubungan bilateral dengan Iran, dan persinggungan budaya dengan negara jiran Malaysia) kita seolah kembali diingatkan bahwa ditengah arus globalisasi yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai fenomena runtuhnya batas-batas demarkasi negara-bangsa, dan semakin uniform-nya kultur mondial, justru keunikan dan pelbagai perbedaan yang nyata ada dunia saat ini (the reality of the here and now) adalah merupakan kekayaan pasar yang bisa juga digarap jika saja kita menyadari dan punya kerangka analisa yang bisa membantu.
***
Dunia yang oleh banyak cendekiawan disebut semakin global, dalam arti semakin menyatu dengan runtuhnya batas-batas pergerakan arus barang, arus uang, arus informasi dan arus orang, di mata Prof.Pankaj Ghemawat belumlah seterbuka atau sedahsyat yang dikira oleh banyak orang. Menurutnya, posisi gerak globalisasi dunia saat ini paling banter hanya layak disebut sebagai semiglobalisasi. Studinya yang dilengkapi dengan informasi tentang ‘level of internationalization’ masihlah dalam kisaran ‘the 10 percent presumption’. Indikator-indikator internasionalisasi yang diukur misalnya ‘telephone calls’ (yaitu: international component of total calling minutes) yang bahkan belum mencapai kisaran 5%. Indikator lainnya: immigrants (to population), university students, management research, private charity, direct investment, tourist arrivals, patents, stock investment, dan trade (to GDP) yang rata-rata perbandigan dunianya belum mencapai 10 persen.
Untuk mendeteksi berbagai perbedaan yang relevan dalam penyusunan strategi global, Prof.Pankaj Ghemawat dari Harvard Business School, USA, yang saat ini sedang menjadi gurubesar tamu IESE Business School di Barcelona, Spanyol, mengusulkan tiga kerangka kerja (framework) analisis dan praktis.
Pertama adalah ‘CAGE distance framework’ yang berargumentasi bahwa perbedaan antar negara bisa diukur dalam dimensi Cultural, Administrative, Geographic, dan Economic. Dengan memahami keberjarakan masing-masing negara dalam dimensi-dimensi itu bakal membantu mengenali setiap kendala dari strategi global Anda yang mesti diatasi.
Kedua adalah ‘ADDING Value scorecard’ yang terdiri dari 6 komponen, yaitu: Adding volume or growth, Decreasing costs, Differentiating or increasing willingness-to-pay, Improving industry attractiveness or bargaining power, Normalizing (or optimizing) risk, Generating knowledge (and other resources and capabilities).
Ketiga adalah ‘AAA triangle’ yang bisa dipakai dalam penyusunan strategi besar untuk melintasi batas-batas perbedaan yang ada: Adaptation, untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan. Lalu Aggregation, untuk mengatasi perbedaan. Dan akhirnya Arbitrage, untuk justru menarik keuntungan dari ketidakseimbangan antar pasar yang memang tidak terhindarkan. Seyogianya, strategi ini mampu melebarkan ruang gerak korporasi untuk melampaui strategi konvensional “one-size-fits-all”.
***
Pesannya, dalam menyikapi fenomena globalisasi ini, janganlah kita terburu-buru untuk menyamaratakan semua situasi pasar dengan strategi satu pendekatan untuk seluruh medan dengan mengabaikan realitas perbedaan yang nyata ada disini dan pada saat ini.
Sekedar contoh saja, dalam CAGE distance framework, perbedaan budaya (Cultural) sangatlah berarti tatkala produknya sarat dengan konten bahasa (misalnya program televisi tertentu), soal selera lidah masyarakat tertentu, gaya keunikan dalam tarian, motif-motif, ekspresi berkesenian dan lain-lainnya. Dalam aspek Administrative distance contonya misalnya pemerintah Iran yang punya policy unik soal pengelolaan dana dari penjualan minyaknya. Aspek Geographic distance dan Economic distance adalah kenyatan perbedaan letak geografis suatu negara atau bangsa dan realitas kinerja ekonominya. Keunikan dan pelbagai perbedaan ini justru adalah potensi yang bisa dikapitalisasi sedemikian rupa.
Memang dibutuhkan kreatifitas serta kerja keras serta tekan untuk tidak lagi lengah dan lalai dalam menjaga serta mengelola warisan aset budaya. Semoga.
(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Juli 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Gelombang PHK 7.000 Karyawan Disney Akan Dimulai Pekan Ini Rabu, 29 Maret 2023 Raksasa hiburan Amerika Serikat (AS) Walt Disney Company akan...
-
Supply chain This section contains information on the following distributed examples: * Decentralization * Multistage supply chain * Outsour...
-
Sharing soal competency yang bisa diartikan sebagai set of skill atau knowledge yang harus dimiliki atau di develop oleh person yang meme...
-
Anang Z. Gani Abstract This paper presents a new paradigm for solving the Travelling Salesman Problem (TSP). TSPis known as an NP-complete p...
-
KOMPAS.com - Pengalaman kerja seringkali dijadikan referensi saat melamar pekerjaan. Lantas bagaimana dengan para fresh graduate, yang boleh...