Wednesday, May 5, 2021

Yahoo Dijual

Yahoo Dijual, Laku Rp72 Triliun

Selasa, 04/05/2021

Perusahaan berbasis komunikasi asal Amerika Serikat, Verizon dilaporkan menjual perusahaan medianya yakni Yahoo dan AOL ke firma pengelola aset AS, Apollo Global Management senilai US$5 miliar atau senilai Rp72 Triliun.

Penjualan tersebut akan membuat merek media online di bawah payung Yahoo dan AOL sebelumnya seperti TechCrunch, Yahoo Finance, dan Engadget berpindah ke Apollo dengan nilai valuasi lebih rendah daripada beberapa tahun lalu.

Jika dilihat sebelumnya, nilai akuisisi dianggap lebih rendah dari angka pembelian Yahoo dan AOL pada saat diambil alih oleh Verizon beberapa tahun lalu.

Verizon membeli AOL seharga US$4,4 miliar atau senilai Rp63,4 triliun pada tahun 2015, dan dua tahun kemudian membeli Yahoo seharga US$4,5 miliar atau sekitar Rp64,9 triliun.

Verizon akan mendapatkan uang tunai dari penjualan tersebut sebanyak US$4,25 miliar dari Apollo, sedangkan sisanya akan ditukar dalam bentuk saham kepemilikan Yahoo sebesar 10 persen.

Meski demikian, Verizon tidak menyebutkan mengapa pihaknya menjual dua perusahaan media yang sempat populer di tahun 2000-an itu. Namun dikabarkan Verizon ingin berfokus pada jaringan nirkabel dan bisnis penyedia internet.

Pada tahun lalu Verizon juga menjual bisnis media online lain yang berada di bawah naungannya, yakni HuffPost kepada BuzzFeed. Belakangan ia juga menjual dan menutup media naunganya seperti Tumblr dan Yahoo Answers.

Dikutip Techcrunch, Apollo merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 1990. Apollo memiliki beragam aset seperti resor, kepemilikan sahan di sektor telekomunikasi, media dan teknologi termasuk ADT, Coinstar, dan Cox Media.

Sebelumnya Verizon memiliki visi untuk mengubah properti Yahoo dan AOL menjadi media raksasa online yang dapat mengambil alih dominasi Google dan Facebook dalam penjualan iklan online.

Melansir CNBC, dengan dijualnya Yahoo dan AOL menandakan Verizon tidak lagi tertarik pada media online, tidak seperti pada pesaingnya yakni AT&T.

Perusahaan jaringan telekomunikasi AT&T masih berupaya mengembangkan WarnerMedia sebagai pesaing Netflix dan Disney. Bahkan pengemangan dilakukan di tengah banyaknya hutang dari akuisisi medianya.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210504125145-185-638313/yahoo-dijual-laku-rp72-triliun

Wednesday, April 14, 2021

1.300 Perusahaan Jepang Bangkrut

Waduh! Gara-Gara Corona, 1.300 Perusahaan Jepang Bangkrut Bar dan restoran berada di urutan teratas daftar industri dengan 218 kasus. 

13 April 2021  |  20:29 WIB 


Perusahaan riset kredit Teikoku Databank menyatakan lebih dari 1.300 bisnis di Jepang mengalami kebangkrutan sejak Februari tahun lalu akibat pandemi virus corona. 

Melansir Perusahaan Penyiaran Jepang (Nippon Hoso Kyokai/NHK) pada Selasa (13/4/2021) bahwa hingga Senin (12/04/2021), angka yang tercatat mencapai 1.301. Ini termasuk perusahaan yang telah mengajukan pailit atau menghentikan sementara operasinya untuk memulai prosedur likuidasi legal. 

Bar dan restoran berada di urutan teratas daftar industri dengan 218 kasus, diikuti oleh perusahaan konstruksi dengan 117 kasus, serta hotel dan penginapan dengan 87 kasus. Jumlah ini terus meningkat sejak gelombang ketiga kasus penularan terjadi tahun lalu. 

Teikoku Databank khawatir makin banyak bar dan restoran yang akan bangkrut karena diminta mengurangi jam operasi di bawah langkah ketat penanggulangan virus corona yang baru-baru ini diterapkan. 

