Showing posts with label Dunia Kerja. Show all posts
Showing posts with label Dunia Kerja. Show all posts

Monday, July 29, 2024

10 Prodi di ITB yang Lulusannya Mendapatkan Bonus Tahunan Tertinggi

Laporan Tracer Study ITB Sarjana yang dirilis tahun 2023 memberikan gambaran menarik mengenai bonus tahunan yang diterima oleh alumni ITB.

Dalam laporan tersebut ditemukan bahwa prodi dengan bonus tahunan tertinggi memiliki median sebesar Rp45.750.000.

Berikut adalah 10 prodi dengan bonus tahunan tertinggi dari lulusan ITB yang bekerja:

1. Prodi Manajemen

Prodi Manajemen di ITB menduduki peringkat pertama dengan bonus tahunan tertinggi sebesar Rp45.750.000.

Hal ini mencerminkan permintaan yang tinggi terhadap lulusan manajemen, terutama di sektor-sektor yang membutuhkan kemampuan kepemimpinan dan manajemen strategis.

2. Teknik Perminyakan

Lulusan Teknik Perminyakan mendapatkan bonus tahunan yang mencapai Rp40.000.000. Industri minyak dan gas yang selalu mencari tenaga ahli yang terampil dalam eksplorasi dan produksi minyak menjadi faktor utama tingginya bonus ini.

3. Teknik Metalurgi

Bonus tahunan yang diterima oleh lulusan Teknik Metalurgi sebesar Rp38.000.000 menunjukkan pentingnya peran mereka dalam industri pengolahan dan produksi logam. Keterampilan khusus yang dibutuhkan dalam bidang ini membuat lulusan Teknik Metalurgi sangat dihargai.

4. Teknik Material

Dengan bonus tahunan sebesar Rp36.000.000, lulusan Teknik Material memainkan peran kunci dalam pengembangan dan pemrosesan material baru. Keahlian mereka dalam memahami sifat material dan teknologi yang digunakan dalam berbagai aplikasi industri sangat bernilai.

5. Teknik Telekomunikasi

Lulusan Teknik Telekomunikasi menerima bonus tahunan sebesar Rp35.000.000. Perkembangan pesat teknologi komunikasi dan informasi mendorong permintaan tinggi untuk tenaga kerja yang mampu mengelola jaringan dan sistem telekomunikasi.

6. Matematika

Meskipun bukan dari kelompok teknik, lulusan Matematika memperoleh bonus tahunan sebesar Rp30.000.000. Kemampuan analitis dan pemecahan masalah yang tinggi membuat mereka sangat dicari di berbagai industri, termasuk keuangan dan teknologi.

7. Teknik Kelautan

Dengan bonus tahunan sebesar Rp25.000.000, lulusan Teknik Kelautan berperan penting dalam industri maritim dan eksplorasi bawah laut. Keahlian mereka sangat dibutuhkan untuk mengatasi tantangan di lingkungan laut yang kompleks.

8. Teknik Tenaga Listrik

Lulusan Teknik Tenaga Listrik mendapatkan bonus tahunan sebesar Rp24.000.000. Industri energi yang terus berkembang memerlukan tenaga ahli yang mampu mengelola dan mengembangkan sistem tenaga listrik yang efisien dan berkelanjutan.

9. Teknik Biomedis
Dengan bonus tahunan sebesar Rp22.500.000, lulusan Teknik Biomedis berkontribusi besar dalam pengembangan teknologi medis dan perawatan kesehatan. Keahlian mereka dalam mengintegrasikan teknologi dengan ilmu biologi membuat mereka sangat berharga di sektor kesehatan.

10. Teknik Pertambangan

Lulusan Teknik Pertambangan menerima bonus tahunan sebesar Rp22.000.000. Kebutuhan akan sumber daya mineral dan bahan tambang lainnya membuat lulusan bidang ini selalu dicari, terutama dalam industri pertambangan yang terus berkembang.

Hasil dari tracer study ini memberikan gambaran yang jelas mengenai prodi-prodi yang memberikan bonus tahunan tertinggi bagi lulusan ITB.

Informasi ini dapat menjadi acuan bagi calon mahasiswa dalam memilih prodi yang sesuai dengan minat dan prospek karir di masa depan.

Nah buat kamu yang akan masuk ITB informasi semoga bisa menjadi bahan pertimbangan.

Lebih jauh lagi, hasil ini juga menunjukkan bahwa lulusan ITB tidak hanya memiliki kemampuan yang unggul di bidang akademis, tetapi juga memiliki daya saing yang tinggi di pasar kerja.

Tingginya bonus tahunan yang diterima oleh lulusan dari berbagai prodi ini mencerminkan kualitas pendidikan dan pelatihan yang diberikan oleh ITB.

Di sisi lain, industri juga diuntungkan dengan mendapatkan tenaga kerja yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di dunia kerja.

Sinergi antara perguruan tinggi dan industri ini diharapkan dapat terus berlanjut dan semakin menguat di masa depan.


Sumber :

https://www.ayojakarta.com/pendidikan/7613197309/10-prodi-di-itb-yang-lulusannya-mendapatkan-bonus-tahunan-tertinggi-nomor-1-ternyata-bukan-dari-teknik-ada-yang-capai-rp45-juta

Wednesday, February 1, 2023

Kisah CEO Ankiti Bose & Startup Zilingo

Drama Startup Rp 15 Triliun, Pendiri Dipecat Kini Bangkrut

Sejak awal 2022, startup Zilingo dipenuhi drama. Startup yang disebut pernah bervaluasi US$970 juta atau Rp 15 triliun itu memecat pendirinya dan kini akhirnya terancam bangkrut.

Pada awalnya, Zilingo merupakan startup yang menjanjikan. Perusahaan itu pernah mengumpulkan lebih dari US$300 juta dari sejumlah investor terkemuka seperti Temasek Holdings dan Sequoia Capital India.

Perusahaan juga pernah beroperasi di 8 negara dan memiliki 600 orang pegawai. Selain itu juga pernah mengumpulkan US$226 juta pada awal 2019 dalam pendanaan terakhir.

Namun drama perusahaan dimulai saat Ankiti Bose yang merupakan salah satu pendiri Zilingo disebut terlibat skandal keuangan. Atas penyelidikan itu, perusahaan akhirnya memutuskan memecat Bose.

"Menyusul penyelidikan yang dipimpin oleh firma forensik independen yang ditugaskan untuk memeriksa keluhan penyimpangan keuangan yang serius, perusahaan memutuskan menghentikan pekerjaan Ankiti Bose dengan alasan, dan berhak melakukan tindakan hukum yang sesuai," kata perusahaan dalam pernyataannya, dikutip dari Economic Times.

Namun tak sampai di situ. Kepergian Bose ternyata diikuti oleh para petinggi lain. Misalnya Dhruv Kapoor, pendiri Zilingo lainnya yang juga ikut mundur dan juga sejumlah anggota dewan komisaris perusahaan termasuk CEO GoTo Andre Soelistyo.

Tahun 2018, perusahaan juga disebut mengeluarkan hingga US$1 juta. Ini dilakukan dalam rangka mengirim sejumlah influencer media sosial ke Maroko.

Mereka dikirim untuk liburan tiga hari yang diisi dengan menunggang unta, perjalanan balon udara, kelas yoga, dan makan malam gourmet. Namun ternyata Bloomberg melaporkan menurut seorang sumber, kampanye itu gagal total. Dari harapan satu juta pelanggan hanya ada 10 ribu pengguna baru.

Kini, Zilingo sudah menunjuk EY Corporate Services sebagai likuidator sementara. Kreditornya adalah Varde Partners dan Indies Capital Partners yang disebut telah menemukan pembeli untuk membeli beberapa asetnya.

Bloomberg menuliskan Zilingo menolak berkomentar. Namun kabarnya pemegang saham serta kreditor utama telah diberitahu soal keputusan itu.

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230126074009-37-408305/drama-startup-rp-15-triliun-pendiri-dipecat-kini-bangkrut


Zilingo Pecat Founder dan CEO Ankiti Bose

Setelah sempat diskors, Ankiti Bose sudah tak lagi menjabat sebagai CEO Zilingo. Perusahaan startup fesyen business-to-business (B2B) asal Singapura itu memecatnya karena dugaan penyimpangan keuangan.

"Menyusul penyelidikan yang dipimpin oleh firma forensik independen yang ditugaskan untuk memeriksa keluhan penyimpangan keuangan yang serius, perusahaan memutuskan menghentikan pekerjaan Ankiti Bose dengan alasan, dan berhak melakukan tindakan hukum yang sesuai," kata perusahaan dalam pernyataannya, dikutip dari Economic Times, Jumat (20/5/2022).

Zilingo juga menambahkan merasa sedih serangan informasi yang seolah bocor dan palsu ke dewan, investor dan karyawan. Dengan di saat bersamaan adanya informasi yang diklaim dibayar dan kampanye media yang memfitnah pada saat penyelidikan.

Bose diketahui telah diskors pada 12 April lalu. Dia juga buka suara setelah dipecat dan mengatakan hukumannya itu berdasarkan keluhan pelapor anonim.

Dia mengaku diberitahu bahwa pemecatan ini dilakukan dengan alasan pembangkangan. Selain itu, dia menyatakan bahwa dirinya belum pernah bertemu dengan penyelidik dari Kroll atau Deloitte dan tidak diberi waktu untuk menyediakan dokumen yang diminta.

"Setiap laporan yang keluar setelah pemecatan saya akan dicabut, karena nampaknya diinstruksikan oleh pihak-pihak yang bertikai dan kami akan mengejar hak, sesuai hukum," kata Bose.

Dia juga mengatakan akan segera berbicara secara tertulis dengan perincian lebih lanjut terkait konflik kepentingan dalam perjalanan proses tersebut.

Pada 19 April, Bloomberg melaporkan Zilingo sedang berdiskusi menggantikan Bose yang sedang berada di tengah proses penyelidikan itu.

Dugaan penyimpangan akuntansi ditemukan saat pembicaraan lanjutan dalam upaya menggalang pendanaan US$150-200 juta dalam putaran baru. Pendanaan itu akan mendorong valuasi Zilingo hingga mencapai US$1,2 miliar dan membuka jalan menuju titel unicorn.

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220520162019-37-340546/zilingo-pecat-founder-dan-ceo-ankiti-bose


Curhat Lengkap Founder Zilingo yang Didepak Startup Sendiri

Pada 20 Mei 2022, Zilingo, telah memutuskan hubungan kerja dengan Ankiti Bose, CEO sekaligus pendiri startup fesyen tersebut. Keputusan ini berdasarkan hasil penyelidikan independen atas keluhan penyimpangan keuangan.

Permasalahan internal ini masih terus berlanjut hingga sekarang. Bose baru saja mengundurkan diri dari semua posisi anggota dewan komisaris di Zilingo, termasuk perusahaan induk dan semua anak perusahaan.

Pengunduran diri Bose terjadi pada saat startup mode yang berbasis di Singapura itu sedang berdiskusi dengan pemegang saham mengenai tawaran pembelian manajemen serta potensi likuidasi aset perusahaan untuk melunasi kreditur.

Awal bulan ini, salah satu pendiri Zilingo dan CTO Dhruv Kapoor telah mengajukan penawaran pembelian manajemen kepada pemegang saham yang akan melibatkan likuidasi aset Zilingo dan pembentukan perusahaan baru.

Proposal tersebut didukung oleh Bose dan keduanya juga mengklaim bahwa mereka telah menerima komitmen dari investor untuk mendukung proyek baru sebesar US$8 juta.

Namun, pemungutan suara pada proposal ini serta hasil potensial lainnya untuk Zilingo seperti likuidasi lengkap terhenti, seperti yang dilaporkan minggu lalu.

Menanggapi apa yang sedang terjadi, Bose menulis pernyataan yang berisi curahan hatinya karena didepak dari perusahaan yang ia bangun.

Berikut pernyataan lengkap dari Ankiti Bose, dikutip dari akun Instagramnya, Jumat (1/7/2022)

Selama beberapa bulan terakhir, terlepas dari permintaan saya, dewan Zilingo gagal menunjukkan kepada saya laporan apa pun (yang dikeluarkan oleh Kroll atau Deloitte) yang berkaitan dengan penyelidikan terhadap perusahaan atau dugaan pelanggaran yang dituduhkan kepada saya. Dan entah mengapa atau bagaimana digunakan untuk mengakhiri posisi saya sebagai CEO.

Meskipun saya tetap menjadi direktur dewan di perusahaan induk grup dan anak perusahaannya, dan terlepas dari kenyataan bahwa saya tetap menjadi pemegang saham perusahaan. Selama waktu ini, informasi material lainnya yang berkaitan dengan perusahaan juga telah disembunyikan dari saya.

Pada saat yang sama, juru bicara dan "leakers" sibuk memuntahkan narasi kepada media yang buruk, sehingga merugikan semua pihak.

Sangat jelas bagi saya bahwa ratusan karyawan dan pelanggan juga dalam keadaan tak pasti dan karena tidak memiliki kejelasan tentang masa depan mereka - sama seperti saya. Kehidupan nyata dan pekerjaan telah dipertaruhkan.

Mengingat keadaan saat ini, dan karena ketidakjelasan informasi kepada saya sebagai anggota dewan dan pemegang saham, saya segera mengundurkan diri dari semua jabatan komisaris yang saya pegang di perusahaan induk Zilingo dan salah satu anak perusahaannya.

Ini adalah masa yang sulit bagi tim Zilingo saya, dan saya ingin meyakinkan semua rekan Zilingo yang saya cintai bahwa pengunduran diri saya sebagai anggota dewan tidak bertentangan dengan komitmen saya untuk menyelamatkan perusahaan.

Aku akan selalu berjuang untukmu dan bersamamu. Saya akan terus mendukung setia rencana yang menyelamatkan pekerja di Zilingo dan saya sekali lagi akan meminta setiap pemegang saham Zilingo untuk mencoba membedakan urusan profesional dan agenda pribadi, dan memprioritaskan apa yang terbaik untuk orang-orang kita yang telah memberikan darah, keringat, dan air mata untuk perusahaan kami.

Untuk diketahui, meskipun pengunduran dirinya dari dewan dan pemecatannya sebagai CEO perusahaan, Bose tetap memiliki 8,58% saham di perusahaan. Mengingat hal ini, Bose akan terus memegang kendali atas Zilingo dan masa depannya.

Selain itu, opsi lain bagi Zilingo adalah likuidasi dan pembubaran perusahaan sepenuhnya.

Dewan termasuk investor utama, Sequoia Capital, telah melakukan pembicaraan dengan berbagai dana pembelian yang berbasis di AS, Singapura, untuk kemungkinan likuidasi, sesuai sumber yang telah berbicara dengan Inc42 sebelumnya.

