Wednesday, July 10, 2013

Liberasisasi Logistik


Pada tahun 2013 salah satu sektor yang mengalami liberasisasi adalah logistik dan jasa pendukungnya. Kesepakatan juga termasuk Transport Services (International Maritime, rail, air freight transports), Non Transport Services (Cargo handling services, Storage & warehousing services, Freight transport agency services, Customs clearance, dll.), dan Logistics Facilitation (Enhance transparency of regulation for logistics, Implement Framework Agreement on Multimodal Transport Agreement, dll.). 

Beberapa faktor yang mendukung ke arah penguatan pasar bebas logistik di ASEAN adalah:
- Pertumbuhan pasar domestik yang memerlukan kegiatan logistik
- Upaya pemerintah yang telah mengembangkan MP3EI, Sistem Logistik Nasional, dll.
- Peningkatan investasi langsung pada basis produksi dan jasa yang memerlukan kegiatan logistik.

Namun tidak terlepas dari faktor-faktor yang menghambat, antara lain:
- Infrastruktur yang tidak berkembang
- Tata letak geografi yang luas
- Lemahnya koordinasi antar antar moda maupun antar instansi pemerintah
- Pelayanan lintas batas negara yang masih lambat
- Lemahnya partisipasi sektor usaha 
- Kurangnya kompetensi SDM logististik
- Suku bunga yang tinggi 12%
- Pajak yang berganda yang berasal dari kebijakan pemerintah daerah
- Pemerintah tidak mempunyai pendanaan infrastruktur
- Sebagian besar yang membutuhkan jasa logistik adalah UKM
- Penyedia jasa logistik terbagi-bagi
- Kebijakan yang berubah-ubah
- Tidak ada insentif pengembangan logistik pantai 
- Lalu lintas kontainer yang tidak seimbang antara timur dan barat.

Transportasi


Transportasi merupakan salah satu komponen dalam sistem logistik (di samping persediaan, pergudangan, dan sistem informasi). Dengan membagi logistik menjadi dua aktivitas utama, yaitu pemindahan (flow) dan penyimpanan (storage), maka transportasi berperan dalam aktivitas pemindahan/pengiriman barang.

Dalam sistem logistik, aktivitas transportasi mencakup perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian aktivitas yang berkaitan dengan moda, vendor, dan pemindahan persediaan masuk dan keluar dalam suatu perusahaan. 

Pemilihan moda merupakan permasalahan yang penting. Pemilihan moda dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti kondisi geografis, kapasitas, frekuensi, biaya (tarif), kapasitas, availabilitas, kualitas pelayanan dan reliabilitas (waktu pengiriman, variabilitas, reputasi, dll.).

Pada umumnya, moda transportasi dibedakan atas kereta api, truk, transportasi air, transportasi udara, dan pipa. Pemilihan moda didasarkan pada kriteria pemilihan yang ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel Kriteria Pemilihan Moda

Inline image 1

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam transportasi adalah mengenai local pickup and delivery serta long-haul movements. Perusahaan terkait biasanya memperhatikan perbedaan karakteristik jangkauan atau jarak ini dengan strategi transportasi yang berbeda. Untuk local pickup and delivery, perusahaan biasanya menggunakan armada sendiri. Untuk long-haul movements, biasanya menggunakan outsourcing dari penyedia jasa logistik (third-party logistics provider). 

Dalam transportasi, pertimbangan ekonomis mencakup jarak, volume, berat, kepadatan (density), dan bentuk (stowability). Pertambahan jarak, misalnya, akan berakibat bertambahnya biaya. Namun, pertambahan jarak tidak berbanding lurus dengan pertambahan biaya. Pertambahan biaya ini cenderung akan berkurang ketika jarak terus bertambah.

Volume dan berat barang atau produk akan mempengaruhi ekonomisasi transportasi, yaitu biaya per satuan berat barang. Semakin berat barang, maka biaya per satuan berat barang akan cenderung semakin murah.

Tingkat kepadatan dan kemudahan bentuk barang atau produk untuk disusun dalam moda transportasi juga akan mempengaruhi ekonomisasi transportasi. Semakin mudah penyusunan barang atau produk tersebut berarti transportasi semakin ekonomis, karena barang atau produk tersebut akan semakin memaksimalkan penggunaan kapasitas moda.

Semoga bermanfaat.