Adapun, pada awal Maret 2021 Teikoku Databank mengatakan 1.100 perusahaan telah menyelesaikan atau mempersiapkan proses likuidasi legal. Bar dan restoran berada dalam daftar teratas dengan 172 yang bangkrut, disusul oleh perusahaan konstruksi sebanyak 92, dan hotel serta penginapan mencapai 79. 

Perusahaan yang bangkut di Tokyo mencapai 264, Provinsi Osaka 108, Provinsi Kanagawa 64. Teikoku Databank menekankan terjadi peningkatan jumlah bar dan restoran di area perkotaan yang mengalami kebangkrutan selama keadaan darurat. 

Perusahaan riset kredit itu menyebutkan jika deklarasi keadaan darurat di Tokyo dan tiga provinsi tetangganya diperpanjang, penurunan belanja pribadi dalam jangka panjang akan tidak dapat terhindarkan, sehingga mungkin menyebabkan lebih banyak kebangkrutan. 

Di sisi lain kementerian tersebut menyatakan bahwa lebih dari 80.100 orang kehilangan pekerjaan akibat pandemi virus corona hingga Januari 2021. Namun, angka sesungguhnya diyakini bahkan lebih tinggi dari itu karena data kementerian hanya mencakup kasus yang tercatat oleh otoritas ketenagakerjaan serta pusat-pusat penempatan kerja. 

Hingga 25 Desember 2020, hampir 17.000 orang kehilangan pekerjaan di bidang manufaktur. Sebanyak 11.000 lainnya berasal dari industri restoran. Sementara itu, lebih dari 10.000 orang di bidang ritel dinyatakan kehilangan pekerjaan dan 9.600 orang dari industri perhotelan.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210413/620/1380668/waduh-gara-gara-corona-1300-perusahaan-jepang-bangkrut.

Friday, March 12, 2021

T&A Bata Shoe Company

Bata (perusahaan)

Bata atau T&A Bata Shoe Company (IDX: BATA) terdaftar di Zlin, Cekoslowakia atas nama dua bersaudara Tomáš, Anna dan Antonín Bata (1894). Perusahaan sepatu milik keluarga ini mengoperasikan empat unit bisnis internasional: Bata Eropa, Bata Asia Pasifik-Afrika, Bata Amerika Latin, dan Bata Amerika Utara. Produk perusahaan ini hadir di lebih dari 50 negara dan memiliki fasilitas produksi di 26 negara. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini sudah menjual sebanyak 14 miliar pasang sepatu.

Di Indonesia pengoperasian penjualan sepatu Bata dijalankan oleh PT Sepatu Bata, Tbk. Pabrik perusahaan ini pertama kali berdiri pada tahun 1939, (ada yang menyebutkan 1931, berdasarkan akta notaris Adriaan Hendrik van Ophuijsen no. 64) dan saat ini berada di dua tempat, Kalibata dan Medan. Keduanya menghasilkan 7 juta pasang alas kaki dalam setahun yang terdiri dari 400 model sepatu, sepatu sandal, dan sandal, baik yang terbuat dari kulit, karet, maupun plastik. Sebelum tahun 1978, status Bata di Indonesia adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA), sehingga dilarang menjual langsung ke pasar. Bata menjual melalui para penyalur khusus (depot) dengan sistem konsinyasi. Status para penyalur tersebut diubah. Pada 1 Januari 1978, saat izin dagang Bata "dipindahkan" kepada mereka dan PT Sepatu Bata menjadi perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN).


Sejarah

Perusahaan sepatu Bata didirikan pada tanggal 24 Agustus 1894, ketika Antonin Bata mendaftarkannya di di kota Zlin, Ceko. Ia dan Tomas Bata memulai usahanya dengan modal sebesar $350. Karena bisnis tak langsung berjalan mulus, Tomas Bata belajar permesinan dan manajemen sepatu di New England, Amerika Serikat selama 6 bulan. 

Ketika Perang Dunia I pecah di Eropa, Bata mendapatkan orderan sepatu tentara Austro-Hongaria. Total mereka memproduksi sebanyak 50.000 buah sepatu sepanjang perang tersebut.

