Showing posts with label Leadership. Show all posts
Showing posts with label Leadership. Show all posts

Tuesday, July 28, 2020

Apa Beda CEO, Founder dan lainnya?

Perbedaan antara CEO, CFO, CMO, COO, CTO, OWNER, FOUNDER dan CO-FOUNDER


Suatu perusahaan pasti ada yang namanya pemimpin. pemimpin dalam sebuah perusahaan ada beberapa istilah diantaranya adalah CEO, CFO, CMO, COO, CTO, OWNER, FOUNDER dan CO-FOUNDER. Dari istilah tersebut berikut ini adalah kepanjangan dan definisi dari CEO, CFO, CMO, COO, CTO, OWNER, FOUNDER dan CO-FOUNDER.

1. KEPANJANGAN DAN DEFINISI CEO
Di jajaran direksi tetap dibutuhkan seorang leader. Leader ini bisa juga kita sebut sebagai Direktur Utama. Kerap kali direktur utama ini juga disebut sebagai CEO. Kepanjangan dari Singkatan CEO adalah Chief Executive Officer. Chief berarti kepala atau yang memimpin. Executive berarti jajaran direksi. Definisi dari CEO berarti seseorang yang dipercaya untuk memimpin jajaran direksi suatu perusahaan. CEO diangkat oleh dewan komisaris, dan umumnya mempunyai siklus jabatan. Bisa diangkat per 5 tahun atau per 10 tahun tergantung kebijakan perusahaan.

Seorang CEO tidak bisa memimpin perusahaan seorang diri. Seorang CEO harus dibantu oleh jajaran direksi di bawahnya, yang mungkin di antara kita ada yang lebih familiar dengan istilah Wakil Direktur. Wakil Direktur pun tidak hanya satu, ada banyak tergantung posisi yang dibutuhkan, ada yang disebut CMO, CFO, COO, bahkan CTO. Apa yang dimaksud dengan para Wakil direktur ini? Mari simak poin-poin berikutnya.

2. KEPANJANGAN DAN DEFINISI CMO
Wakil Direktur untuk menangani pemasaran suatu pemasaran disebut sebagai CMO, beberapa perusahaan juga sering menyebutnya sebagai Direktur Marketing. Apa kepanjangan dari CMO itu? Kepanjangan dari Singkatan CMO adalah Chief Marketing Officer. Tugas dari seorang CMO adalah seperti yang disebut di atas, membantu CEO memimpin divisi marketing dan menangani berbagai perihal tentang Marketing atau pemasaran di dalam perusahaan, serta membantu CEO dalam memimpin perusahaan dari sisi penjualan dan akuisisi customer. Seorang CMO dapat diangkat dan diberhentikan oleh CEO.

Bisa kita bayangkan bagaimana seorang CMO melaksanakan tugasnya. Bertanggung jawab dalam pemasangan iklan, penguatan brand, melakukan konversi ke penjualan, membuat tim sales yang hebat, mengurus feedback positif dan negatif customer, hingga mengkomunikasikan brand perusahaannya melalui social media. Walau performansi penjualan perusahaan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh branding dan komunikasi, tapi bila seorang CMO tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka perusahaan bisa mengalami penurunan revenue.

3. KEPANJANGAN DAN DEFINISI COO
Pernah dengar istilah COO? Wakil direktur yang satu ini biasanya berperan dalam memimpin divisi operasional internal perusahaan. Oleh karena itu Kepanjangan dari singkatan COO adalah Chief Operating Officer. COO ini perannya bisa bermacam-macam tergantung dari model bisnis suatu perusahaan yang dipimpinnya.

COO dalam bidang manufaktur bertanggung jawab atas lancarnya kegiatan produksi dan produktifitas karyawan-karyawannya. Sedang COO dalam perusahaan distribusi retail biasa menangani lancarnya ketersediaan barang dagangan dan kegiatan internal perusahaan di dalamnya. Peran COO dalam perusahaan sangat besar karena perannya memimpin operasional perusahaan sehingga perusahaan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Oleh karena itu biasanya COO juga sering disebut sebagai Direktur Operasional ataupun Direktur Produksi. COO dapat diangkat dan diberhentikan oleh CEO.

4. KEPANJANGAN DAN DEFINISI CFO
Wakil direktur yang satu ini berperan dalam masalah keuangan atau finance. Oleh karena itu kita sudah bisa menebak, bahwa Kepanjangan dari singkatan CFO adalah Chief Financial Officer. Peran CFO dalam suatu perusahaan sangat terkait dengan pengadaan pendanaan, pembelanjaan, pembentukan anggaran, dan pembuatan laporan keuangan dalam perusahaan.

Pengadaan pendanaan oleh CFO itu contohnya CFO bertanggung jawab atas terjadinya proses investasi oleh investor atau pinjaman dari pihak ketiga semacam Bank. CFO pun bertanggung jawab atas pembelanjaan dan pengadaan barang serta aset perusahaan, karena hal-hal semacam ini berkaitan erat dengan masalah finansial. Sehingga jelas sudah CFO adalah Wakil Direktur yang diangkat CEO untuk membantunya dalam memimpin Divisi Keuangan.

5. KEPANJANGAN DAN DEFINISI CTO
CTO merupakan peran yang bisa dikatakan baru muncul tahun-tahun belakangan ini karena berkembangnya teknologi internet dan aplikasi Cloud yang semakin maju. Kepanjangan dari singkatan CTO adalah Chief Technology Officer. Tugas Wakil Direktur yang satu ini bertanggung jawab penuh atas segala kegiatan teknologi dan informasi yang ada di dalam perusahaan.

Saat ini banyak kita lihat StartUp Business yang berkecimpung dalam bidang internet dan aplikasi. Karena model bisnisnya banyak terkait dengan teknologi, maka peran CTO dalam perusahaan tersebut menjadi sangat penting. Namun bukan berarti CTO hanya ada di perusahaan yang mempunyai produk internet dan aplikasi. Perusahaan retail dan distribusi pun bisa saja mempunyai CTO karena membutuhkan kepastian teknologi yang mendukung informasi antar cabang agar berjalan dengan baik dan tanpa masalah. CTO diangkat dan diberhentikan oleh CEO.