Salam,
Setijadi


SUPPLY CHAIN INDONESIA
Education | Training | Consulting | Research | Development

www.SupplyChainIndonesia.com

Tuesday, June 11, 2013

Strategi Industri Distribusi


Menarik untuk melihat gambaran singkat mengenai cara bekerja industri distribusi.

Dalam industri distribusi gambaran strategy Map di atas mencerminkan situasi perusahaan yang akan kompetitif sekaligus unggul di pasar. Penjabarannya sebagai berikut:
  1. Perusahaan distribusi tentunya mengejar sasaran finansial yaitu keuntungan, yang diperoleh dari selisih pendapatan dan biaya operasional.
  2. Pertumbuhan pendapatan bisa diperoleh melalui kepuasan pelanggan dengan menciptakan persepsi misalnya: Low Cost Reliable Carrier. Positioning ini sebenarnya yang akan dicari oleh perusahaan manapun dan orang manapun.
  3. Nilai tambah dari industri distribusi ini juga terletak pada ketersediaan informasi yang cepat, akurat, dan tentunya informatif.
  4. Agar sasaran finansial serta persepsi di customer bisa tercapai maka diperlukan proses bisnis yang “excellent”, dimana salah satunya adalah jangkauan distribusi yang luas. Faktor jangkauan merupakan daya jual yang kompetitif. Mudah diakses oleh pelanggan dimanapun dan menjangkau kebutuhan distribusinya.
  5. Proses yang kedua adalah penanganan transaksi yang mudah. Bagaimana pelanggan bisa diuntungkan dengan kemudahan transaksi dimanapun, kapanpun untuk memenuhi kecepatan distribusi.
  6. Pelanggan tertentu yang memberikan kontribusi besar memerlukan penanganan spesifik serta strategi layanan yang istimewa, sehingga pelanggan tersebut menjadi tulang punggung bisnis yang sustain.
  7. Efisiensi distribusi dicapai bukan dari minimnya investasi atau menekan biaya operasional sehingga menghasilkan kualitas layanan yang pas-pasan. Efisiensi diperoleh melalui meminimalkan resiko kerugian finansial yang sering muncul akibat kesalahan prosedur dan kompetensi SDM yang tidak memadai. Karena itu diperlukan pengelolaan resiko yang aman untuk menjaga potensi-potensi kerugian yang akan muncul.
  8. Masuk ke dalam fase eksekusi strategi yang “sempurna”, dibutuhkan kompetensi dan kualitas SDM yang memadai. Hal ini bisa diperoleh dengan adanya program pelatihan, pengembangan serta implementasi “knowledge mangement”. Industri ini sangat mengandalkan faktor “manusia”, karenanya investasi dalam hal kompetensi SDM juga tidak bisa setengah hati.
  9. Proses bisnis serta organisasi juga memerlukan sistem informasi yang handal, tidak perlu mahal namun tepat sasaran. Yang terpenting dapat menjawab kebutuhan informasi yang cepat, akurat, analitis untuk membantu proses pengambilan keputusan. Evaluasi kinerja berbasis pada informasi yang real-time, serta memungkinkan adanya sistem warning untuk membantu monitoring kinerja perusahaan.
  10. Perusahaan distribusi juga memerlukan investasi infrastruktur yang memadai, berbasis pada kebutuhan pelanggan serta visi perusahaan. Infrastruktur ini untuk menjamin kualitas layanan yang terdepan secara efektif.
Model ini sangat tepat untuk industri distribusi seperti FMCG, farmasi, software, bahkan telekomunikasi sekalipun.

[Diagram strategi map dapat dilihat di http://distribusi.wordpress.com] dan penjabaran di bawah juga diambil dari site tersebut.

Production Environment


Dalam produksi, terutama di manufacturing biasanya bisa diklasifikan dalam 4 jenis utama.

ETO : Engineer to Order
MTO: Make to Order
PTO: Package to Order
MTS: Make to stock

Ke-4 hal tersebut selalu connected well, tetapi ada batasan dan fungsi masing-masing.

ETO
Ini berhubungan SPESIFIK requirement.  Umumnya ada proses engineering.

MTO
Pada tahap ini produk dibuat setelah kita menerima order dari customer. Kemudian standar komponent dibeli dan distock sebagai raw materials.

