Showing posts with label Wirausaha. Show all posts
Showing posts with label Wirausaha. Show all posts

Sunday, November 18, 2018

Lamaran Outsourcing Menumpuk 2 Meter

Risma Dorong Anak Muda Bangun Start Up

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berupaya keras untuk bisa memberi daya dukung tumbuhnya entrepreneur di Kota Pahlawan.

Mulai dari mengembangkan Pahlawan Ekonomi, Pejuang Muda, Start Surabaya dan juga Tata Rupa. Selain itu Risma juga mendirikan Koridor yang menjadi co working space bagi perintis usaha.

Saat ditanya apa yang menjadi alasannya, lulusan Arsitek ITS ini mengaku bahwa ia ingin ada perubahan mindset di kalangan pemuda dan juga orang tua bahwa sudah tidak zaman mencari kerja, melainkan menciptakan lapangan kerja.

Hal itu juga menjadi pendorong Risma getol untuk bisa menjadikan Surabaya sebagai tuan rumah Start Up Nations Summit 2018 yang dibuka hari ini, Jumat (16/11/2018).

"Aku sedih karena per hari itu 10 sampai 15 lamaran menjadi outsourcing Pemkot. Bukan PNS lho ya, lamaran outsourcing di meja saya itu sekarang sudah dua meter tingginya, dan banyak dari lulusan kampus ternama," kata Risma di sela pembukaan Start Up Nations Summit yang diselenggarakan di Grand City itu.

Dari pengalamannya itu, Risma mengaku ingin bisa mendorong anak-anak muda bisa menciptakan sesuatu. Pemikiran anak muda dan para orang tua untuk ber entrepreneur harus diciptakan.

"Pandora itu harus dibuka," kata Risma.

Saat ini berdasarkan data BPS, jumlah wirausahawan di Surabaya mencapai 18 persen. Namun menurut Risma angka itu masih kurang. Sehingga dibutuhkan pendorong lagi.

Agar ke depan lebih banyak masyarakat yang mau menciptakan lapangan kerja sendiri.

"Makanya aku push Start Up Nations Summit ini, yang mulanya hanya dua hari tapi akhirnya aku rancang sana sini supaya jadi seminggu penuh," katanya.

Dari segi regulasi juga, Surabaya dikatakan Risma sangat mendukung berkembangnya start up.

Ia menyontohkan untuk perizinan usaha, semua sudah gratis. Mengurus izin merk dagang, pelaku perintis usaha juga tidak kenai biaya. Begitu juga dengan izin kesehatan, semua malah difasilitasi oleh Pemkot Surabaya.

"Sampai merk juga kita gratiskan," kata wali kota perempuan pertama Surabaya ini.

Namun dari semua kalangan yang diajak untuk membangun start up, menurut Risma yang paling susah diubah mindsetnya adalah kalangan fresh graduate.

Masih banyak yang berfikir banyak menjadibpegawai dengan income aman adalah pilihan teraman yang baik diambil selepas lulus kuliah.

"Padahal kalau jadi pegawai itu ada batasan income. Tapi kalau pengusaha batasnya itu bumi dan langit, nggak terbatas," pungkas Risma.


Sumber :
http://suryamalang.tribunnews.com/2018/11/16/lamaran-outsourcing-menumpuk-2-meter-risma-dorong-anak-muda-bangun-start-up

Wednesday, December 24, 2014

Merek Sebagai Ideologi

Oleh: Andre Vincent Wenas


“Ideologies are patterned clusters of normatively imbued ideas and concepts, including particular representations of power relations. These conceptual maps help people navigate the complexity of their political universe and carry claims to social truth.” -  Paul James & Manfred Steger, Globalization and Culture, Vol.4: Ideologies of Globalism, Sage Publications, 2010.
***
     Gerak anomali di tengah anjloknya bursa saham global awal Oktober lalu, saham Coca-Cola justru terdongkrak naik. Bahkan mencatat rekor tertinggi sejak 16 tahun terakhir, yaitu US$ 44,47 per lembar saham (Jumat 10/10). Fenomena naiknya harga saham ini tambah menarik lantaran secara fundamental kinerja Coca-Cola sendiri rada melempem. PER (price to earning ratio) nya ‘cuma’ 22,8 kali, ini lebih rendah dibanding PER di tahun 1998 yang 59 kali.

     Tak luput jadi sasaran tembak, Muhtar Kent, sang CEO Coca-Cola pun dituduh lamban dalam melakukan efisiensi, ia pun akhirnya dipecat. Pemecatan ini rupanya membawa angin segar bagi kalangan investor yang masih fanatik (percaya) dengan brand Coca-Cola yang reputasinya tercatat senantiasa mampu memberi return secara konsisten dalam jangka panjang. Misalnya Ali Dibadj, seorang analis dari Sanford C. Bernstein yang memberi pernyataannya via Bloomberg, “Kepercayaan diri investor terhadap Coca-Cola telah kembali. Mereka memanfaatkan situasi pasar sekaligus percaya bahwa Coca-Cola bisa melakukan penghematan.”

     Sementara itu rival abadinya, Pepsi-Cola, tercatat bisa membukukan performa fundamental yang lebih baik. Sejak akhir tahun lalu (year to date)  harga saham Pepsi sudah naik 14%, atau dua kali lipat dibanding harga saham Coca-Cola yang juga naik sebesar 7,6%. Adu program efisiensi sementara dimenangkan Pepsi, yang telah mencanangkan rencana penghematan US$ 5 milyar (untuk kurun 2015 – 2020). Sedangkan Coca-Cola baru menyatakan akan menghemat US$ 1 milyar di tahun 2016 nanti.
***
     Sebagai nilai utama pemasaran, brand memainkan peran imperatif dalam bisnis. Jangkar merek yang kuat ekuitasnya bersauh di kedalaman batu karang emosi manusia. Dari studi psikologi kita tahu bahwa kebanyakan keputusan konsumen pada akhirnya diambil berdasarkan dorongan emosional. “Image is reality. It is the result of our actions. If the image is false and our performance is good, it’s our fault being bad communicators. If the image is true and reflects our bad performance, it’s our fault for being bad managers. Unless we know our image we can neither communicate nor manage,” begitu ujar David Bernstein yang menekankan pentingnya pengelolaan merek dengan baik dan serius.