6. OWNER
Lebih mengarah ke pemilik usaha, bisa perorangan maupun berkelompok. Apa bedanya dengan founder ?
Misalkan, perusahaan Tokopedia punya dua Founder: William dan Lion, masing-masing keduanya memiliki 15% saham. Selanjutnya, Tokopedia mendapatkan investasi dari beberapa investor dengan menukar saham sebesar 30%. Sisanya sebesar 40% tetap dimiliki perusahaan. Maka, Si Founder dan beberapa investor Tokopedia tersebut disebut sebagai Owner. Bisa juga suatu saat si William menjual sahamnya, sehingga ia tidak memiliki saham lagi. Otomatis ia keluar sebagai owner/pemilik Tokopedia, namun sampai kapan pun dia masih disebut sebagai Founder.

7. FOUNDER
Digunakan untuk pendiri/pencetus ide usaha, bisa perorangan maupun kelompok. Bila sendirian dan tidak punya teman maka dapat disebut sebagai Founder. Namun, bisa juga untuk pendiri pertama saja, sedangkan lainnya co-founder (Apple: Steve Jobs Founder & Steve Wozniak Co-Founder). Bisa juga untuk semua pendiri bila jumlahnya melebihi satu, bila ada lima orang maka kelimanya disebut founder (Facebook: Mark Zuckerberg, Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Chris Hughes)

8. CO-FOUNDER
Sebenarnya arahnya ke seseorang yang menjadi rekan si Founder, bisa perorangan maupun kelompok. Ada dua pandangan, yang pertama: untuk pendiri/pencetus usaha yang bekerjasama dengan founder. Jadi si Co-founder ini, ia merupakan orang yang ke-2, ke-3, dst sebagai pendamping si Founder yang disebut orang ke-1. Misal: Mark Zuckerberg jadi Founder maka keempat temannya menjadi Co-Founder. Kedua:hanya digunakan untuk perusahaan yang memiliki dua orang pendiri, yang satu jadi Founder dan satunya lagi jadi Co-Founder. Misal: Bill Gates jadi Founder, sedangkan Paul Allen jadi Co-Founder.

Itulah beberapa pengertian dari Perbedaan antara CEO, CFO, CMO, COO, CTO, OWNER, FOUNDER dan CO-FOUNDER. Jika ada yang kurang sesuai atau perlu ditambahkan langsung saja tinggalkan komentar ya.


Sumber :
https://bsierad.com/perbedaan-antara-ceo-cfo-cmo-coo-cto-owner-founder-dan-co-founder/

Tuesday, June 2, 2020

Rahasia Krakatau Steel Bisa Cetak Untung

Erick Thohir Ungkap Rahasia Krakatau Steel Bisa Cetak Untung

Menteri BUMN Erick Thohir menyebut kondisi keuangan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sudah membaik dan mulai menghasilkan profit setelah melakukan restrukturisasi utang hingga Rp30 triliun.

Menurut Erick, kesuksesan perusahaan dalam mencetak untung tak lepas dari efisiensi besar-besaran yang terus diarahkan Kementerian BUMN. Tak hanya dari sisi keuangan tetapi juga struktur perusahaan.

"Makanya kemarin kami minta restrukturisasi besar besaran atas kinerja BUMN, tidak hanya cashflow (arus kas) tapi juga efisiensi dan konsolidasi harus terjadi," ucapnya saat mengikuti diskusi online, Jumat (29/5).

Ia mencontohkan, restrukturisasi juga dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara di mana Kementerian BUMN melakukan perampingan jumlah direksi di bawah group PTPN III.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengoptimalisasi proses transformasi di perusahaan-perusahaan pelat merah dan penguatan peran BUMN dalam menopang pembangunan.

"Seperti di PTPN bagaimana kami melakukan efisiensi besar-besaran," imbuhnya.

Ia melanjutkan, kinerja Krakatau Steel harus terus dijaga agar ke depan dapat terus mencetak laba dan bisa berkontribusi lebih bagi pembangunan.

"KRAS yang hasil restrukturisasi sudah mulai profitable, ini yang harus betul-betul kami jaga," terang Erick.

Sebagai informasi, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyatakan berhasil meraih laba bersih sebesar US$74,1 juta atau setara Rp1,08 triliun pada kuartal I 2020.

Torehan laba tersebut merupakan capaian yang cukup memuaskan setelah mengalami kerugian dalam 8 tahun terakhir.

Dirut Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan torehan laba tersebut terjadi karena penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8 persen dan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5 persen.

Perseroan, kata Silmy, telah melakukan perbaikan bisnis sejak 2019 dan hasilnya mulai terlihat di kuartal I 2020.

Beberapa upaya yang telah dilakukan perseroan untuk memperbaiki kinerja antara lain melalui program restrukturisasi dan transformasi.

"Salah satu hasil positif yang dicapai perseroan adalah penurunan biaya operasi induk turun 31 persen menjadi US$46,8 juta dibandingkan periode yang sama di tahun 2019", ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Jumat (29/5) ini.


Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200529155734-92-508002/erick-thohir-ungkap-rahasia-krakatau-steel-bisa-cetak-untung

Wednesday, August 5, 2015

Agility vs Rigid

Manusia-manusia "Rigid" Akan Sulit Sendiri

Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia duduk di sebelah saya. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karier dan perusahaannya.

Gerak keduanya (karier dan perusahaannya) begitu lincah, tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwell time tidak konsisten. Ini sama seperti karier sebagian dari kita, terkunci di tempat. Akhirnya, kita hanya bisa mengeluh.

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumnus Fulbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarier di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu, ia menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

Solved!

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderless world. Anehnya juga, kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan tenaga kerja

Belum lama ini, kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya di-forward ke mana-mana melalui media sosial. Mulai dari keagresifan angka pertumbuhan yang berkurang, sampai serangan tenaga kerja dari Tiongkok.