PTO
Setelah MTO berhasil dibuat....lantas digabung dengan sub-assembly lain......jadilah PTO. Dengan kata lain, MTO+MTO = assembled become PTO

MTS
Merupakan Finished good komplet.

Secara umum, kita bisa memberikan flow sebagai berikut:

ETO ==> MTO ==> PTO ===> MTS

Benchmarking Competency SCM


Sharing soal competency yang bisa diartikan sebagai set of skill atau knowledge yang harus dimiliki atau di develop oleh person yang memegang fungsi tertentu, seperti ; Planning, Procurement  etc.

Competency merupakan syarat secara berjenjang yang tergantung di posisi mana seseorang memegang posisinya karena di posisi junior akan sangat berbeda dengan posisi senior walaupun dalam satu fungsi Planning misalnya dan antara satu organisasi dan organisasi lainnya akan berbeda-beda.

Berikut dapat di jadikan benchmark untuk beberapa fungsi:

PLANNING

Level Level Definition Dimension Requirements
0 Nil
No skill acquired

1 Novice
Ability to understand (comprehend) general term and basic principles.
Ability to apply the principles with very minor non-conformities. 
Line Capacity (Manning & M/c speed)
Material Requirements Planning (MRP)

2 Apprentice   
Ability to identify deviations/gaps between the real activities with the required standard.
Ability to develop and execute simple preventive actions required to narrowing the gap.   
Line Capacity (Manning & M/c speed)
Material Requirements Planning (MRP)
Master Planning (demand, stock level)
Cycle Time

3 Intermediate   
Ability to supervise and managed the activities and handle more complex non-conformities in order to achieve the desired standards. 
Ability to maintain the existing standards.   
Line Capacity (Manning & M/c speed)
Material Requirements Planning (MRP)
Master Planning (demand, stock level)
Cycle Time
Manufacturing process/ Flow balancing

4 Advance   
Ability to study and optimize current processes and improve to higher standards.
Ability to anticipate changing environment and provide/propose new standards.
Ability to transform new standards into specific improvement activities.
Line Capacity (manning & M/c speed)
Material Requirements Planning (MRP)
Master Planning (demand, stock level)
Cycle Time
Manufacturing process/Flow balancing 
SCW, VCO, JIT

5 Expert / Specialist   
Ability to create innovative solutions and applies towards excellence in quality control management.
Act as a Living Dictionary.   
Line Capacity (Manning & M/c speed)
Material Requirements Planning (MRP)
Master Planning (demand, stock level)
Cycle Time
Manufacturing process/Flow balancing 
SCM, VCO, JIT

PROCUREMENT
Level Level Definition Dimension Requirements

0 Nil   
No skill acquired

1 Novice   
Ability to understand (comprehend) general term and basic principles.
Ability to apply the principles with very minor non-conformities.   
PR & PO
Material Requirement Planning (MRP)

2 Apprentice   
Ability to identify deviations/gaps between the real activities with the required standard.
Ability to develop and execute simple preventive actions required to narrowing the gap.   
PR & PO
Material Requirement Planning (MRP)
Cycle Time

3 Intermediate   
Ability to supervise and managed the activities and handle more complex non-conformities in order to achieve the desired standards.
Ability to maintain the existing standards.   
PR & PO
Material Requirement Planning (MRP)
Cycle Time
Master Planning

4 Advance   
Ability to study and optimize current processes and improve to higher standards.
Ability to anticipate changing environment and provide/propose new standards.
Ability to transform new standards into specific improvement activities.
PR & PO
Material Requirement Planning (MRP)
Cycle Time
Master Planning
Supplier development 
SCM, VCO, JIT, STS

5 Expert / Specialist   
Ability to create innovative solutions and applies towards excellence in quality control management.
Act as a Living Dictionary.   
PR & PO
Material Requirement Planning (MRP)
Cycle Time
Master Planning
Supplier development
SCM, VCO, JIT, STS


INVENTORY AND MATERIAL MANAGEMENT

Level Level Definition Dimension Requirements
0 Nil   
No skill acquired

1 Novice   
Ability to understand (comprehend) general term and basic principles.
Ability to apply the principles with very minor non-conformities. 
Material consumption (MWOPL, MRS)
Material control & handling