     Sebagai indikator nilai, brand mencuat ke permukaan. Namun indikator nilai ini tidaklah berdiri sendiri di ruang vakum, ia sebetulnya dengan kokoh ditopang oleh setiap perilaku organisasi yang kinerjanya ditentukan oleh totalitas orang (agent) yang berada di dalam dinamika strukturnya. Tiang penyangga ini adalah jalinan pelbagai proses organisasi yang menghasilkan setiap moment-of-truth layanan (service) kepada pelanggan. Setiap erosi pada tiang penyangga ini pada akhirnya akan berujung pada robohnya kekuatan merek.

     Merek pada instansi terakhirnya bukan lagi berperan sebagai tanda pengenal saja, ia juga berfungsi sebagai tanda pembeda dan bahkan berujung sebagai ideologi bagi konsumen. Diterima ‘kebenaran’nya tanpa perlu dipertanyakan lagi asumsi-asumsi (QCD: Quality, Cost, Delivery) yang mendasarinya. Itulah yang berlaku pada para loyalis merek tertentu. Merek berperan sebagai peta konseptual yang membantu orang bernavigasi dalam kompleksitas persaingan di dunia pemasaran. Loyalis merek bisa meng-klaim kebenaran sosialnya sebagai yang paling benar, dan itu memudahkan dirinya dalam menentukan pilihan.

***

     Coca-Cola dan Pepsi-Cola adalah dua merek global yang perseteruan abadinya telah membuat keduanya terus menerus menjadi waspada, kedalam untuk selalu melakukan efisiensi, dan keluar untuk senantiasa memastikan bahwa dinamika organisasinya bisa menciptakan moment-of-truth yang positif dengan para konsumen di pasar komersial, dan juga dengan para investornya di pasar finansial.

     Dari kedua raksasa merek ini, dunia pemasaran telah belajar banyak sekali. Indonesia yang baru saja memasuki era baru, yaitu era ‘Kerja Keras & Proses’, meninggalkan era lama, yaitu era ‘Pencitraan’. Karena kita sadar sekarang sepenuhnya bahwa merek yang kuat citranya hanya bisa dibangun jika ditopang oleh tiang penyangga yang kokoh, yakni jalinan kerja keras di pelbagai proses organisasi yang menghasilkan moment-of-truth layanan (service) kepada pelanggan (rakyat). Setiap erosi pada tiang penyangga ini, atau pencitraan yang palsu pada akhirnya akan berujung pada robohnya atau rusaknya merek itu sendiri.

     Selamat memasuki era ‘Kerja Keras dan Proses’ membangun Indonesia Raya menjadi Indonesia Hebat.


(twitter@andrewenas)
-------------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Desember 2014

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Emai: strategicmanagementservices@yahoo.com

Friday, September 13, 2013

Teori, Model dan Realitas Pemasaran yang Dinamis


Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.

"We make models to abstract reality. But there is a meta-model beyond the model that assures us that the model will eventually fail. Models fail because they fail to incorporate the inter-relationships that exist in the real world."- Myron Scholes, speech at NYU/IXIS conference on hedge funds, New York, Sept 2005.

***

     China, operasi perusahaan farmasi raksasa dunia GSK (Glaxo Smith Kline) sedang mengalami guncangan. Apa pasal? Rupanya pemerintah mencium adanya praktek suap GSK kepada para dokter disana untuk memakai produk-produk keluaran GSK. Terhadap dugaan ini pemerintah China langsung mengeluarkan perintah cekal terhadap direktur keuangan perusahaan farmasi asal Inggris ini, Steve Nechelput, yang tidak boleh keluar dari China sampai investigasinya beres.

     Otoritas China memperkirakan GSK telah menggelontorkan dana sekitar 3 miliar yuan (setara US$ 489 juta) lewat agen-agen perjalanan yang lewat mereka telah memfasilitasi suap kepada para dokter dan rumah sakit. Upaya GSK demi meningkatkan penjualan dan harga obatnya telah membawa prahara, walau dalam situs resminya GSK menegaskan bahwa sampai saat ini Steve Nechelput belum ditahan pihak berwajib. Manajemen GSK berjanji akan terus mengikuti proses hukum yang berlaku di China.

     Gara-gara kasus ini, beberapa perusahaan lain bakal terkena imbasnya. Investigasi akan meluas, Gao Feng yang kepala unit kejahatan ekonomi, mensinyalir ada beberapa perusahaan farmasi multinasional yang menjalankan praktek suap dengan modus serupa (gratifikasi via agen perjalanan).

***

     Dari markas besarnya di Paris, chief financial officer Carrefour Pierre-Jean Sivignon, menyiarkan bahwa Carrefour SA secara global bakal lebih mengandalkan pasar Amerika Latin. Penjualannya di kawasan itu menanjak signifikan, sekitar 8%  di semua format ritel. Penguatan penjualan di Amerika Latin ini bisa mengompensasi buruknya penjualan Carrefour di pasar Eropa (khususnya pasar Italia dan Spanyol) yang merosot 4,3%. Di pasar Perancis sendiri penjualan hipermarket Carrefour susut 1,1%, sementara penjualan makanan masih terus tumbuh. Tapi penjualan supermarket turun 1,8%, sedangkan penjualan di format convenience dan yang lainnya tumbuh 0,8%. Di Asia penjualannya menurun tipis 0,1%.

     Tantangan pemasaran global lainnya bagi Carrefour  adalah terdepresiasinya kurs tukar real Brasil dan peso Argentina terhadap euro. Dampaknya negatif terhadap penjualan Carrefour. Nilai tukar real terhadap euro telah tererosi 7,5% tahun ini, sedangkan peso Argentina melemah 9% terhadap euro. CFO Pierre-Jean Sivignon khawatir lantaran kinerja laba bersih Carrefour di Amerika Latin akan sangat tergantung pada nilai tukar real dan peso terhadap euro. Secara  keseluruhan, di kuartal kedua tahun 2013, Carrefour mencatat penurunan pendapatan jadi 20,5 miliar euro (setara 27 miliar dollar AS, atau sekitar 270  triliun rupiah).

***

     San Fransisco, sang pendiri Dell, Michael Dell sedang berjuang keras untuk membawa Dell Inc. keluar dari bursa saham Amerika Serikat (go private). Rupanya para pemegang saham lainnya menolak usulan dana penggantian sebesar US$24,4 miliar yang ditawarkan Michael Dell (setara dengan US$13,65 per unit saham). Tawaran ini dinilai kerendahan, Angelo Zino seorang analis dari Standard & Poor's Financial Services, menganggap US$14 per saham adalah nilai yang lebih pantas. Saat ini Michael Dell sendiri menguasasi 15% saham.