Setelah Perang Dunia pertama, usaha Bata berkembang di beberapa negara, seperti Prancis, Swiss, Inggris, Belanda, dan Kanada. Di Ceko, Bata memiliki Batavillage, desa tempat pabrik Bata dan tenaga kerjanya. Tomas Bata meninggal dunia karena kecelakaan pesawat pada tanggal 12 Juli 1932


Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Bata_(perusahaan)

Sejarah Sepatu Bata di RI

Digugat Pailit, Begini Sejarah Sepatu Bata di RI

Rabu, 10 Mar 2021 21:00 WIB

Produsen alas kaki PT Sepatu Bata Tbk (BATA) mulai gencar untuk menjual produknya melalui e-commerce. Tahun ini perusahaan alas kaki tersebut menargetkan memproduksi 4,5 juta pasang alas kaki.

Jakarta - PT Sepatu Bata Tbk menghadapi gugatan kepailitan. Seseorang bernama Agus Setiawan telah mendaftarkan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atas Sepatu Bata di Pengadilan Niaga PN Jakarta Pusat.

Permohonan gugatan PKPU itu didaftarkan Agus pada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan nomor perkara 114/Pdt.Sus-PKPU/2021/PN Niaga Jkt.Pst pada Selasa, 9 Maret kemarin. Dia menunjuk Hasiholan Tytusano Parulian selaku kuasa hukum.

Bata sendiri sejak dulu dikenal sebagai pabrikan sepatu ternama di Indonesia. Jutaan pasang alas kaki berhasil diproduksi dan dijual Bata ke seluruh keluarga Indonesia tiap tahunnya.


Lalu bagaimana sejarah berdirinya Bata di Indonesia?

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Rabu (10/3/2021) Bata sendiri sebetulnya merupakan perusahaan asing asal Republik Ceko.

Nama lengkap perusahaannya adalah T&A Bata Shoe Company terdaftar di Zlin, Republik Ceko. Pendirinya adalah Tomáš Bata dan beberapa saudaranya.

Perusahaan sudah dibentuk sejak tahun 1894. Kesuksesan besar Bata pertama kali adalah usai mendapatkan orderan sepatu tentara Austro-Hongaria. Total mereka memproduksi sebanyak 50.000 buah sepatu sepanjang perang tersebut.

Hingga kini produk perusahaan ini hadir di lebih dari 50 negara dan memiliki fasilitas produksi di 26 negara. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini sudah berhasil menjual sebanyak miliaran pasang sepatu.


Sepatu Bata Digugat Pailit

Di Indonesia pengoperasian penjualan sepatu Bata dijalankan oleh PT Sepatu Bata Tbk. Pabrik perusahaan ini pertama kali berdiri pada tahun 1939 dan saat ini berada di dua tempat, Kalibata dan Medan.

Keduanya menghasilkan 7 juta pasang alas kaki dalam setahun yang terdiri dari 400 model sepatu, sepatu sandal, dan sandal, baik yang terbuat dari kulit, karet, maupun plastik.

Sebelum tahun 1978, status Bata di Indonesia adalah perusahaan asing, sehingga dilarang menjual langsung ke pasar. Bata saat itu hanya menjual melalui para penyalur khusus (depot) dengan sistem konsinyasi.

Hingga akhirnya per 1 Januari 1978, izin dagang Bata dipindahkan menjadi perusahaan nasional Indonesia. Bata pun mendirikan PT Sepatu Bata sebagai perwakilan Bata di Indonesia dan akhirnya bisa menjual langsung sepatu ke pasar sampai sekarang.

Bata makin serius pada bisnisnya di Indonesia. Bahkan, perusahaan PT Sepatu Bata memilih melantai di Bursa Efek Jakarta. Per 1982 perusahaan terdaftar sebagai emiten dengan kode saham BATA.


Sumber :

https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-5488969/digugat-pailit-begini-sejarah-sepatu-bata-di-ri

Friday, January 8, 2021

4.000 Perusahaan Keuangan Terancam Bangkrut akibat Covid-19

4.000 Perusahaan Keuangan Terancam Bangkrut akibat Covid-19

Kamis 07 Januari 2021 19:48 WIB


Otoritas Keuangan (Financial Conduct Authority/FCA) mengatakan sekitar 4.000 perusahaan jasa keuangan di Inggris terancam bangkrut. Ribuan perusahaan tersebut masuk kategori perusahaan yang berisiko tinggi gulung tikar sebagai dampak dari gelombang pertama pandemi covid-19.