Berita itu di-forward ke sana kemari sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan buat saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarier di luar negeri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja kepada orang lain yang kurang beruntung. Kedua, Anda akan mendapatkan wisdom bahwa hal serupa, komplain yang sama, ternyata juga ada di luar negeri.

Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi, mengeluhkan tentang negerinya. "Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India, politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis." Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? kerja lebih profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda, mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. "Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi," ujarnya.

Kepada putra saya, ia mengajari. "Saat bekerja, kita harus bekerja, harus profesional, gesit, dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ, mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Lagi-lagi, mereka menyebutkan bahwa kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali; dan Pulau Jawa.  

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. "Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Namun, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia daripada Indonesia." Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan kepada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarier di sana. Ia pun menjawab ringan, "Suruh orang-orang itu kerja di sini saja."

Tak lama kemudian, ia pun meneruskan. "Kalau sudah kerja di sini, baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile."

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. "Mana bisa kongkow-kongkow, main Facebook, nge-tweet saat jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja," ujarnya.

Saat itu, ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan, dan sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Perancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata, bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal, di sana, mereka lihat bahwa kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa merdeka jangan cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari Tiongkok melesak masuk ke negeri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negeri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negeri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. Sebanyak 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brasil, bahkan juga Kanada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 orang saja, kita sudah rasial? Ini tentu mengerikan. 

Lalu dari grup WA para alumnus sekolah belakangan ini juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarier di mancanegara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karier mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tetapi tak berbuat apa-apa. Bahkan, beraninya hanya menyuarakan kebencian, atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat. Kecemasan hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah "berbahaya", ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negeri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana, kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana, kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.


Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi anggota pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi acuan dari bisnis sosial di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers


Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/03/054500426/Manusia-manusia.Rigid.Akan.Sulit.Sendiri?page=all

Thursday, April 2, 2015

Re-Born, Belajar dari Elang


Elang, eagle, tentunya sudah sangat familiar bagi kita. Ya, hewan karnivora yang termasuk kelas unggas. Unggas yang mampu terbang sangat tinggi ini, memiliki cakar yang tajam, paruh yang pendek lancip dengan ujung sedikit melengkung tajam, sayap yang kuat dan lebar, sungguh gagah perkasa. Elang adalah salah satu jenis unggas yang dapat hidup dalam usia yang cukup panjang, bahkan bias mencapai usia 70 tahun.

Ketika elang berumur 40 tahun, maka kondisinya tidak lagi sama dengan ketika di masih menjadi pemuda/pemudi elang sepuluh/belasan tahun sebelumnya. Cakarnya yang dulunya tajam sekarang sudah semakin panjang, rapuh dan tumpul. Paruhnya yang dulunya kokoh melancip yag sanggup mencabik mangsanya sangat dalam namun kini paruh itu semakin tua dan panjang sehingga ujung paruhnya yang melengkung nyaris mencekik lehernya sendiri.

Begitu pula dengan sayapnya yang dulu kokoh kini suda semakin lemah dan berat karena bulu-bulunya sudah terlalu panjang dan lebat. Ia sudah semakin sulit untuk terbang, hunting mencari makan, bertarung dan berjuang menghadapi seleksi alam. Keperkasaannya mulai sirna padahal ia masih ingin tetap bertahan hidup puluhan tahun lagi.

Ia dihadapkan pada dua pilihan, mati diusia 40 tahun atau… atau… bagaimana?

Apakah yang dilakukan sang elang selanjutnya? ?? Apakah dia berkeluh kesah atas semua itu? Atau berputus asa, pasrah dengan keadaan dirinya? Menerima saja bahwa ia ditaqdirkan hanya hidup selama 40 tahun…?

Ternyata elang bukanlah makhluk lemah yang mudah patah arang. Ia mencari cara untuk mengembalikan kekuatannya. Yaitu ia harus terbang ke tempat yang sangat tinggi untuk beristirahat total selama berbulan-bulan. Apa yang dilakukannya ketika itu. Ia harus merekonstruksi senjata-senjata tubuhnya. Ia mematuk-matuk dengan paruhnya sekuat tenaga, hingga parus tuanya itu terlepas dan tumbuh paruh yang baru. Lalu berdiam diri menunggu paruhnya yang baru tumbuh sempurna.

Kemudian paruh yang baru itu digunakan untuk mencabut kuku-kukunya yang telah lemah. Ia mencakar-cakar dengan sangat kasar agar kuku-kukunya lepas dan berganti dengan kuku-kuku yang baru. Tidak sampai di situ, ia pun kemudian mencabuti bulu-bulunya terutama di bagian sayap. Itu semua dilakukannya tentu bukanlah dengan kemudahan. Selanjutnya ia berdiam diri hingga lima bulan kemudian bulu-bulunya yang baru tumbuh dan ia bias kembali terbang. Sungguh merupakan proses yang sangat panjang dan menyakitkan.

Kesuksesan butuh pengorbanan. Kiranya itulah salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari sang elang. Meski harus dengan sengaja membuat dirinya merasakan sakit yang teramat sangat, tapi untuk kejayaannya dia tahan uji. Walaupun dengan mengerahkan segenap sisa-sisa tenaga di usia separuh baya, namun tak menyurutkan langkahnya untuk menduduki kembali singgasana kebesaran kerajaannya.

Banyak manusia yang ingin sukses. Mungkin hampir seluruhnya. Ingin seperti ini dan itu, ingin miliki ini dan itu, ingin begini ingin begitu, impian yang sekain tinggi tak berbatas. Timbul pertanyaannya, apa yang akan kita lakukan untuk mewujudkan impian itu? Lalu kapan kita akan mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan?

Sang Elang bukan sosok yang berkeluh kesah, pasrah dan gampang menyerah. Maka belajarlah dari elang. Di usia 40 tahun yang sudah tidak produktif ia ingin lahir kembali (re-born) sebagai elang yang baru, yang segar yang kuat, jaya, perkasa. Siapa pun kita yang saat ini sedang gagal, baru saja gagal, atau belum tau akan berhasilkah atau gagalkah, mari belajar dari elang. Kita koreksi-evaluasi diri kita. Mungkin banyak yang harus diperbaiki, jasmani dan rohani.