     Sebetulnya apa sih alasan Michael Dell untuk go private? tak lain ia menginginkan keleluasaan yang lebih besar dalam upayanya melakukan perubahan bisnis dan merampingkan organisasinya. Dalam visinya, Michael Dell melihat masa depan komputer personal sudah suram semenjak dilansirnya smart-phone dan komputer tablet.

***

     Di Nigeria ada badan semacam BPPN (sekarang jadi PT PPA) di Indonesia, namanya AMCON yang mengurusi aset bermasalah di Nigeria. Saat ini AMCON sedang mendivestasi 3 bank yang diselamatkan oleh pemerintahnya, yaitu Afribank, Spring Bank dan Bank PHB. Untuk  urusan ini AMCON menunjuk Citigroup dan Vetiva Capital, sebuah perusahaan pengelola aset asal Afrika sebagai penasehatnya, supaya bisa rampung di kuartal ketiga tahun 2014.  Menurut chief executive AMCON, Mustapha Chike-Obi, pemerintahnya berencana melepas seluruh saham pada investor. Setelah disehatkan nanti ketiga bank itu akan berganti nama jadi Mainstreet Bank, Enterprise Bank dan Keystone Bank.

***

     Begitulah konstelasi pasar global yang dinamikanya senantiasa menuntut daya kritis untuk mencerna sinyal-sinyal perubahan. Dan sinyal perubahan tersebut perlu disikapi dengan kecerdikan dan keberanian demi menggiring perubahan, yang kerap bisa radikal. 

     Banyak model-model teori dalam dunia bisnis dan pemasaran. Semua model serta teori itu sangat bermanfaat untuk memahami sebagian dari realitas. Kita gunakan itu semua di dalam situasi dan konteks yang tepat.

     Steve Nechelput dari GSK, Pierre-Jean Sivignon dari Carrefour SA, Michael Dell dari Dell Inc. dan Mustapha Chike-Obi dari AMCON, adalah beberapa pemimpin bisnis yang sedang dalam pergulatan di arena globalisasi pasar yang dinamika perubahannya berintensitas sangat tinggi. Soal hukum internasional, sosial-budaya dan politik. Dari mereka para pemasar Indonesia bisa mengambil hikmah. Demi mengisi kemerdekaan. 

     Selamat hari raya Idulfitri, dan selamat memperingati hari kemerdekaan RI.

(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Agustus 2013

Friday, July 26, 2013

Harmonisasi Bisnis dan Sistem TI (Teknologi Informasi)


Tidak dapat disangkal bahwa peranan teknologi informasi (TI)
dalam pengembangan bisnis sudah semakin menonjol. Dikatakan
bahwa TI adalah faktor enabler, yang memungkinkan suatu
bisnis berjalan, dengan meluncurkan produk atau jasa baru,
maupun dalam rangka kepuasan pelanggan dan keunggulan
dalam persaingan. Mungkin kita sempat termangu-mangu setelah
melihat kenyataan betapa peranan komputer di dalam
perusahaan ternyata telah semakin menentukan hidup dan mati
perusahaan kita.

Di negara-negara maju, fungsi TI telah menempati posisi yang
sangat tinggi, dipimpin oleh pejabat setingkat Vice President.
Untuk kondisi di Indonesia, belum banyak perusahaan yang
memberikan posisi TI yang tinggi dalam organisasinya. Jabatan
CIO (Chief Information Officer) masih jarang, dan belum
dikenal luas.

Mengingat dominasi peranan TI bagi sistem bisnis masih
merupakan perkembangan baru, pada umumnya kita masih
mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri
(adjustment), khususnya dalam keseimbangan hubungan antara
TI dan bisnis. Hal ini karena adanya aspek paradoks antara sifat
bisnis dan TI.

Sifat bisnis pada umumnya menuntut kecepatan, fleksibilitas dan
ekspansif. Di mana ada peluang, langsung disikat. Apalagi
mereka menghadapi tekanan persaingan. Di sisi lain, fungsi TI
bersifat lambat, kurang fleksibel dan ekspansinya cenderung
konservatif, karena melibatkan investasi yang tidak kecil.

Paradoks di atas seringkali menimbulkan benturan di antara
orang-orang di lini bisnis dan koleganya dari TI. Di satu sisi
orang bisnis menuntut dukungan TI yang cepat, di lain pihak,
untuk memenuhi permintaan sistem-sistem baru, dibutuhkan
waktu pengembangan sistem yang tidak singkat. Hal ini tentunya
membuat kedua pihak frustrasi.

Selain itu, di kalangan TI seringkali terdapat masalah dalam hal
kepercayaan (trust), yakni sampai di mana TI dapat diandalkan;
kepemimpinan, yakni seberapa jauh TI dapat memegang tongkat
komando dalam bisnis; serta kewewenangan; dan
tanggungjawab. Hal ini sering menjadi sumber ketegangan antara
kalangan bisnis dan TI. Buntutnya, kerjasama antar bisnis dan TI
pun tidak harmonis.

Lalu bagaimana dapat mengatasi masalah ini? Ada 10 kiat yang
diharapkan dapat mengharmoniskan hubungan tim bisnis dengan
tim TI. Pertama, jangan serahkan sistem informasi kepada
profesional TI saja. Di dalam tim TI hendaknya ada orang dari
sisi bisnis yang dapat membantu merumuskan kebutuhan sistem
informasi untuk bisnis.

Kedua, pandanglah pemakai dan mesinnya sebagai satu
kesatuan. Jangan sampai para pemakai komputer merasa asing
dengan teknologi yang digunakan. Hal ini menuntut
pemasyarakatan TI secara intensif kepada jajaran pemakai
komputer.

Ketiga, hendaknya TI merupakan unsur yang memperlancar
berbagai proses bisnis, misalnya mempercepat atau
meningkatkan pelayanan perusahaan kepada pelanggan. Jangan
sampai TI justru menjadi penghambat.

Keempat, lakukan uji penerimaan di unit-unit pemakai. Hal ini
untuk memastikan bahwa pemakai sudah puas dan akrab
dengan sistem yang digunakan. Kelima, mintalah profesional TI
menyisihkan waktu untuk bergaul dengan pelanggan internal dan
eksternal, supaya dapat memahami kebutuhan sistem dengan
lebih baik.

Keenam, jangan terima proyek yang baru selesai 80%. Sebuah
sistem yang baru selesai 80%, sama saja dengan sistem yang
belum jadi, sehingga tidak mungkin dapat berfungsi dengan baik.
Kecuali sistem itu bersifat modular, di mana modul-modulnya
sudah berjalan dengan baik, dan ada modul-modul yang belum
jadi.

