Thursday, November 14, 2013

Globalisasi Simbol


Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.

“We live in a world where there is more and more information, and less and less meaning.” – Jean Baudrillard.

***

     Di era tumpah ruahnya informasi di dunia ini yang tak dibarengi menguatnya serta meningkatnya daya kritis masyarakat maka tanda dan simbol tidak lagi mengacu (menunjuk) pada kebenaran (the truth), namun tanda dan simbol itu telah menjadi sang kebenaran itu sendiri. Makna referensial simbol/tanda kepada kebenaran seolah copot, dan ia meng-klaim kebenaran pada dirinya sendiri.

*** 

     Di tataran ekonomi mikro, waktu Apple merilis produk teranyarnya, iPhone 5S dan iPhone 5C, baru-baru ini, di pusat belanja Ginza, Tokyo, ada tak kurang dari 800 orang calon pembeli rela (bahkan semangat) untuk antre. Mereka mengantre sambil mengenakan kostum Batman, bahkan ada juga yang pakai topeng berwajah Steve Jobs, sang pendiri Apple, lengkap dengan sweater turtle neck warna hitam dan celana panjang jeans belel yang merupakan ciri khasnya. Di Australi dikabarkan lebih dari 400 orang berdiri di kawasan bisnis Sidney ketika gerai iPhone baru dibuka pukul 8 pagi.

     Di skala yang lebih makro, demi memerangi tekanan inflasi, bank sentral India beberapa waktu lalu menaikkan suku bunga acuan 0,25%. Suku bunga repo, yaitu bunga pinjaman dari bank sentral kepada bank komersial naik dari 7,25% menjadi 7,50%. Seperti diketahui di minggu ketiga September lalu tingkat inflasi India menyentuh 6,1%, ini posisi tertinggi dalam kurun enam bulan terakhir. Kata Raghuram Rajan, gubernur RBI (Reserve Bank of India), “Kenaikan bunga repo sebesar 25 basis poin diharapkan bisa menurunkan inflasi ke level yang dapat ditoleransi.”  Di pelbagai belahan dunia lain, banyak bank sentral yang juga  memfokuskan kebijakannya pada defisit fiskal dan inflasi yang dipercaya telah banyak menggerus daya beli. 

***

     Beberapa fenomena simbolisasi yang terjadi baru-baru ini. Label (judul) ‘mobil murah’ apakah betul sesungguhnya merupakah solusi transportasi yang berpihak kepada rakyat kecil? Apa betul simbol/tanda ‘murah’ disini punya makna membela kepentingan rakyat kecil?

     Tanda pertumbuhan ekonomi yang disimbolisasi dengan angka PDB, angka laju inflasi, neraca perdagangan (ekspor-impor), neraca pembayaran, angka jumlah cadangan devisa, angka arus modal masuk serta pertumbuhan investasi, dan lain-lainnya itu apakah sesungguhnya betul merepresentasikan kemakmuran dan kebahagiaan hidup yang nyata dialami masyarakat kecil secara meluas dan merata?

     Jika seseorang berkata-kata dengan menyitir bahasa Inggris di sana-sini (termasuk artikel ini) serta istilah-istilah ‘canggih’ yang sering diucapkan kaum cendekiawan maka apakah orang itu pastilah terbilang dalam kaum cendekiawan juga? Sama halnya seperti orang yang gemar menempelkan pelbagai atribut merek tenar serta gelar pada badan atau dirinya maka apakah dengan demikian ia otomatis adalah sungguh dan sebenarnyalah
orang yang sukses serta berkualitas hidupnya?  Mirip juga dengan orang yang senantiasa memakai atribut-atribut religi tertentu maka apakah ia sesungguhnya dan sebenarnyalah orang yang religius, baik serta santun peri hidupnya di dalam ruang privatnya?

***

     Baiklah artikel ini ditutup dengan membiarkan pertanyaan-pertanyaan tadi untuk terus terbuka sehingga senantiasa mengundang kegundahan. Dan dengan demikian bisa memancing daya kritis kita untuk menyaring banjir informasi, tanda dan simbol untuk kemudian membedahnya ke kedalaman kenyataan yang sebenarnya (the
truth).

     Karena hal yang sesungguhnya mesti diperangi dalam globalisasi simbol ini dalah kedangkalan analisis, sesat pikir dan erosi daya kritis akibat kampanye konsumerisme lewat media-media massa global. Dan juga penyuntingan berita-berita yang kerap kali pekat dengan kepentingan-kepentingan aliran politik dan kapital dunia dari sementara pihak, dan akibatnya telah terjadi pembengkokan realitas. Simbol-simbol pencitraan menjadi semakin berkuasa, dan kebenaran semakin tenggelam. 

(twitter@andrewenas)
---------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi November 2013

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: strategicmanagementservices@yahoo.com

No comments:

Post a Comment

Related Posts