Sumber :
Milist manajemen@yahoogroups.com

Saturday, September 13, 2014

Problem Solver dan Mindset


Oleh: Rhenald Kasali

ANDA mungkin kenal dua nama ini: Larry Page dan Sergey Brin. Keduanya adalah pendiri Google, mesin pencari yang merevolusi dunia internet. Google kini menjadi perusahaan IT terbesar dengan nilai penjualan (2013) mencapai USD 59,83 miliar atau setara dengan Rp 688 triliun.

Apa artinya angka itu? Sebagai ilustrasi, pendapatan tahun yang sama Pertamina mencapai USD 70,9 miliar, sedangkan PT Astra International Tbk USD 16,6 miliar. Jadi, Google beberapa kali lebih besar daripada Astra, tetapi lebih kecil daripada Pertamina.

Meski begitu, tak ada yang menyangkal bahwa Google adalah perusahaan besar yang tak lepas dari peran dua pendirinya tadi. Nah, yang mungkin Anda belum tahu, di tahap awal, keduanya betul-betul bak Tom & Jerry. Ribut terus.

Ada saja pemicunya. Bahkan, hal-hal kecil sekalipun. Misalnya, lupa menutup pintu, mematikan kompor gas, meletakkan koran tidak pada tempatnya, dan sebagainya.

Pembentuk Kompetensi

Pada banyak organisasi, dengan mudah kita menemukan sosok-sosok seperti Larry dan Sergey yang bak air dan api. Sulit dipertemukan. Celakanya, pada taraf tertentu memicu terjadinya office politic, melahirkan kubu-kubu di dalam organisasi perusahaan.

Pada tingkat yang sangat parah, mereka mampu membuat organisasi perusahaan terbelah. Bukan hanya dua, tetapi bisa tiga, bahkan empat kubu.

Tapi, dunia ini adil. Ada hitam, ada putih. Ada gelap, ada terang. Maka, selain trouble maker, perusahaan memiliki problem solver. Mereka adalah orang-orang yang berperan mengatasi setiap masalah yang dipicu perilaku para biang onar.

Orang-orang seperti inilah yang kemudian membentuk kompetensi inti, menjaga agar tetap bersatu, mendorong lahirnya kinerja-kinerja unggul, dan memberikan inspirasi kepada karyawan lainnya untuk menghasilkan kinerja yang unggul juga.

Biasanya, jumlah mereka tidak banyak, tapi sangat powerful. Mereka termasuk orang-orang yang menduduki posisi-posisi kunci. Begitu pentingnya orang-orang seperti itu, Bill Gates mengatakan, ”Kalau Anda ambil 20 orang terbaik Microsoft, bisa saya pastikan Microsoft akan menjadi perusahaan yang sama sekali tidak penting lagi.”

Setiap organisasi layaknya memiliki problem solver, namun hendaknya disadari mereka selalu berhadapan dengan para pengacau. Dan, sebagaimana layaknya pertarungan, bisa saja suatu ketika mereka kalah.

Apa jadinya kalau mereka sampai kalah? Kinerja organisasi pasti amburadul. Pada tataran bisnis, kita sering mendengar perusahaan yang maju tidak, mundur juga tidak. Kinerjanya begitu-begitu saja. Stagnan. Tapi, kalau kekacauannya sudah begitu parah, perusahaan-perusahaan itu bakal bertumbangan, bangkrut, dan akhirnya ditutup.

Maka, penting bagi para CEO atau pemilik perusahaan mengenal siapa problem solver dan siapa pengacau. Lalu, penting pula memastikan dukungannya terhadap para problem solver. Jangan sampai mereka kalah.

Mindset

Para problem solver ini tidak lahir tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui proses panjang. Jika diidentifikasi, mudah mengenali apa yang membuat mereka menjadi begitu berbeda. Perbedaannya adalah soal mindset.

Apa itu mindset?

Supaya mudah dipahami, saya pakai cerita Michael Jordan, pebasket terbesar yang pernah ada di bumi ini. Dalam sebuah wawancara TV, dia ditanya, ”Apa rahasianya sehingga Anda bisa menjadi pebasket yang hebat?”

Kata Jordan, dia selalu menanamkan kepada diri sendiri bahwa setiap kali bertanding, itu adalah pertandingan terakhirnya. Dengan keyakinan seperti itu, setiap kali bertanding, Jordan bermain habis-habisan. Keyakinan yang dimiliki Jordan itulah mindset. Maka, untuk membenahi para pengacau, kita mesti membereskan mindset mereka. Begitu pula kalau mau membenahi negeri ini, kita harus membenahi mindset kita. []

KORAN SINDO, 28 Agustus 2014
Rhenald Kasali ; Pendiri Rumah Perubahan @Rhenald_Kasali

Sunday, November 24, 2013

7 Leadership Secrets Sir Alex Ferguson


Sir Alex Ferguson, former Manager, Manchester United, UK

Written by

Steve Tappin
CEO Xinfu, Host of BBC CEO Guru & Founder, WorldOfCEOs.com

His autobiography is released today, so what lessons can we draw from this sporting icon?



When Manchester United boss Sir Alex – the most successful manager of a British soccer team in decades – announced his retirement back in May, it generated more than 1.4 million Twitter mentions within the first hour. This ranked as more significant than the death of Margaret Thatcher, if slightly less so than the announcement of the new Pope.

So here are Sir Alex's seven leadership lessons:

(1) Face Tough Reality And Sort Problems Out Head-On

The son of a Glasgow shipbuilder, Ferguson’s grit was forged during 17 relatively unspectacular years as a player in Scottish football. He reflected: “The adversity gave me a sense of determination that has shaped my life. I made up my mind that I would never give in.”

When he became manager of Manchester United in 1986, the tough reality was that the side hadn’t won the football league for 26 years – Ferguson was depressed by the players’ level of fitness and worried that they were drinking too much. However, as he would do many times in later years, Ferguson drew strength from adversity, managing to increase their discipline and improve results.