Ketujuh, buatlah sistem informasi yang skalabel, dan
berarsitektur terbuka, jangan beresiko mengambil sistem-sistem
yang independen. Kedelapan, awasi terus kemajuan teknologi
untuk menjaga posisi Anda sebagai pemimpin dalam bidang
industri Anda.

Kesembilan, ciptakan lingkungan kerja yang bisa menerima
keberhasilan maupun kegagalan. Dan kesepuluh, rekrutlah
orang-orang TI yang terbaik.

Dengan kiat-kiat di atas, diharapkan fungsi TI di perusahaan
Anda akan dapat memberikan kontribusi besar terhadap
kemajuan bisnis Anda. Selamat dan sukses buat Anda. (P.M.
Winarno)

Sumber : Info Komputer

Monday, December 3, 2012

Social Media


Jakarta - Tak bisa dipungkiri, peran jejaring sosial bagi individu pada umumnya dan kalangan korporasi pada khususnya semakin penting. Bagi perusahaan, jejaring sosial digunakan untuk aktivitas promosi dan pemasaran produk yang dimiliki, mendekatkan diri kepada para calon pembeli, pembeli, pengguna serta konsumen atas brand (brand engagement), produk yang ditawarkan serta layanan yang diberikan. 

Tujuannya beragam yaitu meningkatkan kepuasan konsumen, nilai brand itu sendiri serta penjualan sampai dengan memenangkan persaingan bisnis. 

Selain menggunakan kanal yang ada, tentunya pihak terkait baik pemilik brand, departemen pemasaran, divisi komunikasi pemasaran, manajer jejaring sosial, agensi periklanan, perusahaan Public Relation maupun buzzer memerlukan tool untuk mengawasi aktivitas komunikasi di berbagai channel. Di sinilah Social Media Monitoring akrab disingkat SMM hadir menjawab kebutuhan tersebut.

 

Social Media Monitoring

Merupakan bagian dari Social Media Optimization (SMO), SMM menggunakan beberapa metode untuk menelurusi percakapan yang ada: otomatisi dengan engine, manual dengan intervensi manusia, atau gabungan keduanya. 

Engine punya kemampuan menjaring dan mengintepretasikan percakapan. Dan juga bisa 'diajarkan' dengan cara diberikan algoritma dan pendekatan tertentu oleh kita sebagai pencipta sekaligus pengunanya. 

Pendekatannya bisa pasif dimana hanya digunakan untuk mendengarkan percakapan saja dan aktif yang artinya SMM digunakan untuk menelusuri komunikasi tentang sebuah brand, tren maupun peristiwa tertentu.

Hal apa saja yang bisa dilakukan oleh SMM? Yang paling pertama tentunya media apa saja yang bisa ditelusuri. Hampir semua media sosial maupun percakapan yang ada saat ini seperti Twitter, Facebook, Google+ mailing list, blog, dan forum. 

Fungsinya secara sederhana adalah menulusuri metriks berupa data kuantitatif (berapa banyak jumlah tweet yang diretweet, berapa jumlah Facebook page yang mendapatkan status 'Like', komentar pada sebuah blog, jumlah post dalam sebuah forum) serta data kualitatif (sentimen percakapan yang terjadi di semua media yang disebutkan di atas, apakah cenderung positif atau negatif atau gabungan keduanya). 

Isi percakapan sendiri tergantung kata kunci yang ingin dijaring dan hampir bisa tentang apa saja: nama individu, perusahaan, brand, pujian, komplain, perilaku, sanksi, keinginan dan lain sebagainya. 

Bagi korporasi, SMM merupakan salah satu tool Business Intelligence era digital karena selain bisa 'mengawasi' brandnya sendiri juga bisa menjaring sentiment brand para pesaingnya.

Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan hasil (output) yaitu laporan termasuk bentuk, tampilan, isi dan format file laporan. Bentuk dan tampilan biasanya menggunakan eleven visual seperti tabel dan grafik sementara format file yang didukung adalah format populer seperti csv, pdf dan xml. 

Isi laporan, selain sentiment, bisa berupa intensitas (berapa jumlah twit mengenai klub Barcelona bulan lalu misalnya), tren (percakapan mengenai cagub tertentu apakah meningkat atau menurun) dan pengaruh (kanal mana dan pengguna teraktif yang membicarakan kedatangan Lady Gaga).

Manfaat

Dengan menggunakan SMM, maka kita akan mengetahui bagaimana brand kita dibicarakan dan dipersepsikan oleh publik termasuk kekuatan, kelemahan, tantangan maupun ancaman terhadap produk yang kita miliki. 

Pelayanan terhadap konsumen juga diharapkan akan meningkat karena komplain maupun komplimen bisa segera ditindaklanjuti sehingga tingkat kepuasan mereka tetap terjaga sementara di sisi lain kinerja perusahaan diharapkan akan meningkat. 

Riset dari lembaga Maritz menyatakan bahwa pelanggan yang memperoleh respons yang cepat setelah mereka menyebutkan brand tersebut di Twitter meningkatkan persepsi positif terhadap brand tersebut sampai dengan 83 persen. 

Jika feedback dari pengguna secara proaktif ditelusuri dan ditindaklanjuti maka reputasi brand tersebut tentunya akan tetap terjaga dan positif. Selain itu dengan aktivitas BI, maka kekuatan dan kelemahan lawan akan bisa diketahui dan dianalisa, yang pada akhirnya akan membuat brand memperkuat kekuatannya dan memperbaiki kelemahannya agar bisa bersaing dan mengungguli para kompetitornya.


(Foto: PurpleStrategies)

Keterbatasan dan Tantangan

SMM hanya menjaring percakapan tentang apa yang ingin kita telusuri. Jika tidak ada percakapan tentang produk yang kita tawarkan, tentunya tidak ada data yang bisa dianalisa. 

Tentunya deviasi hasil laporan akan selalu ada terlepas dari metode interpretasi yang dipilih (otomatisasi, manual atau gabungan keduanya). Di sinilah perlunya intervensi analis agar akurasi laporan dapat ditingkatkan. Setelah laporan berhasil diperoleh, tantangan yang akan dihadapi adalah memberikan bobot atas hasil percakapan di berbagai media tersebut serta menindaklanjuti hasilnya untuk 

Masa Depan

Saat ini ada sekitar 200 tool dan platform SMM di seluruh dunia, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang mampu menyajikan begitu banyak fitur. Ada yang gratis dan ada pula yang berbayar. 