2 Apprentice   
Ability to identify deviations/gaps between the real activities with the required standard.
Ability to develop and execute simple preventive actions required to narrowing the gap.   
Material consumption (MWOPL, MRS)
Material control & handling
Inventory category (obsolete, fast & slow moving)

3 Intermediate   
Ability to supervise and managed the activities and handle more complex non-conformities in order to achieve the desired standards.
Ability to maintain the existing standards.   
Material consumption (MWOPL, MRS)
Material control & handling
Inventory category (obsolete, fast & slow moving)
Material Requirement Planning (MRP)
Stock accuracy (raw material & finish goods)

4 Advance   
Ability to study and optimize current processes and improve to higher standards.
Ability to anticipate changing environment and provide/propose new standards.
Ability to transform new standards into specific improvement activities.
Material consumption (MWOPL, MRS)
Material control & handling
Inventory category (obsolete, fast & slow moving)
Material Requirement Planning (MRP)
Stock accuracy (raw material & finish goods)
Inventory & warehouse management system
SCM, VCO, JIT

5 Expert / Specialist   
Ability to create innovative solutions and applies towards excellence in quality control management.
Act as a Living Dictionary.   
Material consumption (MWOPL, MRS)
Material control & handling
Inventory category (obsolete, fast & slow moving)
Material Requirement Planning (MRP)
Stock accuracy (raw material & finish goods)
Inventory & warehouse management system
SCM, VCO, JIT

Change Management Project vs IT Project


Tidak banyak yang mengerti perbedaannya sehingga pengadaannya cenderung ke IT Project.
PENGADAAN SISTEM mudah via berbagai tender, tetapi PENERAPAN SISTEM butuh CHANGE MANAGEMENT.

Titik-titik kegiatan dalam CHANGE MANAGEMENT diawali dengan kebutuhan CHANGE AGENT yang mampu menerobos SUMSUM BUDAYA PENGGUNA SISTEM yang memerlukan waktu yang panjang sehingga terjadi sesuai dengan bentuk efisiensi yang diinginkan.

Jika filosofi ini benar, maka mari kita lihat fenomena gerakan reformasi dunia logistik yang mana kita mengharapkan adanya suatu perubahan total.
Lalu kita akan terdorong untuk mulai meneliti berbagai pendekatan yang dilakukan oleh berbagai pelaku reformasi tersebut sebagai berikut:

Bagaimana situasi kini dunia logistik kita di Indonesia ?
Apakah cukup hanya dengan berbagai Master Plan yang dikibarkan yang kita semua sudah banyak dengar dalam forum-forum diskusi ?

Sudah banyak forum diskusi dilakukan, lalu kenapa Dunia Logistik belum berubah.
Sudah banyak "top-down" approach dilakukan, lalu kenapa juga Dunia Logistik gitu-gitu aja.

Coba ada ya judul tender pengadaan project yang berbunyi gini: Change Management Project in Logistic dengan RKS (Rencana Kerja dan Syarat-syarat) mengacu pada TOR (Term of Reference) yang valid, justified, auditable dan sebagainya.
Jika kesadaran akan pengadaan project ini bisa terjadi maka paling tidak reformasi di Dunia Logistik ini bisa secara step-by-step terwujud menjadi lebih efisien dari sebelumnya.
Artinya tidak semena-mena Master Plan, Pembangunan Fisik, Pengadaan ICT sebagai tools (alat) pembantu manajemen tetapi juga aspek Change Management-nya yang dilengkapi dengan beberapa Change Agent yang mengerti aspek business process, aspek operasional inti pelaku bisnis (perusahaan) terkait dunia logistik dan memiliki inter-personel skill yang excelent sehingga mampu memobilisir suatu budaya lama menjadi budaya baru, mampu mengkombinasi powerful otoritas top-down pada beberapa kondisi tertentu dan tidak terjadi friksi, riak karena diimbangi dengan pendekatan bottom-up yang excellent.

Jika dunia logistik ini berubah sedikit demi sedikit dan para pelaku bisnis dunia logistik yang throughput produksi bertumbuh dalam satuan waktu kerja satu hari optimum maka kemakmuran para pegawainya, keluarga perusahaan di dunia logistik naik, memiliki buying power yang tinggi, sektor informal bertumbuh, kita Indonesia menjadi lebih makmur dari negara-negara tetangga kita seperti: Singapura yang konon hidupnya adalah menjadi pelabuhan transhipment di trafik lalu lintas kapal pada Selat Malaka.