A key lesson for CEOs is not to let problems fester but to tackle them head-on. As Ferguson says:

“No one likes to get criticized. But in the dressing room, it’s necessary that you point out your players’ mistakes. I do it right after the game. I don’t wait until Monday, I do it, and it’s finished. I’m on to the next match.”

(2) Only Accept Winning

“I’ve never played for a draw in my life,” boasts Ferguson, and with 49 trophies, 13 Premier League titles and two European Cups to his name, it shows. He has inspired by his passion, convincing players that they can push their performance on through a brick wall.

Ferguson is also passionate about his politics, leading his friend and Labour spin doctor Alistair Campbell to comment:

If there is one lesson politics can take from sport, and someone as successful as Fergie, it is that if winning is what matters, make sure you do everything you need to do to win. That sounds obvious. But it is a mindset that combines the big vision with microscopic attention to detail.”

The temptation for Western CEOs is to get stuck in the mindset of incremental improvements, where 5% sales growth will get them through. However, as they come up against the big dreamers of increasingly professional Chinese companies, they would do well to adopt the mindset of the binary world of sport, where there are only winners and losers.

(3) No-One Is Bigger Than The Team

While he made solid transfer decisions, a big part of Ferguson’s success was the ability to spot talent and nurture from within. He turned exuberant “show ponies” – such as the 17-year-old Cristiano Ronaldo – into team players, while providing a home for talented misfits like Eric Cantona.

If you think there are big egos and strong characters in your organization, just look inside a Premier League dressing room. Ferguson’s genius has been to make everyone understand that the glory and the riches that they enjoy flow from being part of a winning team. It doesn’t matter how big a star you are. The team is always bigger. Either he was in control or the players were – as Roy Keane, Ruud van Nistelrooy, and David Beckham found out to their cost.

Many CEOs should apply this to their top teams and deal more firmly with the big individuals who end up casting a dysfunctional shadow on team spirit and the company culture.

(4) Command Loyalty As A True Father Figure

One of the great characters of football, Ferguson is often associated with his volatile temper. His “hairdryer” – whereby he dressed down a team member with such force and directness that it was said to dry his hair – is the stuff of legend. However, his role as a mentor and a father figure should be not be overlooked.

Ultimately, Ferguson has been more about building players up than knocking them down:

“There is no room for criticism on the training field. For a player – and for any human being – there is nothing better than hearing ‘Well done’. Those are the two best words ever invented in sports.” Whatever the private exchanges, he always defends his team externally: “There is no point in criticizing a player forever. And I never discuss an individual player in public. The players know that. It stays indoors.”

CEOs can learn much about loyalty and the importance of seeking external perspectives from Ferguson, who also told Alistair Campbell:

“You know my definition of friendship – the real friend is the one who walks through the door when the others are putting on their coats to leave… I know from my position here that sometimes there can be so much noise and fury going on around you that you need people outside your own bubble who can take a slightly different perspective for you. We all need that.”

(5) Work Hard & Stay Fresh

Renowned for his work ethic and 7am training sessions, Ferguson says:

“I tell players that hard work is a talent, too. They need to work harder than anyone else.”

However, Ferguson – whose outside interests span racing and military history – is an unlikely advocate of work-life balance, commenting:

Mental and physical fitness are two sides of the same coin. You have to build rest into any program. That’s another thing that applies in all worlds, not just sport. I don’t think you can do high-pressure jobs now without being physically fit… there were times I could see [the leader] was getting tired, and I was thinking he’s probably doing too much himself, not delegating, not spreading the load.”

Only when they apply this insight can CEOs consistently perform at their best:

“Being able to analyze a situation and then decide what to do – that is such an important part of these top jobs. Reaching the right decisions under pressure.”

(6) Build An Enduring Institution Of Which People Want To Be A Part

Ferguson told the Harvard Business School that core to his success at Manchester United was building a “club” and not just building a “team” to survive:

“The first thought for 99% of new managers is to make sure they win – to survive. They bring experienced players in, often from their previous clubs. But I think it is important to build a structure for a football club, not just a football team. You need a foundation. And there is nothing better than seeing a young player make it to the first team. The idea is that the younger players are developing and meeting the standards that the older ones have set before.”

With a 27-year reign that’s eclipsed that of most CEOs and political leaders, Ferguson has excelled in managing multi-generation succession at his club. The baton has passed from the likes of Lee Sharpe and Nicky Butt, to Phil Jones on the inside and Robin van Persie from the outside. This would-be dinosaur has actually moved with the times, embracing new technology and medical advances to build a state-of-the-art training facility at Carrington. Ferguson has kept on developing his style and systems – and, professing that the modern player is somewhat more fragile – even claims to have mellowed a bit over the years.

(7) Leave On A High

Back on top of the English Premier League, Ferguson was wise enough to step away from the touchline of the beautiful game at a time of his choosing; without being given the red card. While it’s tempting to stay on and have another go and the ‘treble’ and the UEFA Champions League, the smart move is to leave space for someone else to take it on. That way his legacy has room to grow.

Many great leaders are true ‘one-offs’ and it is too simplistic to suggest that they should seek to bottle their essence to be preserved in aspic. Rather, the big challenge for them is to groom the next generation and ‘blend the essence’ so that it’s fit for their current and future organisation. Ferguson’s anointed successor, David Moyes, is said to be another Scot in the same mold but he is still going through a difficult transition.

Note to soccer fans: As a passionate lifelong fan of Leeds United, a competing soccer team, it's hard for me to write this post in praise of Sir Alex (easier though after Leeds' 1-0 FA Cup Victory over Manchester United in 2010!). However, I have to respect what Sir Alex has achieved and the lessons we can draw from his leadership.


*** And Don’t Forget To Add Some "Fergie Time" ***

One of the most revealing passages in Sir Alex’s new autobiography is when he deals with the matter of Fergie dj Time”. He admits that theatrically tapping on his watch as matches reached their conclusion was a psychological ploy.

The long-held popular belief was that this tactic would intimidate referees into granting Manchester United a little extra “stoppage time” (added with injuries, player changeovers etc.) at the end of either leg of a match. It was often in these vital extra seconds that his team would successfully score the goal that needed to level up the match or clinch victory. As BBC TV soccer presenter Gabby Logan would often say during her commentaries: “They're playing Fergie Time!!”

