Wednesday, August 25, 2010

Pertanyaan vs Pernyataan

Mengubah Pikiran dengan Mengubah Pertanyaan menjadi Pernyataan

Mungkinkah dengan hanya mengubah pertanyaan dan pernyataan mampu mengubah pikiran kita ?

Pikiran tempat berkumpulnya motivasi, emosi positif dan negatif, tidak lah selalu dalam kondisi yang prima. Terkadang emosi negatif mendominasi sehingga menghasilkan perilaku yang kurang baik seperti tidak percaya diri, merasa sulit mendapatkan solusi dari setiap permasalahan, kinerja menjadi buruk, dan perilaku perilaku kurang baik lainnya.

Para pakar motivasi menyatakan bahwa dengan mengubah pertanyaan ataupun pernyataan diri akan suatu hal akan mengubah kondisi pikiran menuju kehidupan yang lebih berkualitas.

Berikut ini adalah 3 Pola ajaib yang bisa kita mainkan untuk merubah pertanyaan dan pernyataan diri sehingga berdampak pada perubahan menuju pikiran dan perilaku yang positif atau lebih baik.

1. Pola: "Kenapa…." diubah menjadi "Bagaimana caranya….(lawan kalimat pertama)"

Contoh pertanyaan:

"Kenapa saya malas bekerja?" diubah menjadi "Bagaiman caranya agar saya semangat bekerja ?"

"Kenapa hidup saya selalu gagal?" diubah menjadi "Bagaiman caranya agar hidup saya selalu sukses ?"

"Kenapa mereka selalu mengabaikan kampanye K3 ?" diubah menjadi "Bagaimana caranya agar mereka selalu memperhatikan dan menjalankan pesan dalam kampanye K3 saya ?"

(Sekarang giliran Anda untuk bermain main dengan pertanyaan tersebut)

Catatan: Pola pertanyaan "Bagaimana caranya" akan merangsang pikiran untuk langsung mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.



2. Pola: Seharusnya saya… diubah menjadi Saya akan….

"Seharusnya saya bisa berprestasi?" diubah menjadi "Saya akan selalu berprestasi"

"Seharusnya saya bertindak cepat" diubah menjadi "Saya akan selalu bertindak cepat"

"Seharusnya mereka mengerti kalau tindakan itu berbahaya diubah menjadi "Saya yakin mereka akan mengerti kalau tindakan itu berbahaya"

(Sekarang giliran Anda untu bermain main dengan pernyataan tersebut)

Catatan: Pola pernyataan "Saya akan…" akan merangsang pikiran untuk optimis dan dengan sendirinya akan menacari solusi dari permasalahan yang dihadapi serta membiasakan solusi tersebut dalam kehidupan.



3. Pola: Jangan…. diubah menjadi …(lawan kata sesudah kata jangan)

"Jangan Telat" diubah menjadi "Datang Tepat Waktu ya..."

"Jangan Takut" diubah menjadi "Berani ya..."

"Jangan Buang sampah sembarangan" diubah menjadi "Buanglah Sampah pada Tempatnya"

(Sekarang giliran Anda untu bermain main dengan pernyataan tersebut)

Catatan: Pola pernyataan "…(lawan kata sesudah kata jangan)" memberikan instruksi langsung ke pikiran terhadap pesan yang ingin disampaikan. Pikiran tidak mengenal kata tidak atau jangan, yang ditangkap adalah kata sesudah jangan tersebut. Sama halnya ketika ada yang berkata pada kita "Jangan membayangkan seekor monyet", justru malah pikiran kita membayangkan seekor monyet.

Semoga dengan mengubah pertanyaan dan pernyataan diri dapat mengubah pikiran kita hingga menghasilkan perilaku yang selalu positif.



Salam Safety

Sumber: www.lorco.co.id

by Widi Safari

Thursday, August 19, 2010

Just in Time

Mengenal Sistem Produksi Tepat Waktu (Just In Time System)

Mohammad Syarwani

I. Sistem Produksi Barat

Sistem produksi yang paling banyak dipakai saat ini adalah yang berasal dari Eropa dan Amerika. Sistem produksi tersebut dikenal sebagai sistem produksi western. Ciri-ciri dari sistem produksi ini antara lain:

* melakukan peramalan dalam menentukan kuantitas produksi,
* melakukan optimasi dalam penjadwalan produksi, penentuan kebutuhan bahan,penentuan kebutuhan mesin, pekerja, dll.
* terdapatnya departemen pengendalian kualitas,
* terdapatnya gudang receiver dan gudang warehouse sebagai
penyimpan persediaan, dll.