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220701084644-37-351994/curhat-lengkap-founder-zilingo-yang-didepak-startup-sendiri


Sumber lain:

https://www.sinpo.id/detail/34959/zilingo-perusahaan-startup-asal-singapura-bangkrut

https://www.medcom.id/ekonomi/global/nbwDmA3k-badai-start-up-berlanjut-zilingo-bersiap-masuki-likuidasi

https://bisnis.tempo.co/read/1603624/marak-sejumlah-startup-lakukan-phk-zilingo-terancam-dilikuidasi?page_num=2

https://www.viva.co.id/digital/startup/1120527-bidik-pasar-fesyen-indonesia-zilingo-disuntik-hampir-rp4-triliun

https://www.merdeka.com/uang/kisah-pendiri-zilingo-beri-peluang-sukses-untuk-wirausaha-wanita.html

https://www.jenniexue.com/zilingo-unicorn-baru-singapura/

https://techno.okezone.com/read/2022/08/10/54/2645369/diambang-bangkrut-startup-ini-malah-ditinggal-bosnya#:~:text=Krisis%20yang%20dilami%20Zilingo%20rupanya,bakar%20uang%20yang%20cukup%20tinggi.

Tuesday, January 24, 2023

Frank Charlie Javice - CEO startup Frank vs JP Morgan

CEO Startup Javice, Masuk Forbes 30 dan Diduga Tipu JP Morgan 

16 Januari 2023

Pendiri startup Frank Charlie Javice CEO startup Frank Charlie Javice diduga menipu JP Morgan US$ 175 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun. Ia masuk Forbes 30 Under 30 atau daftar anak muda berusia di bawah 30 tahun yang dinilai berhasil membuat terobosan. 

Frank menyediakan perangkat lunak (software) yang memudahkan mahasiswa mengajukan bantuan keuangan. JP Morgan mengakuisisi Frank US$ 175 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun pada September 2021. 

“Tujuannya, memperdalam hubungan perusahaan dengan mahasiswa,” kata petinggi kepada CNBC Internasional, akhir pekan lalu (13/1). 

Saat itu, bank raksasa tersebut memuji Frank karena pertumbuhan yang sangat cepat. Aplikasi ini digunakan oleh lebih dari lima juta mahasiswa di 6.000 institusi. JP Morgan bahkan menawarkan pendiri Frank, Javice untuk bergabung di perusahaan. 

Namun JP Morgan Chase menutup situs web Frank pada Kamis lalu (12/1). Raksasa keuangan ini menuduh Javice membuat hampir empat juta akun pelanggan Frank palsu. Hal itu diketahui setelah JP Morgan mengirimkan email pemasaran ke 400 ribu pelanggan Frank. 

Sekitar 70% email bounce back atau tidak dapat terkirim. Bank tersebut pun mengajukan gugatan ke pengadilan federal bulan lalu. JP Morgan menuduh Javice membuat akun pelanggan palsu. 

Javice masuk daftar Forbes 30 Under 30 pada 2019. Orang-orang yang masuk dalam daftar ini dipilih dari 2.500 nominasi yang diajukan secara online. Mereka diseleksi oleh tim cek fakta dan riset Forbes, sehingga menghasilkan 500 nama. 

Kemudian dikurasi lagi menjadi 300 nama. Kriteria yang menjadi pertimbangan juri yakni: Nilai kepemimpinan Dampak Potensi sukses Perwujudan jiwa usaha yang sesuai dengan nilai-nilai Forbes Inovasi Disrupsi Ukuran dan pertumbuhan dari usaha 

Javice mendirikan Frank pada 2016. Startup ini menawarkan perangkat lunak yang bertujuan mempermudah proses pengajuan pinjaman pelajar di Amerika Serikat.

Visi startup Frank yakni menjadi ‘Amazon untuk pendidikan tinggi’. Perusahaan rintisan ini didukung oleh miliarder Marc Rowan, investor utama Frank menurut Crunchbase. Investor lain yang menyuntik modal Frank yakni Aleph, Chegg, Reach Capital, Gingerbread Capital, dan SWAT Equity Partners. 

Pengacara Javice mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa JP Morgan membuat alasan untuk memecat dirinya akhir tahun lalu. “Untuk menghindari pembayaran utang jutaan dolar kepadanya,” kata dia. 

Javice pun menggugat JP Morgan, dengan mengatakan bahwa bank tersebut harus mengajukan tagihan hukum yang dia keluarkan selama penyelidikan internal. "Setelah mengakuisisi bisnis Javice, JPM menyadari bahwa mereka tidak dapat bekerja di bawah undang-undang privasi siswa, melakukan pelanggaran dan kemudian mencoba untuk mengubah kesepakatan," kata pengacara Alex Spiro kepada The Wall Street Journal. 

Pablo Rodriguez menanggapi pernyataan pengacara Javice tersebut. “Tuntutan hukum kami terhadap Ms. Javice dan Mr. Amar (petinggi Frank lainnya) tercantum dalam pengaduan, bersama dengan fakta-fakta kuncinya,” katanya. "Ms. Javice bukan whistleblower. Setiap perselisihan akan diselesaikan melalui proses hukum,” tambah dia.

https://katadata.co.id/desysetyowati/digital/63c4fd00d1518/ceo-startup-javice-masuk-forbes-30-dan-diduga-tipu-jp-morgan


Charlie Javice, Perempuan Cantik Berharta Rp 75 M yang Ternyata Penipu

Senin, 16 Jan 2023 13:37 WIB

Bos startup fintech Frank, Charlie Javice, saat ini menghadapi tuntutan yang dilayangkan oleh JP Morgan Chase. Perempuan cantik itu dituntut atas tuduhan pemalsuan data pengguna.

Berdasarkan catatan detikcom, tuntutan ini terjadi tidak lama setelah perusahaan keuangan top asal Amerika Serikat itu mengambil alih Frank dengan menghabiskan dana sebesar US$ 175 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun (dalam kurs Rp 15.250).

Frank merupakan startup yang memberikan layanan berupa pinjaman pendidikan kepada pelajar di AS yang mengklaim telah melayani lebih dari 5 juta siswa di 6.000 institusi sejak diluncurkan oleh Charlie Javice pada tahun 2017.

Lalu, seberapa kaya dan bagaimana perjalanan karir Charlie Javice sang pendiri Frank?

Melansir dari situs galmourboz, Charlie Javice memiliki perkiraan kekayaan bersih sekitar US$ 5 juta atau jika dirupiahkan dengan kurs saat ini sekitar Rp 75 miliar. Adapun kekayaannya itu ia dapatkan dari kariernya sebagai Founder & CEO dari Frank dan Managing Director di JPMorgan Chase & Co.

Charlie Javice Sosok Forbes 30 Under 30 di Balik Frank yang Ternyata 'Tuti'

Berbicara tentang karir profesionalnya, Charlie Javice memulai karirnya tak lama setelah ia lulus. Awalnya, Charlie bergabung dengan Planet Finance Argentina pada Juni 2009 sebagai Intern dan bekerja di sana selama tiga bulan hingga Agustus 2009.

Setelahnya, Charlie mendirikan sebuah perusahaan startup, PoverUp, dan menjabat di perusahaan selama hampir enam tahun dari 2010 hingga September 2015.

Di luar itu, Javice diketahui juga sempat menjadi Anggota Dewan Pengawas di University of Pennsylvania Hillel. Dirinya menjabat selama lebih dari tiga tahun sejak September 2011 hingga 2015.

Selain itu, Charlie saat ini menjabat sebagai Penasihat Khusus untuk Program Dampak Sosial Wharton dan Program Inkubasi Ventura (VIP) di The Wharton School sejak 2010, dan sudah lebih dari 12 tahun bekerja di perusahaan tersebut.

Demikian pula, dia juga Pendiri & CEO di Frank sejak Juni 2016. yang kemudian setelah itu Charlie Javice telah menjadi Managing Director - Head of Student Solutions di JPMorgan Chase & Co. sejak September 2021.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6517959/charlie-javice-perempuan-cantik-berharta-rp-75-m-yang-ternyata-penipu.


Profil Frank, Startup Besutan Si Cantik Charlie Javice yang Tipu JP Morgan Rp2,6 Triliun 

18 Januari 2023

Keberadaan startup Frank kini menjadi sorotan, usai ketahuan menipu bank raksasa Amerika Serikat JP Morgan sekitar US$175 juta atau setara dengan Rp2,6 triliun. JP Morgan kini menggugat Frank dengan tuduhan pemalsuan data. 

Frank telah membuat 4,25 juta data pengguna palsu di platform-nya, padahal pengguna aslinya kurang dari 300.000 akun pelanggan. Kebohongan pun terdeteksi setelah pihak JP Morgan mengirimkan email pemasaran ke 400.000 pelanggan Frank. Namun ternyata, 70 persen email tersebut tidak terkirim karena email yang dimasukkan tidak benar. 

Adapun, kasus penipuan startup ini bukan pertama kali terjadi, di 2022 lalu, Elizabeth Holmes yang merupakan founder startup Theranos juga menipu para investor dan didakwa dengan hukuman 11 tahun penjara. 

Lantas, seperti apa startup Frank yang berhasil menipu lembaga kenamaan sekelas JP Morgan sampai mau mengakuisisi perusahaan tersebut senilai US$175 juta atau setara dengan Rp2,6 triliun tersebut? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya.  

Profil Bisnis Startup Frank  

Frank, yang didirikan oleh Charlie Javice pada tahun 2016, adalah platform online yang membantu siswa di Amerika Serikat mendapatkan akses dan mengajukan permohonan bantuan keuangan dengan mudah. 

Dilansir dari techstory, Charlie Javice adalah pengusaha muda yang tinggal di New York. Javice sempat masuk dalam daftar Forbes 30 under 30 di kategori Finance di tahun 2019, di mana daftar itu berisi 30 tokoh muda di bawah 30 tahun. 

Startup Frank mendapat dukungan dari miliarder Marc Rowan, investor utama Frank menurut Crunchbase, dan pendukung ventura terkemuka lainnya termasuk Aleph, Chegg, Reach Capital, Gingerbread Capital, dan SWAT Equity Partners. 

Sebagai informasi, startup yang berfokus pada pendanaan pendidikan terakhir ini berhasil mengumpulkan pendanaan seri A senilai US$10 juta pada bulan Desember 2017. Lalu, Frank kembali mengumpulkan putaran yang sama senilai US$5,5 juta. 

Setelah Frank diakuisisi oleh JPMorgan Chase, Charlie Javice juga bekerja sebagai Head of Student Solutions di perusahaan perbankan Amerika. Javice dipecat dari JPMorgan Chase pada November 2022 karena membodohi bank untuk mengakuisisi startup fintechnya seharga 175 juta dolar. 

Dalam akun LinkedIn-nya Javice menyatakan bahwa dia belajar sarjana bisnis dan keuangan di Wharton School of the University of Pennsylvania. Menurut bank, Olivier Amar, seorang eksekutif senior di Frank, mempekerjakan seorang ilmuwan komputer dan membayarnya 18.000 dolar untuk membuat database pengguna palsu dengan nama dan alamat palsu. 

Dengan sepengetahuan Ms. Javice, ilmuwan komputer ini membuat nama, tanggal lahir, dan perguruan tinggi pengguna palsu yang mereka hadiri. Charlie Javice diduga memutuskan untuk menanam pengguna palsu setelah JPMorgan bersikeras bahwa dia harus membuktikan klaimnya atas 4 juta pengguna. 

Gugatan tersebut juga menyatakan bahwa setelah akuisisi Frank oleh JPMorgan, Charlie Javice dan Olivier Amar menerima 26 juta dolar sebagai bagian dari kesepakatan. Melansir dari Tech Crunch, ide yang mendasari terbentuknya startup ini, karena Javice, ingin menghilangkan permasalahan, di mana ada banyak siswa yang gagal menyelesaikan pendaftaran untuk program bantuan federal, alhasil membuat sang siswa harus keluar dari program sebelum menyelesaikannya, sehingga membuat mereka dibebani hutang dengan tidak memiliki gelar.  

Mengutip dari Business Insider, bertahun-tahun sebelum JP Morgan Chase menuduh Charlie Javice secara curang menemukan pelanggan untuk platform bantuan keuangan siswanya. Ternyata pada 2017, Departemen Pendidikan juga pernah menuduh Frank sebelumnya melakukan pelanggaran atas merek dagangnya di FAFSA. 

Sebab, Frank terkadang menyebut formulir itu sebagai "Frank's FAFSA".  Sebagai informasi, Free Application for Federal Student Aid (FAFSA) merupakan sebuah formulir yang  memang terkenal punya proses yang panjang dan rumit. Ini dibuat untuk perguruan tinggi bisa melakukan screening guna mengabulkan pemberian bantuan keuangan pada calon mahasiswa dan keluarga. 

Karenanya, sangat penting bagi sebagian calon mahasiswa untuk mengisi formulir FAFSA. Bahkan, nama domain khusus yang dibuat FRANK "sangat mirip" dengan situs web milik Departemen Pendidikan, yaitu fafsa.gov, oleh karena itu, bagi pihak departemen ini cenderung akan membuat bingung konsumen karena seolah menunjukkan bahwa perusahaan mereka berafiliasi dengan FAFSA. 

Tak hanya itu, Departemen Pendidikan pun menyoroti, bagaimana Frank yang sempat menawarkan layanan gratis, nyatanya juga mencoba menjual paket yang lebih mahal kepada pelanggan. Misal, dengan biaya US$500 atau setara dengan Rp7,5 juta, maka siswa dan keluarga mereka dapat membayar Frank untuk bernegosiasi dengan sekolah atas nama mereka untuk mendapatkan lebih banyak bantuan keuangan. 

Alhasil, dengan sederet kasus tersebut menghasilkan keputusan bahwa Frank harus mengeluarkan pernyataan resmi bahwa dia tidak berafiliasi dengan Departemen Pendidikan dan mengharuskan Frank pindah ke situs web baru yaitu, withfrank.org. 

Kembali ke masalah penipuan yang dilakukan Javice, kini operasi startup Frank telah ditutup oleh JP Morgan, begitupun dengan Javice yang sudah dipecat langsung dari jabatannya sebagai direktur pelaksana yang mengawasi Frank. 

https://entrepreneur.bisnis.com/read/20230118/52/1619326/profil-frank-startup-besutan-si-cantik-charlie-javice-yang-tipu-jp-morgan-rp26-triliun. 

Sunday, January 22, 2023

Sam Bankman-Fried, CEO FTX

Belajar dari Kisah Orang Terkaya: Sam Bankman-Fried, Miliarder Kripto Berharta Rp35 Triliun

Sam Bankman-Fried lahir pada tahun 1992 tepatnya di Stanford, California. Ia memiliki orang tua yang memiliki basic dalam pendidikan yang baik. Keduanya pun diketahui memiliki profesi sebagai Professor hukum dari Stanford Law School.