I think the lesson here is that leaders and sports players – when in really matters – are able to get fully “in the zone” and into a state of peak performance. In this moment, we seem to lose track of conventional “clock time”, and the usual physical obstacles melt away. American football player John Brodie brings this concept to life:

“Time seems to slow way down… It seems as if I had all the time in the world.. and yet I know the defensive line is coming at me just as fast as ever.”

A truly great leader can shift other people’s perceptions of reality - inspire people to do the impossible. “Fergie Time” reminds me of Steve Jobs’ famous “reality distortion field” – which famously inspired his team to create ever-smaller, faster “insanely great” products – and convince us to buy products that we didn’t even know we needed.


With Sir Alex's retirement, have we really seen the end of "Fergie Time"?

Sumber : http://www.linkedin.com/today/post/article/20131024113124-13518874-sir-alex-ferguson-s-7-leadership-secrets?trk=mp-details-rc

Friday, September 13, 2013

ACHIEVE YOUR GOALS!



We all want to be successful in our life. We all have our dreams and vision, something that we would like to become in the near future. But we are also witnessing that not all people can achieve their dreams. WHY?

Success is not a miracle. Success is a result of consistent efforts. Many people fail to achieve their dreams because of their lack of consistency. They’re easily carried away with non-important things that make them gets further to their goals.
The achievers are different. The Achievers are people who have champion spirit inside them. They have a dream, they keep fighting, dare to face the challenge, always find solution to their problem, and the most important thing, they are very committed to their dream/goals.

Today, many people succeed, and many more are failed to achieve their dreams. What separates the achievers and the non-achievers lies in these four disciplines, that are:


1. Discover Your Potentials
understanding personal strength and weaknesses and how to use it for our own benefit.

2. Set Your Goals
Goals and dreams, and the great feeling of achieving it will make us highly motivated, realizing our purpose in life, and make our life meaningful
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
visit http://bolder.n-adhi.com to get more information and download more resources------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3. Translate Goals Into Actions
A dream will remains a dream if we cannot translate it into reality. And the first step is translate our dreams into actions.

4. Cherish Every Moment
To keep ourselves in a positive situation, we should always be grateful and cherish every moment we have, whether it’s good or bad.

(c) 2009. Nugroho Adhi W.
BOLDER. http://bolder.n-adhi.com

Friday, July 26, 2013

BUKU MANAJEMEN TURNAROUND : Kiat-Kiat Bisnis Terbaik dari Pengalaman Indonesia


Penulis : Prof. Rene T. Domingo & Kristanto Santosa
Jumlah halaman : 280 halaman
Bahasa : Inggris & Indonesia
Penerbit : PQM Consultants & Asian Institute of Management

Rene T. Domingo, Professor AIM (Asian Institute of Management), bersama dengan Kristanto Santosa, Partner PQM, memelopori penelitian manajemen untuk mempelajari kiat-kiat terbaik (best practices) berbagai perusahaan di Indonesia dan mancanegara; yang telah berhasil menghadapi dan menanggulangi krisis yang melanda Indonesia dan Asia beberapa tahun berselang. Buku ini bisa menjadi panduan yang tepat dan up-to-date bagi perusahaan-perusahaan, yang dewasa ini berada dalam lingkungan bisnis yang penuh gejolak dan penuh ketidak-pastian.

Pimpinan perusahaan, manager, dan profesional bisnis lainnya, bisa memanfaatkan buku ini untuk:

- Menerapkan kiat-kiat dan strategi bertahan dalam situasi krisis
- Membentengi perusahaan mereka secara pro-aktif agar mampu menangkal krisis
- Mereview visi, misi, serta strategi yang berlaku agar selalu siap menghadapi krisis
- Mengembangkan hubungan saling menguntungkan (win-win) dengan para mitra bisnis untuk menghadapi krisis bersama
- Mengubah situasi buruk akibat krisis menjadi peluang bisnis yang menguntungkan.

Sama halnya dengan bencana gempa dan tsunami yang baru lalu, akan datangnya krisis lain di masa mendatang adalah suatu keniscayaan. Tinggallah soal "kapan", bukan lagi soal "apakah" itu akan terjadi. Manfaatkanlah peluang mempelajari kiat-kiat mereka yang berhasil selamat dan sukses, untuk memperbesar peluang "hidup" bisnis kita, seandainya 
krisis berikutnya datang menerjang.

Tuesday, March 26, 2013

Why We're Betting on Manufacturing

Jeff Immelt
Chairman and CEO at General Electic (GE)


America can turn a slow recovery into a strong comeback, one that
grows our economy and firmly reestablishes our country as a powerhouse
of ideas and production. The key – and what will determine the winners
and losers of an exciting new era – is our willingness and ability to
lead the next “big waves” of productivity.

There are four new drivers of productivity, and success in each
depends on the technology and talent we develop. The first is how the
sheer volume and increased access to shale gas in regions around the
globe is changing the energy debate and the balance of energy power.
It would require real infrastructure and pipeline integration between
Canada, Mexico and the U.S., but North America could achieve energy
independence within 10 years. The second driver for dramatically
increased productivity is applying the lessons of social media to the
industrial world and building what we call the Industrial Internet. By
owning and connecting the analytical layers around industrial products
– and using real time data to extract real time knowledge – we can
improve asset performance and drive efficiency. The third driver is
speed and simplification because the only way to serve our customers
better and compete in a complex world is by working faster and
smarter. The last productivity driver, and related to the other three,
is the evolution of advanced manufacturing. Manufacturing excellence,
forgotten for too long, is once again a competitive advantage.

Today, we are convening a forum in Washington, DC to discuss the
future of manufacturing and its impact on the economy. It’s an
exciting time; we can reverse a trend where companies outsourced
critical capabilities in their supply chain and focused too much on
cheap labor rather than speed, innovation and market access. Now,
advanced manufacturing — both imbedding technology into products and
processes and creating the highly skilled workforce that can support
these efforts — and other new innovations in manufacturing are
changing what we make, where and how we make it, and even who makes
it. Large or small companies that invest in their own capabilities and
“own” or control a local supply chain have a competitive advantage as
they develop their next breakthrough.