Secara garis besarnya adalah masih terdapatnya unsur- unsur probabilistik dalam melakukan keputusan untuk masalah-masalah sistem produksi. Filosofi dasar dari sistem produksi western adalah bagaimana mengoptimalkan unsur-unsur sistem produksi yang tersedia. Hal ini memungkinkan karena negara-negara barat waktu itu masih memiliki resourcess yang cukup banyak.

Pada tahun 1970-an terjadi krisis minyak bumi yang sangat mempengaruhi industri-industri barat sebagai consumer terbesar. Sedangkan Jepang tidak begitu terpengaruh krisis tersebut karena Jepang sudah biasa hemat dalam menggunakan resources khususnya minyak bumi. Akibatnya industri-industri barat mengalami kemerosotan sedangkan sebaliknya di Jepang justru mulai muncul.

Pada tahun 1980-an sistem produksi jepang mulai menunjukkan keunggulan-keunggulannya sedangkan barat justru baru mulai merekonstruksi dan merestrukturisasi sistem produksinya baik melalui teknik-teknik produksinya maupun manajemennya. Pada tahun 1990-an Jepang nampak berkembang pesat dan jauh meninggalkan Eropa ataupun Amerika.

II. Sistem Produksi Jepang

Sistem produksi Jepang dikenal dengan nama Sistem Produksi Tepat-Waktu (Just In Time). Filosofi dasar dari sistem produksi jepang (JIT)adalah memperkecil kemubadziran (Eliminate of Waste). Bentuk kemubadziran antara lain adalah

Kemubadziran dalam Waktu, misalnya ada pekerja yang menganggur (idle time), mesin yang menganggur, waktu transport dalam pabrik tidak efisien, jadwal produksi yang tidak ditepati, keterlambatan material, lintasan produksi yang tidak seimbang sehingga terjadi bottle-neck, terlambatnya pengiriman barang, banyak-nya karyawan yang absen, dsb.

Kemubadziran dalam Material, misalnya terlalu banyak buangan (scraps, chips) akibat proses produksi, banyak terjadi kerusakan material atau material dalam proses, banyaknya material yang hilang, material yang usang, nilai material yang menurun akibat terlalu lama disimpan, dll.

Kemubadziran dalam Manajemen, misalnya terlalu banyak karyawan kantor, banyak terjadi mis-informasi antar departemen, banyaknya overlapping dalam penugasan, pelaksanaan tugas yang tidak efektif, sulit dalam koordinasi, dll. Jepang melakukan eliminate of waste karena jepang tidak punya resources yang cukup. Jadi dalam setiap melakukan pengambilan keputusan terutama untuk masalah produksi selalu menganut kepada prinsip efisiensi, efektifitas dan produktivitas.

Untuk dapat melaksanakan eliminate waste Jepang melakukan strategi sebagai berikut :

- Hanya memproduksi jenis produk yang diperlukan.
- Hanya memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan.
- Hanya memproduksi produk pada saat diperlukan.

Tujuan utama dari sistem produksi JIT adalah untuk dapat memproduksi produk dengan Kualitas (quality) terbaik, Ongkos (cost) termurah, dan Pengiriman (delivery) pada saat yang tepat, dan disingkat QCD. Tujuan utama ini bisa dicapai jika ketiga unsur berikut dapat dilaksanakan secara terpadu, yaitu Melakukan pengendalian kuantitas dengan baik.

Untuk dapat menentukan kuantitas yang tepat maka diperlukan sistem informasi yang baik. Sistem informasi untuk memproses produk tersebut di Jepang dikenal dengan istilah Kanban (kartu berjalan). Pelaksanakan pengendalian kuantitas akan berjalan dengan baik jika didukung oleh suplier dan consumer yang pasti dan tepat waktu. Jika hal ini dapat dilakukan maka kita akan dapat mengeliminir waste dalam material
sehingga konsep Zerro Inventory dapat dilaksanakan.