Sam Bankman-Fried yang merupakan pendiri dan CEO FTX, menjadi salah satu orang terkaya dunia berkat cryptocurrency. FTX merupakan pertukaran mata uang kripto.

Selain itu, dikabari ia juga mengelola aset yang senilai US$2,5 miliar (Rp35,8 triliun) melalui Alameda Research, yang merupakan sebuah perusahaan perdagangan cryptocurrency kuantitatif yang ia dirikan sejak tahun 2017.

Bankman-Fried memulai karirnya sejak tahun 2017 di Jane Street Capital, yaitu sebuah perusahaan perdagangan berpemilik dengan memperdagangkan ETF Internasional.

Pada tahun 2017 juga, ia mendirikan Alameda Research, yang merupakan sebuah perusahaan perdagangan kuantitatif dan FTX. Sedangkan untuk tahun 2021 ini, ia mendirikan Serum, yang merupakan pertukaran terdesentralisasi.

Bahkan, kekayaan bersih Bankman-Fried pada bulan Agustus 2021 mencapai hingga USD8,7 miliar (Rp124 triliun). Kekayaannya jadi meningkat secara substansial ketika FTX memberikan pengumuman terkait putaran ekuitas swasta yang senilai USD900 juta (Rp12,8 triliun).

Dari kisah Bankman-Fried, dapat kita ambil bahwa untuk mencapai itu semua perlu kerja keras sejak dini (sekarang). Ketika Bankman lulus dari kuliahnya, ia langsung memulai bisnis atau kariernya dengan mendirikan sebuah perusahaan sendiri.

https://bisnismuda.id/read/3930-ara-shiy/belajar-dari-kisah-orang-terkaya-sam-bankman-fried-miliarder-kripto-berharta-rp35-triliun


Begini Cara Bos Kripto FTX Tipu Duit Investor Rp 124 Triliun

Senin, 19 Des 2022 11:33 WIB

Mantan bos FTX Sam Bankman-Fried menyampaikan permintaan maafnya. Dalam suatu draf yang bocor, dia menulis hidupnya benar-benar kacau.

Dia mengatakan kepada regulator Bahama bahwa dia sangat menyesal ada di posisi ini. Tetapi ketika Bankman-Fried dikawal keluar dari apartemen penthouse-nya di Nassau dengan borgol, masih belum jelas untuk apa ucapan maaf itu dilontarkan.

Sebelumnya ia tegas membantah tuduhan telah melakukan penipuan. Namun sehari setelah penangkapan, jaksa federal dan regulator membuka puluhan halaman file yang menuduh ia telah melakukan penipuan sejak lama.

Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menyebut lebih dari US$ 8 miliar atau Rp 124,8 triliun uang nasabah FTX raib. Akibatnya banyak yang harus kehilangan tabungan mereka, dana kuliah, tabungan masa depan, dan lainnya.

"Bankman-Fried salah satu penipu terbesar dalam sejarah Amerika," kata Jaksa Penuntut AS Damian Williams, dikutip dari CNBC, Senin (19/12/2022).

Diketahui Bankman-Fried mendirikan crypto hedge fund Alameda Research pada November 2017, menyewa ruang kantor di Berkeley, California. Bankman-Fried merupakan lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan sempat bekerja di firma perdagangan kuantitatif bergengsi Jane Street Capital.

Alameda Research pada dasarnya adalah toko arbitrase, membeli bitcoin dengan harga lebih rendah di satu bursa dan menjualnya dengan harga lebih tinggi di bursa lain. Perbedaan harga di Korea Selatan versus seluruh dunia memungkinkan Bankman-Fried dan partnernya Gary Wang mendapat untung besar.

Pada April 2019, Bankman-Fried dan Wang bersama Nishad Singh mendirikan FTX.com. Platform kripto ini menawarkan fitur perdagangan inovatif kepada pelanggan, platform yang responsif, dan pengalaman yang andal.

Regulator federal di CFTC mengatakan, Sebulan setelah mendirikan FTX, memanfaatkan aset pelanggan untuk kepentingan Alameda. Rehypothecation adalah istilah ketika bisnis secara legal menggunakan aset pelanggan untuk berspekulasi dan berinvestasi.

Tetapi Bankman-Fried tidak memiliki izin pelanggan untuk berjudi dengan dana mereka. Persyaratan penggunaan FTX sendiri secara khusus melarang dia, atau Alameda, menggunakan uang pelanggan untuk apa pun, kecuali jika pelanggan mengizinkannya.

FTX mengumpulkan banyak uang pelanggan. CFTC mengutip laporan 2019 dari FTX yang mematok volume berjangka saja sering melebihi US$ 100 juta setiap hari.

Menggunakan uang pelanggan untuk Alameda merupakan penipuan. Di Distrik Selatan New York, di mana Bankman-Fried didakwa oleh dewan juri, Bankman-Fried juga menghadapi tuduhan penipuan kriminal. Bankman-Fried dituduh menggunakan dana pelanggan untuk membiayai investasi spekulatifnya.

Ini adalah kejatuhan yang cepat bagi raja crypto yang pernah ada, yang baru-baru ini dua bulan lalu dielu-elukan sebagai penyelamat industri. Sekarang, Bankman-Fried menuju ke pengadilan Bahama pada hari Senin untuk menyerahkan dirinya ke proses ekstradisi AS. Pengadilan pidana menunggunya begitu dia kembali ke AS.

https://finance.detik.com/fintech/d-6469145/begini-cara-bos-kripto-ftx-tipu-duit-investor-rp-124-triliun.


Profil Sam Bankman Fried, Penyumbang Dana Kampanye Biden yang Kehilangan Rp 228 T

09 Desember 2022

Sam Bankman Fried sempat menyandang status orang terkaya karena merupakan salah satu pendiri bursa kripto FTX.com sebelum perusahaan yang yang menjadi ladang bisnisnya itu runtuh pada November 2022. 

Dikutip dari Forbes, Sam Bankman Fried mulai meluncurkan FTX pada tahun 2019 dan mengembangkannya menjadi salah satu bursa terkemuka untuk transaksi kripto. Pada awal 2022, investor menilai FTX dalam operasinya di AS memiliki penghasilan sebesar USD 40 miliar atau sekitar Rp 623 triliun (kurs dollar Rp 15.588). 

Kekayaan Sam Bankman Fried sendiri diketahui mencapai USD 26,5 miliar (Rp 413 triliun). Kekayaan itu didapat dari setengah kepemilikannya di FTX. Putra dari profesor hukum Stanford ini juga sempat menjadi salah satu penyumbang dana terbesar dalam kampanye Joe Biden pada 2020 lalu. 

Dilansir dari coindesk.com, Sam Bankman Fried memberikan donasi terbesar kedua untuk kampanye kepresidenan Joe Biden dengan jumlah total USD 5,2 juta. Jumlah tersebut masih kalah dari pemberian mantan Walikota New York Michael Bloomberg yang menyumbang sebesar USD 56 juta. 

Dari 100 pendonasi teratas, Biden menerima USD 79,5 juta. Jumlah ini lebih besar ketimbang yang diperoleh Trump yang hanya sebesar USD 75 juta. Kala itu Sam Bankman Fried menyandang status sebagai anggota Political Action Committees (PAC) Demokrat terkaya, dia bergabung dengan salah satu pendiri Facebook Dustin Moskovitz dan mantan CEO Google Eric Schmidt. 

Sayang setelah segala yang dia perbuat kini pria yang digadang gadang akan menjadi JP Morgan modern ini musti terjun bebas dari kekayaan yang selama ini dimilikinya. Bloomberg mencatat bahwa kekayaan Sam Bankman Fried berkurang 94% dan hanya dalam waktu semalam dia telah kehilangan harta sebesar USD 14,6 miliar atau sekitar Rp 277,76 triliun. 

Hartanya bahkan semakin anjlok setelah muncul isu bursa kripto FTX diambang kebangkrutan yang membuat harga token kripto FFT jatuh. Hal tersebut dipicu dengan adanya kabar dari peneliti krypto Dirty Bubble Media, yang menuding bahwa perusahaan Sam Bankman Fried lainnya yang bernama Alameda Research (perusahaan trading kripto) mengalami kebangkrutan. 

Karena pemberitaan tersebut membuat CEO Binance Changpeng Zhao melalui akun Twitter pribadinya mengumumkan Binance akan menjual US$2 miliar token kripto FTT yang dimiliki. Ketika hendak mencairkan dananya, perusahaan FTX mengeluh kesulitan dan bahkan berhenti memproses pencairan dana tersebut. 

Hal ini membuat Changpeng Zhao mengumumkan bahwa ia telah menandatangani perjanjian yang bersifat tidak mengikat untuk mengakuisisi penuh FTX.com.

https://international.sindonews.com/read/964891/177/profil-sam-bankman-fried-penyumbang-dana-kampanye-biden-yang-kehilangan-rp-228-t-1670580747?showpage=all


Terungkap, 5 Hal Ini Diduga Penyebab Kebangkrutan FTX

15 Jan 2023, 10:53 WIB

CEO baru FTX John Jay Ray III mengajukan kesaksian tertulis yang menguraikan beberapa praktik manajemen yang dilakukan FTX dan baru terungkap ketika FTX bangkrut.

Dilansir dari Yahoo Finance, Sabtu, 14 Januari 2023, Ray mengatakan dalam sambutannya yang telah disiapkan, kematian FTX disebabkan oleh "konsentrasi kendali mutlak di tangan sekelompok kecil individu yang sangat tidak berpengalaman dan tidak canggih”.

Selain itu, Ray, yang memimpin likuidasi Enron, telah mengungkap setidaknya lima hal berbeda yang dilakukan perusahaan dengan sebagian dari miliaran yang diperoleh dari investor dan miliaran lainnya dalam aset klien yang disimpan di bursanya. Adapun berikut lima hal yang dilakukan FTX dengan dana pelanggan.


Aset Pelanggan FTX Digabung dengan Platform Perdagangan Alameda Research

Mantan CEO FTX, Sam Bankman-Fried (SBF) mengungkapkan terkait pencampuran dana nasabah FTX dengan Alameda Research adalah ketidak sengajaan. Akan tetapi, menunjukkan sistem perdagangan margin platform adalah sumber masalahnya.

"Anda memiliki perdagangan margin. Anda memiliki, Anda tahu, pelanggan saling meminjam. Alameda adalah salah satunya. Saya terus terang terkejut dengan seberapa besar posisi Alameda, yang menunjukkan kegagalan pengawasan di pihak saya,"kata SBF, dalam sebuah wawancara. 

Namun, menurut Ray penggabungan dana ini tidak pernah dia lihat sebelumnya dari berbagai pertukaran kripto. 


Terlibat Perdagangan Margin

Alameda Gunakan Dana Klien untuk Terlibat dalam Perdagangan Margin

Dalam sebuah cuitan di Twitter yang sudah dihapus sejak 8 November, Bankman-Fried mengatakan aset pelanggan FTX didukung satu banding satu.

Namun, ketika ditanya di Twitter Spaces apakah pernyataan ini benar, Bankman-Fried menyebut pernyataan tersebut benar tetapi ada sebuah masalah.

“Masalahnya adalah itu mencakup saldo negatif untuk beberapa pelanggan. Aset pelanggan bersih sama dengan aset bersih di platform. aset pelanggan kotor tidak,” ujar SBF. 


Grup FTX Lakukan Pesta Belanja pada Akhir 2021 Hingga 2022

Dalam pesta belanja tersebut, di mana sekitar USD 5 miliar (Rp 78,3 triliun) dihabiskan untuk membeli segudang bisnis dan investasi, banyak di antaranya mungkin hanya bernilai sebagian kecil dari apa yang dibayarkan untuk mereka.

Daftar investasi oleh firma perdagangan saudara Alameda Research sendiri mencapai USD 5,2 miliar yang tersebar di sekitar 474 perusahaan. Awalnya didukung oleh nama dan pengaruh FTX, startup ini kemungkinan tidak akan mendapatkan harga yang dibayar FTX terlepas dari kesuksesan independen yang mungkin mereka miliki, menurut penilaian Ray. 


Memiliki Pinjaman

Memiliki Pinjaman pada Orang Dalam Lebih dari USD 1 Miliar

Dalam pernyataan asli Ray untuk proses kebangkrutan Grup FTX, dia sebelumnya menyoroti bagaimana Alameda meminjamkan USD 2,3 miliar kepada perusahaan afiliasi seperti Paper Bird Inc, satu miliar kepada Bankman-Fried, USD 543 juta lainnya kepada Mantan Direktur Teknik FTX Nishad Singh, dan USD 55 juta untuk mantan CEO FTX Digital Markets Ryan Salame.


Model Bisnis Alameda Research Tidak Aman

Model bisnis Alameda sebagai pembuat pasar mengharuskan penggelaran dana ke berbagai bursa pihak ketiga yang pada dasarnya tidak aman, dan semakin diperparah oleh perlindungan terbatas yang ditawarkan di yurisdiksi asing tertentu.

Pasar untuk total aset kripto turun 62 persen dari USD 1,4 triliun menjadi USD 843 miliar sejak awal Januari. Karena harga cryptocurrency telah jatuh sepanjang tahun, Alameda diperkirakan akan mengalami kerugian besar.

Pada Juni, ia meminjamkan USD 200 juta pinjaman kepada pemberi pinjaman kripto Voyager sebelum anak perusahaannya di AS meminjamkan USD 275 juta lagi ke BlockFi. Kedua perusahaan telah mengajukan perlindungan kebangkrutan.


Pengadilan Ungkap Pemborosan Dana Perusahaan oleh Mantan CEO FTX Sam Bankman-Fried

Sebelumnya, seiring berjalannya kasus FTX, terungkap soal Sam Bankman-Fried (SBF) yang diduga melakukan pemborosan dana perusahaan. Pengajuan pengadilan meninjau detail minggu ini SBF menghabiskan puluhan juta dolar dengan boros untuk akomodasi perumahan, hotel, makanan, dan penerbangan tahun lalu. 

Dilansir dari Bitcoin.com, Rabu, 11 Januari 2023, catatan menunjukkan sekitar USD 15,4 juta atau setara Rp 239,4 miliar (asumsi kurs Rp 15.539 per dolar AS) dihabiskan untuk hotel dan akomodasi mewah. 

Sebagian besar dari uang itu digunakan untuk membayar penthouse mewah SBF senilai USD 30 juta atau setara Rp 466,5 miliar di resort tepi laut Albany. Kemudian USD 3,6 juta atau setara Rp 56 miliar digunakan untuk membeli kamar hotel di Grand Hyatt, sebuah hotel bintang empat. 

Selanjutnya, uang sebanyak USD 800.000 atau setara Rp 12,4 miliar dihabiskan SBF di Rosewood, untuk sebuah hotel bintang lima.

Laporan juga menunjukkan resor pantai Jimmy Buffett, Margaritaville, berutang lebih dari USD 55.000 atau setara Rp 855,4 juta, karena manajemen resor telah terdaftar sebagai kreditur dalam kasus kebangkrutan. 