Jumlah dan jenis media yang dapat dijaring, kecepatan dan metode menelusuri, menganalisa dan mengintepretasikan data dan informasi, jumlah dan jenis metriks serta laporan merupakan beberapa pertimbangan penting sebelum kita memutuskan tool atau platform mana yang akan digunakan. 

Semua elemen pada SMM bisa disesuaikan tergantung dari produk mana yang akan dipilih. Hasil atau laporan dapat digunakan untuk berbagai keperluan strategis seperti pengembangan produk, pengembangan layanan konsumen, riset pemasaran, pengadaan event serta manajemen pelayanan pelanggan.

Masih banyak pengguna berkutat di tataran bagaimana cara menggunakan media sosial yang baik dan benar serta bermanfaat bagi berbagai pihak. Ini learning curve yang harus dilalui karena merupakan media yang tergolong baru. 

Namun seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan peranan dan manfaat media digital ini bagi seluruh komponen stakeholder baik internal maupun eskternal, maka hal tersebut akan berbanding lurus dengan kehadiran dan penggunaan SMM.

__._,_.___

Sunday, November 18, 2012

Hamukti Palapa: Menang di Kancah Global!

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)

“Dalam mempertahankan nasion, kita mempertahankan hari esok, bukan hari kemarin kita.” -  Jose Ortega y Gasset, dalam “La Rebelion de las Masas”.

***

  Sewaktu mencermati perusahaan semacam: Whole Foods Market, W.L. Gore, dan Google, seperti yang diceritakan Gary Hamel & Bill Breen (The Future of Management, HBS Press, 2007) kita laksana dibangunkan dari lamunan praksis manajemen konvensional selama ini. Inovasi bukan diperlukan dalam tataran produk atau offerings-nya saja. Tapi “manajemen” itu sendiri perlu direnovasi lewat inovasi-manajemen (bedakan dengan manajemen-inovasi, yang lebih menekankan inovasi produk barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan). Inovasi-manajemen lebih menjangkau tataran paradigma, dan akhirnya perilaku manajemennya juga lahir-baru.

  Memastikan terjadinya inovasi-manajemen perlu dekonstruksi paradigma. Istilah dekonstruksi  ini mengandaikan penghancuran (destruksi) dan sekaligus pembangunan (konstruksi) paradigma. Sehingga Gary Hamel & Bill Breen kembali menegaskan: “History’s most consistently victorious armies and navies have been those that were able to break with the past and imagine new ways of motivating, staffing, training, and deploying warriors. They have been management innovators.”

  Dalam kasus lain, kita juga kagum dengan paparan Victor Fung, William Fung & Jerry (Yoram) Wind, dalam publikasi mereka, Competing in a Flat World, 2007. Komprehensif mereka mendeskripsikan bagaimana perusahaan gurem di Hongkong akhirnya berjaya di pelataran global lantaran cerdas membaca gerak business-landscape dunia dan cerdik memanfaatkan pelbagai peluang yang muncul akibat semakin ratanya batasan bisnis global.

Kembali saya merenung, apa sih fondasinya sehingga mereka bisa tegar merambah dan menang secara kreatif inovatif dalam mengapitalisasi peluang bisnis global? Dalam konsep berpikirnya Kaplan & Norton (Balanced Scorecard) dimensi paling dasar adalah 'learning & growth' (biasanya aspek manusia, perspektif pembelajarannya). Dengan membereskan aspek 'learning & growth' maka dampaknya pada 'internal process' organisasi akan kondusif bagi keberhasilan di perspektif pelanggan yang pada gilirannya bakal menjamin 'business results' (biasanya aspek finansial). Jadi, bagaimana seharusnya isu pembangunan manusia ini didekati?

***

Simak ucapan Gajah Mada, CEO 'Majapahit Inc', suatu korporasi global tujuh abad yang lalu: "Untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara tak cukup dengan duduk di atas kursi di belakang meja sambil menyalurkan perintah. Aku tak percaya ada keberhasilan dengan cara itu. Aku amat yakin sampai mendarah daging, untuk mewujudkan mimpi besarku, tak ada pilihan lain kecuali menyingkirkan nafsu 'hamukti wiwaha'. 'Hamukti wiwaha' adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan nikmat duniawi. Menikmati tingginya derajat dan pangkat, menikmati hidup tiada hari tanpa 'bujang handrawina' (pesta makan minum) merupakan salah satu pilihan yang bisa kuambil mengingat aku adalah seorang mahapatih yang menjalankan pemerintahan mewakili raja. Akan tetapi bukan 'hamukti wiwaha' yang kuambil. Aku memilih lawan katanya, yaitu 'hamukti palapa'. Hanya semangat 'lara lapa' (hidup menderita) atau 'palapa' yang bisa mengantarku meraih apa yang aku impikan. Orang menyebut, aku tidak
akan makan buah palapa, tidak makan rempah-rempah. Apa pun kata mereka, pilihan 'hamukti palapa' yang kuambil adalah semata-mata berprihatin. Tanpa dilandasi prihatin, sebuah doa yang dipanjatkan kepada Hyang Widdi tak terkabulkan. Tanpa prihatin, sebuah kerja besar tidak membuahkan hasil." (dari pentalogi novel 'Gajah Mada', buku ke-5: Madakaripura Hamukti Moksa, karangan Langit Kresna Hariadi, 2007).

Zaman ini orang menyebutnya semangat asketis. Sayangnya etos macam ini sangat tidak populer di tengah budaya instan sekarang. Kalau Gajah Mada bisa, kita pun mampu. Menggali energi sejarah, demi mengembalikan percaya-diri menyongsong masa depan.

***

Jose Ortega y Gasset (1883-1995) dianggap tokoh pelopor cendekiawan Spanyol menuju zaman modern. Eksistensinya dalam kancah wacana intelektual negaranya membawa pencerahan, kerena kolega cendekiawan saat itu masih terbelenggu ide-ide kolot yang butek dan menyesatkan. Gasset adalah seorang esais dan pemikir, ia terkenal karena spektrum aneka tulisan sosiologisnya menjangkau jauh ke masa depan.

Gajah Mada maupun Ortega y Gasset telah memainkan peran sejarahnya dengan baik. Anda para profesional (partikelir maupun pelat-merah) juga terpanggil menjawab panggilan sejarahnya masing-masing. John F. Kennedy yang legendaris bilang, "Man has to do what he mustm in spite of all consequences." Ada harga yang mesti dibayar, memang begitulah adanya. Pantun kuno kita pernah mengajarkan: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tapi mengapa dalam tempo 3-4 dekade belakangan, etos ini sepertinya 'murca' dari sanubari bangsa, diganti semangat hedonis tanpa tedeng aling-aling?