Melakukan pengendalian kualitas dengan baik.
Dalam melakukan pengendalian kualitas di Jepang dikenal dengan istilah TQC (Total Quality Control). Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi konsep Zero Defect. Didalam sistem produksi di jepang tidak ada departemen pengendalian kualitas, tetapi yang ada adalah Quality Assurance (jaminan kualitas).
Konsep zero defect tersebut akan dapat berjalan dengan baik jika para pekerja diberi kewenangan (otonomi), agar tidak memberikan hasil produk yang tidak baik ke rekan kerja berikutnya sehingga tidak menyusahkan pekerja lainnya.

Menjunjung tinggi harkat kemanusiaan karyawan. Didalam sistem produksi dikenal 5 faktor produksi yang penting agar produksi dapat berjalan dengan baik yang dikenal dengan istilah Lima M, yaitu Man, Machine, Material, Money, dan Method. JIT tidak ingin menganggap Man hanya sebagai salah satu faktor produksi saja, tetapi lebih dari itu yakni ingin mengangkat harkat karyawan sehingga karyawan tersebut merasa
memiliki sebagian dari perusahaan. Untuk dapat melakukan ini ada 3 cara, yaitu :

a. Otonomi (kewenangan).
Karena karyawan sebagai pelaku dan penentu dalam proses produksi maka perlu kewenangan sehingga dapat mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan batasan tugas dan tanggungjawabnya.

b. Flexibility
Karyawan perlu mengetahui dan bisa melakukan pekerjaan- pekerjaan lain diluar pekerjaannya. Hal ini dilakukan agar dapat mengurangi kebosanan (boredom) atau kejenuhan dan dapat melakukan subtitusi kerja lainnya jika karyawan yang ber-sangkutan absen.

Ditinjau dari segi manajemen adalah menguntungkan dalam segi pengkoordinasian karena setiap karyawan mengerti akan keterkaitannya dan tugas-tugas rekan kerjanya yang lain. Dengan cara tersebut akan didapat karyawan yang bersifat multifungsi. Jika karyawan diarahkan kepada pekerjaan yang bersifat Spesialisasi saja maka akan muncul
hal-hal negatif antara lain adalah kesulitan dalam mengkoordinasi karena timbulnya blok-blok atau pengkotakan antar job-nya masing-masing, tidak ada sifat gotong-royong dalam bekerja, antara karyawan tidak ada sifat kepedulian, dll.

c. Creativity
Jika wewenang, tanggung-jawab, job, dan flexibility sudah dimiliki setiap karyawan tetapi kreativitas belum tersalurkan maka akan muncul kejengkelan atau unek-unek dari karyawan tersebut. Untuk itu perlu adanya penyaluran kretivitas apakah dalam bentuk Urun rembug, brainstorming, atau yang lainnya. Dengan demikian akan terbentuk suatu Demokrasi dalam sistem produksi.

Sebagai penutup dapat dikatakan bahwa JIT sebenarnya berakar pada ilmu-ilmu barat. JIT dapat berjalan dan berhasil di Jepang karena didukung oleh budaya jepang yang sesuai. Jadi secara tidak langsung Jepang dapat memilih dan membudidayakan budaya asing yang baik untuk disesuaikan dan dikembangkan menjadi budayanya.

===
Pusat Studi ERP Indonesia
http://www.ERPweaver.com

Sunday, August 15, 2010

Baju Bayi Lucu

Lebaran akan tiba, kunjungi website untuk koleksi baju si kecil
http://www.kiranakirani.com/

-----------------------------------------

Mohon maaf, website diatas sudah terminated
Sebagai gantinya silahkan buka http://multiafebriani.blogspot.com/

Thursday, August 12, 2010

Integrasi Data Rantai Pasokan, Kunci dari Profit

Dalam supply chain management, data yang berdiri sendiri dari masing masing rantai akan menimbulkan biaya yang tinggi, membuat tidak fleksibel, dan akibatnya profitpun terancam. Bagaimana mengubahnya, berikut risalah tulisan dari F John Reh, About.com.