Karyawan FTX dan Alameda dilaporkan tinggal di 20 suite selama beberapa bulan tahun lalu, membayar tagihan tetapi tidak pernah membayar akomodasi Margaritaville. 

Selain hotel, suite mewah, dan apartemen mewah, USD 3,9 juta atau setara Rp 60,6 miliar dihabiskan untuk penerbangan dan pesawat pribadi. Ketika seorang karyawan FTX membutuhkan paket Amazon yang diambil dari Miami, mereka diduga menggunakan pesawat pribadi untuk mengirimkan kotak-kotak itu ke pulau itu.

Laporan lain mengatakan co-founder itu sangat altruistik sehingga SBF secara teratur menghabiskan lebih dari USD 2.500 atau setara Rp 38,3 juta di bistro Nassau untuk makan siang dan melemparkan jutaan pada politisi dan pejabat Bahama sebelum keruntuhan FTX. Fox News mengungkapkan bahwa SBF juga memiliki kapal pesiar setinggi 52 kaki bernilai jutaan dolar Amerika Serikat.

https://www.liputan6.com/crypto/read/5179964/terungkap-5-hal-ini-diduga-penyebab-kebangkrutan-ftx


Bukan Cuma Bangkrut, Dana Nasabah FTX US$ 1 Miliar Lenyap Entah Kemana!

Sabtu, 12 November 2022 / 12:55 WIB


New York, 11 November (Reuters) Setidaknya US$ 1 miliar dana pelanggan telah hilang dalam drama kebangkrutan bursa kripto FTX. Dua orang yang mengetahui masalah yang tengah menimpa bursa kripto FTX tersebut bercerita kepada Reuters.

Reuters melaporkan bahwa pendiri sekaligus CEO FTX, Sam Bankman-Fried, diam-diam mentransfer US$10 miliar dana nasabah FTX ke perusahaan perdagangan Alameda Research, sebuah perusahaan perdagangan milik Bankman-Fried.

Namun, sebagian besar dari dana yang ditransfer FTX kepada Alameda itu tidak tercatat dalam pembukuan Alameda sehingga bisa dianggap hilang, kata sumber-sumber Reuters. 

Satu sumber Reuters menyebutkan nilai dana nasabah FTX yang tak tercatat itu mencapai US$ 1,7 miliar. Sementara sumber yang lain mengatakan selisih angka yang ditransfer FTX dan dana yang tercatat di laporan Alameda berkisar US$ 1 miliar dan US$ 2 miliar.

Adanya lubang keuangan FTX ini terungkap dalam catatan yang dibagikan Bankman-Fried sendiri kepada para eksekutif puncak FTX pekan lalu.

Catatan tersebut melaporkan situasi terkini FTX pada saat itu, ujar dua sumber Reuters yang merupakan pejabat senior FTX.

FTX yang berbasis di Bahama mengajukan perlindungan kebangkrutan pada hari Jumat menyusul penarikan dana nasabah secara besar-besaran sejak awal pekan.

Penarikan dana nasabah melonjak minggu lalu terpicu oleh pernyataan Changpeng Zhao, CEO raksasa bursa kripto Binance. Dia mengatakan bahwa Binance akan menjual seluruh kepemilikannya dalam token digital FTX, senilai setidaknya US$ 580 juta.

Empat hari sebelumnya, media khusus kripto CoinDesk melaporkan bahwa sebagian besar aset Alameda senilai $14,6 miliar adalah dalam bentuk token.

Bankman-Fried bertemu dengan beberapa eksekutif di ibukota Bahama Nassau untuk menghitung berapa banyak kebutuhan injeksi dana dari luar yang dia butuhkan untuk menutupi kekurangan FTX.

Bankman-Fried menunjukkan beberapa spreadsheet kepada kepala tim hukum dan peraturan perusahaan yang mengungkapkan bahwa FTX telah memindahkan hampir US$10 miliar dana nasabah FTX ke Alameda, kata dua orang tersebut.

Kertas kerja tersebut juga menunjukkan berapa banyak uang yang dipinjamkan FTX ke Alameda serta digunakan untuk apa.

Nah, dokumen itu menunjukkan bahwa antara US$1 miliar dan US$2 miliar dari dana yang ditransfer tadi ternyata tidak tercatat di antara aset Alameda, kata sumber tersebut.

Lebih aneh lagi, spreadsheet tersebut juga tidak menunjukkan ke mana uang ini pergi dan para pejabat FTX sendiri tidak tahu apa yang terjadi.

Dalam penyelidikan selanjutnya, tim hukum dan keuangan FTX mengetahui bahwa Bankman-Fried menerapkan apa yang digambarkan sebagai "pintu belakang" ke dalam sistem akuntansi FTX.

Sumber Reuters mengatakan "pintu belakang" itu memungkinkan Bankman-Fried mengeksekusi perintah yang dapat mengubah catatan keuangan perusahaan tanpa memberi tahu orang lain, termasuk auditor eksternal.

Lewat pesan teks kepada Reuters, Bankman-Fried membantah menerapkan "pintu belakang."

Dalam sebuah pesan teks kepada Reuters, Bankman-Fried juga menyatakan tidak setuju dianggap telah mentransfer US$ 10 miliar.

"Kami tidak diam-diam mentransfer," katanya. "Kami memiliki pelabelan internal yang membingungkan dan kami salah membacanya," tambahnya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Namun, saat Reuters bertanya tentang dana yang hilang, Bankman-Fried cuma menjawab: "???"

Dalam sebuah tweet pada hari Jumat, Bankman-Fried mengatakan bahwa dia "mengatur segalanya" di FTX.

"Saya terkejut melihat hal-hal berantakan seperti yang mereka lakukan awal pekan ini," tulisnya. "Segera saya akan menulis postingan yang lebih komprehensif tentang drama demi drama."

Kini Komisi Sekuritas dan Bursa AS sedang menyelidiki penanganan dana nasabah FTX.com, serta aktivitas pinjaman mata uang kripto, menurut sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut mengatakan kepada Reuters pada hari Rabu.

Departemen Kehakiman dan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas juga tengah menyelidiki kasus ini, kata sumber itu.

Kebangkrutan FTX menandai perubahan mengejutkan Bankman-Fried. Pria berusia 30 tahun itu mendirikan FTX pada tahun 2019 dan membangunnya menjadi salah satu bursa kripto terbesar di dunia. Dia berhasil mengumpulkan kekayaan pribadi yang diperkirakan mencapai hampir US$ 17 miliar.

Pada Januari 2022 lalu FTX dihargai US$ 32 miliar. Investor FTX termasuk SoftBank dan BlackRock.

https://investasi.kontan.co.id/news/bukan-cuma-bangkrut-dana-nasabah-ftx-us-1-miliar-lenyap-entah-kemana

Tuesday, January 17, 2023

Jerman Krisis

"Kiamat" Baru Muncul di Jerman, Ada Apa?

13 January 2023 06:20

"Kiamat" baru muncul di Jerman. Ini terkait krisis tenaga kerja di negara itu. Lebih dari setengah perusahaan dilaporkan berjuang untuk mengisi lowongan karena kurangnya pekerja terampil. Kamar Dagang dan Industri Jerman (DIHK) mengatakan ini menjadi tanda terbaru dari hambatan pertumbuhan ekonomi terbesar Eropa itu tahun ini.

Setidaknya 22.000 perusahaan melaporkan tak bisa mendapat staf. Ini sekitar 53% dari total keseluruhan.

"Kami dapat berasumsi bahwa sekitar 2 juta lowongan akan tetap tidak terisi," kata Wakil Kepala Eksekutif DIHK, Achim Dercks, dimuat Reuters, Jumat (13/1/2023).

"Perusahaan (bisa) kehilangan produksi senilai hampir 100 miliar euro," tambahnya.

Menurutnya fenomena ini bira berbahaya. Pasalnya Jerman juga tengah menghadapi harga energi yang tinggi ditambah peralihan energi ke ramah iklim.

"Campuran berbahaya yang dapat menyebabkan perusahaan memindahkan produksi ke luar negeri," kutip Reuters bersumber dari lembaga itu lagi.

"Kekurangan pekerja terampil tidak hanya menjadi beban bagi bisnis, tetapi juga membahayakan keberhasilan dalam tugas-tugas penting di masa depan seperti transisi energi, digitalisasi, dan pembangunan infrastruktur," kata Dercks.

Ini juga bisa mempengaruhi sektor manufaktur, yang selama ini menjadi mesin ekspor Jerman. Survei menemukan bahwa 67% produsen peralatan listrik dan mesin tidak mendapat tenaga kerja sementara angka sedikit lebih rendah, 65%, dialami industri pembuatan mobil.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20230113055550-4-405137/kiamat-baru-muncul-di-jerman-ada-apa

Tuesday, September 28, 2021

Utang Perusahaan Dunia Capai Rp 14.000 T

Gila! COVID-19 Bikin Utang Perusahaan Dunia Capai Rp 14.000 T

13 July 2020 18:00


Wabah virus corona (COVID-19) membawa dampak yang signifikan pada keuangan ratusan perusahaan terkemuka dunia. Di tahun 2020 ini, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia diperkirakan akan menambah utang mereka sebanyak US$ 1 triliun atau sekitar RP 14.000 triliun.

Dana itu akan dipakai untuk menopang keuangan mereka yang tertekan oleh wabah asal Wuhan, China itu. Proyeksi ini merupakan hasil dari sebuah studi baru yang dilakukan terhadap 900 perusahaan terkemuka di seluruh dunia.

Jumlah utang baru yang belum pernah terjadi sebelumnya itu akan membawa total utang perusahaan global melonjak 12% menjadi sekitar US$ 9,3 triliun.

Sebelumnya pada tahun lalu, jumlah utang baru perusahaan-perusahaan dunia juga mencatatkan kenaikan tajam sebesar 8%. Kenaikan itu didorong oleh banyaknya merger dan akuisisi, juga untuk mendanai pembelian kembali saham dan membayar dividen.

Namun, alasan utama untuk tambahan utang baru perusahaan dunia tahun ini adalah karena laba mereka telah tergerus oleh pandemi COVID-19.

"COVID telah mengubah segalanya," kata Seth Meyer, manajer portofolio di Janus Henderson, perusahaan yang menyusun analisis untuk indeks utang perusahaan baru. "Sekarang ini tentang melestarikan modal dan membangun neraca yang kuat,"

Meyer mengatakan, antara Januari sampai Mei, perusahaan-perusahaan itu telah mengeruk pasar obligasi sebesar US$ 384 miliar, dan menurut perkiraannya, dalam beberapa minggu terakhir telah ada rekor baru dalam hal penerbitan utang dari perusahaan berisiko dengan "imbal hasil tinggi" dengan peringkat kredit yang lebih rendah.

Akibat itu, pasar pinjaman telah ditutup pada bulan Maret untuk semua perusahaan kecuali perusahaan-perusahaan yang paling terpercaya. Tetapi, pasar telah dibuka lebar-lebar lagi oleh program-program pembelian utang perusahaan darurat dari bank-bank sentral seperti Federal Reserve di Amerika Serikat (AS), Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan.

Perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam indeks utang baru penelitian itu adalah mereka yang sudah berutang hampir 40% lebih banyak daripada yang mereka lakukan pada 2014. Juga perusahaan yang pertumbuhan utangnya telah melampaui pertumbuhan laba.

Keuntungan sebelum pajak untuk kelompok dari 900 perusahaan itu telah meningkat 9,1% secara kolektif menjadi US$ 2,3 triliun. Sementara rasio gearing, ukuran utang relatif terhadap keuangan pemegang saham, mencapai rekor 59% pada 2019, sedangkan proporsi laba yang ditujukan untuk melayani pembayaran bunga juga naik ke posisi tertinggi baru.

Cakupan utang perusahaan dunia paling besar dipegang oleh perusahaan-perusahaan AS, mencapai hampir setengah dari utang perusahaan dunia, yaitu sebesar US$ 3,9 triliun. Jumlahnya juga telah meningkat pesat dalam lima tahun terakhir dibandingkan perusahaan dari ekonomi utama lainnya, kecuali Swiss.

Proporsi utang perusahaan Jerman berada di nomor urut dua yaitu sebesar US$ 762 miliar. Negara ini juga memiliki tiga perusahaan dengan utang paling banyak di dunia, di antaranya yaitu Volkswagen. Utang perusahaan ini mencapai US$ 192 miliar, hanya kurang sedikit dari utang Afrika Selatan atau Hongaria.

Namun, sekitar 25% perusahaan dalam indeks baru itu ada yang tercatat tidak memiliki hutang sama sekali, dan beberapa bahkan memiliki cadangan uang tunai yang besar. Perusahaan dengan cadangan uang tunai terbesar, yaitu US$ 104 miliar, adalah Alphabet, induk dari Google.

Meski terlihat mengerikan, namun Meyer mengatakan pasar kredit masih memiliki beberapa cara untuk kembali ke kondisi pra-COVID dan ancaman virus yang sedang berlangsung.

"Ini semua adalah resep untuk pandangan yang lebih menantang daripada yang kami kira dua bulan lalu," katanya.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/market/20200713165237-17-172322/gila-covid-19-bikin-utang-perusahaan-dunia-capai-rp-14000-t

Friday, September 24, 2021

Gaji Pegawai Alfamart

Penasaran Berapa Gaji Pegawai Alfamart? Intip Daftarnya di Sini

Kamis, 23 Sep 2021 12:01 WIB

Dari tahun ke tahun, Alfamart terus mengalami peningkatan baik dari sisi jumlah toko hingga pelayanan yang disediakan. Hingga saat ini, masyarakat tak hanya dapat menikmati layanan belanja secara langsung, tapi juga dapat menikmati mudahnya berbelanja online di minimarketini secara online.

Selain itu, baru-baru ini brand jaringan minimarketini menyediakan layanan belanja online lewat aplikasi Whatsapp.

Alfamart sendiri merupakan salah satu jaringan toko swalayan terbesar yang memiliki banyak cabang di Indonesia. Gerai ini umumnya menjual berbagai produk makanan, minuman dan barang kebutuhan hidup lainnya. Alfamart dimiliki oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.

Melansir dari situs resmi Alfamart, perusahaan ini dimulai pada tahun 1989 oleh Djoko Susanto yang baru mengawali usaha di bidang perdagangan dan distribusi. Setelahnya pada 2002, perseroan tersebut mengakuisisi 141 gerai Alfa minimart dan berganti nama menjadi Alfamart.

Melihat bagaimana besarnya bisnis yang dimiliki oleh perseroan ini, kira-kira berapa ya besaran gaji pegawai Alfamart?

Melansir dari situs pilihprofesi.com, berikut besaran gaji yang di terima oleh para karyawan Alfamart dari setiap bulannya.