(twitter@andrewenas)
------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi April 2008

Sunday, March 4, 2012

Meningkatkan Cash Flow


Menjalankan usaha membutuhkan keterlibatan secara emosional dan finansial. Tentu saja ini tuntutan yang sangat tinggi, terlebih jika bisnis baru saja dimulai atau mengalami masalah cash flow.

1. Mengelola dengan bijak 
Seseorang yang menjalankan usahanya harus mengabdikan seluruh waktunya untuk mengelola bisnisnya jika ingin menutup investasinya dan membuat profit yang diinginkan. Sikap disiplin diperlukan dalam mengelola usaha terlebih usaha kecil sampai menengah. 

2. Cash Flow adalah segala-galanya 
Cash flow bisnis mengacu pada pendapatan usaha dan kecocokan pengeluaran. Dalam istilah yang sederhana, cash flow usaha menunjukkan bisnis memang menghasilkan keuntungan atau merugi. Dengan menentukan cash flow usaha, pengusaha bisa membuat perhitungan jika usaha dijalankan sendiri, yang berarti mampu membayar pengeluaran usaha dengan uang yang berasal dari usahanya tersebut. 

Cash flow negatif berarti bisnis tidak bisa berjalan dengan sendirinya dan memerlukan dukungan finansial tambahan setiap bulannya. Jika ini terjadi, yang terbaik adalah melihat lebih dekat apa yang salah dalam operasional bisnis untuk menghindari kerugian lebih jauh. 

3. Menentukan Flow Anda 
Untuk menentukan cash flow bisnis, pemilik harus mencatat pengeluaran bisnis setiap bulannya dan melihat darimana pembayaran pengeluaran ini berasal. Jika pendapatan usaha mampu mendukung dan membayar pengeluaran bisnis, maka ini merupakan cash flow yang baik atau positif. Jika tidak, bisnis akan bermasalah dan membutuhkan evaluasi yang serius.

4. Mengelola Dana Secara Strategis 
Jadi, bagaimana seorang pengusaha meningkatkan cash flow usahanya? Cash flow positif membutuhkan pengelolaan cash yang strategis. Ini berarti pengusaha harus mencari cara strategis untuk meningkatkan inflow pendapatan dan mengurangi jumlah pengeluaran bisnis. Artinya, meningkatkan profit margin bisnis dibandingkan dengan pendapatan dan pengeluaran yang dihasilkan. 

5. Menentukan harga produk dengan cerdas 
Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan cash flow adalah dengan meningkatkan harga produk atau jasa yang dijual. Tentu, ini bukan solusi yang mudah karena akan mempengaruhi pola konsumen yang selalu mengamati kenaikan harga. 

Jika produk yang dijual dianggap efisien dan sangat bermanfaat bagi konsumen, maka menaikkan harga bukanlah masalah karena mereka akan melihat efektivitas biaya atas produk yang dibeli. Banyak konsumen yang sangat memperhatikan harga tapi mereka menjadi lebih kritis dengan kualitas produk. 

6. Menjaga Mutu 
Untuk memelihara kelangsungan hidup suatu produk dan meningkatkan penjualan, pengusaha harus menjaga mutu produk atau jasanya. Produk-produk yang tidak mengalami masalah meski harga naik adalah produk yang dianggap terbaik dalam kategorinya, produk di ceruk pasar dan produk yang selalu dibutuhkan dan hanya dihasilkan oleh beberapa pabrik.

Ketika memilih strategi ini, pengusaha harus menganalisa dampak kenaikan harga dalam volume penjualan. Harga produk tertentu bisa dinaikkan tanpa membuat konsumen kesal melalui pengembangan fitur.

7. Meminimalkan Pengeluaran 
Cara lain untuk meningkatkan cash flow usaha adalah dengan meminimalkan pengeluaran khususnya biaya pemeliharaan usaha. Dengan memilih mesin bisnis yang bermanfaat, bisnis bisa berjalan lebih produktif dengan upah buruh yang lebih rendah. Pengusaha juga bisa mengawasi fungsi outsource bisnis yang tidak dibutuhkan usaha secara reguler atau yang lebih murah jika dioutsourcekan daripada jika dijalankan sendiri. 

Sebagian besar pengeluaran overhead terkait dengan upah buruh, sehingga pengusaha harus mengevaluasi staf untuk menentukan posisi bisa dilakukan secara efisien oleh satu orang atau posisi tersebut sama sekali tidak diperlukan. 

8. Memiliki Sistem Billing Profesional 
Usaha dengan cash flow negatif harus mereview pemasukan yang tidak terkumpul atau adanya kredit yang melebihi jatuh tempo. Pengusaha harus mengupayakan strategi yang efisien untuk merubah hutang usaha menjadi uang tunai. Usaha yang mengalami cash flow negatif dikarenakan kegagalan merubah check atau hutang menjadi uang tunai .

Oleh: Trevor Marshall
Sumber:www.weknowca shflow.info

Teknik Supplier untuk Melemahkan Psikologi Lawan dalam negosiasi. Teknik supplier untuk melemahkan psikologi lawan dalam negosiasi. Teknik supplier untuk melemahkan psikologi lawan dalam negosiasi.


Supplier menggunakan cara cara untuk mengalihkan purchaser dari mengajukan permintaan penurunan harga. Jika anda waspada dengan cara cara ini maka anda akan mampu menghadapinya dan tetap pada fokus anda untuk mendapatkan harga yang optimal.

1. Harga mati - Supplier akan berusaha menutup diri terhadap niat negosiasi. Mereka akan mengatakan hal hal seperti berikut "Kami tidak bermain main dengan harga. Ini harga saya, kalau cocok mari kita berbisnis. Kalau tidak cocok semoga sukses dengan supplier yang lain".
2. Promosi harga - Perhatikan kata kata ini "Harga saya sudah sangat bagus, dan saya yakin anda tidak akan menemukan ditempat lain" Kekuatan promosi seperti ini sebenarnya ingin mencegah anda untuk melihat harga lain dan meminta penurunan harga. Seperti promosi yang lain, tentunya harga tersebut patut dipertanyakan.
3. Menggali lebih detail - Justru supplier tidak dengan mudah memberikan harga kepada kita. Mereka banyak bertanya untuk menggali lebih detail kebutuhan kita. "Kami sangat senang dengan tender ini, bisakah kita bicarakan hal hal lain lebih dulu?". Bila kita larut dalam penjelasan lebih detail, maka tipis kesempatan kita melakukan negosiasi harga dikemudian hari.
4. Waktu terbatas - Penjual biasanya bukan orang yang menentukan harga, apalagi memutuskan penurunan harga. Biasanya dalam menghadapi niat negosiasi kita mereka akan menggunakan alasan terbatasnya waktu karena birokrasi. "Kalau bapak minta penurunan harga, kami tidak bisa mempertahankan stock yang ada buat anda. Akan lama memutuskan penurunan harga, ini sudah bagus lho".