Reuters melaporkan FCA mensurvei 23 ribu perusahaan keuangan untuk melihat kondisi ketahanan mereka terhadap Covid-19 Pandemi virus corona pada tahun lalu memicu penurunan ekonomi terburuk dalam 300 tahun terakhir di Inggris.

“Pada akhir Oktober, kami telah mengidentifikasi ada 4.000 perusahaan jasa keuangan dengan ketahanan keuangan yang rendah dan risiko kegagalan yang tinggi,” kata Direktur Eksekutif Konsumen dan Persaingan FCA Sheldon Mills dilansir dari VOA, Kamis (7/1/2020).

“Sebagian besar adalah perusahaan berukuran kecil dan menengah dan sekitar 30% berpotensi gagal,” imbuhnya.

FCA menghadapi kritik keras bahwa mereka "kurang" menangani jatuhnya dana investasi London Capital & Finance pada tahun 2019, dan pengawas berada di bawah tekanan berat untuk menghindari penundaan dalam mengurangi kerugian bagi investor dari perusahaan lain yang sedang mengalami kesulitan.

Survei tersebut mengamati perusahaan keuangan yang hanya diatur oleh FCA, dan tidak mencakup 1.500 perusahaan terbesar di sektor keuangan yang diatur untuk stabilitas keuangan oleh Otoritas Peraturan Prudensial Bank Inggris.


Sumber :

https://economy.okezone.com/read/2021/01/07/320/2340719/4-000-perusahaan-keuangan-terancam-bangkrut-akibat-covid-19?page=2

Wednesday, December 16, 2020

Safety, Quality dan Productivity

Performa Industri: Quality, Productivity, Safety, Cost. Manakah yang perlu diprioritaskan?

Banyak sekali metode-metode yang dapat dipakai untuk mengukur performa suatu industri. Faktor-faktor atau indikator-indikatornya pun beragam dan bervariasi seperti PQCDSM dsb, namun dari banyak variasi tersebut ada empat indikator yang bisa dibilang sering mucul atau dilibatkan di setiap metode yakni Quality, Productivity, Safety, dan Cost. 

Secara ringkas dapat disebutkan bahwa performa akan naik jika quality, productivity, dan safety naik dan cost turun. Untuk lebih jelasnya akan diterangkan sebagai berikut:


Safety

Kondisi safety yang kurang baik kerap dikaitkan dengan kelelahan kerja, lingkungan pabrik tidak teratur, pabrik kotor, bising, berpolusi, dipenuhi limbah, berisiko terjadinya kebakaran, gizi tidak memenuhi kalori kerja, kesehatan lingkungan dan sebagainya. Kondisi buruk seperti ini dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit kerja.


Quality

Berbicara tentang kualitas; reject, defect, human error, merupakan kesalahan kerja yang kerap terjadi dan tentu berpengaruh terhadap kualitas. Bahan baku yang tidak memenuhi standar sering memerlukan perlakuan khusus yang menyimpang dari SOP. Penurunan kualitas merupakan ancaman yang membahayakan bagi kelangsungan perusahaan. Kualitas yang mengecewakan dapat menyebabkan konsumen berpaling ke produk pesaing.


Productivity

Produktivitas merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan suatu industri atau perusahaan dalam persaingan dunia usaha yang semakin ketat. Tingkat produktivitas yang dicapai merupakan indikator seberapa efisien perusahaan dalam mengkombinasikan sumber daya ekonomisnya saat ini. Sudah pernah dijelaskan di blog ini, klik disini untuk melihatnya.


Cost

Pembengkakan cost di sejumlah lini kerja banyak terjadi. Di samping fluktuasi harga bahan baku yang berasal dari pengaruh eksternal, internal activity merupakan penyebab pembengkakan cost. Hal tersebut dapat menurunkan daya jual kompetitif. Kualitas baik dan harga rendah merupakan penekanan yang umumnya dilakukan para investor pada pengelola perusahaan. Maksudnya, tidak boleh ada cost yang keluar dengan tidak terencana.