  • 1. Manager - Rp. 9.200.000
  • 2. Distribution Manager - Rp. 6.000.000
  • 3. Logistic Junior Manager - Rp. 6.000.000
  • 4. Training Manager - Rp. 6.000.000
  • 5. Management Trainee - Rp. 4.200.000
  • 6. Coordinator - Rp. 4.100.000
  • 7. Art and Creative Staff - Rp. 4.000.000
  • 8. Branch Coordinator - Rp. 4.000.000
  • 9. IT Programmer and Analyst - Rp. 4.000.000
  • 10. IT Risk and Assurance Staff - Rp. 4.000.000
  • 11. IT Senior - Rp. 4.000.000
  • 12. Planning and Development - Rp. 4.000.000
  • 13. Recruitment Coordinator - Rp. 4.000.000
  • 14. Teacher Trainer - Rp. 4.000.000
  • 15. Warehouse Coordinator - Rp. 4.000.000
  • 16. Area Coordinator - Rp. 3.800.000
  • 17. Buyer - Rp. 3.200.000
  • 18. Head - Rp. 3.200.000
  • 19. Information Technology - Rp. 3.200.000
  • 20. Area Manager - Rp. 2.500.000
  • 21. Pemasaran - Rp. 2.500.000
  • 22. Administrasi Kasir - Rp. 2.500.000
  • 23. Operational Staff - Rp. 2.500.000
  • 24. Payroll Admin - Rp. 2.500.000
  • 25. Branch Inventory Control Manager - Rp. 2.500.000
  • 26. Recruitment and Selection Officer - Rp. 2.500.000
  • 27. Supply Chain Staffs - Rp. 2.500.000
  • 28. IT Support - Rp. 2.400.000
  • 29. Asisten Kepala Toko - Rp. 2.100.000
  • 30. Kepala Toko - Rp. 2.100.000
  • 31. Store Assistant - Rp. 2.000.000
  • 32. Helper - Rp. 1.900.000
  • 33. Kasir - Rp. 1.900.000
  • 34. Picker - Rp. 1.800.000
  • 35. Crew - Rp. 1.700.000
  • 36. Sales - Rp. 1.600.000
  • 37. Accounting Staff - Rp. 1.500.000
  • 38. Finance Accounting - Rp. 1.500.000
  • 39. Maintenance - Rp. 1.500.000
  • 40. Maintenance Staff - Rp. 1.500.000
  • 41. Merchandiser - Rp. 1.500.000
  • 42. Purchasing Staff - Rp. 1.500.000
  • 43. Safety Staff - Rp. 1.500.000
  • 44. Security - Rp. 1.500.000
  • 45. Staff Accounting - Rp. 1.500.000
  • 46. Store Head Assistant - Rp. 1.500.000
  • 47. Warehouse Staff - Rp. 1.500.000
  • 48. Staff Finance - Rp. 1.400.000
  • 49. Office Boy - Rp. 1.300.000
  • 50. Koperasi Karyawan - Rp. 800.000


Sumber :

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5736385/penasaran-berapa-gaji-pegawai-alfamart-intip-daftarnya-di-sini.


Friday, September 10, 2021

How Many Toilets Per Person Do You Need?

How Many Toilets Per Person Do You Need in Different Industries?

Here at Concept Cubicle Systems, we know what your greatest concern and first question will be when deciding on the design and layout of washroom facilities for a new building, or for a building that is being refurbished: “How many toilets per person will be sufficient?”.

Whether you are looking to fully remodel an office, redecorate a leisure centre or have just finished a project and need to fit toilets for a public building such as a cinema, you will need to know how many individual facilities are required to keep workers and guests comfortable.

This is why we are happy to provide this guide for you, detailing how many toilets and other washroom facilities you will need per person on the premises, in order to meet regulations in different industries.

We are also ready and waiting to provide toilet cubicles across a wide range of industry sectors, so if you have been searching for toilet cubicles for any type of business or institution, contact us and see what we can do for you today. We have years of experience in the manufacture and fitting of toilet cubicles, and our qualified and trained members of staff are all prepared to discuss anything you may need for your space.


How Many Toilets Per Person Do You Need in an Office?

The number of toilets you will need for an office space is covered under Regulation 20 of the Workplace (Health, Safety and Welfare) Regulations 1992. The regulation states that there is a minimum number of separate sanitary facilities that you must provide for your employees. These numbers vary, depending on the size of your workforce and the ratio of female to male workers.


If your workforce is entirely female or a mixed group, there must be:

  • One toilet and one washbasin for 1-5 people
  • Two toilets and two washbasins for between 6-25 people
  • Three toilets and three washbasins for 26-50 people
  • Four toilets and four washbasins for 51-75 people
  • Five toilets and five washbasins for 76-100 people

If your workforce is entirely male, you should provide:

  • One toilet and one urinal for 1-15 people
  • Two toilets and one urinal for 16-30 people
  • Two toilets and two urinals for 31-45 people
  • Three toilets and two urinals for 46-60 people
  • Three toilets and three urinals for 61-75 people
  • Four toilets and three urinals for 76-90 people
  • Four toilets and four urinals for 91-100 people

Under the Equality Act 2010, your firm will also have a duty to ensure that it is providing accessible toilet facilities to all employees, in locations where those with mobility issues or other impairments can most easily reach them. These toilets can be unisex, and should ideally be unisex if they are accessible to the public as well as to your staff. It is also preferential if these toilets are exclusively for the use of those who require their additional features and facilities.

If your workers are based at a temporary site, working remotely or at a place without a water supply, it will also be your duty to ensure that there are portable toilets and suitable water containers at their current workplace.

At Concept Cubicle Systems, we have spent years providing toilet cubicles and other accessories for office washrooms. We know exactly what it will take to build up or refurbish any space that you have so it is ready for any number of employees, using hardwearing, easy-to-clean products that should serve your company well for a long time to come. Contact us if you would like to discuss placing an order for your business, or take a look at our Product Guide to browse the ranges we have available for commercial buildings.


How Many Toilets Per Person Do You Need in Shops and Shopping Centres?

For public buildings such as shops and shopping centres with a retail area in excess of 1,000m2, there should be:

  • One toilet per 500 male customers, plus one per every additional 1,000 male customers, or part thereof
  • One toilet per 500 female customers, plus one per every additional 200 female customers, or part thereof
  • Two urinals for up to 500 male customers, plus one for every additional 500 male customers, or part thereof
  • One washbasin for one male toilet, plus one for every five urinals
  • One washbasin for one female toilet, plus one for every two extra female toilets


How Many Toilets Per Person Do You Need in a School or Educational Facility?

The minimum number of school toilets you will be expected to provide depends on the age and schooling level of the pupils. As such, we have split up the number of sanitary appliances for each stage:


For Nurseries (Pupils Aged 3-5)

  • There should be one toilet per 10 pupils or part thereof, but no less than four
  • There should be one washbasin for every toilet
  • There should be one deep sink, bath or shower per 40 pupils

For Primary Schools (Pupils Aged 4-11)

  • There should be one toilet per 10 pupils aged under five years, and one per 15 pupils aged over five years, or part thereof. No more than 2/3rds of boys’ appliances should be urinals
  • There should be one washbasin for every toilet and urinal, which they should be fitted close to

For Secondary Schools (Pupils Aged 11+)

  • For boys’ washroom facilities, there should be one toilet and a urinal for every 20 pupils, or part thereof. No more than 2/3rds of their appliances should be urinals
  • For girls’ washroom facilities, there should be one toilet for every 20 pupils, or part thereof
  • There should be one washbasin for every toilet or urinal, up to three appliances. Where there are more than three appliances, there should be two washbasins
  • There should be separate staff toilets and facilities in accordance with the regulations set out for office buildings and other workplaces, though facilities for disabled staff members may be shared with pupils.


Where pupils are aged eight or over, changing rooms and sanitary facilities for PE staff should be in addition to and separate from the facilities provided for pupils.

Here at Concept Cubicle Systems, we know that you will be looking for toilet cubicles that can last throughout the year, when you are planning on remodeling a school or nursery washroom. This is where we will be proud to step in and help, because our products provide you with the durable, easily maintained cubicles that can last for as many terms as you need. Call or email us today to discuss having these fitted, or see our Product Guide to choose the cubicles that will suit your space most.


How Many Toilets Per Person Do You Need in a Leisure Centre with a Swimming Pool?

For a leisure centre with a swimming pool, there should be:

  • Two toilets for up to 100 male users, plus one more for every additional 100 male users, or part thereof
  • One toilet for five female users, up to 50 users. There should then be one more toilet provided for every additional 10 female users, up to 100 users, or part thereof. After this, there should be one more toilet for every 50 users after this, or part thereof
  • One urinal for every 20 male users, up to 100 users. There should then be one extra urinal provided for every 80 users that come after this, or part thereof
  • There should be one washbasin for every toilet, plus one more washbasin for every five urinals
  • One shower for every 10 male users, or part thereof
  • One shower for every 10 female users, or part thereof

Here at Concept Cubicle Systems, we are often called by the owners and managers of leisure centres looking to have their washroom spaces redecorated and refurbished. This is because they know that we are able to provide the waterproof, long-lasting cubicles they need, and we can even arrange to have their cubicles designed and created using any existing pattern, aesthetic, or colour scheme they wish to keep consistent in their facilities. We are even able to provide a range of shower cubicles, or cubicles for changing rooms if you require these.


How Many Toilets Per Person Do You Need in a Public Building?

For a public building where most toilet use will be during intervals, or after a certain number of hours (such as stadiums, concert halls, theatres or cinemas), you should provide:

  • Two toilets for up to 250 male visitors, plus one more for every additional 250 male visitors, or part thereof
  • Two toilets for up to 20 female visitors, plus one more for every additional 20 female visitors, up to 500 female visitors in total. Once this number has been reached, there should be an extra toilet provided for every further 25 female visitors, or part thereof
  • Two urinals for up to 50 male visitors, plus one more for every additional 50 male visitors, or part thereof
  • One washbasin per toilet for male visitors and in addition, one urinal for every five urinals, or part thereof
  • One washbasin per toilet for female visitors, plus one for every two additional toilets for female visitors, or part thereof

There are also minimum numbers of sanitary conveniences that must be provided for public buildings where most use does not depend on an interval, such as libraries, museums and exhibition centres:

  • There should be one toilet provided per every 250 male visitors, plus one for every additional 500 male visitors, or part thereof. Male toilet provision should be half of the female visitor provision where urinals are not used
  • There should be two toilets provided for up to 40 female visitors, three toilets for up to 70 female visitors, four toilets for up to 100 female visitors, and one extra provided for every 50 female visitors after this, or part thereof
  • There should be one urinal for every 50 male visitors, up to 100 male visitors in total, and then one more urinal for every additional 100 male visitors after this, or part thereof
  • There should be one washbasin for every male toilet provided, plus one more for every five urinals, or part thereof
  • There should be one washbasin for every female toilet provided, plus one more for every two more toilets provided, or part thereof


How Many Toilets Per Person Do You Need in a Bar, Pub, Nightclub or Restaurant?

In a building where seating is provided for eating and drinking, such as a restaurant or food court, the minimum number of toilets you should provide per person are listed as follows:

  • Two toilets for up to 150 male guests, plus one for every additional 250 male guests, or part thereof. There should be two toilets for every 50 male guests if urinals are not provided
  • Two toilets for up to 30 female guests, plus one for every additional 30 female guests or part thereof. This number extends up to 120 female guests, with one toilet being provided for every 60 female guests after this
  • One urinal for every 60 male guests or part thereof, up to 120 male guests in total. After this, one more urinal should be provided for every additional 100 male guests, or part thereof
  • There should be one washbasin for every male toilet, plus one more for every five urinals, or part thereof
  • There should be one washbasin for every female toilet


For licensed pubs, bars, nightclubs and discotheques, there should be:

  • Two toilets for up to 150 male guests, plus one for every additional 200 male guests, or part thereof. There should be two toilets for up to 40 male guests if urinals are not provided
  • Two toilets for up to 25 female guests, plus one for every additional 25 female guests or part thereof after this. This extends up to 200 female guests. Once this number has been reached, there should be an additional toilet for every 35 female guests, or part thereof
  • One urinal for every 50 male guests, up to 200 male guests in total, plus one for every additional 70 male guests or part thereof after this
  • One washbasin per male toilet, plus one for every five urinals or part thereof
  • One washbasin per female toilet, plus one additional washbasin for every two female toilets after this, or part thereof


How Many Toilets Per Person Do You Need in a Religious Building?

It is common for a church or other house of worship, such as a synagogue, mosque, temple or gurdwara, to have one unisex facility. Some may not even have a toilet at all, but if you require facilities for your place of worship it will usually be recommended that separate facilities are built for both men and women. Additional facilities should also be provided for disabled visitors.

The exact number of toilets that should be provided will depend on the number of people that use the premises:

  • In a church or other religious building where there are up to five members of staff and volunteers, one toilet should be provided
  • Two toilets should be provided in a church or other religious building where there are up to 25 people using the premises

After this time, the number will increase further, depending on the number of staff and volunteers present. Additional facilities may be required for the building’s congregation, as well as the public.


How Many Toilets Per Person Do You Need in a Hostel, Guest House or Bed and Breakfast?

The regulations on how many toilets you will need per person for a hostel, guest house or bed and breakfast vary, depending on the area you are planning on carrying out work in.

To give an example in the city of Preston and the surrounding areas, the regulations for hostels are as follows:

  • One toilet should be provided for every 1-6 guests
  • Two toilets should be provided for every 7-12 guests
  • Three toilets should be provided for every 13-18 guests
  • Each of these toilets should also have a washbasin provided nearby

Friday, August 27, 2021

Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital

Kemkominfo: Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital

27 Agu 2021, 14:15 WIB


Dalam acara Mendix Virtual Hackathon 2021 yang digelar secara virtual, Kepala BPSDM Kementerian Komunikasi dan Informatika (BPSDM Kemkominfo) Hary Budiarto mengatakan Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital agar bisa eksis di bidang digital.

"Saat ini jika melihat data, kita hanya memiliki 1,1 juta talenta digital, padahal kita membutuhkan 9 juta untuk eksis di bidang digital. Ini harus ditingkatkan 9 kali lipat lagi," ungkap Hary, dikutip Jumat (27/8/2021).

Untuk memperkuat komitmen dalam mendukung talenta digital Indonesia, Mendix dan Siemens Digital Industries Software, menggelar kompetisi Mendix Virtual Hackathon 2021.

Kompetisi ini juga turut didukung oleh Kemkominfo, serta bekerjasama dengan PT ACA Pacific Indonesia, PT Optima Cipta Guna Indonesia, PT Soltius Indonesia, dan PT Solusi Kode Indonesia.

Sebelum memasuki kompetisi, para peserta diberikan pembekalan melalui workshop tentang peran teknologi low-code untuk bisnis dan penanganan pandemi Covid-19.