Indonesia adalah negara kelautan dengan berbagai pulau-pulau, maka kondisi politis mulai dari pemerintah sampai pada kepentingan pengadaan tender project ICT, tender project Change Management di instansi pemerintah, maupun BUMN itu jangan tersusun seperti: pulau-pulau juga donk.
Kita yang di pulau-pulau "politis" ini harus ada nurani yang dalam pribadi masing-masing dan sadar dan melihat titik yang lain di atas kita, yakni: kebersamaan dalam koordinasi di dunia logistik; yang harus maju peradaban, budaya dan ekonomi.

Jika tidak demikian, maka para player (pemain) negara lain akan mulai masuk mendirikan PMA Freight Forwarder dan sebagainya dan alhasil mereka yang meraup profit keuntungan dunia logistik. Kita akhirnya hanya menjadi pegawai dan tidak bisa bersaing menjadi pelaku bisnis.

Regards,
Rudy Sangian

Assessment Operasional Warehouse

Dalam dunia bisnis saat ini yang semakin kompetitif, tantangan terbesar dalam mengelola warehouse adalah produktivitas dan efektivitas operasional warehouse dalam memenuhi harapan pelanggan. Salah satu cara untuk mengetahui seberapa efektif pengelolaan warehouse adalah melalui assessment operasional warehouse.
Apa itu assessment operasional, mengapa penting dilakukan, dan bagaimana melaksanakan assessment operasional?
F. Curtis Barry & Company, konsultan Warehouse, System, dan Inventory mendefinisikan assessment operasional sebagai review sistematis mengenai fungsi-fungsi warehouse untuk peningkatan perbaikan dalam efisiensi dan peningkatan kualitas pelayanan. Assessment operasional mencakup evaluasi kuantitatif dan kualitatif atas produktivitas dan tingkat kualitas pelayanan yang telah dicapai dari operasional warehouse. Dengan assessment operasional memungkinkan kita dapat mengukur produktivitas dan kualitas pelayanan serta dapat mengidentifikasi pola dan trend; mengevaluasi secara tepat posisi kita saat ini dan apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Assessment operasional juga memberikan informasi kepada kita mengenai perbandingan ukuran-ukuran kinerja yang telah dicapai dengan benchmark industri.
Penting untuk kita perhatikan, bahwa jika kita tidak dapat mengukur sesuatu dengan benar, maka sangatlah tidak mungkin – untuk tidak dikatakan sulit – untuk melakukan perbaikan. Dengan melakukan assessment operasional, maka akan membantu kita dalam meningkatkan produktivitas, menggunakan ruang distribution center secara optimal, memperbaiki throughput dan kapasitas order yang diproses dalam warehouse, efisiensi alur kerja melalui pengurangan proses pekerjaan, memperbaiki tingkat kualitas pelayanan, dan pada akhirnya akan dapat memeroleh laba yang lebih tinggi dengan cara peningkatan pendapatan dan penurunan biaya.
Empat Area Kritis untuk Dilakukan Assessment
Ada empat area penting yang harus dievaluasi, yaitu:
1. Pekerja
Dalam evaluasi aspek pekerja ini meliputi evaluasi produktivitas, biaya tenaga kerja, turnover, pelatihan, dan ketersediaan penawaran pasar tenaga kerja setempat.
2. Fasilitas warehouse
Evaluasi fasilitas warehouse dimaksudkan untuk mengetahui apakah tersedia cukup space dan penggunaan space tersebut apakah efisien dan efektif. Evaluasi fasilitas warehouse mencakup: cube, cost, seasonality, dan pemeliharaan (housekeeping).
3. Alur kerja dan prosedur
Area ini merupakan area yang paling mudah untuk dilakukan perbaikan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk meminimalkan jumlah waktu yang diperlukan untuk memproses produk, dan langkah-langkah yang diperlukan pekerja untuk memindahkan produk ke fasilitas warehouse. Evaluasi alur kerja dan prosedur mencakup: flow charts, slotting systems, packaging materials, dan quality control.
4. Sistem warehouse
Pada umumnya operasional warehouse terdiri dari tiga area penting, yaitu slotting, replenishment, dan location control yang terintegrai dalam suatu sistem manajemen warehouse (warehouse management system/ WMS). Evaluasi WMS mencakup: Inventory management, Bar coding, Replenishment, Pick ticket selection, Pack verification, Tracking, dan Returns.
Cara Melakukan Assessment