Integrasi Data.
Ketika perusahaan mulai berdiri, tidak banyak data yang diperlukan. Hampir semua data disimpan dalam kepala seorang pemilik perusahaan, pemasok atau pelanggan mendapatkan data dengan bicara panjang lebar.
Kemudian dengan berkembangnya perusahaan, maka mulailah data dibuat di beberapa tempat oleh beberapa orang, misalnya data produksi, data finansial, dan data marketing. Dan bicara panjang lebarpun sudah tidak bisa membuat data terkumpul dengan cepat, akibatnya proses finansial perusahaan jadi melambat, marketing jadi menurun, dan produksi jadi bulan bulanan. Akhirnya tumbuhlah kebutuhan untuk merangkum data data tersebut secara periodik, mingguan atau harian. Dan saat ini, dunia bisnis sudah membutuhkan lebih dari rangkuman periodik, dunia bisnis saat ini membutuhkan data yang saling terikat setiap saat, saling terhubung setiap saat, dan data yang akurat setiap saat. Real Time Visibility sudah dimulai.
Kunci sukses dan profit perusahaan perusahaan saat ini dan dimasa mendatang adalah seberapa cepat data terintegrasi dan seberapa akurat data tersebut. Dan itu melalui penguasaan teknologi informasi.

Langkah langkah integrasi data.
Untuk menata data data memang terdengar mudah, namun sangat besar tantangannya. Selain penguasaan teknologi informasi, dibutuhkan visi yang kuat, kemauan baja, kesabaran biksu, dan kedewasaan untuk mencapainya. Namun begitu berikut langkah langkah menuju data yang terintegrasi
1. Tentukan data data apa yang perlu di integrasikan [misal: finansial, purchasing, produksi, dan customer service].
2, Tunjuk siapa yang mengumpulkan dan mengolah data data tersebut.
3. Tentukan siapa pemilik data hasil integrasi tersebut, sebagai penanggungjawab atas kualitasnya.
4. Diskusi dengan pemilik data tersebut tentang apa yang diinginkan dari data integrasi itu, bukan hanya apa yang bisa didapatkan.
5. Tentukan bahasa standard, dan tempat dimana data itu akan diproses, diolah dan disimpan.
6. Adakan proses pengadaan berdasarkan hasil hasil spesifikasi diatas.
7. Terus satukan persepsi bahwa data itu nantinya adalah data integrasi dari perusahaan bukan lagi data masing masing bagian.
8. Aktifkan sistem integrasi data yang baru dan segera matikan sistem yang lama.
9. Saatnya memperhatikan dan mengevaluasi, apakah finansial status membaik.

Dengan integrasi data ini kita akan mengurangi biaya biaya produksi, meningkatkan produktifitas, dan profit akan terkontrol.

Tosan S
http://thepurchaser .blogspot. com

Monday, August 9, 2010

How to be a best in class Logistics customer

WEEKLY LINK

Published: 14/10/2009 at 12:00 AM

Newspaper section: Business

Knowing how to be a good customer is just as important as knowing how to treat customers well. Manufacturers, distributors and retailers often reward their best supply chain vendors, especially those that perform logistics services. Now what if the logistics service providers were to turn the tables and nominate their best customers? What would be the criteria for winning such an award? Robert J. Bowman of Global Logistics & Supply Chain Strategies highlights some tips for companies on how to be a "best-in-class" customer of a logistics provider in a poor economy.

Think in terms of the big picture: Companies on both sides of a contractual relationship need to align with the overall supply chain and business objectives of a particular category and its end consumers. For example a good relationship will give the provider some leeway in determining where to cut inventory or reduce overall service costs, whereas a traditional storage contractor would want a full warehouse.

Don't fixate on transactional pricing: Enlightened customers don't let the draw of a low-cost freight rate (with doubtful service levels) place the larger chain at risk. A good logistics provider can often help its customers save cost, as long as it's given the freedom to look at more than individual links in the chain. A reasonable approach to price must be preceded by a look at all the costs.

Set realistic expectations for outsourcing results: Going into a relationship, the customer's buying organisation might have failed to detail exactly what benefits the provider is expected to deliver. After that, poor communication between various levels of both organisations only serves to make things worse, leading to misunderstandings and finger-pointing. Putting the full details of the deal into writing can help to avoid the danger of "scope creep", whereby the provider's responsibilities range well beyond what was anticipated, without any clear intent behind the change.

Emphasise accurate data and automation: Lack of good data shouldn't be used as an excuse for failing to drive improvements in the customer's supply chain. The more accurate the data given to a service provider, the better the business case will be. Data integrity on the customer side is vital to establishing metrics to track ongoing performance, and crafting a relationship that benefits both parties over the long run.

Clear procedures and concise metrics: A series of key performance measurements and standardised procedures are essential to identifying and tracking the success of those programmes. If a service provider can highlight to its customer the exact amount spent on moving raw materials for each item produced, then costs can be reduced without eroding margin.