Dalam kompetisi ini, para peserta diminta untuk membuat prototype aplikasi menggunakan Mendix. Aplikasi yang diciptakan oleh para talenta digital nantinya diharapkan dapat mendukung kinerja pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 di industri alat kesehatan, farmasi, dan rumah sakit.

Sebagai informasi, Mendix merupakan platform berteknologi low-code dari Siemens Digital Industries Software, yang dapat menyederhanakan proses pengembangan aplikasi dengan menggunakan kode minimal.


Sumber:


Friday, July 2, 2021

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Penyelamatan Perusahaan Melalui Mekanisme Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Menghadapi Dampak Pandemik Covid-19)

Articles

Oleh R. Yudha Triarianto Wasono, S.H., M.H.

 

Awal tahun 2020 hampir seluruh negara di dunia terguncang dengan adanya pandemik Covid-19 yang telah banyak memakan korban jiwa. Tak terkecuali di Indonesia, hingga pertengahan April saja sudah ada lebih dari 6.000 kasus positif Covid-19, dengan jumlah kematian lebih dari 600 jiwa.

Tak hanya korban jiwa, perkonomian nasional juga terkena dampak yang cukup keras akibat pandemik ini. Kurs US dollar bahkan melompat cukup tinggi hampir mendekati Rp 17.000 dalam waktu beberapa hari saja. Masyarakat yang menjadi terkitat dengan lembaga-lembaga pembiayaan non-bank juga tedampak situasi pandemik Covid-19, hingga Pemerintah melalui Otortias Jasa Keuangan turun tangan mengeluarkan kebijakan relaksasi untuk memberikan restrukturisasi pembiayaan bagi debitor.

Sejak bulan Maret 2020, Pemerintah menerbitkan beberapa kebijakan untuk menanggulangi penyebaran virus corona ini, salah satunya Peraturan Pemerintah Nomor No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 (PP 21/2020). Dalam PP 21/2020, yang dimaksud dengan PSBB adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19 sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran Covid-19. Pemerintah Daerah dapat melakukan PSBB untuk satu provinsi atau kabupaten/kota tertentu dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Implementasi dari PSBB di berbagai daerah, membuat sebagian besar industri menerapkan sistem work from home (WFH) untuk mengurangi mobilitas dan aktivitas perusahaan. Pengurangan aktivitas industri tentu berpengaruh pada kinerja perusahaan, dan bisa berujung pada penurunan omzet dan keuntungan, bahkan menimbulkan kerugian. Kerugian yang dialami para pelaku usaha tentunya juga akan berdampak kepada para kreditornya yang macet pemenuhan piutangnya. Jika hal ini terus berlanjut, tidaklah mustahil banyak perusahaan yang pailit dalam waktu dekat.

Namun peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia telah menyediakan mekanisme untuk menghindari kepailitan. Mekanisme tersebut biasa dikenal dengan istilah Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Mekanisme PKPU telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU 37/2004).

Berlakunya UU 37/2004 bisa menjadi solusi bagi para pelaku usaha dalam penyelesaian masalah utang-piutang, dan jalan keluar untuk menghindari kepailitan. Hal ini karena selama PKPU berlangsung, terhadap debitor tidak dapat diajukan permohonan pailit.

Menurut Pasal 222 ayat (2) UU 37/2004, debitor yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon PKPU, dengan maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada kreditor. Kreditor yang dimaksud dalam ketentuan pasal ini adalah setiap kreditor baik konkuren maupun kreditor yang didahulukan.

Debitor dapat mengajukan permohonan PKPU melalui Pengadilan Niaga di wilayah jursdiksi wilayah debitor. Tidak hanya debitor, kreditor juga dapat mengajukan permohonan PKPU atas debitornya berdasarkan ketentuan UU 37/2004.

Prosedur permohonan PKPU dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 224 UU 37/2004 sebagai berikut:

Permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 222 harus diajukan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dengan ditandatangani oleh pemohon dan oleh advokatnya.

Dalam hal pemohon adalah Debitor, permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang harus disertai daftar yang memuat sifat, jumlah piutang, dan utang Debitor beserta surat bukti secukupnya.

Dalam hal pemohon adalah Kreditor, Pengadilan wajib memanggil Debitor melalui juru sita dengan surat kilat tercatat paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum sidang.

Pada sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Debitor mengajukan daftar yang memuat sifat, jumlah piutang, dan utang Debitor beserta surat bukti secukupnya dan, bila ada, rencana perdamaian.

Pada surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilampirkan rencana perdamaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 222.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) berlaku mutatis mutandis sebagai tata cara pengajuan permohonan penundaan kewajibanpembayaran utang sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Adapun bunyi Pasal 6 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) UU 37/2004 adalah sebagai berikut:

Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada Ketua Pengadilan.

Panitera mendaftarkan permohonan pernyataan pailit pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan, dan kepada pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.

Panitera wajib menolak pendaftaran permohonan pernyataan pailit bagi institusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) jika dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam ayatayat tersebut.

Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada Ketua Pengadilan paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan.

Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan, Pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan hari sidang.

Prosedur PKPU mencakup tahap PKPU sementara dan PKPU tetap yang merupakan satu rangkaian prosedur. PKPU sementara berlaku sejak tanggal Putusan Pengadilan sampai dengan tanggal sidan diselenggarakan paling lama pada hari ke-45. Jangka waktu PKPU tetap berikut perpanjangannya maksimal 270 hari dihitung dari setelah putusan PKPU sementara diucapkan, sehingga mencakup masa 45 hari yang menjadi jangka waktu PKPU sementara. Namun perpanjangan masa PKPU tetap terlebih dahulu harus mendapat persetujuan lebih dari ½ jumlah kreditor konkuren yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh tagihan.

Dapat dikatakan bahwa PKPU merupakan masa renegosiasi debitor dengan kreditor melalui penyampaian proposal atau rencana perdamaian yang dimediasi oleh Pengadilan. Apabila rencana perdamaian disetujui oleh para kreditor, maka Pengadilan akan mengesahkannya dan mengikat seluruh pihak. Pengesahan atas rencana perdamaian dalam proses PKPU dari Pengadilan tersebut biasa dikenal dengan istilah Homologasi.

Efektivitas dari mekanisme PKPU akan tergantung dari hasil rencana perdamaian yang diajukan debitor kepada para kreditornya. Setidaknya dalam jangka waktu proses PKPU ada masa yang dapat digunakan oleh debitor untuk melakukan restrukturisasi utang-utangnya. Harapannya rencana perdamaian dapat disetujui oleh para kreditor, sehingga debitor dapat melanjutkan usahanya dan terhindar dari kepailitan.


Sumber :

https://siplawfirm.id/penyelamatan-perusahaan-melalui-mekanisme-penundaan-kewajiban-pembayaran-utang-menghadapi-dampak-pandemik-covid-19/

Tuesday, June 29, 2021

It’s You Against the Machine

Fired by Bot at Amazon: ‘It’s You Against the Machine’

Contract drivers say algorithms terminate them by email—even when they have done nothing wrong. 

By Spencer Soper

June 28, 2021, 5:00 PM GMT+7


Stephen Normandin spent almost four years racing around Phoenix delivering packages as a contract driver for Amazon.com Inc. Then one day, he received an automated email. The algorithms tracking him had decided he wasn’t doing his job properly.

The 63-year-old Army veteran was stunned. He’d been fired by a machine.

Normandin, an “old-school kind of guy” who say he gives every job 110%

Normandin says Amazon punished him for things beyond his control that prevented him from completing his deliveries, such as locked apartment complexes. He said he took the termination hard and, priding himself on a strong work ethic, recalled that during his military career he helped cook for 250,000 Vietnamese refugees at Fort Chaffee in Arkansas.

“I’m an old-school kind of guy, and I give every job 110%,” he said. “This really upset me because we're talking about my reputation. They say I didn’t do the job when I know damn well I did.”

Normandin’s experience is a twist on the decades-old prediction that robots will replace workers. At Amazon, machines are often the boss—hiring, rating and firing millions of people with little or no human oversight.

Amazon became the world’s largest online retailer in part by outsourcing its sprawling operations to algorithms—sets of computer instructions designed to solve specific problems. For years, the company has used algorithms to manage the millions of third-party merchants on its online marketplace, drawing complaints that sellers have been booted off after being falsely accused of selling counterfeit goods and jacking up prices.

Increasingly, the company is ceding its human-resources operation to machines as well, using software not only to manage workers in its warehouses but to oversee contract drivers, independent delivery companies and even the performance of its office workers. People familiar with the strategy say Chief Executive Officer Jeff Bezos believes machines make decisions more quickly and accurately than people, reducing costs and giving Amazon a competitive advantage.

Amazon started its gig-style Flex delivery service in 2015, and the army of contract drivers quickly became a critical part of the company’s delivery machine. Typically, Flex drivers handle packages that haven’t been loaded on an Amazon van before the driver leaves. Rather than making the customer wait, Flex drivers ensure the packages are delivered the same day. They also handle a large number of same-day grocery deliveries from Amazon’s Whole Foods Market chain. Flex drivers helped keep Amazon humming during the pandemic and were only too happy to earn about $25 an hour shuttling packages after their Uber and Lyft gigs dried up.

But the moment they sign on, Flex drivers discover algorithms are monitoring their every move. Did they get to the delivery station when they said they would? Did they complete their route in the prescribed window? Did they leave a package in full view of porch pirates instead of hidden behind a planter as requested? Amazon algorithms scan the gusher of incoming data for performance patterns and decide which drivers get more routes and which are deactivated. Human feedback is rare. Drivers occasionally receive automated emails, but mostly they’re left to obsess about their ratings, which include four categories: Fantastic, Great, Fair or At Risk.

Bloomberg interviewed 15 Flex drivers, including four who say they were wrongly terminated, as well as former Amazon managers who say the largely automated system is insufficiently attuned to the real-world challenges drivers face every day. Amazon knew delegating work to machines would lead to mistakes and damaging headlines, these former managers said, but decided it was cheaper to trust the algorithms than pay people to investigate mistaken firings so long as the drivers could be replaced easily.

So far, Amazon has had no trouble finding Flex contractors. Globally, some 4 million drivers have downloaded the app, including 2.9 million in the U.S., according to AppAnnie. And more than 660,000 people in the U.S. downloaded it in the first five months of this year, up 21% from the same period a year ago,  according to SensorTower, another app tracker. 

Inside Amazon, the Flex program is considered a great success, whose benefits far outweigh the collateral damage, said a former engineer who helped design the system. “Executives knew this was gonna shit the bed,” this person said. “That’s actually how they put it in meetings. The only question was how much poo we wanted there to be.”

In a statement, Amazon spokeswoman Kate Kudrna called drivers’ claims of poor treatment and unfair termination anecdotal and said they don’t represent the experience of the vast majority of Flex drivers. “We have invested heavily in technology and resources to provide drivers visibility into their standing and eligibility to continue delivering, and investigate all driver appeals,” she said. 

As independent contractors, Flex drivers have little recourse when they believe they’ve been deactivated unfairly. There’s no paid administrative leave during an appeal. Drivers can pay $200 to take their dispute to arbitration, but few do, seeing it as a waste of time and money.

When Ryan Cope was deactivated in 2019, he didn’t bother arguing or consider paying for arbitration. By then, Cope had already decided there was no way he could meet the algorithms’ demands. Driving miles along winding dirt roads outside Denver in the snow, he often shook his head in disbelief that Amazon expected the customer to get the package within two hours.

“Whenever there’s an issue, there’s no support,” said Cope, who is 29. “It’s you against the machine, so you don’t even try.”

When drivers do challenge poor ratings, they can’t tell if they’re communicating with real people. Responses often include just a first name or no name at all, and the replies typically apply to a variety of situations rather than a specific problem. Even if a name is attached, a machine most likely generated the first few email responses, according to people familiar with the matter.

When human managers get involved, they typically conduct a hasty review—if they do one at all—because they must meet their own performance standards. A former employee at a driver support call center said dozens of part-time seasonal workers with little training were assigned to oversee issues for millions of drivers.

“Amazon doesn’t care,” the former Amazon employee said. “They know most people will get their packages and the 2 or 3 percent who don’t will get something eventually.”

Amazon has automated its human-resources operation more than most companies. But the use of algorithms to make decisions affecting people’s lives is increasingly common. Machines can approve loan applications, and even decide if someone deserves parole or should stay behind bars. Computer science experts have called for regulations forcing companies to be transparent about how algorithms affect people, giving them the information they need to call out and correct mistakes. Legislators have studied the matter but have been slow to enact rules to prevent  harm. In December, Senator Chris Coons, Democrat of Delaware, introduced the Algorithmic Fairness Act. It would require the Federal Trade Commission to create rules that ensure algorithms are being used equitably and that those affected by their decisions are informed and have the opportunity to reverse mistakes. So far his proposal has gone nowhere. 

Neddra Lira, of Arlington, Texas, started making deliveries through the Amazon Flex app in 2017. A 42-year-old school-bus driver and mother of three, she took the side job during holiday breaks and summers to earn extra money, which she used to pay for her daughter’s gymnastics lessons. When the pandemic hit and schools closed, Lira turned to Flex as her primary source of income, delivering packages as well as groceries from Whole Foods. She liked the flexibility and opportunity to pocket about $80 for a four-hour route, after subtracting gas for her Chevrolet Trax crossover.

Lira estimates she delivered about 8,000 packages and had a “great” performance rating most of the time. Amazon algorithms rate drivers based on their reliability and delivery quality, mostly measured by whether they arrived to pick up packages on time, if they made the deliveries within the expected window and followed customers’ special requests. Flex metrics focus mostly on punctuality, unlike ride-hailing services such as Uber and Lyft, which also prioritize things like a car’s cleanliness or driver courtesy. Moreover, Uber and Lyft passengers know when they’re stuck in traffic, so drivers are less likely to be penalized for circumstances beyond their control.

An Amazon customer has no idea what obstacles Flex drivers encounter on the way to their residence, and neither do the algorithms clocking them. Lira says sometimes there were so many drivers lined up outside the delivery station, she waited as long as an hour to retrieve her packages, putting her behind schedule before she even started her route. When she spotted a nail in her tire, Amazon didn’t offer to come retrieve the packages but asked her to return them to the delivery station. Lira was afraid the tire would go flat but complied to protect her standing. Despite explaining the situation, her rating dropped to “at risk” from “great” for abandoning the route and took several weeks to recover.

Time and again, Lira was reassured that her rating was fine. A typical email arrived on Oct. 1. “Your standing is currently great, which means you’re one of our best delivery partners,” said the message signed “Madhu S.” But the very next day, “Bhanu Prakash” emailed to say she had violated Flex’s terms of service. “As a result, you’re no longer eligible to participate in the Amazon Flex program and won’t be able to sign in to the Amazon Flex app.”