Pelopor Wirausaha dari Lereng Wilis


Selasa, 23 Februari 2010 | 02:54 WIB
Oleh : Runik Sri Astuti
Banyak orang berpikir, tinggal di daerah terpencil di lereng pegunungan dengan akses transportasi dan komunikasi yang terbatas mengurangi kreativitas dan mendorong perilaku berpikir yang statis. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Sulastri, perempuan dari Pegunungan Wilis di lereng Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. 
Sulastri berhasil menunjukkan kepada dunia mengenai ide-idenya yang inovatif dalam gerakan penyadaran masyarakat di pelbagai bidang kehidupan. Ide-idenya bisa menggerakkan ekonomi rakyat demi mengangkat derajat kehidupan mereka. Padahal, dia tidak pernah mengenyam bangku kuliah.
”Kuncinya hanya belajar dan terus belajar. Tidak boleh malu sekalipun harus bertanya kepada yang lebih muda,” ujar Kepala Desa Joho itu. Dia berhasil mengentaskan warganya dari kantong kemiskinan.
Desa Joho yang terletak 1.000 meter di atas permukaan laut adalah daerah gersang dan tandus pada musim kemarau. Tanaman pangan dan hortikultura hanya tumbuh satu musim dalam setahun. Praktis, ekonomi pertanian yang menopang hajat hidup mayoritas penduduk tidak berjalan normal.
Hasil pertanian berupa jagung, ketela, dan kadang juga padi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan perut warga sehari-sehari. Adapun kebutuhan sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan, terpaksa dikorbankan.
Seperti lazimnya desa tertinggal, angka kemiskinan tinggi, angka putus sekolah tinggi, derajat kesehatan rendah. Dari 3.242 jiwa penduduk desa, sepertiganya masuk dalam kategori penduduk sangat miskin.
Kondisi kaum perempuannya sangat menyedihkan. Mereka hanya berkutat di sumur, dapur, dan kasur. Kalaupun ada yang sedikit lebih maju, itu karena mereka menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri.
Pulang kampung
Kisah perjuangan Sulastri dimulai saat ia memutuskan pulang ke kampung orangtuanya di Desa Joho, tahun 2000. Dia lahir dan besar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, kampung para transmigran asal Jawa.
Saat itu, kondisi Sulastri tidak lebih baik dibandingkan sebagian besar perempuan di desanya, meskipun ia sempat mengenyam Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 2 Kediri.
Setelah menikah dengan Mulyono dan dikaruniai seorang anak, ia menjadi ibu rumah tangga biasa. Apalagi, sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Sulastri harus mengurus orangtuanya. Untuk menopang ekonomi keluarga, ia membuka toko kelontong di rumahnya. Suaminya hanya sopir angkutan.
Pada tahun 2003, sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri melakukan kuliah kerja nyata di desanya. Mereka meninggalkan ”pekerjaan” baru bagi Sulastri untuk meneruskan mengajar di Taman Pendidikan Al Quran rintisan mahasiswa.
”Kelihatannya sederhana, tetapi praktiknya tidak mudah. Jangankan mengajar, punya pengetahuan saja tidak,” katanya.
Melihat ironi kehidupan di depan matanya, Sulastri berinisiatif datang ke kampus dan meminta mahasiswa mengajari ibu-ibu menjadi tutor. Sejak saat itu, ia mulai menghimpun kaum perempuan di desanya berkumpul sekadar berbagi cerita dan informasi.
Cerita dari perempuan-perempuan desanya membuat hati Sulastri semakin trenyuh. Dia pun mendirikan Paguyuban Perempuan Sido Rukun hanya dengan berbekal niat dan semangat.
Demi memajukan paguyuban, ia nekat datang ke kampus dan meminta bantuan hewan ternak untuk dipelihara dengan harapan dapat menambah penghasilan masyarakat. ”Ketika itu kami diberi uang Rp 500.000 yang hanya cukup membeli dua ekor kambing kacang (atau kambing sayur, kambing berkualitas paling rendah),” ujarnya.
Induk kambing kemudian dipelihara bergantian. Anaknya diambil sebagai upah pemelihara. Jika anaknya lebih dari satu, anak yang lain dibagikan kepada keluarga yang membutuhkan.
Meskipun sukses dengan usaha kambingnya, Sulastri masih merasa ada yang mengganjal di hatinya. Itu karena ia masih melihat ibu-ibu itu tak punya kegiatan alias menganggur. Dia lalu mengajak mereka membuat usaha keripik buah pisang, talas, dan sukun. Sulastri sendiri yang memasarkannya ke Kota Kediri, sekitar 20 kilometer dari desanya.
Ide pembuatan keripik didasari murahnya harga hasil bumi. Setandan pisang raja nangka, misalnya, hanya Rp 1.500 sampai Rp 2.000. Padahal, setelah diolah menjadi keripik, setandan pisang itu bisa menghasilkan Rp 60.000. Harga talas dan sukun malah lebih rendah lagi.
Koperasi
Paguyuban kemudian mendirikan Koperasi Simpan Pinjam Sido Makmur. Modalnya berasal dari iuran pokok anggota Rp 25.000 dan iuran wajib Rp 5.000 per bulan. Kini koperasi itu bisa meminjamkan Rp 2 juta kepada para anggotanya. Padahal, awalnya pinjaman maksimal cuma Rp 50.000.
”Sebelum ada koperasi, warga pinjam ke rentenir. Bayarnya setelah panen. Kalau gagal panen, utang menumpuk karena bunganya tinggi,” katanya.
Berkat pinjaman koperasi, masyarakat bisa membuka usaha baru atau mengembangkan usaha yang sudah berjalan. Kini, tercatat 30 usaha budidaya lebah madu berkembang di Joho.
Itu pun juga tidak lepas dari usaha Sulastri meminta bantuan Dinas Kehutanan Kabupaten Kediri memberikan penyuluhan tentang ternak madu dan modal awal dua kotak sarang lebah.
Yang tidak kalah penting, bangkitnya industri rumah tangga pembuatan ”kutang (beha) tradisional”. Sedikitnya ada tiga perajin dengan produksi ratusan buah beha per minggu.
Perempuan yang tengah hamil muda anak keduanya itu juga gencar mempromosikan produk usaha kecil dari desanya di setiap kesempatan, terutama ketika bertemu masyarakat dari luar.
Dalam tiga tahun terakhir, penduduk miskin di Desa Joho berkurang 359 keluarga. Kini hanya 600 rumah tangga. Hasil pendataan Badan Pusat Statistik, rumah tangga miskin yang berhak menerima beras miskin tahun 2010, tinggal 507 keluarga.
Kini Sulastri mulai bergerak ke sektor lain. Misalnya, mengembangkan kesenian musik tradisional dengan alat lesung dan alu, alat menumbuk padi pada zaman dahulu. Kesenian ini tampil pada acara-acara penyambutan tamu. Namun, tak jarang juga mereka diundang di perhelatan, seperti pameran kerajinan, acara wisuda sarjana, dan momen penting lainnya.
Sulastri terus bergerak. Dia berjanji akan mengawal pendidikan di desanya agar generasi muda yang lahir menjadi manusia yang lebih unggul dan andal, tidak hanya sekadar menjadi TKI. Dia juga berencana merintis kembali usaha pembuatan sirup berbahan tanaman rosela.
Dia seperti memberikan pencerahan bahwa bicara saja tidak cukup. Bukti dengan kerja keras lebih dibutuhkan negeri ini.  [Kompas, 23/2/10].