Historically, we’ve manufactured jet engine components mostly by
casting, stamping and cutting steel and alloys. Now, through 3D
printing, or additive manufacturing, we can “print” complex parts
layer by thin layer. At GE Aviation some of our newest jet engines
will have printed combustion system components and other parts inside,
reducing engine weight and saving our customers money.

Now is the time to bring efforts like this to scale. The rise of
analytics and software in the industrial world only multiplies the
opportunity in front of us. America must capitalize. If we do, we can
create new businesses and new industries. Advanced manufacturing will
change not only the way we build complex machines but the entire
competitive landscape.

Monday, December 17, 2012

Rapat Adalah Kerja Manajemen


Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)

     Rapat adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis itu sendiri. Bahkan rapat adalah alat pimpinan puncak untuk mengendalikan usahanya. Persoalannya apakah rapat yang diselenggarakan itu produktif (efektif- efisien), atau sekedar memboroskan waktu dengan topik yang tidak relevan maupun cara penyelenggaraan rapat yang tidak profesional.

     Bahkan seorang pengusaha sukses sekaliber Joe Kamdani (pendiri sekaligus pimpinan puncak PT Datascrip) menulis dalam bukunya: Succeed Above Success, A Practical Management Experience With Joe Kamdani, 2004 : ”Kalau ada business executive yang berkata, ’I hate meetings’, hal itu sama saja kalau ada dokter ahli bedah yang mengatakan dia tidak suka berada di ruang operasi, atau seorang guru yang mengatakan tidak suka berada di ruang kelas.”

     Memang harus dimaklumi bahwa rapat – dalam manajemen – adalah suatu pekerjaan. Segala macam keputusan penting berasal dari ruang rapat: perusahaan mau IPO, buka cabang, tambah tenaga kerja, dll, merupakan bagian dari kegiatan manajemen sehari-hari.

     Biarpun kita sudah punya busines- objectives dan business-plan, hal itu kurang berarti kalau tidak disertai dengan sistem pelaporan yang efektif, mengkaji ulang, dan evaluasi antara apa yang dicapai dibanding rencananya. Secara berkala (mingguan, bulanan, kwartalan dan semesteran)  kita perlu me-review apakah tindakan yang direncanakan berjalann baik, dan bagaimana hasilnya?

     Jangan sampai rapat Anda cuma sekedar WOMBAT (waste of money, brain and time). Wombat adalah juga sejenis binatang malam, kira-kira seperti tikus besar, bergerak lambat yang hidup di Australia).

     Nah, supaya tidak sekedar jadi wombat, Joe Kamdani menyarankan rapat itu perlu dipersiapkan. Berikut unsur-unsurnya :

1.     Nama rapat. Adalah penting memberikan nama atau judul setiap rapat untuk memberikan fokus dan batasan pada masalah yang akan dibahas.

2.     Pimpinan rapat. Tentukan eksekutif pimpinan rapat yang bertanggung-jawab atas penyelenggaraan dan petikan risalahnya.

3.     Notulis. Tugaskan siapa yang akan mencatat dan menyusun risalah rapat.

4.     Agenda rapat. Agenda dan jadwal rapat perlu dituliskan jelas, disampaikan di muka dalam waktu yang cukup untuk memberikan kesempatan peserta mempersiapkan diri.

5.     Materi rapat. Biasanya menggunakan alat presentasi multimedia, bahan presentasi harus dipersiapkan dengan baik dan dites sebelumnya; handouts, brosur, katalog, price-list, slides (powerpoint), product display, samples, dll.

6.     Jadwal rapat. Mesti terkoordinir selama satu tahun. Dengan demikian kita mencegah bentrokan rapat satu dengan lainnya. Sehingga mudah menentukan rapat lain yang tidak terprogram, di samping memudahkan untuk memesan ruang/fasilitas lain yang diperlukan.

7.     Persiapan teknis. Bahan-bahan laporan (slides) untuk pembahasan sudah harus selesai paling lambat satu hari sebelum rapat. Pengaturan ruang rapat, persiapan teknis peralatan komputer, dan sistem presentasi sudah harus selesai minimal setengah jam sebelum rapat dimulai. Undangan rapat (mengingatkan dan menegaskan kembali) sekurangnya 10 hari di muka (bisa lewat email) atau fasilitas reminder (pengingat elektronik) lainnya. Petugas konsumsi diinstruksikan sesuai waktu lunch-break/coffee-break. Datang tepat waktu (berada di tempat rapat 5 menit sebelum rapat dimulai).

8.     Risalah rapat. Rapat yang efektif menghasilkan risalah rapat yang dipetik, dikoreksi, dan dibacakan sebelum rapat ditutup. Risalah rapat harus didokumentasi, dipertanggungjawabkan dan dipantau tindak lanjutnya oleh eksekutif atasan. Tidak selalu risalah rapat lengkap diberikan pada semua peserta, melainkan harus dipertimbangkan dulu apakah ada keperluannya bagi yang bersangkutan. Risalah rapat yang lalu perlu dibacakan untuk mengingatkan sebelum rapat yang baru dimulai, terutama kalau masalahnya berkesinambungan.

Setiap rapat manajemen haruslah diperhitungkan return-nya. Karena setiap peserta membawa pada dirinya nilai waktu dan opportunity-cost yang mahal. Persiapkanlah rapat bisnis Anda sebaik-baiknya. Bersiaplah untuk sukses.

(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN, Minggu III, Oktober 2007

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: strategicmanagementservices@yahoo.com 

I’ll be gone? / You’ll be gone?

Oleh:
Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)

 
“You
can have all the regulations in the world, but when greed tempts large numbers
of people to lose sight of any kind of long term thinking and sense of
accountability, regulations won’t help you.”– Thomas L. Friedman, Hot, Flat &
Crowded: Why The World Needs A Green Revolution – And How We Can Renew Our
Global Future, 2009.