Lira was provided an email address and invited to appeal the termination within 10 days. She did so and asked why she was deactivated so she could tell Flex driver support what went wrong. She never got further specifics. She followed up Oct. 18, explaining that she was a single mother laid off from her regular job due to the pandemic and that Flex was the only thing keeping her afloat. Lira received what appears to be an automated response from “The Amazon Flex Team” apologizing for the delay and assuring her that her situation would be investigated by the appropriate team.

Three days later, on Oct. 21, she received a message from “Margaret”  saying  “we are still reviewing your appeal.” Then a week later, on Oct. 28, an email signed “SYAM” said, “We’ve reviewed your information and taken another look at your history. Our position has not changed and we won’t be reinstating  your access to the Amazon Flex program… We wish you success in your future endeavors.”

Without the driving gig, Lira began to struggle financially. She stopped paying her mortgage, and her car was repossessed two days after Christmas with donated presents for her kids still inside. Lira was forced to take a government handout to pay her electric, gas and water bills. Eventually she started driving the school bus again and used most of a pandemic stimulus check to get her car back, paying $2,800 in missed payments, repossession and storage fees.

The computer engineers who designed Flex worked hard to make it fair and consider such variables as traffic jams and problems accessing apartments that the system can’t detect, former employees said. But no algorithm is perfect, and at Amazon’s size even a small margin of error can be considered a huge success internally and still inflict a lot of pain on drivers. Amazon Flex drivers deliver about 95% of all packages on time and without issues, according to a person familiar with the program. Algorithms examine that remaining 5% for problematic patterns.

The Flex algorithms began as blunt instruments and were refined over time. Early on, according to a person familiar with the situation, designers set too tight a time period for drivers to get to the delivery station. They had failed to factor in human nature. Drivers eager for work would promise to arrive by a certain time when they were too far away to make it. The flaw set good drivers up to fail, the person said, and was fixed only after a widespread plunge in ratings. The system also uses GPS to decide how long it should take to reach a specific address but sometimes fails to account for the fact that navigating a rural road in the snow takes a lot longer than traversing a suburban street on a sunny day.

The system worked fine for Normandin for years. An Arizona native who previously delivered pizzas at night and newspapers in the morning, he knew all the short cuts and traffic choke points. He also drove for Uber and Lyft, but took on more Flex work during the pandemic when demand for rides dropped and it became riskier ferrying passengers than carting packages.

Normandin enjoyed stellar ratings and was even asked if he’d like to train other drivers. He had a well-honed system: sorting packages before leaving the station, putting his first deliveries in the front seat, the next several packages in the rear and tucking the last batch deep in the back of his 2002 Toyota Corolla. Normandin has been medically disabled for more than a decade due to a stomach ailment and back problems that prevent him from sitting or standing in one place for prolonged periods. He liked gig work because he could work a few hours at a time.

Then, starting last August, Normandin had a string of setbacks he maintains were beyond his control. Amazon assigned him some pre-dawn deliveries at apartment complexes when their gates were still locked, a common complaint among Flex drivers. The algorithm instructs drivers in such instances to deliver packages to the main office, but that wasn’t open either. Normandin called the customer as instructed—a long shot because most people don’t answer calls from unfamiliar numbers, especially early morning. He called driver support, which couldn’t get through to the customer either. Meanwhile, the clock was ticking, and the algorithm was taking note.

“There are a lot of things the algorithms don't take into consideration and the right hand doesn’t know what the left hand is doing,” Normandin said.

Around the same time, he was asked to deliver packages to an Amazon locker in an apartment complex but couldn’t open it. After 30 minutes on the phone with support he was told to return the packages to the delivery station. Then his rating crashed. Normandin called support again to explain that a malfunctioning locker was responsible and says he was told the problem would be remedied. “They never fixed it,” he said, “and it took six weeks for my rating to go back up.”

On Oct. 2, Normandin woke at 3 a.m., showered and grabbed his phone to find a Flex route but couldn’t log on. He checked his email and found a generic message from Amazon signed by “Gangardhar M.” It said Normandin’s standing had “dropped below an acceptable level” and that he was being terminated.

Then began a process familiar to anyone who has found themselves trapped in an automated customer-service loop—except in this case Normandin wasn’t seeking a refund for a damaged product. He was fighting to get his job back. 

Offered Amazon’s standard 10 days to appeal, Normandin emailed Flex support and asked that his termination be reversed. He explained that he had already flagged Amazon about circumstances beyond his control and had been promised the infractions wouldn’t be held against him

Normandin received a response the next day from “Pavani G,” thanking him for “providing more context about your history with Amazon Flex.” Normandin responded to that email with additional information and received the same exact response promising to look into the issue, but this time it was signed by “Bitan Banerjee.” The email pledged to provide an answer within six days. Seven days later, “Arnab” emailed to apologize for the delay and promised an update as soon as possible.

Meanwhile, Normandin wasn’t making any money. He was counting on Amazon’s annual Prime Day sale, which had been pushed back to October, to make money he needed to pay bills. With no response by Oct. 19, Normandin messaged Amazon again, this time copying Bezos. 

“I am asking for specific details on how this decision for deactivation of my account was reached,” he wrote. “I am confident after a thorough review of my entire delivery history as an Amazon Flex driver will show a consistent history of performing at the highest level, of a reasonable and prudent person.”

About 12 hours later, he got a response informing him that Bezos had received the email and instructed “Taylor F” to research the issue and respond on his behalf.  On Oct. 23, Normandin received an email from “Raquel” on the Amazon Flex Support Team to tell him they were still reviewing his appeal. Former Amazon employees who worked on Flex said escalating to Bezos is a common tactic among deactivated drivers but seldom helps them.

The verdict arrived on Oct. 28 from “SYAM,” the same name in the final message to Lira. The email didn’t directly respond to Normandin’s claims but acknowledged the job’s challenges, saying: “We understand that every delivery partner has difficult days and that you may sometimes experience delays, and we have already taken this into account.” But Normandin still wasn’t getting his gig back.

After the shock subsided, he tried a couple of other delivery services but instead decided to use his pandemic stimulus money to start a small-engine repair business. It was time to deal directly with human beings again. Of the people who designed the algorithms that tracked, rated and eventually fired him, Normandin said: “It seems they don’t have any common sense about how the real world works.”


---


Dipecat oleh Bot di Amazon: 'Ini Anda Melawan Mesin'

Pengemudi kontrak mengatakan algoritme menghentikan mereka melalui email—bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan apa pun.

Stephen Normandin menghabiskan hampir empat tahun balapan di sekitar Phoenix mengirimkan paket sebagai driver kontrak untuk Amazon.com Inc. Kemudian suatu hari, dia menerima email otomatis. Algoritme yang melacaknya telah memutuskan bahwa dia tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.

Veteran Angkatan Darat berusia 63 tahun itu tercengang. Dia telah dipecat oleh mesin.

Normandin, "pria tua" yang mengatakan bahwa dia memberikan setiap pekerjaan 110%

Normandin mengatakan Amazon menghukumnya untuk hal-hal di luar kendalinya yang mencegahnya menyelesaikan pengirimannya, seperti kompleks apartemen yang terkunci. Dia mengatakan bahwa dia menerima pemutusan hubungan kerja dengan keras dan, dengan bangga memiliki etos kerja yang kuat, mengingat bahwa selama karir militernya dia membantu memasak untuk 250.000 pengungsi Vietnam di Fort Chaffee di Arkansas.

“Saya tipe pria jadul, dan saya memberikan setiap pekerjaan 110%,” katanya. “Ini benar-benar membuat saya kesal karena kita berbicara tentang reputasi saya. Mereka mengatakan saya tidak melakukan pekerjaan itu ketika saya tahu betul saya melakukannya. ”

Pengalaman Normandin adalah kebalikan dari prediksi puluhan tahun bahwa robot akan menggantikan pekerja. Di Amazon, mesin seringkali menjadi bos—mempekerjakan, menilai, dan memecat jutaan orang dengan sedikit atau tanpa pengawasan manusia.

Amazon menjadi pengecer online terbesar di dunia sebagian dengan mengalihdayakan operasinya yang luas ke algoritme—kumpulan instruksi komputer yang dirancang untuk memecahkan masalah tertentu. Selama bertahun-tahun, perusahaan telah menggunakan algoritme untuk mengelola jutaan pedagang pihak ketiga di pasar online, menarik keluhan bahwa penjual telah dipecat setelah dituduh menjual barang palsu dan menaikkan harga.

Semakin, perusahaan ini menyerahkan operasi sumber daya manusia ke mesin juga, menggunakan perangkat lunak tidak hanya untuk mengelola pekerja di gudang tetapi untuk mengawasi driver kontrak, perusahaan pengiriman independen dan bahkan kinerja pekerja kantornya. Orang yang akrab dengan strategi mengatakan Chief Executive Officer Jeff Bezos percaya mesin membuat keputusan lebih cepat dan akurat daripada manusia, mengurangi biaya dan memberi Amazon keunggulan kompetitif.

Amazon memulai layanan pengiriman Flex bergaya pertunjukan pada tahun 2015, dan pasukan pengemudi kontrak dengan cepat menjadi bagian penting dari mesin pengiriman perusahaan. Biasanya, driver Flex menangani paket yang belum dimuat di van Amazon sebelum pengemudi pergi. Daripada membuat pelanggan menunggu, driver Flex memastikan paket dikirimkan pada hari yang sama. Mereka juga menangani sejumlah besar pengiriman bahan makanan pada hari yang sama dari rantai Whole Foods Market Amazon. Pengemudi Flex membantu menjaga Amazon bersenandung selama pandemi dan hanya terlalu senang untuk mendapatkan sekitar $25 per jam paket antar-jemput setelah pertunjukan Uber dan Lyft mereka mengering.

Tetapi saat mereka masuk, driver Flex menemukan algoritma memantau setiap gerakan mereka. Apakah mereka sampai ke stasiun pengiriman ketika mereka mengatakan mereka akan melakukannya? Apakah mereka menyelesaikan rute mereka di jendela yang ditentukan? Apakah mereka meninggalkan paket dalam tampilan penuh bajak laut teras bukannya tersembunyi di balik penanam seperti yang diminta? Algoritme Amazon memindai semburan data yang masuk untuk pola kinerja dan memutuskan driver mana yang mendapatkan lebih banyak rute dan mana yang dinonaktifkan. Umpan balik manusia jarang terjadi. Pengemudi terkadang menerima email otomatis, tetapi kebanyakan mereka dibiarkan terobsesi dengan peringkat mereka, yang mencakup empat kategori: Fantastis, Hebat, Adil, atau Berisiko.

Bloomberg mewawancarai 15 pengemudi Flex, termasuk empat yang mengatakan bahwa mereka salah diberhentikan, serta mantan manajer Amazon yang mengatakan bahwa sebagian besar sistem otomatis tidak cukup menyesuaikan diri dengan tantangan dunia nyata yang dihadapi pengemudi setiap hari. Amazon tahu mendelegasikan pekerjaan ke mesin akan menyebabkan kesalahan dan berita utama yang merusak, kata mantan manajer ini, tetapi memutuskan lebih murah untuk mempercayai algoritme daripada membayar orang untuk menyelidiki pemecatan yang salah selama driver dapat diganti dengan mudah.

Sejauh ini, Amazon tidak kesulitan menemukan kontraktor Flex. Secara global, sekitar 4 juta pengemudi telah mengunduh aplikasi, termasuk 2,9 juta di AS, menurut AppAnnie. Dan lebih dari 660.000 orang di AS mengunduhnya dalam lima bulan pertama tahun ini, naik 21% dari periode yang sama tahun lalu, menurut SensorTower, pelacak aplikasi lainnya.

Di dalam Amazon, program Flex dianggap sukses besar, yang manfaatnya jauh lebih besar daripada kerusakan tambahan, kata seorang mantan insinyur yang membantu merancang sistem. "Eksekutif tahu ini akan mengacaukan tempat tidur," kata orang ini. “Begitulah sebenarnya cara mereka memasukkannya ke dalam rapat. Satu-satunya pertanyaan adalah seberapa banyak kotoran yang kami inginkan.”

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Amazon Kate Kudrna menyebut klaim pengemudi tentang perlakuan buruk dan pemutusan hubungan kerja yang tidak adil dan mengatakan mereka tidak mewakili pengalaman sebagian besar pengemudi Flex. “Kami telah banyak berinvestasi dalam teknologi dan sumber daya untuk memberikan visibilitas pengemudi ke posisi dan kelayakan mereka untuk terus memberikan, dan menyelidiki semua banding pengemudi,” katanya.

Sebagai kontraktor independen, driver Flex memiliki sedikit pilihan ketika mereka yakin telah dinonaktifkan secara tidak adil. Tidak ada cuti administratif berbayar selama banding. Pengemudi dapat membayar $200 untuk membawa perselisihan mereka ke arbitrase, tetapi hanya sedikit yang melakukannya, melihatnya sebagai buang-buang waktu dan uang.

Ketika Ryan Cope dinonaktifkan pada 2019, dia tidak repot-repot berdebat atau mempertimbangkan untuk membayar arbitrase. Pada saat itu, Cope sudah memutuskan tidak mungkin dia bisa memenuhi tuntutan algoritma. Mengemudi bermil-mil di sepanjang jalan tanah yang berkelok-kelok di luar Denver di tengah salju, dia sering menggelengkan kepalanya karena tidak percaya bahwa Amazon mengharapkan pelanggan untuk mendapatkan paket dalam waktu dua jam.

“Setiap kali ada masalah, tidak ada dukungan,” kata Cope, yang berusia 29 tahun. “Anda melawan mesin, jadi Anda bahkan tidak mencoba.”

Ketika pengemudi menantang peringkat yang buruk, mereka tidak tahu apakah mereka berkomunikasi dengan orang sungguhan. Tanggapan sering kali hanya menyertakan nama depan atau tanpa nama sama sekali, dan balasan biasanya berlaku untuk berbagai situasi daripada masalah tertentu. Bahkan jika sebuah nama dilampirkan, mesin kemungkinan besar menghasilkan beberapa tanggapan email pertama, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Ketika manajer manusia terlibat, mereka biasanya melakukan tinjauan tergesa-gesa—jika mereka melakukannya sama sekali—karena mereka harus memenuhi standar kinerja mereka sendiri. Seorang mantan karyawan di call center dukungan pengemudi mengatakan lusinan pekerja musiman paruh waktu dengan sedikit pelatihan ditugaskan untuk mengawasi masalah jutaan pengemudi.

“Amazon tidak peduli,” kata mantan karyawan Amazon itu. “Mereka tahu kebanyakan orang akan mendapatkan paket mereka dan 2 atau 3 persen yang tidak akan mendapatkan sesuatu pada akhirnya.”