Yang perlu diperhatikan disini adalah semua dari indikator di atas sangat erat kaitannya dengan ergonomi. Tentunya hal tersebut semakin meyakinkan bahwa ergonomi merupakan bidang yang sangat amat penting.


Sekarang muncul pertanyaan, manakah diantara indikator-indikator tersebut yang paling penting dan bagaimanakah prioritasnya? 

Jawaban dari pertanyaan tersebut tentunya akan bervariasi tergantung dari budaya orang atau perusahaan tersebut. Namun disini perlu diketahui bahwa satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia yang menjadi kiblat oleh berbagai industri dan bisa dibilang menjadi perusahaan nomor 1 dibidangnya yang tidak lain adalah Toyota (tepatnya Toyota yang beroperasi di salah satu negara Asia dan mungkin juga diterapkan Toyota di seluruh dunia) telah menjadikan safety sebagai prioritas utama mereka. 

Secara rinci mereka mengurutkan dari yang paling prioritaskan yakni safety, quality, productivity, cost. 

Ya, benar, safety berada di tempat teratas bahkan mengungguli quality, productivity, dan cost. 

Hal ini sejalan dengan slogan “safety first” yang kerap muncul di lingkungan industri yang dalam bahasa Indonesia berarti “utamakan keselamatan” yang maknanya adalah menempatkan keselamatan di atas segala-galanya. Apakah hal tersebut semata-mata hanya untuk kepentingan menaikan citra kemanusiaan di perusahaan agar perusahaan mendapat image yang baik? 

Jawabannya mungkin adalah tidak. 

Memang dalam safety ada nilai kemanusiaan yang memang harus diutamakan, tapi dilain pihak ternyata dengan peningkatan safety juga akan memberikan pengaruh berupa perbaikan pada indikator-indikator lainnya seperti quality, productivity, dan menghemat cost dan ini sudah banyak dibuktikan oleh banyak perusahaan. 

Mungkin ini sebabnya mengapa safety paling diprioritaskan, karena dengan “mengangkat” safety maka indikator-indikator lainnya secara “otomatis” juga akan ikut “terangkat” dan secara keseluruhan performa akan meningkat. Penjelasan ini semakin memperkuat bahwa ergonomi itu memang sangat amat teramat penting.


Sumber :

https://www.ayoselamat.com/2011/04/performa-industri-quality-productivity.html

Friday, December 11, 2020

60% Perusahaan Bangkrut Gegara Covid-19

Aduh, 60% Perusahaan Bangkrut Gegara Covid-19

Kamis 10 Desember 2020 10:01 WIB


Banyak perusahaan bangkrut selama pandemi covid-19 melanda dunia. Pandemi membuat perekonomian dunia dan Indonesia tertekan hingga masuk ke jurang resesi.

Menteri Bappenas Suharso Manoarfa menyebutkan pandemi membuat sektor bisnis merugi. Adapun dari data World Bank sebesar 60% perusahaan bisnis di dunua sudah mengalami kebangkrutan.

"Berdasarkan data World Bank dimana 60% bisnis mengalami kebangkrutan akibat pandemi covid. Ini memberikan kita berusaha isu pandemi covid-19 kita harus memelihara keseimbangan ekonomi," ujar Suharso dalam video virtual, Kamis (10/12/2020).

Kata dia, pemerintah mengupaya menutaskan kemiskinan agar tidak meluas efek Covid-19. Pandemi telah berdampak ekonomi Indonesia. Adapun, anggaran Rp695,2 triliun difokuskan untuk pemulihan ekonomi Indonesia.

"Kita sudah menganggarkan Rp695,2 triliun untuk memulihkan ekonomi Indonesia," katanya.

Lanjutnya, pemerintah Indonesia sudah menjalankan startegi pararel untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Hal ini, agar ekonkmi tetap berjalan dalam upaya mencegah resesi tidak kembali terulang.

"Pemerintah Indonesia sudah berupaya menerapkan prinsip," tandasnya.


Sumber :

https://economy.okezone.com/read/2020/12/10/455/2324978/aduh-60-perusahaan-bangkrut-gegara-covid-19?page=2

Related Posts