***

     Belum sekuartal Jokowi-Ahok memimpin DKI, sudah banyak perubahan di
internal administrasi pemda. Transparansi rapat yang kebanyakan oleh Jokowi
ditugaskan kepada wakilnya telah di-upload ke Youtube sehingga publik bisa ikut observasi.
Anggaran yang diduga  telah di‘mark-up’
dipangkas sebesar 25% untuk dikembalikan ke APBD supaya bisa dialihkan untuk
program penting lainnya. Luar biasa memang dampak perubahannya, terutama mental
apparatus pemda serta para pemasoknya. Selama ini – dengan mentalitas
ajimumpung – telah terbentuk suatu konspirasi koruptif-sistematis. Mental ajimumpung
berpikir bahwa dampak buruk bakal ditanggung pejabat pengganti. Dan nanti saat
bom waktu meledak toh saya sudah tidak ada di situ lagi.

     Mentalitas umum aji-mumpung lah yang mengakibatkan resesi besar. Seperti
kata Thomas Friedman, “It was not the
illicit behavior that caused the Great Recession. It was all the stuff going on
in plain sight by people who should have known better but suspended their
beliefs and values and norms and skepticism to get in on the party. Yes, they
had “principles”. Unfortunately, the whole credit bubble that destabilized the
global economy was built on the “principles” known in the banking world as
IBG/YBG – “I’ll be gone” or “You’ll be gone when things go bad.” 

***

     Di akhir tahun ini siklus roda perencanaan (planning-cycle) sedang diputar. Pembacaan lanskap bisnis global-lokal
menjadi imperatif. 
 
     Tentang trend ekonomi global jangka panjang (sampai 2050!) bisa kita
kutip prediksi Goldman Sach (http://www.businessinsider.com/goldmans-world-gdp-projection-for-2050-2012-11#ixzz2By6H3bCA) beberapa waktu lalu: 1) Bahwa BRIC
nations (Brazil, Rusia, India dan China) bakal mendominasi produktivitas dunia.
Keempat negara ini menghasilkan hampir separuh dari tingkat pertumbuhan dunia
selama dekade belakangan ini. 2) Agak mengagetkan bahwa Nigeria dan Turki bakal
diramal bakal berada di depan Kanada. Sedangkan Saudi Arabia keluar dari
hitungan. Rupanya para analis Goldman Sach memproyeksikan pertumbuhan cepat
untuk beberapa negara diluar BRIC (seperti Indonesia dan Nigeria) lantaran
faktor pertumbuhan populasi penduduknya.  3) Proyeksi PDB per kapita tentu agak berbeda. Negara BRIC masih di
belakang, walau  terkecuali Russia yang
PDB per kapitanya diramal bakal melampaui Italia! (padahal saat ini PDB
perkapita Italia masih dobelnya Russia). Hal menarik lainnya, Perancis bakal menyusul
Jerman dalam soal besaran total PDB maupun per kapitanya. Sehingga agaknya
konstelasi dunia 38 tahun kedepan ini bakal banyak berbeda dari sekarang.  
 
     Gambaran ekonomi global 2013 diperkirakan bakal tumbuh 3,6%, naik
dibanding pertumbuhan tahun 2012 yang 3,3%.  Perekonomian negara maju praktis stagnan. Amerika Serikat, misalnya, hanya
bakal tumbuh 2,2% di tahun ini, dan tahun depan diperkirakan malah turun 2,1%. Di
Zona Eropa kontraksi ekonomi tahun ini 0,4%, sedangkan 2013 ada tumbuh tipis,
yaitu 0,2%. Adapun Jepang yang di tahun ini membukukan pertumbuhan 2,2%
(sebagian akibat recovery-cost tsunami Fukushima), pada 2013 hanya bakal tumbuh
1,2%. Pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 (Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan
Vietnam) tahun ini diperkirakan 5,4%. Diperkirakan meningkat di 2013 jadi 5,8%.
Di ASEAN-5 ini, Indonesia praktis memimpin pertumbuhan kawasan dengan tingkat
pertumbuhan 6% di 2012, sedangkan 2013 naik ke 6,3%.

     Dalam analisanya, Cyrillus Harinowo (http://post.indah.web.id/?/read/2012/10/15/279/704001)
menjelaskan bahwa jika pertumbuhan ekonomi domestik yang menguat, maka pengusaha
Indonesia akan memperkuat produksi yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera
masyarakat Indonesia. Ia mengatakan, “Dan saya sungguh yakin hal inilah yang
akan terjadi di mana industri automotif, alat-alat keperluan rumah tangga (durable
goods seperti TV, kulkas, kompor gas, AC) maupun furnitur akan mengalami penguatan.
Demikian juga produksi FMCG (fast moving consumer goods) sebagaimana
yang diproduksi Unilever, Wings, Indofood, ABC, Mayora, dan sebagainya masih
akan mengalami peningkatan permintaan yang kuat. Demikian juga industri
pariwisata dan perjalanan yang pada akhirnya akan mendorong lebih jauh
pertumbuhan industri penerbangan, transportasi darat, perhotelan, dan
sebagainya. Mal dan ritel lain juga tentu akan menguat karena berbagai produk
tersebut tentu akan sampai kepada konsumen melalui jaringan ritel, termasuk
mal.”

***

     Lanskap bisnis yang menjanjikan adalah potensi dan peluang yang mesti
dikapitalisasi menjadi prestasi dan kinerja. Dari fase perencanaan ke eksekusi dibutuhkan
kepemimpinan serta alat manajemen yang disebut mekanisme evaluasi berkala yang diselenggarakan
dengan disiplin, penuh keberanian dan tak kenal lelah. Accountability perlu ditegakkan, mentalitas IBG/YBG perlu ditebas. Dan
belajar dari fenomena Ahok yang berani mengevaluasi dan merevisi anggaran
seluruh proyek strategis pemda DKI, maka kita pun terinspirasi. Angin segar
penuh harapan telah bertiup dari Jakarta. Selamat Natal 2012 dan Tahun Baru
2013.

(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Desember 2012

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: strategicmanagementservices@yahoo.com

Related Posts