Amazon telah mengotomatiskan operasi sumber daya manusianya lebih dari kebanyakan perusahaan. Tetapi penggunaan algoritme untuk membuat keputusan yang memengaruhi kehidupan orang semakin umum. Mesin dapat menyetujui aplikasi pinjaman, dan bahkan memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pembebasan bersyarat atau harus tetap berada di balik jeruji besi. Pakar ilmu komputer telah menyerukan peraturan yang memaksa perusahaan untuk transparan tentang bagaimana algoritme memengaruhi orang, memberi mereka informasi yang mereka butuhkan untuk menyebutkan dan memperbaiki kesalahan. Legislator telah mempelajari masalah ini tetapi lambat untuk memberlakukan aturan untuk mencegah bahaya. Pada bulan Desember, Senator Chris Coons, Demokrat dari Delaware, memperkenalkan Algorithmic Fairness Act. Ini akan membutuhkan Komisi Perdagangan Federal untuk membuat aturan yang memastikan algoritma digunakan secara adil dan bahwa mereka yang terpengaruh oleh keputusan mereka diinformasikan dan memiliki kesempatan untuk membalikkan kesalahan. Sejauh ini lamarannya tidak kemana-mana.

Neddra Lira, dari Arlington, Texas, mulai melakukan pengiriman melalui aplikasi Amazon Flex pada tahun 2017. Seorang pengemudi bus sekolah berusia 42 tahun dan ibu dari tiga anak, dia mengambil pekerjaan sampingan selama liburan dan musim panas untuk mendapatkan uang tambahan, yang dia biasa membayar les senam putrinya. Ketika pandemi melanda dan sekolah-sekolah tutup, Lira beralih ke Flex sebagai sumber pendapatan utamanya, mengirimkan paket serta bahan makanan dari Whole Foods. Dia menyukai fleksibilitas dan kesempatan untuk mengantongi sekitar $80 untuk rute empat jam, setelah mengurangi bensin untuk crossover Chevrolet Trax-nya.

Lira memperkirakan dia mengirimkan sekitar 8.000 paket dan memiliki peringkat kinerja "hebat" hampir sepanjang waktu. Algoritme Amazon menilai pengemudi berdasarkan keandalan dan kualitas pengirimannya, sebagian besar diukur dengan apakah mereka tiba untuk mengambil paket tepat waktu, jika mereka melakukan pengiriman dalam jangka waktu yang diharapkan dan mengikuti permintaan khusus pelanggan. Metrik Flex sebagian besar berfokus pada ketepatan waktu, tidak seperti layanan ride-hailing seperti Uber dan Lyft, yang juga memprioritaskan hal-hal seperti kebersihan mobil atau kesopanan pengemudi. Selain itu, penumpang Uber dan Lyft tahu kapan mereka terjebak kemacetan, sehingga pengemudi cenderung tidak dihukum karena keadaan di luar kendali mereka.

Pelanggan Amazon tidak tahu hambatan apa yang dihadapi pengemudi Flex dalam perjalanan ke tempat tinggal mereka, dan begitu pula algoritme yang mencatatnya. Lira mengatakan terkadang ada begitu banyak pengemudi yang mengantri di luar stasiun pengiriman, dia menunggu selama satu jam untuk mengambil paketnya, membuatnya terlambat dari jadwal bahkan sebelum dia memulai rutenya. Ketika dia melihat paku di bannya, Amazon tidak menawarkan untuk datang mengambil paket tetapi memintanya untuk mengembalikannya ke stasiun pengiriman. Lira takut bannya akan kempes tetapi menurutinya untuk melindungi posisinya. Meskipun menjelaskan situasinya, peringkatnya turun menjadi "berisiko" dari "hebat" karena meninggalkan rute dan membutuhkan beberapa minggu untuk pulih.

Berkali-kali, Lira diyakinkan bahwa peringkatnya baik-baik saja. Sebuah email biasa tiba pada 1 Oktober. “Kedudukan Anda saat ini bagus, yang berarti Anda adalah salah satu mitra pengiriman terbaik kami,” kata pesan bertanda “Madhu S.” Tetapi keesokan harinya, “Bhanu Prakash” mengirim email untuk mengatakan bahwa dia telah melanggar persyaratan layanan Flex. “Akibatnya, Anda tidak lagi memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam program Amazon Flex dan tidak akan dapat masuk ke aplikasi Amazon Flex.”

Lira diberikan alamat email dan diundang untuk mengajukan banding atas penghentian tersebut dalam waktu 10 hari. Dia melakukannya dan bertanya mengapa dia dinonaktifkan sehingga dia bisa memberi tahu dukungan pengemudi Flex apa yang salah. Dia tidak pernah mendapat rincian lebih lanjut. Dia menindaklanjuti 18 Oktober, menjelaskan bahwa dia adalah seorang ibu tunggal yang diberhentikan dari pekerjaan tetapnya karena pandemi dan bahwa Flex adalah satu-satunya hal yang membuatnya bertahan. Lira menerima apa yang tampaknya merupakan respons otomatis dari "Tim Amazon Flex" yang meminta maaf atas keterlambatan dan meyakinkannya bahwa situasinya akan diselidiki oleh tim yang sesuai.

Tiga hari kemudian, pada 21 Oktober, dia menerima pesan dari “Margaret” yang mengatakan “kami masih meninjau banding Anda.” Kemudian seminggu kemudian, pada 28 Oktober, sebuah email bertanda “SYAM” mengatakan, “Kami telah meninjau informasi Anda dan melihat kembali riwayat Anda. Posisi kami tidak berubah dan kami tidak akan memulihkan akses Anda ke program Amazon Flex… Semoga Anda sukses dalam upaya Anda di masa mendatang.”

Tanpa pertunjukan mengemudi, Lira mulai berjuang secara finansial. Dia berhenti membayar hipoteknya, dan mobilnya diambil alih dua hari setelah Natal dengan hadiah yang disumbangkan untuk anak-anaknya masih di dalam. Lira terpaksa menerima bantuan pemerintah untuk membayar tagihan listrik, gas, dan airnya. Akhirnya dia mulai mengemudikan bus sekolah lagi dan menggunakan sebagian besar cek stimulus pandemi untuk mendapatkan kembali mobilnya, membayar $2.800 untuk pembayaran yang terlewat, kepemilikan kembali, dan biaya penyimpanan.

"Itu tidak adil," kata Lira. "Aku hampir kehilangan rumahku."

Insinyur komputer yang merancang Flex bekerja keras untuk membuatnya adil dan mempertimbangkan variabel seperti kemacetan lalu lintas dan masalah mengakses apartemen yang tidak dapat dideteksi oleh sistem, kata mantan karyawan. Tetapi tidak ada algoritme yang sempurna, dan pada ukuran Amazon, bahkan margin kesalahan yang kecil dapat dianggap sebagai kesuksesan besar secara internal dan masih menimbulkan banyak kesulitan pada pengemudi. Driver Amazon Flex mengirimkan sekitar 95% dari semua paket tepat waktu dan tanpa masalah, menurut seseorang yang akrab dengan program tersebut. Algoritma memeriksa sisa 5% untuk pola bermasalah.

Algoritma Flex dimulai sebagai instrumen tumpul dan disempurnakan dari waktu ke waktu. Awalnya, menurut seseorang yang mengetahui situasinya, desainer menetapkan jangka waktu yang terlalu ketat bagi pengemudi untuk sampai ke stasiun pengiriman. Mereka telah gagal untuk memperhitungkan sifat manusia. Pengemudi yang bersemangat untuk bekerja akan berjanji untuk tiba pada waktu tertentu ketika mereka terlalu jauh untuk mencapainya. Cacat itu membuat pengemudi yang baik gagal, kata orang itu, dan diperbaiki hanya setelah penurunan peringkat yang meluas. Sistem ini juga menggunakan GPS untuk memutuskan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai alamat tertentu tetapi terkadang gagal untuk memperhitungkan fakta bahwa menavigasi jalan pedesaan di salju membutuhkan waktu lebih lama daripada melintasi jalan pinggiran kota pada hari yang cerah.

Sistem ini bekerja dengan baik untuk Normandin selama bertahun-tahun. Penduduk asli Arizona yang sebelumnya mengantarkan pizza di malam hari dan koran di pagi hari, dia tahu semua jalan pintas dan titik kemacetan lalu lintas. Dia juga mengemudi untuk Uber dan Lyft, tetapi mengambil lebih banyak pekerjaan Flex selama pandemi ketika permintaan untuk perjalanan turun dan menjadi lebih berisiko mengangkut penumpang daripada mengangkut paket.

Normandin menikmati peringkat bintang dan bahkan ditanya apakah dia ingin melatih pengemudi lain. Dia memiliki sistem yang diasah dengan baik: menyortir paket sebelum meninggalkan stasiun, menempatkan pengiriman pertamanya di kursi depan, beberapa paket berikutnya di belakang dan menyelipkan batch terakhir jauh di belakang Toyota Corolla 2002 miliknya. Normandin telah dinonaktifkan secara medis selama lebih dari satu dekade karena penyakit perut dan masalah punggung yang mencegahnya duduk atau berdiri di satu tempat untuk waktu yang lama. Dia menyukai pekerjaan manggung karena dia bisa bekerja beberapa jam dalam satu waktu.

Kemudian, mulai Agustus lalu, Normandin mengalami serangkaian kemunduran yang menurutnya berada di luar kendalinya. Amazon memberinya beberapa pengiriman sebelum fajar di kompleks apartemen ketika gerbang mereka masih terkunci, keluhan umum di antara pengemudi Flex. Algoritme menginstruksikan pengemudi dalam kasus seperti itu untuk mengirimkan paket ke kantor utama, tetapi itu juga tidak terbuka. Normandin menelepon pelanggan seperti yang diinstruksikan — tembakan panjang karena kebanyakan orang tidak menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenal, terutama di pagi hari. Dia menelepon dukungan pengemudi, yang juga tidak dapat menjangkau pelanggan. Sementara itu, jam terus berdetak, dan algoritme mencatat.

“Ada banyak hal yang tidak dipertimbangkan oleh algoritme dan tangan kanan tidak tahu apa yang dilakukan tangan kiri,” kata Normandin.

Sekitar waktu yang sama, dia diminta untuk mengirimkan paket ke loker Amazon di kompleks apartemen tetapi tidak bisa membukanya. Setelah 30 menit di telepon dengan dukungan dia diberitahu untuk mengembalikan paket ke stasiun pengiriman. Kemudian peringkatnya jatuh. Normandin menelepon dukungan lagi untuk menjelaskan bahwa loker yang tidak berfungsi bertanggung jawab dan mengatakan bahwa dia diberitahu bahwa masalahnya akan diperbaiki. “Mereka tidak pernah memperbaikinya,” katanya, “dan butuh waktu enam minggu agar peringkat saya naik kembali.”

Pada 2 Oktober, Normandin bangun jam 3 pagi, mandi dan mengambil ponselnya untuk menemukan rute Flex tetapi tidak bisa masuk. Dia memeriksa emailnya dan menemukan pesan umum dari Amazon yang ditandatangani oleh "Gangardhar M." Dikatakan kedudukan Normandin telah "turun di bawah tingkat yang dapat diterima" dan bahwa dia diberhentikan.

Kemudian mulailah proses yang akrab bagi siapa saja yang terjebak dalam lingkaran layanan pelanggan otomatis—kecuali dalam kasus ini Normandin tidak mencari pengembalian dana untuk produk yang rusak. Dia berjuang untuk mendapatkan pekerjaannya kembali.

Menawarkan standar 10 hari Amazon untuk mengajukan banding, Normandin mengirim email ke dukungan Flex dan meminta agar penghentiannya dibatalkan. Dia menjelaskan bahwa dia telah menandai Amazon tentang keadaan di luar kendalinya dan telah dijanjikan bahwa pelanggaran tersebut tidak akan dikenakan padanya.

Normandin menerima tanggapan pada hari berikutnya dari “Pavani G,” berterima kasih kepadanya karena “memberikan lebih banyak konteks tentang sejarah Anda dengan Amazon Flex.” Normandin menanggapi email itu dengan informasi tambahan dan menerima tanggapan yang sama persis yang menjanjikan untuk menyelidiki masalah tersebut, tetapi kali ini ditandatangani oleh “Bitan Banerjee.” Email tersebut berjanji untuk memberikan jawaban dalam waktu enam hari. Tujuh hari kemudian, "Arnab" mengirim email untuk meminta maaf atas keterlambatan dan menjanjikan pembaruan sesegera mungkin.

Sementara itu, Normandin tidak menghasilkan uang. Dia mengandalkan penjualan Prime Day tahunan Amazon, yang telah didorong kembali ke Oktober, untuk menghasilkan uang yang dia butuhkan untuk membayar tagihan. Tanpa tanggapan pada 19 Oktober, Normandin mengirim pesan ke Amazon lagi, kali ini menyalin Bezos.

"Saya meminta perincian spesifik tentang bagaimana keputusan penonaktifan akun saya ini tercapai," tulisnya. “Saya yakin setelah peninjauan menyeluruh terhadap seluruh riwayat pengiriman saya sebagai pengemudi Amazon Flex akan menunjukkan riwayat kinerja yang konsisten di tingkat tertinggi, dari orang yang masuk akal dan bijaksana.”

Sekitar 12 jam kemudian, dia mendapat tanggapan yang memberi tahu dia bahwa Bezos telah menerima email dan menginstruksikan "Taylor F" untuk meneliti masalah ini dan menanggapi atas namanya. Pada 23 Oktober, Normandin menerima email dari “Raquel” di Tim Dukungan Amazon Flex untuk memberi tahu dia bahwa mereka masih meninjau bandingnya. Mantan karyawan Amazon yang bekerja di Flex mengatakan eskalasi ke Bezos adalah taktik umum di antara pengemudi yang dinonaktifkan tetapi jarang membantu mereka.

Putusan itu tiba pada 28 Oktober dari “SYAM,” nama yang sama dalam pesan terakhir kepada Lira. Email tersebut tidak secara langsung menanggapi klaim Normandin tetapi mengakui tantangan pekerjaan, dengan mengatakan: "Kami memahami bahwa setiap mitra pengiriman memiliki hari-hari yang sulit dan bahwa Anda terkadang mengalami penundaan, dan kami telah mempertimbangkan hal ini." Tapi Normandin masih belum mendapatkan pertunjukannya kembali.

Setelah keterkejutannya mereda, dia mencoba beberapa layanan pengiriman lain tetapi malah memutuskan untuk menggunakan uang stimulus pandemi untuk memulai bisnis perbaikan mesin kecil. Sudah waktunya untuk berurusan langsung dengan manusia lagi. Tentang orang-orang yang merancang algoritme yang melacak, menilai, dan akhirnya memecatnya, Normandin berkata: "Sepertinya mereka tidak memiliki akal sehat tentang cara kerja dunia nyata."


Sumber :

https://www.bloomberg.com/news/features/2021-06-28/fired-by-bot-amazon-turns-to-machine-managers-and-workers-are-losing-out

Related Posts