Focus on collaboration: In today's uncertain economy, it's only natural for companies to feel uncomfortable about committing themselves to an ironclad, multi-year contract. However, real collaboration involves the sharing of both risk and reward. That's especially crucial in rough economic times, when the provider can get stuck with excess transport and warehouse capacity if the customer opts out of a contract, changes its supply chain strategy or goes out of business.

Meet regularly with the service provider: There's no rule about how often partners should talk about major issues, but it should be monthly. Topics should include the state of the relationship, project plans, expectations of return on investment, and whether desired results are being achieved. The best-in-class logistics provider is usually ready to respond to unanticipated changes in the marketplace, economy or distribution network and will continually offer ideas for improving the customer's supply chain.

Get senior leadership involved: Senior-level reviews tend to occur once or twice a year, with quarterly reviews taking place at the general-manager level. The latter can involve individuals from various logistics or supply chain disciplines. The high-level talks will focus on how the parties are meeting their strategic objective, with a particular emphasis on any changes in facilities or distribution networks.

Pay your bills on time: For all that high-flown talk of collaboration and trust, outsourced logistics remains a low-margin business. In this economic climate people are looking to stretch out their payables, slow-paying clients can make or break a relationship, jeopardising the provider's profitability.

In Summary: The current economic crisis has providers thinking hard, not only about holding on to their customers, but selecting the right ones. A nervous or reactive client who demands across-the-board rate cuts but won't commit to a long-term engagement isn't going to attract many high-quality logistics entities, no matter how bad things are. Furthermore, any customer that fails to meet a provider halfway isn't going to derive full value from the relationship.

Weekly Link is co-ordinated by Barry Elliott and Chris Catto-Smith CMC of the Institute of Management Consultants Thailand . It is intended to be an interactive forum for industry professionals

Friday, August 6, 2010

Peti kemas Tanjung Perak naik

SURABAYA: Arus peti kemas yang dibongkar muat melalui sejumlah dermaga di Pelabuhan Tanjung Perak pada semester I/2010 mencapai 1,63 juta twenty foot equivalent units (TEUs) atau naik sekitar 16% dari capaian pada periode sama 2009 yang mencapai 1,38 juta TEUs.

Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia III Iwan Sabatini mengakui bila handling peti kemas yang dilakukan beberapa dermaga di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya selama periode 6 bulan pertama 2010 meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Ada peningkatan sekitar 16%. Volume peti kemas semester I/2009 hanya 1,38 juta TEUs naik menjadi 1,63 juta TEUs pada semester I/2010. Itu merupakan hasil kontribusi PT Terminal Peti kemas Surabaya, PT Berlian Jasa Terminal Indonesia dan dermaga Nilam yang baru direvitalisasi," katanya kepada Bisnis kemarin.


Sumber: Bisnis Indonesia
Berita lengkapnya dapat anda baca pada link ini: http://web.bisnis.com/ecetak/135/transportasi-logistik/1id198397.html

Thursday, August 5, 2010

Changing Supply Chain Thinking

The supply chain is changing both domestically and internationally because of pressure to cut costs and increase efficiency and productivity. According to a recent Fleet Owner article, all people involved in making supply chain decisions will face shifts in their transportation strategies.

Shippers are trying to streamline their supply chains, while truckers are attempting to diversify their service offerings to meet transportation needs. Truckers also are trying to make their equipment as efficient as possible and are lowering travel expenses to improve their cost structure. The need for more efficient processes has formed at a time when there is increased pressure across supply chains. Customers now can demand supplies at any time and from anywhere, and suppliers must have the insight and execution to keep up.

“After the experience of the last 18 to 24 months, we know we need to be much more nimble in the future to drive efficiencies through a multidivisional company like ours while enabling us … to more rapidly respond to changing business dynamics,” says Charlie Chesnutt, senior vice president at Genuine Parts. He argues that purchased product should not matter because it depends on how the warehouses, trucks, and technology get it to the end customer. Their plans can be different, but the software should be the same. “It’s all about more precisely establishing the ‘what, when, how much, and why’ of the shipment and storage goods so our business as a whole can benefit from this supply chain shift,” says Chesnutt.

Source: APICS e-News

URL: http://www.apics.org/sitefiles/enews/enews_2010_05_18_full_version.html?utm_source=enews&utm_medium=email&utm_campaign=enews_100518#2

Related Posts