Ada lima tahapan dalam melakukan assessment, yaitu:
1. Observasi operasional
Tahap awal dalam assessment adalah melakukan kunjungan fasilitas warehouse untuk observasi kondisi operasional secara umum dan efektivitas proses operasional warehouse. Tahap ini bukanlah analisis detil, melainkan sekadar memeroleh kesan awal atas kinerja operasional warehouse yang dapat menjadi petunjuk dalam langkah-langkah assessment berikutnya. Observasi difokuskan pada evaluasi produktivitas dan tingkat pelayanan yang dicapai saat ini. Area-area apa saja yang perlu dilakukan observasi? Biasanya yang perlu menjadi perhatian untuk diobservasi antara lain: kebersihan fasilitas warehouse, semangat dan perilaku pekerja, pelaksanaan HSE (Health, Safety and Environment), congestion, ketepatan dalam penggunaan teknologi otomatisasi, penerapan bar code, utilisasi space dan cube, dan lain-lain. Dari observasi ini akan diperoleh informasi mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam operasional warehouse, yang nantinya akan menjadi fokus perbaikan.
2. Pengumpulan data atas informasi dan ukuran-ukuran kinerja yang diperlukan
Setelah masalah-masalah dapat diidentifikasi, maka tahap berikutnya adalah mengumpulkan data atas informasi dan ukuran-ukuran kinerja yang diperlukan. Informasi yang dikumpulkan merupakan data detil dan ukuran-ukuran kinerja operasional warehouse. Setiap ukuran kinerja agar dicari standarnya sebagai dasar untuk evaluasi kinerja. Perbandingan antara standard dengan pencapaian kinerja aktual untuk setiap ukuran kinerja, memungkinkan kita dapat memeroleh informasi variance yang menjadi perhatian kita dalam melakukan perbaikan. Ukuran kinerja pengelolaan warehouse yang sering digunakan antara lain: order shipping accuracy, order turnaround time, receiving, quality assurance, stock putaway, returns, inventory control, replenishment, serta picking, packing and shipping.
3. Wawancara dengan staf
Wawancara staf dilakukan baik wawancara kepada manajemen maupun pekerja. Wawancara kepada manajemen diperlukan untuk mendapatkan informasi mengenai kebijakan manajemen dalam pengembangan bisnis, produk, dan perbaikan proses operasional. Setelah diperoleh informasi dari manajemen, selanjutnya dilakukan wawancara kepada pekerja. Wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi apa saja permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pekerja di tingkat operasional, apakah para pekerja memahami dan melaksanakan prosedur operional baku dalam setiap proses pekerjaan.
4. Benchmarking untuk melihat potensi perbaikan
Dari hasil pengumpulan data kinerja operasional warehouse dengan membandingkan antara standar dan aktual yang dievaluasi berdasarkan trend (membandingkan dengan periode sebelumnya) atau dibandingkan dengan kinerja industri melalui benchmarking. Dari evaluasi kinerja baik melalui analisis trend maupun benchmarking akan diperoleh informasi posisi daya saing warehouse dan area kritis mana yang perlu dilakukan perbaikan untuk mencapai posisi yang diinginkan.
5. Perumusan inisiasi program perbaikan
Tahap akhir dari proses assessment adalah perumusan inisiasi program perbaikan. Inisiasi program perbaikan ini dilakukan di empat area kritis operasional warehouse seperti yang dijelaskan di atas, yaitu pekerja, fasilitas warehouse, alur kerja dan prosedur, serta sistem warehouse. Perumusan inisiasi program perbaikan mencakup langkah-langkah perbaikan secara rinci, unit mana dan siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut, dan estimasi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Menjadi jelas bagi kita semua, bahwa perbaikan operasinal warehouse perlu dilakukan terus-menerus, agar mampu menempatkan positioning warehouse anda di industri lebih baik. Memulai dari akhir dengan melakukan assessment operasional warehouse akan diperloleh informasi penting area-area kritis mana yang perlu dilakukan perbaikan.
(Dr. Zaroni, Trainer dan Konsultan Supply Chain Indonesia dan Dosen Universitas Multimedia Nusantara).

Sumber : supplychainindonesia.com

Related Posts