Inspirasi Sukses Home Depot

Oleh: Andre Vincent Wenas

  Apakah Anda pernah dengar Home Depot? Coba lihat: www.homedepot.com. Usaha toko bangunan yang dirintis Bernie Marcus & Arthur Blank ini dimulai tahun 28 tahun yang lalu di Atlanta, Georgia, bergerak dalam perdagangan segala macam kebutuhan rumah (papan kayu, paku, handle-pintu, gordyn, semen, ubin, cat, perkakas, dll.). Waktu itu belum ada toko, dan bersama 20 orang rekan kerja (associates) mereka memulai bisnisnya. Setahun kemudian (1979), mereka punya 3 toko dengan 200 associates, dan membukukan penjualan 7 juta dollar. 

  Konsep bisnisnya adalah toko gudang besar yang nyaman dikunjungi orang-orang yang ingin memperbaiki sendiri rumah atau meningkatkan kenyamanan rumah (home improvement). Saat ini Home Depot sudah membukukan penjualan lebih dari 80 milyar dollar.

  Layanan di dalam toko, selain kejelasan informasi barang, kebersihan dan keramahan layanan, juga diselenggarakan how-to-clinics (semacam pelatihan praktis) untuk meningkatkan ketrampilan memperbaiki sendiri dan meningkatkan kenyamanan dan penampilan rumah. Jasa konsultasi membangun atau merenovasi eksterior-interior pun disediakan.

  Ide lain yang menarik adalah Kids Workshop (pelatihan untuk anak-anak) dengan didampingi orangtua masing-masing. Ini program yang diselenggarakan sebulan sekali di hari sabtu pertama. Mulai jam 9 pagi sampai siang. Dengan pendampingan orang tua, anak-anak bisa mengolah ketrampilannya untuk menciptakan obyek yang bisa digunakan di sekitar rumah atau lingkungannya. Program ini melatih kemandirian anak-anak untuk mengerjakan  hal-hal konstruktif, dan menanamkan sense of accomplishment (mengerjakan sesuatu dengan tuntas), dan self esteem (kebanggaan). Obyek yang dibangun anak-anak ini misalnya: membuat kotak penyimpanan perkakas, kotak surat, sangkar burung, pigura, dll. Dengan membiasakan anak-anak untuk rajin dan terampil mengerjakan sendiri (do-it-yourself), Home Depot telah mulai membangun pasar masa depan yang loyal dan bakal menjamin keberlangsungan hidup usahanya.

  Konsep toko penyedia barang & bahan bangunan, termasuk interior-eksterior rumah merupakan bagian dari konsep retailer. Dan sebagai retailer, Handito Hadi Joewono (bukunya: 7 in 1 Strategy Toward Global Competitiveness, 2006) ada enam aspek yang perlu diperhatikan:

1. Lokasi. Ada yang ektrim bilang bahwa kunci sukses bisnis property termasuk retailer adalah: lokasi, lokasi dan lokasi. Singktatnya, lokasi adalah segalanya. Lokasi memang penting, tapi bukan harga mati.

2. Merchandise management. Peritel perlu menyediakan selengkap mungkin ragam kebutuhan konsumen, tetapi sekaligus juga harus menyediakan barang atau jasa eksklusif.

3. Vendor relation. Bagi peritel, hubungan dengan pemasok merupakan kunci bisnis penting karena akan mempengaruhi kelancaran pasokan barang dan berlangsungnya beragam progam promosi.

4. Human resource management. Mengelola usaha ritel bukan sekedar menyiapkan gedung dan infrastruktur fisik. Toko besar jika tidak ada kegairahan pekerjanya akan membuatnya menjadi tidak menarik dan bahkan dijauhi karena ‘keangkerannya’. Pengelolaan SDM menjadi pilarpenting keberhasilan bisnis ritel.

5. Operational excellence. Mengelola usaha ritel serupa dengan menampilkan atraksi operet. Dan panggung dramanya adalah bisnis ritel itu sendiri. Penampilan mesti prima melalui store management yang berkualitas. Operational excellence berperan vital untuk efisiensi yang merupakan kunci memenangkan persaingan saat ini.

6. Customer relationship. Mengelola pelanggan, apalagi yang loyal adalah krusial. Penyediaan reward point dengan hadial undian atau hadiah langsung seperti free parking, dan juga fasilitas khusus untuk pelanggan VIP akan membuat konsumen nyaman dan ma uterus berbelanja.

  Kita bisa belajar dari ketekunan Bernie Marcus & Arthur Blank (Home Depot) merintis bisnis, melayani dan mempertahankan pelanggan, bahkan sampai menciptakan pelanggan masa-depan. Begitulah pebisnis sejati. Berjuang dan berpikir jauh kedepan. 

  Bersiaplah untuk sukses.

Related Posts